Sabtu, 15 Februari 2014

Pelajaran Berharga Dari Kisah Bai’atul ‘Aqabah Pertama


Kisah bai’atul aqabah memiliki peranan penting dalamkeberhasilan rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendakwahkan islam. Bukan perkara yang mudah mendakwahkan sesuatu yang aneh dan asing bagi mereka kala itu. Dakwah untuk memurnikan ibadah dan penyembahan kepada Allah ‘azza wajalla serta meninggalkan adat istiadat nenek moyang kaum arab. Kala itu, kesyirikan telah menjadi budaya yang sangat kuat dan mengakar, diturunkan oleh nenek moyang mereka secara turun-temurun sehingga mendarah daging dan susah untuk dihilangkan.

Tidak heran, saat rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdakwah, celaan, makian, hinaan bahkan kotoran manusia dilemparkan kewajahnya. Hingga datang
seorang malaikat utusan Allah untuk mengadzab penduduk thoif karena kedurhakaannya pada rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kala itu. Tentu rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang penuh dengan rahmat dan kasih sayang, hingga dengan tenagnya mengatakan pada malaikat itu, biarkan saja! Semoga dari keturunan mereka akan keluar orang-orang yang mengesakan Allah subhaanahu wata’ala.

Keberhasilan rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam berdakwah, seharusnya menjadikan kita  banyak belajar dari cara-cara hikmah dakwah beliau. Sehingga dakwah bukan membuat orang lari atau ketakutan. Ungkapan yang  dipakai rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah “basysyiruu wala tunaffiru yassiruu walaa tu’ashshiru”, berikanlah kabar gembira dan janganlah membuat mereka lari, mudahkanlah dan jangan dipersulit”.

Membangun masyarakat yang islami bukanlah perkara yang mudah. Ketergesah-gesahan dan kecerobohan hanya akan melahirkan “cacat” pada dakwah itu sendiri, seolah islam adalah agama yang buruk dan menakutkan.

Membangun peradaban islam, tidak akan bisa pula dengan langsung meneriakkan kalimat “mari tegakkan khilafah” walau dengan suara lantang dan keras. Justru, orang hanya akan merasa aneh dengan sikap dai tersebut. Bagaimana mungkin membangun satu bangunan yang kokoh kalau fondasinya belum ada? Yang ada hanya akan meruntuhkan dan meluluh lantakkan bangunan yang sudah dibangun. Demikianlah analaogi yang bisa kita gunakan.

Jika masyarakat tidak paham akan syariat agama mereka yang penuh dengan rahmat dan kasih sayang, maka walau khilafah di tegakkan, tunggulah umat islam itu sendiri yang akan kembali menyerang dan menghancurkan tatanan yang sudah susah payah dibangun.

Kebodohan dan kelemahan akidah umat bak kijang yang  sakit, pincang dan lemah telah siap diterkam oleh ratusan srigala-srigala buas nan kelaparan. Begitulah kondisi kaum muslimin hari ini. Perang pemikiran yang sedang bergulir, telah menerobos barisan pertahanan kaum muslim, siap merongrong dan memporak-poradakannya. Tidak jarang kita lihat, ketika undang-undang pelarangan miras atau anti pornografi misalanya, siapa yang bangkit tuk menolak undang-undang itu? Dan masih banyak lagi contoh lainnya. Orang bilang, islamnya KTP doang.

Membangun peradaban islam tidak harus dengan ketergesa-gesaan. Harus saling tolong menolong, harus sabar, saling mengerti dengan perbedaan, saling menasehati dengan baik dan penuh hikmah. Bukan malah saling mengkafirkan dan membid’ahkan hanya pada masalah-masalah furu’iyyah yang butuh lapang dada dalam mensikapinya. Saling mengklaim dirinyalah yang paling salaf. Ini hizhbi, ini sururi, ini quthbiy, ini salafy. Padahal setiap mereka sudah ada ulama yang kredibel memberikan masukan bahkan mentazkiah mereka. Buku rujukan sama, ulamanya sama, ajaran akidahnya sama, umat jadi bingung. Kesesatan berkembang pesat dan mereka malah asyik-asyikan saling mencaci maki untuk membuktikan dan melegitimasi kesalafian mereka. Allahul musta’an.

Mari sedikit kita menoleh pada sejarah indah penuh hikmah. Kisah bai’atul aqobah yang menjadi titik tolak keberhasilan dakwah rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

‘Ubadah ibn shomit menuturkan:

 كُنْت فِيمَنْ حَضَرَ الْعَقَبَةَ الْأُولَى ، وَكُنّا اثْنَيْ عَشَرَ رَجُلًا ، فَبَايَعْنَا رَسُولَ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ عَلَى بَيْعَةِ النّسَاءِ, وَذَلِكَ قَبْلَ أَنْ تُفْتَرَضَ الْحَرْبُ عَلَى أَنْ لَا نُشْرِكَ بِاَللّهِ شَيْئًا ، وَلَا نَسْرِقَ وَلَا نَزْنِيَ وَلَا نَقْتُلَ أَوْلَادَنَا ، وَلَا نَأْتِيَ بِبُهْتَانِ نَفْتَرِيهِ مِنْ بَيْنِ أَيْدِينَا وَأَرْجُلِنَا ، وَلَا نَعْصِيَهُ فِي مَعْرُوفٍ . فَإِنْ وَفَّيْتُمْ فَلَكُمْ الْجَنّةُ . وَإِنْ غَشِيتُمْ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَأَمْرُكُمْ إلَى اللّهِ عَزّ وَجَلّ إنْ شَاءَ عَذّبَ وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ
Dahulu aku diantara orang-orang yang hadir pada peristiwa aqobah pertama. Kami saat itu berjumlah dua belas orang. Maka kami membai’at rasulullah shallallahu’alaihi wasallam diatas bai’at para wanita. Peristiwa itu sebelum diwajibkannya perang. Bai’at itu agar kami tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak kami, tidak berdusta, tidak bermaksiat kepadanya pada hal yang ma’ruf. Rasulullah menngatakan: jika kalian melakukannya, maka bagi kalian surga dan jika kalian melanggar, maka perkaranya kembali kepada Allah. Jika Dia berkehendak, Dia akan mengadzab kalian dan jika Dia berkehendak, Dia akan memaafkannya.
Ada pelajaran berharga yang bisa kita teladani dari kisah bai’atul ‘aqobah diatas. Mari kita coba renungkan, pasal demi pasal yang ditekankan oleh rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika mengambil sumpah setia pada para sahabat-sahabatnya. Menjauhi kesyirikan, tidak mencuri, tidak berzina, dan seterusnya.
Pondasi awal yang dibangun rasulullah dalam membangun peradaban adalah ketauhidan yang murni kepada Alllah ‘azza wajalla. Karena ini merupakan asas dasar dari terbentuknya umat yang rabbani.
Umat harus sadar akan pentingnya pemurnian akidah. Oleh karena itu tidak mengherankan kalau rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam mendakwahkan tauhid ini selama 13 tahun pertama dimasa kenabian beliau. Semua nabi dan rasul serta orang-orang shaleh terdahulu senantiasa mendahulukan dakwah mereka  dengan dakwah tauhid. Memurnikan ibadah kepada Allah dan tidak mempersekutukannya dengan apapun.

Sedikit kita berkaca pada washaya Lukman Al-Hakim kepada Anaknya.

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Dan ingatlah katika Lukman berkata kepada anaknya saat menasehatinya wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan  Allah, sesungguhnya syirik itu adalah dosa yang sangat besar. QS; lukman: 13
Penanaman nilai-nilai tauhid harus ditekankan sejak awal dakwah yang kita lakukan. Tentu dengan penuh hikmah dan kelembutan, dengan arif dan bijaksana. Ketika umat betul-betul mamahami hakikat tauhid, tidak perlu menyusahkan diri teriak-teriak untuk kembali menegakkan khilafah, akan muncul dengan sendirinya suara-suara keras dari lorong-lorong kecil yang akan terus membesar dan membahana menyerukan kembali pada syariat. Intinya tentu adalah khilafah.

Bagaimana mungkin Allah akan ridho pada suatu kaum, jika penduduknya mencampur adukan yang haq dan bathil?
Bagaimana mungkin Allah akan ridho pada suatu kaum, jika ketauhidan dicampur adukan dengan kesyirkan?

الَّذِينَ آمَنُواْ وَلَمْ يَلْبِسُواْ إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُوْلَـئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ
  
Adapun orang-orang yang beriman, mereka tidak mencmpur adukan keimanan mereka dengan kezholiman (kesyirikan) mereka itulah yang mendapatkan keamanan dan mendapatkan petunjuk. QS; Al- An’am: 82
Hanya saja kita adalah umat yang sangat tergesa-gesa. Umat yang ketika mendapatkan ujian dan cobaan selalu ingin cepat lari dan mundur dari ujian tersebut.

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan beramal soleh, bahwa Ia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Ia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Ia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Ia ridhai untuk mereka. Dan Ia benar-benar akan menggantikan (keadaan) mereka setelah mereka berada dalam ketakutan, menjadi aman sentausa. Mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tiada menyekutukan-Ku dengan sesuatu. Dan barang siapa yang (tetap) kufur sesudah janji ini, maka mereka itulah orang-orang fasik." QS; An-Nur: 55

Diriwayatkan dari sahabat Khabbab bin Arat radhiallahu ‘anhu, bahwa pada suatu hari beliau mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang berbaring di bawah naungan Ka'bah berbantalkan selimutnya. Lalu sahabat Khabbab berkata kepada beliau: Tidakkah engkau memohonkan pertolongan untuk kami? Tidakkah engkau berdoa kepada Allah untuk kami? Maka beliau menjawab: Dahulu pada umat sebelum kalian ada orang yang ditimbun dalam tanah, kemudian didatangkan gergaji, lalu diletakkan di atas kepalanya hingga terbelah menjadi dua. Siksa itu tidaklah menjadikan ia berpaling dari agamanya. Dan ada yang disisir dengan sisir besi, hingga terkelupas daging, dan nampaklah tulang atau ototnya, akan tetapi hal itu tidaklah menjadikan ia berpaling dari agamanya. Sungguh demi Allah, urusan ini akan menjadi sempurna, sehingga akan ada penunggang kendaraan dari Sanaa' hingga ke Hadramaut, sedangkan ia tidaklah merasa takut kecuali kepada Allah atau serigala atas dombanya. Akan tetapi kalian adalah orang-orang yang terburu-buru.HR: Bukhari

Sehingga tidak ada jalan lain, untuk mengembalikan kejayaan islam ini harus dengan menempuh jalan orang-orang shaleh sebelum kita. Yaitu dengan mendakwahkan tauhid sebagai pondasi untuk kehiduapan bermasyarakat. Sehingga Allah akan membukakan pintu-pintu keberkahan-Nya dari langit dan bumi.

Pelajaran yang lain dari kisah bai’atul ‘aqobah adalah penanaman akan pentingnya akhlak mulia pada kehidupan bermasyarakat. Setelah rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membuat pondasi yang kuat dalam dakwahnya maka beliau mulai menegakkan tiang-tiang penyangga dalam bangunan dakwahnya. mengangkat akhlak kaum muslimin pada a’la mustawa, tingkatan ahlak tetinggi. Sehingga keduanya bisa bersinergi dan dapat melahirkan peradaban islam yang kuat.
Umat islam tidak akan menjadi umat terdepan jika mereka kekurangan akhlak. Jika akhlak itu maka hilanglah segala-galanya. Politik, ekonomi, hukum, dan tatanan pemerintahan akan menjadi sangat terbelakang jika tidak dilandasi dengan akhlak yang baik.

Kembali kita pada perkataan para ulama, umat ini tidak akan baik dan berjaya kecuali mereka menempuh jalan orang-orang sholeh terdahhulu.

Washallillahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa’ala aalihi wasallam


Semoga bermanfaat.

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar