Kamis, 20 Februari 2014

Mungkinkah Anda Telah Kufur Tanpa Sadar? Part II ..::Seri Berhukum Dengan Selain Hukum Allah::.

Pada tulisan sebelumnya, kami sudah menyebutkan tiga pembatal keislaman. Untuk pembahsan kali insya Allah ini kami akan menyebutkan lanjutan dari pembahsan yang sebelumnya.

Pembatal- Pembatal keislaman:

4. siapa saja yang berkeyakinan bahwa petunjuk yang dibawakan oleh selain nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lebih baik daripada yang dibawakan oleh nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, atau hukum selain hukumnya lebih baik dari hukumnya seperti orang-orang yang mendahulukan hukum-hukum thogut daripada hukum yang dibawakannya, maka dia kafir.[1]

Thogut adalah
semua hal atau apa saja yang disembah selain Allah azza wajalla dan dia ridha dengan hal tersebut. Termasuk juga orang-orang yang berhukum dengan selain yang Allah turunkan. Thoghut merupakan segala sesuatu yang menyebabkan seseorang melebihi batasannya sendiri, entah dengan kesyirikan ataupun kekufuran atau menyerukan pada hal tersebut.[2]

Thoghut yang paling besar ada lima:
1.      Iblis la’natullah
2.      Siapa saja yang menyeru agar orang beribadah kepadanya.
3.      Siapa saja yang ridho untuk diibadahi. Seperti fir’aun
4.      Orang-orang yang mengatakan mengethui perkara-perkara yang ghoib. Seperti dukun, paranormal dan tukang sihir.
5.      Orang-orang yang berhukum dengan selain apa yang diturunkan oleh Allah azza wajalla.[3]

Dalam pembahsan pada nomor lima ini, ada beberapa hal yang perlu diketahui. Bahwasanya tidak semua orang yang berhukum dengan selain hukum Allah dikatakan sebagai kafir. Para ulama telah menyebutkan dhawabith dalam masalah ini.
Allah berfirman:
وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.[4]
وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Barangsiapa tidak berhukum dengan hukum yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim. [5]
وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Barangsiapa tidak berhukum dengan hukum yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.[6]

Mengomentari ayat ini syaikh ustaimin rahimahhullah  berkata:
Siapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah dengan menghinakannya atau merendahkannya atau berkeyakinan bahwa selain hukumnya itu lebih baik dan lebih bermanfaat bagi manusia atau sama dengan hukum Allah maka dia kafir, dan keluar dari agama islam. Diantara mereka adalah orang-orang yang meletakkan syariat untuk manusia dengan menyelisihi syariat islam agar menjadi manhaj yang setiap orang harus berjalan diatasnya. Tidaklah mereka membuat syariat yang menyelisihi syariat islam itu kecuali karena mereka berkeyakinan bahwa itu lebih baik dan lebih bermanfaat bagi manusia.

Barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan, dengan kondisi dia tidak merendahkan hukum Allah, tidak menghinakannya, dan tidak pula berkeyakinan bahwa selain hukum Allah itu lebih baik dan lebih bermanfaat untuk manusia. Maka dalam tingkatan seperti ini dia zholim dan tidak kafir. Tingkatan kezholimannya sesuai apa yang dihukumi dan sarana-sarana hukumnya.

Barang siapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah, dengan tidak menghinakan hukum Allah, tidak juga merendahkannya dan juga tidak berkeyakinan bahwa selain hukum Allah lebih bermashlahat dan lebih bermanfaat untuk manusia, akan tetapi dia berhukum dengan selain hukum Allah karena ada pengaruh yang lain seperti suap atau selainnya dari tujuan keduniawian lainnya, maka dia dikategorikan sebagai orang yang fasik. Bukan seorang yang kafir. Kefasikan orang seperti ini sesuai dengan apa yang dia hukumi dan sarana-sarana hukum tersebut.[7]

Syaikhul islam ibnu taimiyyah rahimahullah berkata ketika mengomentarai orang-orang yang menjadikan pendeta-pendeta sebagai tuhan mereka, mereka terbagi dalam dua kategori:

1.   Orang-orang yang mengetahui bahwa mereka mengganti agama Allah kemudian mengikuti apa yang telah diganti tersebut dengan berkeyakinan halalnya apa yang telah diharamkan Allah serta mangharamkan apa yang dihalalkan Allah sebagai bentuk ittiba’(mengikuti) pada pemimpin-pemimpin mereka, walau mereka mengilmui bahwa hal itu menyelisihi agama rasul. Maka ini kafir

2.      Apabila mereka yang berkeyakinan bahwa mereka memang sedang menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah. Akan tetapi mereka melakukan itu hanya karena patuh pada pemimpinnya dalam hal bermaksiat kepada Allah sebagaimana yang telah dilakukan kaum muslimin, apa yang mereka lakukan dari perbuatan-perbuatan maksiat bersamaan dengan keyakinannya bahwa itu maksiat. Maka bagi mereka hukum pelaku dosa (tidak kafir: pent).[8]

Syaikh ustaimin rahimahullah berkata:
Permaslahan ini, yang saya maksud adalah permasalahan berhukum dengan selain hukum Allah adalah diantara masalah-masalah yang sangat besar dimana pemerintah kita saat ini sedang diuji dengannya. Maka hendaknya setiap orang tidak teegesah-gesah dalam menghukumi mereka dengan perkara yang tidak berhak disematkan kepada mereka. Sampai betul-betul jelas padanya akan kebenaran, karena masalah ini adalah masalah yang berbahaya.[9]









[1] . nawaqidhul islam syaikh ibn baz rahimahullah:  2
[2] . syarah tsalatsatil ushul abdul aziz bin baz rahimahullah: 80
[3].  Ibid
[4] . QS: Al Maidah: 44
[5] . QS: Al Maidah:  45
[6] . QS: Al Maidah:  47
[7] . Syarah al ushulu ats-tsalatsah syaikh al ustaimin: 158-159
[8] . ibid.  Untuk lebih jelasnya lihat pada kitab syarah fathul majid abdullah bin muhammad al ghuaiman juz 31 halaman 2.
[9] . ibid

1 komentar:

Silahkan Memberi komentar