Sabtu, 10 November 2018

Istimbath Aneh Para Ruwaibidhah






Imam asy-Syathibi -rahimahullah- pernah berkata, “Tatkala kami mengamati pertumbuhan amalan-amalan bid’ah, kami dapati amalan-amalan itu bertambah kian harinya. Tidaklah datang satu zaman melainkan keanehan demi keanehan dalam beristimbath (pengambilan keputusan hukum) kian marak terjadi. Bila perkaranya sudah seperti itu, sungguh akan terjadi pada zaman setelah kami cara-cara berdalil dengan metode lain yang tidak dikenal. Apalagi ketika merebaknya kebodohan, sedikitnya ilmu dan jauhnya para pengamat dari derajat ijtihad.[1]

Prediksi imam asy-Syathibi –rahimahullah- ini benar terjadi. Kejahilan, kurangnya ilmu, dan tidak memahami diri sebagai orang yang dangkal ilmunya, menjadi pemicu lahir dan menjamurnya ahli fatwa dadakan (baca: ruwaibidhah) yang sering membuat kegaduhan di tengah masyarakat. Ingar bingar suara tajam melengking “Kamu sesat dan telah keluar dari Ahlussunnah” terdengar hingga kepelosok-pelosok kampung, lalu membuat masyarakat heran kebingungan, “Ada apa, apa bedanya?”, tanya mereka.

Di zaman ini, keanehan dalam berdalil, memutuskan hukum dan memvonis sangat marak terjadi. Misalnya, dengan modal foto bersama kaum muslim saja, seseorang bisa dihukumi sebagai ahli bid’ah dan telah keluar dari Ahlussunnah karenanya. Pembahasan para ulama mengenai bid’ah yang dapat mengeluarkan seseorang dari Ahlussunnah, akan jarang ditemukan. Sama halnya mengenai sikap adil dan insaf terhadap orang-orang yang memiliki perbedaan dengan apa yang kita pahami, iapun jarang dibahas. Bahkan, oleh orang-orang yang aneh dalam berdalil dan memutuskan hukum itu, pembahasan seperti itu dianggap sebagai pembahasan yang harus dibasmi, karena membicarakan pemahaman yang menyimpang, kata mereka. Istilahnya, muwazanah.

Hasilnya, mereka selalu melabeli orang lain dengan berbagai gelar buruk untuk merendahkan, mencela dan menyindir mereka; seperti Hizbiyah, Quthbiyah dan lain-lainnya. Parahnya, amalan buruk yang menyimpang dari pedoman al-Qur’an itu mereka bungkus dengan hiasan nama “amalan salafiyah”, hingga banyak orang-orang yang tertipu.

Padahal Allah Azza wajalla berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا يَسۡخَرۡ قَوۡمٞ مِّن قَوۡمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُواْ خَيۡرٗا مِّنۡهُمۡ وَلَا نِسَآءٞ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيۡرٗا مِّنۡهُنَّۖ وَلَا تَلۡمِزُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَلَا تَنَابَزُواْ بِٱلۡأَلۡقَٰبِۖ بِئۡسَ ٱلِٱسۡمُ ٱلۡفُسُوقُ بَعۡدَ ٱلۡإِيمَٰنِۚ وَمَن لَّمۡ يَتُبۡ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ١١

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”.[2]

Imam al-Baghawi -rahimahullah- berkata, “Dikatakan bahwa maknanya adalah barangsiapa melakukan perkara-perkara yang telah dilarang berupa merendahkan saudaranya, mencelanya dengan lisan dan anggota tubuhnya yang lain, serta memberi gelar-gelar yang tidak disukai, maka ia adalah seorang yang fasik. Seburuk-buruk nama adalah kefasikan setelah keimanannya. Maka janganlah kalian melakukannya, agar tidak mendapatkan gelar kefasikan”.[3]

Oleh para pelaku keanehan berdalil dan beristimbath itu, manhaj yang selamat lebih identik dengan istilah “Ikut kami selamat, menyelisihi kami berarti menyimpang”. Sehingga, jika engkau menukil perkataan yang benar dari seseorang yang mereka anggap sebagai ahli bid’ah, maka seketika itu juga raut wajah mereka berubah, dada mereka panas, dan kau akan segera dijuluki sebagai pengikutnya.

Engkau tidak akan mendapati kalimat keadilan keluar dari lisannya terhadap orang-orang yang berbeda dengan mereka, layaknya ucapan  ulama zaman dahulu; seperti ucapan syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin –rahimahullah- ini:

“Ini merupakan perkataan beliau (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah) -rahimahullah- (maksudnya perkataan beliau: Berikanlah hak pada setiap orang yang memiliki hak). Perkataan ini menunjukkan bahwa beliau adalah sosok ulama yang insaf dan adil, juga menunjukkan bahwa kebenaran wajib diterima walau berasal dari ahli bid’ah. Demikian pula, jika sebagian ahli bid’ah lebih dekat pada sunnah, maka wajib memuji mereka karena kedekatan itu. Adapun menolak seluruh perkataan ahli bid’ah, termasuk perkataan benar yang mereka ucapkan, dengan alasan ia adalah perkataan ahli bid’ah, maka ini salah”.[4]

Demikianlah keadilan para ulama, mereka mampu bersikap insaf terhadap orang-orang yang berbeda dengan mereka. Karenanya, kita tidak akan kesulitan mendapatkan pujian mereka terhadap kebaikan orang-orang yang juga menjadi pelaku bid’ah, atau nukilan perkataan mereka dalam kitabnya. Ibnu Katsir –rahimahullah- menjadi contoh dalam hal ini, hitunglah berapa kali ia menukil perkataan Qatadah bin Diamah as-Sadusi dalam tafsinya? Padahal ia seorang ulama yang menganut paham Qadariyah.

Para ulama hakikatnya telah membuat dhawabith yang menjadi mi’yar (standar) kapan seseorang boleh dikatakan telah keluar dari Ahlussunnah dan menjadi ahli bid’ah, sehingga dengannya ia berhak mendapatkan permusuhan atau tetap mendapat kasih sayang. Artinya, para ulama membedakan tingkatan bid’ah seseorang. Karena itu, tidak semua bid’ah –menurut mereka- dapat mengeluarkan seseorang dari Ahlussunnah.

Ibnu Taimiyah -rahimahullah- berkata, “Amalan bid’ah yang menyebabkan seseorang dianggap sebagai pengikut hawa nafsu yang masyhur dikalangan ahli ilmu yang berpegang teguh dengan sunnah adalah bid’ah yang penyelisihannya terhadap al-Qur’an dan sunnah seperti bid’ahnya kaum khawarij, rafidhah, qadariyyah dan murjiah. Sesungguhnya Abdullah Ibnu al-Mubarak dan Yusuf Ibnu Ashbath dan selain mereka berkata, “Ushul dari 72 golongan ada empat yaitu khawarij, rafidhah, qadariyyah dan murjiah”.[5]

Imam asy-Syathibi -rahimahullah- berkata, “Sesungguhnya mereka akan menjadi kelompok yang menyelishi al-Firqatu an-Najiyah (Ahlusunnah) jika penyelisahannya dalam perkara kully (masalah pokok agama-pent) pada kaidah-kaidah syariah, bukan pada perakara juz’iy (sebagian/cabang) dari sebagian masalah agama. Karena perkara juz’iy dan furu’ (cabang agama) tidak menyebabkan perpecahan kelompok. Sesungguhnya yang menyebabkan perpecahan kelompok hanyalah ketika terjadi perselisihan dalam permasalahan kulliyyah/ pokok-pokok agama”.[6]

Ini menunjukkan adanya perlakuan yang berbeda terhadap orang-orang yang menyelisihi ulama tersebut. Bahkan, pada sebagian kelompok, para ulama tetap menyifati mereka sebagai Ahlussunnah karena kedekatan dan kemiripan mereka, sehingga berhak mendapatkan rasa cinta dan kasih sayang karenanya.

Adalah imam Ibnu Taimiyah –rahimahullah-, ketika ia menyifati kelompok Asya’irah ia berkata, “Mereka adalah kelompok ahli kalam yang paling dekat terhadap Ahlussunnah waljama’ah dan ahli hadits. Mereka termasuk Ahlussunnah waljama’ah jika dibandingkan dengan mu’tazilah, rafdhah dan selainnya. Bahkan mereka adalah Ahlussunah di negri yang terdapat ahli bid’ah di dalamnya sepeti mu’tazilah, rafidhah dan selainnya”.[7]

Pujian dan sifat rahmat itu tidak berarti menghilangkan sikap kritik dan membantah kekeliruan mereka. Karenanya, kita bisa mendapati banyak bantahan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah- terhadap pemahan Asya’irah.

Dari sini, hendaknya kita memperhatikan sikap kita pada orang lain. Karena boleh jadi, sikap itu bisa jadi kata-kata yang dapat membinasakan kita, wallahul musta’an.


[1] Abu Ishaq Ibrahim bin Musa asy-Syathibi, al-I’tisham (Cet.I; Riyadh: Dar Ibn Qayyim Li an-Nasyr wa at-Tauzi’, 1436 H), vol. 2, hal. 294.
[2] QS. Al-Hujurat: 11
[3] Abu Muhammad  bin al-Husain bin Mas’du al-Baghawi, Tafsir al-Baghawi (Cet. IV; t.t.p: Dar att-Thoyyibah li an-Nasyr wa at-Tauzi’, 1417 H), vol. 7, hal. 344.
[4] Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Syarh Muqaddimati at-Tafsir (t. Cet; Unaizah: Madar al-Wathan Li an-Nasyr 1432 H), hal.124
[5] Abul Abbas Ahmad bin Abdil Halim bin Taimiyah, al-Fatawa al-Kubra (Cet.I;  t.t.p: Dar Kutub al-Ilmiyah, 1408 H), Vol. 4, hal. 194
[6] Abu Ishaq Ibrahim bin Musa asy-Syathibi, al-I’tisham (Cet.I; Riyadh: Dar Ibn Qayyim Li an-Nasyr wa at-Tauzi’, 1436 H), vol. 2, hal 197.
[7] Dr. Abdurrahman bin Shalih bin Shalih al-Mahmud, Mauqif Ibni Tamimiyah Min al-Asya’irah (Cet. I;Riyadh: Maktabatu ar-Rusyd li an-Nasyr wa at-Tauzi’, 1415 H.), hal. 703


Senin, 25 Juni 2018

Tidak Boleh Menjadikan Hafalan al-Qur’an Sebagai Mahar Pernikahan





Tidak Boleh Menjadikan Hafalan al-Qur’an Sebagai Mahar Pernikahan


Mahar dalam pernikahan merupakan sesuatu yang wajib dan merupakan hak bagi seorang wanita. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَءَاتُواْ ٱلنِّسَآءَ صَدُقَٰتِهِنَّ نِحۡلَةٗۚ فَإِن طِبۡنَ لَكُمۡ عَن شَيۡءٖ مِّنۡهُ نَفۡسٗا فَكُلُوهُ هَنِيٓ‍ٔٗا مَّرِيٓ‍ٔٗا ٤

“Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya”. (QS. An-Nisa: 4)

Mahar yang disyariatkan dalam pernikahan adalah sesuatu yang berbentuk harta atau memiliki harga, walau ia sesuatu yang sangat murah. Misalnya, sebuah cincin yang terbuat dari besi biasa.

Tidak disyariatkan menjadikan mahar sesuatu yang faidahnya tidak kembali pada seorang wanita, tidak berbentuk harta, tidak bisa dijual atau tidak memiliki harga. Hafalan al-Qur’an termasuk dalam hal itu. Para ulama bahkan menganggap tidak sahnya pemberian mahar dengan hafalan al-Qur’an.

Diantara ulama yang berpendapat demikian adalah Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah. Beliau pernah ditanya akan hal ini lalu beliau berkata: “Tidak sah menjadikan hafalan seorang laki-laki terhadap al-Qur’an sebagai mahar dalam suatu pernikahan”. (Lihat vidio pertanyaanya di link berikut: 
https://m.youtube.com/watch?v=UWr_XdlLtKA)

Beberapa orang yang mengira bolehnya menjadikan hafalan al-Qur’an sebagai mahar dalam pernikahan berdalilkan dengan hadits yang shahih berikut ini:

أن رسول الله صلى الله عليه و سلم جاءته امرأة فقالت إني وهبت نفسي لك فقامت طويلا فقال رجل يا رسول الله ! فزوجنيها إن لم تكن لك بها حاجة فقال هل عندك من شيء تصدقها  فقال ما عندي إلا إزاري هذا فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم إزارك إن أعطيتها جلست ولا إزار لك فالتمس شيئا قال ما أجد قال فالتمس ولو خاتم من حديد قال فالتمس فلم يجد شيئا فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم هل معك من القرآن شيء  قال نعم سورة كذا وسورة كذا لسور سماها فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم زوجتكها بما معك من القرآن

“Seorang wanita pernah datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu ia berkata: “Wahai Rasulullah, aku datang menghibahkan diriku kepadamu”. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri dalam waktu yang lama. Lalu berdirilah seorang lelaki seraya berkata: “Wahai Rasulullah, nikahkanlah ia denganku jika engkau tidak menginginkannya”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apakah engkau memiliki sesuatu yang bisa dijadikan sebagai mahar untuknya?”. Laki-laki itu menjawab: “Aku tidak memiliki apa-apa kecuali sarungku ini”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sarung ini jika engkau berikan kepadanya, kau tidak akan memiliki sarung lagi. Pergilah mencari sesuatu”. (setelah mencarinya) laki-laki itu berkata: “Aku tidak mendapatkan apapun”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Carilah walau sekedar cincin yang terbuat dari besi!”. Maka laki-laki itupun pergi mencarinya namun juga tidak mendapatkannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apakah engkau memiliki sesuatu yang di hafal dari al-Qur’an?”. Ia berkata, “Iya, aku menghafal surah ini dan itu (ia menyebutkan nama-nama surat yang dihafalkannya). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku nikahkan kalian dengan sesuatu yang engkau hafalkan dari al-Qur’an”. (HR. Tirmidzi)

Secara zahir memang hadits ini seolah menunjukkan kebolehan menjadikan hafalan al-Qur’an sebagai mahar dalam pernikahan. Akan tetapi, kenyataannya tidak demikian. Sebab ada hadits lain yang menyatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menikahkan mereka berdua dengan perintah terhadap lelaki itu untuk mengajari wanita tersebut hafalan al-Qur’an yang telah dihafalaknnya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

انْطَلِقْ فَقَدْ زَوَّجْتُكَهَا فَعَلِّمْهَا مِنَ الْقُرْآنِ

“Pergilah, aku telah menikahkanmu dengannya. Ajarilah ia al-Qur’an (yang telah engkau hafal)”. (HR. Muslim)

Dari sini, para ulama menyebutkan bahwa maksud dari hadits yang pertama di atas adalah menjadikan kegiatan pengajaran terhadap al-Qur’an sebagai mahar jika tidak memiliki harta yang bisa dijadikan sebagai mahar. Artinya, ini adalah pilihan terakhir, jika tidak memiliki harta sama sekali yang bisa dijadikan sebagai mahar.

Ulama Lajnah Daimah berkata:

يصح أن يجعل تعليم المرأة شيئا من القرآن مهرا لها عند العقد عليها إذا لم يجد مالا

“Menjadikan pengajaran sesuatu dari al-Qur’an sebagai mahar pada saat akad nikah hukumnya sah jika seorang laki-laki tidak memilik harta”. (Fatwa Lajnah Daimah Lil Buhuts al-Ilmiyah wal Ifta Nomor 6029)

Jadi ini pilihan terakhir, bukan pilihan utama. Sebab Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai seorang Nabi yang padanya al-Qur’an diturunkan, tidak menjadikan al-Qur’an itu sebagai mahar beliau.

Ringkasnya, menjadikan hafalan al-Qur’an yang dibacakan saat akad sebagai mahar hukumnya tidak boleh. Menjadikan pengajaran sesuatu dari al-Qur’an kepada wanita pada saat akad hukumnya boleh karena bisa dikategorikan  sebagai sesuatu yang memilki upah dari pengajarannya. Menjadikan mushaf al-Qur’an sebagai mahar merupakan sesuatu yang boleh.

Wallahu a’lam.
Abu Ukkasyah al-Munawy

Kamis, 28 Desember 2017

Surga Dan Pernikahan

Tadabbur
Halaqah 03

Surga Dan Pernikahan

Pernikahan memiliki kaitan erat dengan pintu surga. Bagaimana sifat pasangan hidup seseorang, itu salah satu yang akan menjadi penentu dapat memasuki surga. Olehnya Allah pernah berwasiat dalam firman-Nya:

وَلا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلأمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

"Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran". (QS. Al-Baqarah: 221)

Selain larangan menikahi wanita dan laki-laki yang menyekutukan Allah, ayat ini menyiratkan beberapa faidah diantaranya:

1. Allah menginginkan agar yang menjadi pasangan hidup hamba-Nya dari kalangan orang-orang yang baik. Baik dari sisi iman dan akhlaknya. Sebab pasangan hidup itu menjadi satu penghubung yang mengantarkan, mengarahkan dan mengajak kekasihnya menuju surga atau neraka.

Syaikh Abd al-Rahman bin Nashir al-Sa'di rahimahullah berkata: "Hikmah dari pelarangan terhadap kaum muslim dan muslimah menikahi orang-orang yang menyelisihi mereka dalam agama adalah, firman Allah (yang artinya) "Mereka mengajak pada neraka" baik itu melalui perkataan, perbuatan, keadaan, dan kebersamaan dengan mereka akan memasukkan diri dalam keadaan yang berbahaya. Keadaan yang berbahaya ini bukan dalam masalah dunia, tapi kesengsaraan yang abadi". Lihat: Tafsir al-Sa'di: 99

2. Allah menginginkan agar pernikahan seseorang bersama pasangan hidupnya abadi hingga hari kiamat. Sebab berpisah dengan pasangan hidup itu hakikatnya merupakan sesuatu yang menyakitkan. Sementara baik atau buruknya agama pasangan hidup, bisa menjadi penentu apakah kedua insan itu dapat bertemu kembali di akhirat atau tidak.

3. Allah membenci sifat mengedepankan kepentingan duniawi (baik itu harta dan rupa seseorang) daripada melihat agamanya. Sebab baiknya rupa dan banyaknya harta  seseorang sedang ia memiliki agama yang buruk, hanyalah pasangan yang akan mengajak pada pintu-pintu neraka.

4. Ayat ini menunjukkan celaan Allah pada orang-orang yang lebih mendahulukan adat daripada agama. Adat manusia pada umumnya lebih mendahulukan kepentingan duniawi (harta dan rupa) yang membuat mereka lebih tertarik dalam memilih pasangan daripada mendahulukan baiknya agama.

5. Siapa yang berharap masuk surga bersama pasangan hidupnya, maka hendaklah ia melaksanakan wasiat Allah dalam pernikahan, yaitu menikah dengan mu'min atau mu'minah yang baik agamanya.

6. Ayat ini juga menyuratkan bahwa tingginya kedudukan seseorang di akhirat, dipengaruhi oleh pasangan hidupnya.


Sokkolia, 10 Rabiul Akhir 1439 H
Abu Ukkasyah Muhammad Ode Wahyu al-Munawy

Senin, 04 Desember 2017

Allahpun Enggan Menyucikan Hati Mereka



Tadabbur al-Qur’an
Halaqah 02

Allahpun Enggan Menyucikan Hati Mereka

Hati adalah anggota tubuh yang sangat penting dalam tubuh. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menyebutkan bahwa di dalam tubuh ada segumpal daging, jika dia baik maka baiklah seluruh tubuh dan jika dia rusak maka rusaklah seluruh tubuh, dia adalah hati.

Menjaga hati adalah perkara yang amat ditekankan dalam syariat, sebab dia menjadi salah satu faktor keselamatan pada hari kiamat. Kotornya hati dapat mengakibatkan kotornya jiwa, sedang Allah Azza wajalla telah mengabarkan bahwa kecelakaan akan menajdi akhir orang-orang yang mengotori jiwanya, Allah Azza wajalla berfirman:

وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا ١٠

“Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotori hatinya”. (QS. Al-Syams: 10)

Sebagaimana teramat pentingnya hati ini, ternyata ada juga orang-orang yang tidak mau menjaga hatinya hingga Allah pun enggan untuk membersihkan hati mereka. Mereka adalah orang-orang yang berlomba-lomba melaksanakan kekufuran, dari kalangan orang-orang yang mengaku beriman dengan lisan-lisannya, namun hati mereka tidak beriman.

Hal ini berdasarkan firman Allah Azza wajalla:

۞يَٰٓأَيُّهَا ٱلرَّسُولُ لَا يَحۡزُنكَ ٱلَّذِينَ يُسَٰرِعُونَ فِي ٱلۡكُفۡرِ مِنَ ٱلَّذِينَ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا بِأَفۡوَٰهِهِمۡ وَلَمۡ تُؤۡمِن قُلُوبُهُمۡۛ وَمِنَ ٱلَّذِينَ هَادُواْۛ سَمَّٰعُونَ لِلۡكَذِبِ سَمَّٰعُونَ لِقَوۡمٍ ءَاخَرِينَ لَمۡ يَأۡتُوكَۖ يُحَرِّفُونَ ٱلۡكَلِمَ مِنۢ بَعۡدِ مَوَاضِعِهِۦۖ يَقُولُونَ إِنۡ أُوتِيتُمۡ هَٰذَا فَخُذُوهُ وَإِن لَّمۡ تُؤۡتَوۡهُ فَٱحۡذَرُواْۚ وَمَن يُرِدِ ٱللَّهُ فِتۡنَتَهُۥ فَلَن تَمۡلِكَ لَهُۥ مِنَ ٱللَّهِ شَيۡ‍ًٔاۚ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ لَمۡ يُرِدِ ٱللَّهُ أَن يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمۡۚ لَهُمۡ فِي ٱلدُّنۡيَا خِزۡيٞۖ وَلَهُمۡ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٞ ٤١

“Hari Rasul, janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu diantara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: "Kami telah beriman", padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merubah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: "Jika diberikan ini (yang sudah di rubah-rubah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini maka hati-hatilah". Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar”. (QS. Al-Maidah: 41)

Imam al-Syaukani rahimahullah berkata:

{ أولئك } إلى من تقدم ذكرهم ، من الذين قالوا آمنا بأفواههم ومن الذين هادوا ، وهو مبتدأ وخبره الذين لم يرد الله أن يطهر قلوبهم : أي لم يرد تطهيرها من أرجاس الكفر والنفاق ، كما طهّر قلوب المؤمنين

Mereka adalah orang-orang yang telah disebutkan, yaitu orang-orang yang berkata dengan lisan-lisan mereka “Kami beriman” dan orang-orang Yahudi. Ini adalah mubtada sedangkan khabarnya adalah Allah tidak akan menyucikan hati mereka. Maksudnya Allah tidak akan membersihkan hati mereka dari noda-noda kufur dan kemunafikan, sebagaiman Allah menyucikan hati orang-orang yang beriman. Lihat: Muhammad bin Ali al-Syaukani, Fathu al-Qadir (Cet V; Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1429 H), h. 372.

Orang-orang seperti ini akan dibiarkan oleh Allah dalam kondisinya yang seperti itu, hingga mereka mendapatkan siksa pada hari kiamat kelak, kecuali mereka mau merubah diri mereka di dunia. Sebab Allah tidak merubah suatu kaum kecuali mereka mau merubah diri mereka sendiri. Allah Azza wajalla berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمۡۗ  

Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. (QS. Al-Ra’d: 11)

Ada beberapa golongan yang Allah sebutkan di dalam al-Qur’an, dimana mereka mengaku beriman namun Allah menganggap mereka sebagai orang-orang kafir. Mereka adalah:

(1) Orang-orang yang menjadikan agama sebagai bahan candaan dan olok-olokkan.
(2) Orang-Orang yang tertipu dengan kehidupan dunia.
(3) Orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah

Ketiga golongan ini berdasar pada firman Allah Azza wajalla:

قَالُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ حَرَّمَهُمَا عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ ٥٠ ٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ دِينَهُمۡ لَهۡوٗا وَلَعِبٗا وَغَرَّتۡهُمُ ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَاۚ فَٱلۡيَوۡمَ نَنسَىٰهُمۡ كَمَا نَسُواْ لِقَآءَ يَوۡمِهِمۡ هَٰذَا وَمَا كَانُواْ بِ‍َٔايَٰتِنَا يَجۡحَدُونَ ٥١

“Mereka (penghuni surga) menjawab: "Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir. (Yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka". Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami’. (QS. Al-A’raf: 50-51)

(4)  Orang-orang munafik yang hendak menipu Allah, namun kenyataannya mereka menipu diri mereka tanpa sadar. Jika dikatakan kepada mereka “Jangan berbuat kerusakan di muka bumi”, mereka berkata, “Kamilah yang sedang melakukan perbaikan”. Jika dikatakan kepada mereka “Berimanlah sesuai tuntunan syariat”, mereka berkata, “Apakah kami akan beriman seperti orang-orang yang kurang akal?”. Golongan ini adalah orang-orang yang dicela Allah dalam surah al-Baqarah ayat 8-16.

Gowa, 15 Rabiul Awal 1439 H
Abu Ukkasyah Wahyu al-Munawy

Sabtu, 02 Desember 2017

Hati Yang Selamat Sebab Keselamatan Hari Kiamat


Tadabbur al-Qur’an
Halaqah 01

Hati Yang Selamat Sebab Keselamatan Hari Kiamat

Memiliki hati yang selamat adalah nikmat yang sangat besar bagi seorang hamba, sebab syarat untuk dapat selamat pada hari kiamat adalah dengan memiliki hati yang selamat. Allah Azza wajalla berfirman:

 يَوۡمَ لَا يَنفَعُ مَالٞ وَلَا بَنُونَ ٨٨ إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٖ سَلِيمٖ ٨٩

“Yaitu di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih”. (QS. Al-Syua’ara: 88-89)

Hati yang selamat adalah hati yang sehat, sebagaimana perkataan Ibnu Qayim al-Jauziyah rahimahullah:

القلب الصحيح وهو القلب السليم الذي لا ينجو يوم القيامة إلا من أتى الله بها

“Hati yang sehat adalah hati yang selamat, dimana seseorang tidak akan selamat pada hari kiamat kecuali orang-orang yang datang dengannya”. Lihat: Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Ighatsatu al-Lahafan Fi Mashayid al-Syaithan, (Cet. II; Arab Saudi: Dar Ibnu al-Jauzi, 1429 H.), h. 27.

Ibnu Qayyim rahimahullah juga berkata:

فهو القلب الذي قد سلم لربه وسلم لامره ولم تبق فيه منازعة لامره ولا معارضة لخبره فهو سليم مما سوى الله وأمره لا يريد الا الله ولا يفعل إلا ما أمره الله فالله وحده غايته وامره وشرعه وسيلته وطريقته لا تعترضه شبهة تحول بينه وبين تصديق خبره

“Hati yang selamat itu adalah hati yang menerima Tuhan dan perintah Tuhannya, Tidak terdapat padanya kontroversi dan penolakan terhadap berita-Nya. Ia selamat dari selain Allah dan perintahnya. Ia tidak menginginkan apapun kecuali Allah, tidak melakukan apapun kecuali yang diperintahkan oleh Allah. Hanya Allah satu-satunya tujuannya, sedang perintah dan syariat-Nya adalah wasilah dan jalannya. Tidak ada syubhat yang merubahnya antara dirinya dengan pembenaran terhadap  beritanya”. Lihat: Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Miftaah Daari as-Sa'adah (Cet. I; Kairo: Dar Ibnu al-Jauzi, 1433 H.), h. 59.

Oleh karenanya, para salaf sangat berupaya menjaga hati mereka, menjaganya agar tidak sakit, sebab ia laksana benteng yang menghalau setan tuk menguasai dirinya. Ibnu Quddamah rahimahullah berkata:

واعلم : أن مثل القلب كمثل حصن، والشيطان عدو يريد أن يدخل الحصن، ويملكه ويستولى عليه

“Ketahuilah, sesungguhnya hati itu ibarat sebuah benteng, setan merupakan musuh yang ingin masuk ke dalam benteng, ia ingin memiliki dan menguasainya”. Lihat: Ahmad bin Abd al-Rahman bin Quddamah al-Maqdisi, Mukhtshar Minhaj al-Qasidin (Cet. I; t.t.p.: Maktabah Fayya,1435 H.), h.114.

Imam Ibn Rajab al-Hambali rahimahullah berkata: “Baiknya gerak gerik manusia pada anggota tubuhnya dan upaya menjauhkan diri dari perkara-perkara yang haram dan syubhat adalah sesuai dengan baiknya hati. Jika hati seorang hamba itu selamat, tidak ada padanya kecuali cinta kepada Allah dan apa yang membuat Allah cinta dan ridhai, serta takut kepada Allah dan kepada apa yang membuat Allah benci, maka akan baik gerak-gerik seluruh anggota tubuhnya… adapun jika hatinya telah rusak, telah dikuasai oleh hawa nafsu dan mencari apa yang disukai oleh hawa nafsu itu walau Allah membencinya, maka rusaklah seluruh gerak gerik anggota tubuhnya. Dia akan terjatuh dalam kemaksiatan-kemaksiatan karena mengikuti hawa nafsu pada hatinya.” Lihat: Ibnu Rajab al-Hambali, Jami’ al-‘Ulum Wa al-Hikam (Cet. II; Beirut: Dār al-Kutub al-Ilmiyah, 1428 H.), h. 91.

Syaikh Muhammad Ibn Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata: “Wajib bagi seseorang untuk memberikan perhatian yang lebih besar pada hatinya daripada anggota tubuhnya yang lain, sebab hati merupakan poros amalan dan padanya seseorang akan di uji pada hari kimat”. Lihat: Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Syarh al-Arba’in al-Nawawiyah (Cet VI; al-Qaim: Muassasah Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin al-Khairiyah,1437 H), h. 141.

Makassar, 14 Rabiul Awal 1439 H
Abu Ukkasyah Wahyu al-Munawy