Selasa, 18 Maret 2014

.:: Beginilah Salafi Menyikapi Fitnah ::.

Salafi sebagai kelompok/manhaj yang dirokemandasikan oleh rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah kelompok yang sangat hati-hati dan tidak serampangan dalam menghukumi seseorang begitu juga dalam mengambil kabar. Ketelitian dalam mengambil kabar/berita menjadi karakteristik yang dimiliki oleh kelompok ini sebagai warisan dari ahlu hadits yang tidak dimiliki oleh kelompok lain. Inilah warisan turun-temurun dan menjdi adat bagi siapa saja yang berintisab [menisbatkan diri] pada manhaj ini.

Namun pada kenyataannya, bagi mereka yang hari ini berintisab dengan manhaj mulia ini, sangat serampangan dalam menyebarkan berita, sangat muda dalam menghukumi seseorang dengan kabr yang tidak jelas itu, akibat fanatik pada person yang diidolakannya. Akhirnya, menjadi pudarlah keindahan manhaj mulia ini di mata kelompok-kelompok lain karena kebiasaannya mengkafirkan dan menyesatkan saudara-saudaranya sendiri. Gelar “pebisnis
perpecahan umat” pun disandangkan pada mereka. Allahul musta’an.

Hal yang lebih menyedihkan lagi adalah ketika mereka melihat anak-anak didik mereka yang baru kemarin sore belajar agama, hebat sekali dalam menyesatkan, membid’ahkan dan mengkairkan orang lain. nagji belum pandai, sholat masih salah-salah tapi kalau persoalan mengkairkan jangan salah, dia nomor satu. ‘iyadzan billah. Semua ini diakibatkan pada kesalahan mereka dalam mengambil kabar.

Olehnya perlu dijelaskan bagaimana para ulama hadits mengambil berita dan menyikapi kabar berita yang masih rancu. Sehingga tidak memicu timbulnya fitnah dan terjadinya perpecahan umat.

Dalam mentarjih khabar dari segi sanad ada beberapa jalan. Diantaranya adalah:
1.تقديم رواية صاحب القصة على رواية من ليس صاحب القصة لأنه أدرى بما حدث له

Mendahulukan riwayat pemilik kisah daripada riwayat yang bukan pemilik kisah karena dia lebih tahu apa yang terjadi pada dirinya.

Misalnya:

Hadits ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasalam menikahi maimunah dalam keadaan ihram (kondisi ini diharamkan menikah) HR. Bukhari dan Muslim

Kemudian datang hadits yang lain dari Yazid ibn al Ashm dia berkata Maimunah bintu Harits telah menceritakan kepadanya bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikahinya dalam keadaan halal. HR. Muslim.
Dalam kondisi seperti ini, riwayat dari Maimunahlah yang harus didahulukan daripada riwayat ibnu Abbas karena dia adalah pemilik kisah yang lebih tahu tentang dirinya sendiri.

2.
تقديم رواية من يباشر بالقصة على من يبعد عنها

Mendahulukan riwayat yang melihat kisah secara langsung dari yang tidak melihat kisah.

Misalnya: 

Hadits dari Abdullah ibnu Abbas bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menikahi Maimunah dalam keadaan ihram. HR. Muslim.

Kemudian ada riwayat dari Abu Rafi’ “bahwasanya rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikahi Maimunah dalam keadaan halal dan saat itu diriku adalah utusan diantara mereka berdua,” HR.
Tirmidzi dan Nasai

Maka dalam hal seperti ini, riwayat abu rafi’ harus didahulukan karena dia sebagai utusan yang berada diantara mereka berdua, yang melihat peristiwa secara langsung.
(silahkan lihat dalam mudzakkirah fii Ushulil Fiqh min Muhadharaat fadhilatusysyaikh ad duktur Muhammad bin
Abdurrazzaq ad Duwaisy yang disusun oleh Khairul Masmu’ Mas’udi al Banjari al Jawi: 357-358)

Oleh
karena itu, diharapkan kepada seluruh thullabul ilmi, agar tidak mudah mengkafirkan saudaranya hanya karena kabar yang simpang siur. Sekalipun jika ada fawta dari seorang alim besar yang tsiqoh namun jika fatwanya tidak benar dan tidak sesuai realita maka itu tidak di terima walaupun fatwa dari seorang ulama kibar.

Dalam kaidah seorang musuh tidak boleh menjadi saksi terhadap musuhnya itu karena dikhawatirkan adanya ketidak adilan dalam menyampaikan kabar
berita.

Satu contoh yang diperlihatkan oleh seorang ulama kibar yaitu imam Muslim rahimahullah. Beliau memiliki dua guru yang sangat masyhur dalam bidang hadits dan keilmuannya tidak perlu dipertanyakan lagi. Mereka adalam imam Bukhari rahimahullah dan imam Muhammad bin Yahya adz-Dzuhli rahimahullah.

Saat itu, imam Muhammad bin Yahya adz-Dzuhli menuduh bahwa imam Bukhari mengatakan “lafazhku ketika membaca al qur’an adalah makhluk’’. Tentu jika itu benar, maka ini bukanlah aqidah ahlu sunnah. Namun ternyata, itu bukanlah berita yang benar karena imam Bukhari rahimahullah menjelaskan semua itu dalam kitabnya Khalqu af’alil ibad. Ketika imam Muslim lebih condong kepada imam Bukhari, suatu hari imam Muslim harus diusir dari majelis hadits imam Muhammad bin Yahya adz-Dzuhli karena itu. Maka untuk menghargai kedua gurunya ini, riwayat keduanya tidak dimasukkan dalam kitab shahihnya yang menjadi rujukan kaum muslimin.

Olehnya, hendaknya seperti inilah seorang salafi menyikapi fitnah. Tidak asal menuduh secara serampangan, hingga melukai saudaranya seakidah dan orang lain. Sikap yang baik diperlihatkan oleh seorang salafi adalah diam dan tidak menyebarkan fitnah yang dia sama sekali tidak tau asal-usulnya.


0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar