Senin, 21 April 2014

Hijab Kewajiban Muslimah Yang Penuh Tantangan



Dunia merupakan tempatnya cobaan. Sudah menjadi perkara yang lumrah jika setiap manusia akan merasakan pahitnya hidup yang penuh tantangan. Terkadang sangat mudah dilalui namun terkadang harus dengan mengeluarkan tenaga yang ekstra bahkan harus mengorbankan perasaan. Setiap fase kehidupan yang dilalui seorang hamba dalam mendekatkan dirinya kepada Allah akan selalu  mendapatkan ujian dan rintangan, baik berupa kenikmatan ataupun musibah. Namun, seorang muslim yang bijak hendaknya pandai mengambil sikap serta tidak gegabah dalam menyelesaikan setiap masalah yang menimpanya.
Kesabaran merupakan modal dan senjata utama yang hendaknya dimiliki oleh setiap muslim dalam menghadapi berbagai masalah hidupnya, serta tidak tergesa-gesa dalam menyikapi dan memutuskan satu permasalahan. Hal inilah yang menjadi pembeda antara seorang muslim dan umat-umat lainnya dalam menyikapi masalah. Olehnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ، صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Sungguh mengagumkan perkara seorang mu’min, sesungguhnya semua perkaranya adalah kebaikan dimana hal ini tidak dimiliki oleh siapapun kecuali hanya pada seorang mu’min. Apabila dia mendapatkan kebahagiaan dia bersyukur maka ini adalah kebaikan baginya dan apabila dia mendapatkan musibah maka dia akan bersabar dan ini merupakan kebaikan baginya. (HR. Muslim [2999] asy Syamilah)

Demikian halnya seorang muslimah, ujian yang datang kepadanya mungkin jauh lebih berat dibandingkan seorang muslim dalam menjalankan ketaatan kepada Rabbnya. Ini bisa terlihat dari bagaimana mereka bertahan dari celaan dan cemohan ketika menjalankan perintah Allah dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. QS. Al Ahzab: 59

Terlebih lagi, ketika hegemoni dunia internasional seolah menyuarakan satu suara akan pelarangan hijab. Kesuciannya seolah aib yang harus dihilangkan, pemakaiannya adalah pelanggaran akan hak asasi manusia untuk melihat wajah seorang wanita terhormat. Mereka bereuforia dalam kesesatan serta memaksa orang lain untuk bersama mereka dalam jurang api neraka.

أُولَئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلالَةَ بِالْهُدَى وَالْعَذَابَ بِالْمَغْفِرَةِ فَمَا أَصْبَرَهُمْ عَلَى النَّارِ
Mereka Itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan siksa dengan ampunan. Maka Alangkah sabarnya mereka atas api neraka! QS. Al Baqarah: 175
Parahnya lagi, ada sekelompok manusia yang mangaku dirinya sebagai cendekiwan muslim atau seorang alim lalu berfatwa bahwa hijab hanyalah budaya orang arab, serta cukup dengan berpakaian terhormat tanpa ada standar khusus dari kata “terhormat” yang dimaksud. Sementara dalil syar’i akan perintah pemakaiannya sangat jelas bahkan para ulama semua sepakat akan kewajiabannya.

Tidak mengherankan jika ada sekelompok manusia yang memiliki watak dan karakter seperti itu, karena rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إن الله لا يقبض العلم انتزاعا ينتزعه من الناس ولكن يقبض العلم بقبض العلماء حتى إذا لم يترك عالما اتخذ الناس رءوسا جهالا فسئلوا فأفتوا بغير علم فضلوا وأضلوا
Sesungguhnya Allah tidak mematikan ilmu dengan sekali cabutan, mencabutnya dari manusia. Akan tetapi Dia  mematikan ilmu dengan mematikan para ulama. Sehingga apabila sudah tidak tersisa seorang alim, orang-orang akan menjadikan pemimpin-pemimpinnya dari kalangan orang-orang bodoh. Tatkala mereka ditanya, mereka akan menjawab dengan tidak berlandaskan pada ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan. HR. Muslim

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR. Ibnu Majah, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah [1887] as-Syamilah).

Oleh karena itu, muslimah perindu surga tidak akan takut dengan semua cobaan yang dihadapinya. Mempertahankan hijabnya adalah kemuliaan, simbol kecantikan dan ciri kesholehan. Melepaskannya adalah kezhaliman dan kemaksiatan pada Sang Pencipta.
Muslimah perindu surga adalah wanita yang bangga dengan hijabnya walau orang-orang menghinanya, mengenakannya adalah pengagungan akan syiar  islam dan ketakwaan, melepaskannya adalah kehinan. Umar ibn al Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah berkata:

نحن قوم أعزنا الله بالإسلام فمهما ابتغينا العزة بغيره أذلنا الله
Kita adalah kaum yang dimuliakan oleh Allah dengan islam maka jika kita mencari kemulian dengan selainnya, maka Allah akan menghinakan kita.  

Muslimah perindu surga adalah wanita yang kuat, rela menggenggam bara api walau panasnya menghanguskan tangan mulus sucinya. Demikianlah  kinayah para kesatria-kesatria sunnah al ghuraba yang terasing dalam agamanya sendiri, rela dicaci dan dimaki demi ketaatan pada Sang Khalik, karena hanya dengan itulah jalan untuk menjamah surga.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يأتي على الناس زمان الصابر فيهم على دينه كالقابض على الجمر
Akan datang suatu zaman pada manusia dimana orang-orang yag bersabar pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api. (HR. Tirmidzi dishahihkan oleh Al Bani)

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing, maka beruntunglah orang-orang yang asing itu. (HR. Muslim [145] asy Syamila)

Orang tua yang memiliki ghirah [perasaan cemburu] hendaknya mengajarkan anaknya untuk mengenakan hijab syar’i sedini mungkin, karena orang tua merupakan pemimpin yang akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah di yaumul mahsyar kelak. Tentu saja, orang tua yang berakal tidak ingin menjadi penyebab masuknya Anggota keluarganya dalam api neraka hanya karena tidak mengajarkan anaknya bagaiamana seharusnya mengenakan hijab yang syar’i.

Orang tua yang pandai pula, bukanlah orang yang mengajarkan pada anak-anaknya bagaimana seharusnya mengikuti trend-trend terbaru yang merusak akhlak dan moral. Sadar atau tidak sadar, istilah-istilah yang biasa dipakai anak remaja saat ini banyak menjurus pada hal-hal yang berbau porno aksi, misalnya CABE-CABEAN yang merupakan singkatan dari Cewek Alai Bahan Esek-esekan. Mengajarkan anak-anak untuk joget Cabe-cabean adalah mempromosikan anak untuk menjadi seorang penggila sex bebas dewasanya.



Wallahu a’lam bishowab

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar