Senin, 25 Juni 2018

Tidak Boleh Menjadikan Hafalan al-Qur’an Sebagai Mahar Pernikahan





Tidak Boleh Menjadikan Hafalan al-Qur’an Sebagai Mahar Pernikahan


Mahar dalam pernikahan merupakan sesuatu yang wajib dan merupakan hak bagi seorang wanita. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَءَاتُواْ ٱلنِّسَآءَ صَدُقَٰتِهِنَّ نِحۡلَةٗۚ فَإِن طِبۡنَ لَكُمۡ عَن شَيۡءٖ مِّنۡهُ نَفۡسٗا فَكُلُوهُ هَنِيٓ‍ٔٗا مَّرِيٓ‍ٔٗا ٤

“Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya”. (QS. An-Nisa: 4)

Mahar yang disyariatkan dalam pernikahan adalah sesuatu yang berbentuk harta atau memiliki harga, walau ia sesuatu yang sangat murah. Misalnya, sebuah cincin yang terbuat dari besi biasa.

Tidak disyariatkan menjadikan mahar sesuatu yang faidahnya tidak kembali pada seorang wanita, tidak berbentuk harta, tidak bisa dijual atau tidak memiliki harga. Hafalan al-Qur’an termasuk dalam hal itu. Para ulama bahkan menganggap tidak sahnya pemberian mahar dengan hafalan al-Qur’an.

Diantara ulama yang berpendapat demikian adalah Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah. Beliau pernah ditanya akan hal ini lalu beliau berkata: “Tidak sah menjadikan hafalan seorang laki-laki terhadap al-Qur’an sebagai mahar dalam suatu pernikahan”. (Lihat vidio pertanyaanya di link berikut: 
https://m.youtube.com/watch?v=UWr_XdlLtKA)

Beberapa orang yang mengira bolehnya menjadikan hafalan al-Qur’an sebagai mahar dalam pernikahan berdalilkan dengan hadits yang shahih berikut ini:

أن رسول الله صلى الله عليه و سلم جاءته امرأة فقالت إني وهبت نفسي لك فقامت طويلا فقال رجل يا رسول الله ! فزوجنيها إن لم تكن لك بها حاجة فقال هل عندك من شيء تصدقها  فقال ما عندي إلا إزاري هذا فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم إزارك إن أعطيتها جلست ولا إزار لك فالتمس شيئا قال ما أجد قال فالتمس ولو خاتم من حديد قال فالتمس فلم يجد شيئا فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم هل معك من القرآن شيء  قال نعم سورة كذا وسورة كذا لسور سماها فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم زوجتكها بما معك من القرآن

“Seorang wanita pernah datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu ia berkata: “Wahai Rasulullah, aku datang menghibahkan diriku kepadamu”. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri dalam waktu yang lama. Lalu berdirilah seorang lelaki seraya berkata: “Wahai Rasulullah, nikahkanlah ia denganku jika engkau tidak menginginkannya”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apakah engkau memiliki sesuatu yang bisa dijadikan sebagai mahar untuknya?”. Laki-laki itu menjawab: “Aku tidak memiliki apa-apa kecuali sarungku ini”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sarung ini jika engkau berikan kepadanya, kau tidak akan memiliki sarung lagi. Pergilah mencari sesuatu”. (setelah mencarinya) laki-laki itu berkata: “Aku tidak mendapatkan apapun”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Carilah walau sekedar cincin yang terbuat dari besi!”. Maka laki-laki itupun pergi mencarinya namun juga tidak mendapatkannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apakah engkau memiliki sesuatu yang di hafal dari al-Qur’an?”. Ia berkata, “Iya, aku menghafal surah ini dan itu (ia menyebutkan nama-nama surat yang dihafalkannya). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku nikahkan kalian dengan sesuatu yang engkau hafalkan dari al-Qur’an”. (HR. Tirmidzi)

Secara zahir memang hadits ini seolah menunjukkan kebolehan menjadikan hafalan al-Qur’an sebagai mahar dalam pernikahan. Akan tetapi, kenyataannya tidak demikian. Sebab ada hadits lain yang menyatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menikahkan mereka berdua dengan perintah terhadap lelaki itu untuk mengajari wanita tersebut hafalan al-Qur’an yang telah dihafalaknnya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

انْطَلِقْ فَقَدْ زَوَّجْتُكَهَا فَعَلِّمْهَا مِنَ الْقُرْآنِ

“Pergilah, aku telah menikahkanmu dengannya. Ajarilah ia al-Qur’an (yang telah engkau hafal)”. (HR. Muslim)

Dari sini, para ulama menyebutkan bahwa maksud dari hadits yang pertama di atas adalah menjadikan kegiatan pengajaran terhadap al-Qur’an sebagai mahar jika tidak memiliki harta yang bisa dijadikan sebagai mahar. Artinya, ini adalah pilihan terakhir, jika tidak memiliki harta sama sekali yang bisa dijadikan sebagai mahar.

Ulama Lajnah Daimah berkata:

يصح أن يجعل تعليم المرأة شيئا من القرآن مهرا لها عند العقد عليها إذا لم يجد مالا

“Menjadikan pengajaran sesuatu dari al-Qur’an sebagai mahar pada saat akad nikah hukumnya sah jika seorang laki-laki tidak memilik harta”. (Fatwa Lajnah Daimah Lil Buhuts al-Ilmiyah wal Ifta Nomor 6029)

Jadi ini pilihan terakhir, bukan pilihan utama. Sebab Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai seorang Nabi yang padanya al-Qur’an diturunkan, tidak menjadikan al-Qur’an itu sebagai mahar beliau.

Ringkasnya, menjadikan hafalan al-Qur’an yang dibacakan saat akad sebagai mahar hukumnya tidak boleh. Menjadikan pengajaran sesuatu dari al-Qur’an kepada wanita pada saat akad hukumnya boleh karena bisa dikategorikan  sebagai sesuatu yang memilki upah dari pengajarannya. Menjadikan mushaf al-Qur’an sebagai mahar merupakan sesuatu yang boleh.

Wallahu a’lam.
Abu Ukkasyah al-Munawy

Kamis, 28 Desember 2017

Surga Dan Pernikahan

Tadabbur
Halaqah 03

Surga Dan Pernikahan

Pernikahan memiliki kaitan erat dengan pintu surga. Bagaimana sifat pasangan hidup seseorang, itu salah satu yang akan menjadi penentu dapat memasuki surga. Olehnya Allah pernah berwasiat dalam firman-Nya:

وَلا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلأمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

"Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran". (QS. Al-Baqarah: 221)

Selain larangan menikahi wanita dan laki-laki yang menyekutukan Allah, ayat ini menyiratkan beberapa faidah diantaranya:

1. Allah menginginkan agar yang menjadi pasangan hidup hamba-Nya dari kalangan orang-orang yang baik. Baik dari sisi iman dan akhlaknya. Sebab pasangan hidup itu menjadi satu penghubung yang mengantarkan, mengarahkan dan mengajak kekasihnya menuju surga atau neraka.

Syaikh Abd al-Rahman bin Nashir al-Sa'di rahimahullah berkata: "Hikmah dari pelarangan terhadap kaum muslim dan muslimah menikahi orang-orang yang menyelisihi mereka dalam agama adalah, firman Allah (yang artinya) "Mereka mengajak pada neraka" baik itu melalui perkataan, perbuatan, keadaan, dan kebersamaan dengan mereka akan memasukkan diri dalam keadaan yang berbahaya. Keadaan yang berbahaya ini bukan dalam masalah dunia, tapi kesengsaraan yang abadi". Lihat: Tafsir al-Sa'di: 99

2. Allah menginginkan agar pernikahan seseorang bersama pasangan hidupnya abadi hingga hari kiamat. Sebab berpisah dengan pasangan hidup itu hakikatnya merupakan sesuatu yang menyakitkan. Sementara baik atau buruknya agama pasangan hidup, bisa menjadi penentu apakah kedua insan itu dapat bertemu kembali di akhirat atau tidak.

3. Allah membenci sifat mengedepankan kepentingan duniawi (baik itu harta dan rupa seseorang) daripada melihat agamanya. Sebab baiknya rupa dan banyaknya harta  seseorang sedang ia memiliki agama yang buruk, hanyalah pasangan yang akan mengajak pada pintu-pintu neraka.

4. Ayat ini menunjukkan celaan Allah pada orang-orang yang lebih mendahulukan adat daripada agama. Adat manusia pada umumnya lebih mendahulukan kepentingan duniawi (harta dan rupa) yang membuat mereka lebih tertarik dalam memilih pasangan daripada mendahulukan baiknya agama.

5. Siapa yang berharap masuk surga bersama pasangan hidupnya, maka hendaklah ia melaksanakan wasiat Allah dalam pernikahan, yaitu menikah dengan mu'min atau mu'minah yang baik agamanya.

6. Ayat ini juga menyuratkan bahwa tingginya kedudukan seseorang di akhirat, dipengaruhi oleh pasangan hidupnya.


Sokkolia, 10 Rabiul Akhir 1439 H
Abu Ukkasyah Muhammad Ode Wahyu al-Munawy

Senin, 04 Desember 2017

Allahpun Enggan Menyucikan Hati Mereka



Tadabbur al-Qur’an
Halaqah 02

Allahpun Enggan Menyucikan Hati Mereka

Hati adalah anggota tubuh yang sangat penting dalam tubuh. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menyebutkan bahwa di dalam tubuh ada segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh dan jika dia rusak maka rusaklah seluruh tubuh, dia adalah hati.

Menjaga hati adalah perkara yang amat ditekankan dalam syariat, sebab dia menjadi salah satu faktor keselamatan pada hari kiamat. Kotornya hati dapat mengakibatkan kotornya jiwa, sedang Allah Azza wajalla telah mengabarkan bahwa kecelakaan akan menajdi akhir orang-orang yang mengotori jiwanya, Allah Azza wajalla berfirman:

وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا ١٠

“Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotori hatinya”. (QS. Al-Syams: 10)

Sebagaimana teramat pentingnya hati ini, ternyata ada juga orang-orang yang tidak mau menjaga hatinya hingga Allah pun enggan untuk membersihkan hati mereka. Mereka adalah orang-orang yang berlomba-lomba melaksanakan kekufuran, dari kalangan orang-orang yang mengaku beriman dengan lisan-lisannya, namun hati mereka tidak beriman.

Hal ini berdasarkan firman Allah Azza wajalla:

۞يَٰٓأَيُّهَا ٱلرَّسُولُ لَا يَحۡزُنكَ ٱلَّذِينَ يُسَٰرِعُونَ فِي ٱلۡكُفۡرِ مِنَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا بِأَفۡوَٰهِهِمۡ وَلَمۡ تُؤۡمِن قُلُوبُهُمۡۛ وَمِنَ ٱلَّذِينَ هَادُواْۛ سَمَّٰعُونَ لِلۡكَذِبِ سَمَّٰعُونَ لِقَوۡمٍ ءَاخَرِينَ لَمۡ يَأۡتُوكَۖ يُحَرِّفُونَ ٱلۡكَلِمَ مِنۢ بَعۡدِ مَوَاضِعِهِۦۖ يَقُولُونَ إِنۡ أُوتِيتُمۡ هَٰذَا فَخُذُوهُ وَإِن لَّمۡ تُؤۡتَوۡهُ فَٱحۡذَرُواْۚ وَمَن يُرِدِ ٱللَّهُ فِتۡنَتَهُۥ فَلَن تَمۡلِكَ لَهُۥ مِنَ ٱللَّهِ شَيۡ‍ًٔاۚ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَمۡ يُرِدِ ٱللَّهُ أَن يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمۡۚ لَهُمۡ فِي ٱلدُّنۡيَا خِزۡيٞۖ وَلَهُمۡ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٞ ٤١

“Hari Rasul, janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu diantara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: "Kami telah beriman", padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merubah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: "Jika diberikan ini (yang sudah di rubah-rubah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini maka hati-hatilah". Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar”. (QS. Al-Maidah: 41)

Imam al-Syaukani rahimahullah berkata:

{ أولئك } إلى من تقدم ذكرهم ، من الذين قالوا آمنا بأفواههم ومن الذين هادوا ، وهو مبتدأ وخبره الذين لم يرد الله أن يطهر قلوبهم : أي لم يرد تطهيرها من أرجاس الكفر والنفاق ، كما طهّر قلوب المؤمنين

Mereka adalah orang-orang yang telah disebutkan, yaitu orang-orang yang berkata dengan lisan-lisan mereka “Kami beriman” dan orang-orang Yahudi. Ini adalah mubtada sedangkan khabarnya adalah Allah tidak akan menyucikan hati mereka. Maksudnya Allah tidak akan membersihkan hati mereka dari noda-noda kufur dan kemunafikan, sebagaiman Allah menyucikan hati orang-orang yang beriman. Lihat: Muhammad bin Ali al-Syaukani, Fathu al-Qadir (Cet V; Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1429 H), h. 372.

Orang-orang seperti ini akan dibiarkan oleh Allah dalam kondisinya yang seperti itu, hingga mereka mendapatkan siksa pada hari kiamat kelak, kecuali mereka mau merubah diri mereka di dunia. Sebab Allah tidak merubah suatu kaum kecuali mereka mau merubah diri mereka sendiri. Allah Azza wajalla berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمۡۗ  

Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. (QS. Al-Ra’d: 11)

Ada beberapa golongan yang Allah sebutkan di dalam al-Qur’an, dimana mereka mengaku beriman namun Allah menganggap mereka sebagai orang-orang kafir. Mereka adalah:

(1) Orang-orang yang menjadikan agama sebagai bahan candaan dan olok-olokkan.
(2) Orang-Orang yang tertipu dengan kehidupan dunia.
(3) Orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah

Ketiga golongan ini berdasar pada firman Allah Azza wajalla:

قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ حَرَّمَهُمَا عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ ٥٠ ٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ دِينَهُمۡ لَهۡوٗا وَلَعِبٗا وَغَرَّتۡهُمُ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَاۚ فَٱلۡيَوۡمَ نَنسَىٰهُمۡ كَمَا نَسُواْ لِقَآءَ يَوۡمِهِمۡ هَٰذَا وَمَا كَانُواْ بِ‍َٔايَٰتِنَا يَجۡحَدُونَ ٥١

“Mereka (penghuni surga) menjawab: "Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir. (Yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka". Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami’. (QS. Al-A’raf: 50-51)

(4)  Orang-orang munafik yang hendak menipu Allah, namun kenyataannya mereka menipu diri mereka tanpa sadar. Jika dikatakan kepada mereka “Jangan berbuat kerusakan di muka bumi”, mereka berkata, “Kamilah yang sedang melakukan perbaikan”. Jika dikatakan kepada mereka “Berimanlah sesuai tuntunan syariat”, mereka berkata, “Apakah kami akan beriman seperti orang-orang yang kurang akal?”. Golongan ini adalah orang-orang yang dicela Allah dalam surah al-Baqarah ayat 8-16.

Gowa, 15 Rabiul Awal 1439 H
Abu Ukkasyah Wahyu al-Munawy

Sabtu, 02 Desember 2017

Hati Yang Selamat Sebab Keselamatan Hari Kiamat


Tadabbur al-Qur’an
Halaqah 01

Hati Yang Selamat Sebab Keselamatan Hari Kiamat

Memiliki hati yang selamat adalah nikmat yang sangat besar bagi seorang hamba, sebab syarat untuk dapat selamat pada hari kiamat adalah dengan memiliki hati yang selamat. Allah Azza wajalla berfirman:

 يَوۡمَ لَا يَنفَعُ مَالٞ وَلَا بَنُونَ ٨٨ إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٖ سَلِيمٖ ٨٩

“Yaitu di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih”. (QS. Al-Syua’ara: 88-89)

Hati yang selamat adalah hati yang sehat, sebagaimana perkataan Ibnu Qayim al-Jauziyah rahimahullah:

القلب الصحيح وهو القلب السليم الذي لا ينجو يوم القيامة إلا من أتى الله بها

“Hati yang sehat adalah hati yang selamat, dimana seseorang tidak akan selamat pada hari kiamat kecuali orang-orang yang datang dengannya”. Lihat: Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Ighatsatu al-Lahafan Fi Mashayid al-Syaithan, (Cet. II; Arab Saudi: Dar Ibnu al-Jauzi, 1429 H.), h. 27.

Ibnu Qayyim rahimahullah juga berkata:

فهو القلب الذي قد سلم لربه وسلم لامره ولم تبق فيه منازعة لامره ولا معارضة لخبره فهو سليم مما سوى الله وأمره لا يريد الا الله ولا يفعل إلا ما أمره الله فالله وحده غايته وامره وشرعه وسيلته وطريقته لا تعترضه شبهة تحول بينه وبين تصديق خبره

“Hati yang selamat itu adalah hati yang menerima Tuhan dan perintah Tuhannya, Tidak terdapat padanya kontroversi dan penolakan terhadap berita-Nya. Ia selamat dari selain Allah dan perintahnya. Ia tidak menginginkan apapun kecuali Allah, tidak melakukan apapun kecuali yang diperintahkan oleh Allah. Hanya Allah satu-satunya tujuannya, sedang perintah dan syariat-Nya adalah wasilah dan jalannya. Tidak ada syubhat yang merubahnya antara dirinya dengan pembenaran terhadap  beritanya”. Lihat: Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Miftaah Daari as-Sa'adah (Cet. I; Kairo: Dar Ibnu al-Jauzi, 1433 H.), h. 59.

Oleh karenanya, para salaf sangat berupaya menjaga hati mereka, menjaganya agar tidak sakit, sebab ia laksana benteng yang menghalau setan tuk menguasai dirinya. Ibnu Quddamah rahimahullah berkata:

واعلم : أن مثل القلب كمثل حصن، والشيطان عدو يريد أن يدخل الحصن، ويملكه ويستولى عليه

“Ketahuilah, sesungguhnya hati itu ibarat sebuah benteng, setan merupakan musuh yang ingin masuk ke dalam benteng, ia ingin memiliki dan menguasainya”. Lihat: Ahmad bin Abd al-Rahman bin Quddamah al-Maqdisi, Mukhtshar Minhaj al-Qasidin (Cet. I; t.t.p.: Maktabah Fayya,1435 H.), h.114.

Imam Ibn Rajab al-Hambali rahimahullah berkata: “Baiknya gerak gerik manusia pada anggota tubuhnya dan upaya menjauhkan diri dari perkara-perkara yang haram dan syubhat adalah sesuai dengan baiknya hati. Jika hati seorang hamba itu selamat, tidak ada padanya kecuali cinta kepada Allah dan apa yang membuat Allah cinta dan ridhai, serta takut kepada Allah dan kepada apa yang membuat Allah benci, maka akan baik gerak-gerik seluruh anggota tubuhnya… adapun jika hatinya telah rusak, telah dikuasai oleh hawa nafsu dan mencari apa yang disukai oleh hawa nafsu itu walau Allah membencinya, maka rusaklah seluruh gerak gerik anggota tubuhnya. Dia akan terjatuh dalam kemaksiatan-kemaksiatan karena mengikuti hawa nafsu pada hatinya.” Lihat: Ibnu Rajab al-Hambali, Jami’ al-‘Ulum Wa al-Hikam (Cet. II; Beirut: Dār al-Kutub al-Ilmiyah, 1428 H.), h. 91.

Syaikh Muhammad Ibn Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata: “Wajib bagi seseorang untuk memberikan perhatian yang lebih besar pada hatinya daripada anggota tubuhnya yang lain, sebab hati merupakan poros amalan dan padanya seseorang akan di uji pada hari kimat”. Lihat: Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Syarh al-Arba’in al-Nawawiyah (Cet VI; al-Qaim: Muassasah Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin al-Khairiyah,1437 H), h. 141.

Makassar, 14 Rabiul Awal 1439 H
Abu Ukkasyah Wahyu al-Munawy



Kamis, 30 November 2017

Amalan-Amalan Yang Dianjurkan Ketika Turun Hujan



Tsaqafah Ilmiyah
Halaqah 4

Amalan-Amalan Yang Dianjurkan Ketika Turun Hujan

Hujan merupakan salah satu rahmat dari Allah. Oleh karenanya, syariat menganjurkan beberapa amalan ketika turun hujan. Amalan-amalan tersebut adalah:

1. Memperbanyak doa, sebab diantara waktu-waktu dikabulkannya doa adalah ketika turun hujan. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam:

اطلبوا استجابة الدعاء عند التقاء الجيوش ، وإقامة الصلاة ، ونزول الغيث

“Carilah waktu terkabulkannya doa ketika para pasukan bertemu, ketika melaksanakan shalat dan ketika turunnya hujan.” Lihat: Ahmad bin al-Husin al-Baihaqi, Ma’rifatu al-Atsar (Cet. I; Pakistan: Jami’ah al-Diraasaat al-Islamiyah, 1412 H.), vol. 5, h. 186.

Imam al-Munaawy rahimahullah berkata:

(ثنتان ما) في رواية لا (تردان الدعاء عند النداء) يعني الأذان للصلاة (وتحت المطر) أي دعاء من هو تحت المطر لا يرد أو قلما يرد فإنه وقت نزول الرحمة لا سيما أول قطر  السنة

Dua perkara yang tidak akan ditolak yaitu berdoa ketika al-Nida (maksudnya adalah ketika adzan untuk melaksanakan shalat dan berdoa saat turunnya hujan. Maksudnya siapa yang berdoa saat turun hujan, maka doanya  tidak tertolak atau sedikit sekali kemungkinan tertolak, sebab saat hujan turun adalah waktu turunnya rahmat, terlebih lagi saat tetesan pertama saat tahun itu. Lihat: Abd al-Rauf bin Taj al-Arifin bin Ali al-Munawy, Faidh al-Qadir (Cet. I; Libanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1415 H.), vol 3, h. 447.

2. Dianjurkan mengucapkan doa Allahumma Shayyiban Naafi’an saat hujan turun. Hal ini berdasarkan satu hadits yang berasal dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwasanya jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melihat hujan, maka beeliau berdoa: “Allahumma Shayyiban Naafi’an (Yaa Allah turunkanlah hujan yang bermanfaat). Lihat: Ahmad bin Hambal al-Syaibani, Musnad Imam Ahmad (t. Cet; Kairo: Muassasah Qurtubah, t.th), vol. 6, h. 41.

3. Menyingkap sebagian pakaian agar badan terkena tetesan hujan. Hal ini berdasarkan satu hadits yang diriwaytakan oleh imam Muslim rahimahullah dalam kitab Sahihnya, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dia berkata: “Kami pernah terkena hujan bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, maka Nabi menyingkap pakaiannya, agar badannya terkena hujan. Lantas kami berkata, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan itu?” Beliau bersabda, “Sebab hujan ini baru saja turun dari Allah ta’ala.  Lihat: Abu al-Husain Muslim bin Hajjaj al-Naisabury, Sahih Muslim (t. Cet; Beirut: Dar al-Jil Beirut, t.th.) vol. 3, h. 26.

Hal ini jika tidak khawatir dapat terlihatnya aurat. Oleh karenanya tidak diperkenankan bagi wanita mandi hujan dengan memperlihatkan auratnya, atau perbuatannya itu dapat dilihat orang yang justru dapat memfitnah manusia.

4. Jika hujan telah reda, dianjurkan mengucapkan muthirna bifadhlillah wa rahmatihi. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Siapa yang mengatakan muthirna bifadhlillahi wa rahmatihi (Allah menurukan kita hujan dengan keutamaan dan rahmat-Nya) maka dia telah beriman kepadaku dan kafir terhadap kaukab  (hal ini karena dahulu manusia menisabatkan perbuatan kepada bintang-bintang-pent). Lihat: Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Sahih Bukhari (Cet. I; Kairo: Dar al-Syu’ab, 1407 H.), vol. 1, h. 214.

Semoga bermanfaat.

Makassar, 12 Rabiul Awal 1439 H.

Abu Ukkasyah Wahyu al-Munawy