Rabu, 19 Maret 2014

.:: Selagi Masih Ada Harapan ::.

Kebangkitan islam adalah perkara yang sangat didamba-dambakan setiap muslim. Hari ini, umat yang seperti buih di lautan memang membutuhkan seorang panutan yang bisa menyatukan dan menampung seluruh aspirasi mereka. Rong-rongan kesesatan setiap saat semakin menggeliat memamerkan taringnya  serta ingin mencabik-cabik dan mengoyak keutuhan dan persatuan umat.

Ditambah lagi, zaman ini adalah zamannya para ruwaibidhoh. Para penipu dan pendusta dikatakan sebagai orang-orang yang jujur dan amanah, para pencuri  dikatakan sebagai orang yang melindungi harta umat, para pezina dikatakan sebagai para pahlawan keluarga. Terlebih lagi, orang-orang bodoh dikatakan sebagai orang yang paling pintar dan jenius yang diharapkan dapat memimpin bangsa ini.

Parahnya lagi,
umat kini berpecah. Masing-masing hanya memikirkan nasib kelompoknya, bukan memikirkan nasib kaum muslimin secara umum. Itu dosa, itu dosa, melarang orang lain dari perkara dosa namun tidak bisa membedakan bagaimana hukum ketika dua mudharat saling bertabrakan pada satu waktu yang sama. Pokoknya,  itu dosa... katanya...

Hari ini, orang-orang itu. Hanya bisa menangis tatkala melihat saudaranya di siksa dan dibantai, mengira bahwa pembantaian itu tidak akan berpengaruh pada keimanan mereka nantinya kalau mereka tidak mengambil mudharat terkecilnya.

Hari ini, mereka hanya bisa berpangku tangan tatkala mendengar saudara-saudaranya dimurtdakan oleh
para penyerunya. Parahnya lagi, mereka masih selalu saja bisa tersenyum dan tertawa bahkan masih selalu saja menyesatkan orang lain yang berjuang ingin mempertahankan akidah umat tatkala saudara-saudaranya itu dimurtadkan.

Mari kita sadar diri!!!

Kita beragama tidak sendirian. kita hidup dalam negara yang hari ini para penyeru kesesaatan ingin menguasai dunia. Dengan kekuasaan itu, mereka bisa membuat saudara-sadara kita yang selalu menyalahkan para pejuang akidah umat itu bisa berbalik kafir dalam sekejap mata. Ya.. ini adalah kenyataan.

Saya katakan sekali lagi, jika para penyeru kebatilan itu menguasai dunia, mereka akan membuat kaum muslimin kafir dalam sekejap mata. Paling minimal, orang-orang yang bertahan dengan akidahnya yang lurus hanya bisa menelan rasa pahit akan susahnya beribadah, kemaksiatan akan dengan bebas dilakukan di depan mata-mata mereka sendiri, dimana hukumnya telah dihalalkan oleh hukum negara yag berlaku. Kaum muslimin jadi tidak bisa berbuat apa-apa lagi dan hanya bisa bersabar dengan berbagai kemaksiatan dan penyimpangan. Bahkan mungkin nantinya mereka yang katanya ingin menjaga akidah untuk tidak terjatuh pada kekufuran demokrasi itu, akan ikut-ikut menikmati kemakisatan yang ada di depan matanya. Wal ‘iyaadzu billah.

Olehnya wahai saudaraku, selagi masih ada kesempatan mari kita berjuang. Sekalipun sudah tidak ada partai-partai yang kita harapkan bisa merubah kaum muslimin kearah yang kita inginkan, tapi setidaknya masih ada orang-orang di sana yang akan berjuang untuk kepentingan saudaranya yang  muslim walaupun perjuangnya sangatlah kecil dan tak semanis buah ruthob saat disantap tapi setidaknya ia seorang muslim yang tidak menyukai kekufuran dan bisa memberikan kita keleluasaan untuk terus mendakwahkan sunnah yang mulia ini.

Wahai saudaraku, selagi masih ada kesempatan mari kita berjuang, sekalipun mereka telah memperlihatkan kepada kita bahwa perbuatannya dahulu menghinakan islam dengan mearayakan hari-hari raya kufur dan bernyayi bersama bersama orang-orang kufur. Tapi itu hanyalah karena kebodohan, atau mungkin karena hawa nafsu dunia dan jabatan telah membutakan mereka. Setidaknya kita masih berharap bhwa mereka akan memperjuangkan hak-hak kaum muslimin dan benci akan penindasan kaum muslimin.

Saya kira kita semua tahu bahwa para ulama telah memperbolehkan kita untuk ikut serta dalam kegiatan yang kita semua paham dengan kesalahannya, namun untuk menghindari akibat yang lebih berbahaya maka para ulama pun membolehkannya. Irtikaabu akhaffu adh dhararain..

Wahai saudaraku, bersatulah. Jika memang kita betul-betul ingin memperjuangkan islam, setidaknya mari kita bergenggam tangan merapatkan barisan, meninggalkan sejenak AD-ART yang membedakan basis perjuangan kalian untuk melawan orang-orang yang mencintai kekufuran.  Musuh kita satu, yaitu kekufuran dan orang-orang yang mencintai kekufuran.

Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا آبَاءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاءَ إِنِ اسْتَحَبُّوا الْكُفْرَ عَلَى الإيمَانِ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (٢٣)

Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu menjadi walimu [pemimpinmu], jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim. QS; At Taubah: 23

Kita semua sadar bahwa penguasa saat ini membebankan pada kita untuk memilih. Kita semua tahu bahwa orang-orang yang bermbisi menguasai parlement hari ini adalah para penyeru kekufuran. Jika kita tidak mengambil mudhorat terkecil maka otomatis kita memberikan keleluasaan kepada orang-orang yang memusuhi islam terkhusus dakwah sunnah, untuk memimpin kita karena kita tidak bisa merubah sistem. Sistem sudah mengandang paksa kita untuk mengambil yang mudharat yang terkecil. Jika kita tidak memilih, otomatis secara tidak langsung kita telah memiliih mereka itu.

Olehnya selagi masih ada  harapan dan kesempatan, mari kita berjuang untuk memilih mudharat terkecil.
 Kalaupun salah mohon nasehatilah kami.

Akhukum Fillah
Abu ‘Ukasyah al Munawi






0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar