Minggu, 09 Maret 2014

.:: Benarkah Seseorang Dapat Mengetahui Kematiannya? ::.

Kematian adalah momok yang sangat menakutkan bagi sebagian orang. Olehnya manusia dengan fitrahnya akan ketakutan itu selalu lari dari kematiannya, berharap ajal tidak datang menemuinya dan hidup kekal didunia yang fana.

Kematian adalah misteri, mengetahui kapan terjadinya adalah perkara yang mustahil karena merupakan perkara ghaib. Kepastiannya hanya ada pada Allah subhaanahu wata'ala.

Jaminan hidup lama tidak ada yang dapat memberikan rekomendasi, seorang bayi yang baru lahir mungkin saja akan langsung mendapati ajalnya dihari kelahirannya itu. Seorang yang tubuhnya sehat dan kuat pun tidak bisa memberikan jaminan bahwa dia masih akan hidup lama. Begitu juga,
seorang yang sudah tua renta dengan segala kelemahannya belum tentu menemui ajalnya disaat waktu yang dia harapkan akan meninggal dunia atau seorang yang menderita penyakit yang sangat keras belum tentu menemui ajalnya dihari sakit yang ia rasakan semakin parah itu.

Kematian adalah misteri, kejadiannya adalah pasti dan kita semua yakin akan itu. Namun kapan terjadinya itu.... Allahu A'lam.

Mungkin sudah pernah kita menyaksikan, seorang pria sedang asik-asik bermain bola tiba-tiba jatuh tersungkur dan kehilangan nyawanya. Mungkin kita pernah melihat seorang pria atau wanita menderita penyakit yang sudah puluhan tahun lamanya hanya terbaring lemah tak berdaya menghadapi musibah penyakit yang begitu berat
menimpanya. Bahkan mungkin kedokteran telah memvonis bahwa hidupnya tidak akan lama lagi, namun ternyata ia bisa bertahan dengan penyakit itu dan bisa hidup puluhan tahun lagi.

Sekali lagi.... ini adalah misteri. 'imuhu 'indallah

Olehnya, merupakan perkara yang sangat mustahil jika ada orang mengatakan bahwa ada seseorang yang bisa mengetahui kapan ia akan menemui ajalnya. Atau mungkin mengetahui tanda-tandanya dari jarak 40 hari, 7 hari, dan 3 hari... ini adalah perkataan dusta...

Sekali lagi... ini adalah misteri.. ini adalah perkara ghaib.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyebutkan ajal bersama dengan perkara-perkara ghaib lainnya dalam sebuah hadits:

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ : إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْد

Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radiallahuanhu beliau berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan : Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara : menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya. HR: Bukhari Muslim

Allah juga telah membantah orang-orang yang berkata bahwa mereka mengetahui kematiannya dalam firmannya:

إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الأرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana Dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. QS: Luqman : 34

Allah juga berfirman:

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلا يَعْلَمُهَا وَلا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأرْضِ وَلا رَطْبٍ وَلا يَابِسٍ إِلا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)"

Hikmah:


Allah menjadikan kematian sebagai perkara ghaib agar setiap manusia selalu mempersiapkan dirinya untuk menjemput hari akhir. Allah ingin mengajarkan pada hambanya untuk menjadi orang-orang yang selalu punya hirsh (semangat) dan mujahadah (kesungguhan) dalam menghadapi hidupnya serta selalu berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan.

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar