Selasa, 15 April 2014

Hukum Ithila’ [Mengamati] Injil dan Taurat


Pertanyaan:

Seorang penanya berkata,” apakah boleh bagi saya mengamati injil dan taurat lalu saya membacanya sementara saya adalah seorang muslim. Saya tidak memiliki tujuan lain hanya sekedar untuk mengamatinya saja. Apakah beriman terhadap kitab samawi, maksud saya beriman bahwasanya bahwa kitab-kitab tersebut dari Allah ataukah kita harus mengimani apa yang dikabarkan dalam kitab tersebut?

Jawaban:

Hendaknya bagi setiap muslim untuk beriman dengannya, bahwasanya taurat, injil dan zabur bersumber dari Allah. Maka hendaknya dia  beriman bahwa Allah menurunkan kitab-kitab untuk para nabi dan Allah juga menurunkan suhuf [lembaran-lembaran kitab] yang di dalamnya berisi: perintah dan larangan, nasehat dan peringatan,  kabar-kabar tentang hal-hal yang terjadi di masa lalu, tentang perkara surga dan neraka dan selain itu. Akan tetapi tidak boleh bagi seseorang untuk memakainya, karena semua kitab-kitab itu sudah diselewengkan, di ganti dan dirubah, maka tidak boleh baginya mengumpulkan taurat, injil dan zabur atau membaca isinya. Karena jika dia melakukannya itu akan sangat berbahaya. Dikhawatirkan dia akan membenarkan kedustaan dan menolak kebenaran karena kitb-kitab tersebut telah di selewengkan dan di rubah-rubah isinya. Hal ini terjadi melaui orang-orang yahudi dan nashrani.
Sungguh Allah telah mencukupkan kita dari semua itu hanya dengan kitab kita yang mulia yaitu al Quran al Karim.

Terdapat riwayat dari rasulullah shallallhau ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau pernah melihat Umar Ibn al Khattab rahdhiyallahu ‘anhu memegang lembaran-lembaran taurat di tangannya yang membuat rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam marah dan berkata,” apakah engkau berada dalam keraguan wahai Umar?  Sungguh aku datang kepada kalian dengan sesuatu yang bersih dan terang benderang. Jika seandainya Musa hidup, nisacaya dia tidak akan memperkarakannya kecuali mengikutiku “baginya shalwat dan keselamatan”.” [Musnad Ahmad Ibn Hambal, 3/387].

Dan yang kami maksdukan adalah hendaknya engkau tidak mengambil darinya sedikitpun. Tidak dari taurat, tidak pula dari injil, dan tidak pula dari zabur tidak pula engkau mengumpulkannya dan tidak pula membacanya. Bahkan jika kalian memilikinya, maka hendaknya dikuburkan atau dibakar saja karena kebenaran di dalamnya sudah tidak ada  dan kita mencukupkan diri dengan al Quran. Setiap perkara yang sudah dirubah dan diganti maka itu adalah kemungkaran. Maka wajib bagi setiap muslim untuk menjaga dirinya dari hal itu, serta menjauhkan dirinya dari mengamati dan membacanya karena boleh jadi dia akan membenarkan kedustaan dan mendustakan kebenaran. Maka jalan yang paling selamat adalah menimbun kitab-kitab itu atau membakarnya.

Akan tetapi dibolehkan bagi seorang alim yang memiliki khzanah ilmu yang baik untuk membacanya untuk membantah orang-orang yang memusuhi islam dari kalangan yahudi dan nashrani. Sebagaimana rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memanggil yahudi dengan taurat ketika mereka mengingkari hukum rajam hingga mereka memperhatikannya  semoga shalawat dan salam terhdap nabi muhammad.  Dan akhirnya merekapun mengakuinya setelah itu.

Maksudnya adalah, para ulama yang mengetahui syariat nabi muhammad terkadang butuh untuk membaca kitab taurat, injil dan zabur hanya untuk kepentingan islam. Seperti membantah musuh-musuh Allah, untuk menjelaskan keutamaan al Quran dan apa yang terdapat di dalamnya dari kebenaran dan petunjuk. Adapun orang-orang yang masih awam atau serupa dengan orang awam maka tidak boleh bagi mereka membacanya. Bahkan, apabila mereka memiliki sesuatu dari kitab taurat dan injil atau zabur maka wajib baginya untuk menguburkannya di tempat yang baik atau membakarnya. Agar tidak ada seorangpun yang tersesat darinya.

Sumber: Fataawa nurun ‘ala ad darb [juz 1 halaman 10-11]
Penulis: Abdul Aziz Ibn Abdullah Ibn Baz Rahimahullah
Penerjemah: Muhammad Ode Wahyu



      

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar