Rabu, 14 Mei 2014

Belajar Akhlak Salaf Dari Guruku: Jangan Perparah Keadaan

Dalam kondisi barisan dakwah yang terpecah belah seperti sekarang ini, seorang muslim sering kali dihadapkan dengan berbagai fitnah yang besar. Saling tuduh menuduh menjadi hal yang biasa terjadi, layaknya hidangan hangat tiap harinya. Diperparah lagi dengan kondisi murid-muridnya yang perbekalan ilmu syar’inya masih sangat minim tak ubahnya seorang pemain karate yang baru masuk, namun sepak terjangnya selalu ingin menyaingi seniornya yang sudah puluhan tahun belajar.

Ahlu sunnah wal jama’ah, manhaj mulia yang selalu menjadi rebutan tiap mereka. Beradu argument melalui artikel-artikel hanya untuk melegitimasi siapa yang paling sunnah. Kehormatan seorang muslim tidak lagi diperhatikan hanya untuk memuaskan dahaga dari keangkuhannya, persatuanpun menjadi hal yang dinafikan. Allahul Musta’an.

Seiring berjalannya waktu, diantara mereka pun mulai menjawab sendiri apa yang dahulu ia tuduhkan pada saudaranya. Menukil beberapa fatwa ulama akan kebolehan wasilah dakwah yang dahulu dituduhkannya dengan gelar hizbiyyah wal muta’ashshibah (Hizbi dan fanatik). Walau tak ada klarifikasi dari mereka akan perkataan itu yang sudah merobek-robek kehormatan saudara muslimnya.

Kun salafiyyan ‘alal jaddah (jadilah salafi yang paling pertengahan) inilah kata-kata yang diajarkan oleh guruku Muhammad Yusran Anshar Hafizahullah ketika mensyarahkan kitab hilyatu tholibil ‘Ilmi (Perhisan Seorang Penunut Ilmu) karya Syaikh Bakr Ibn Abdullah Abu Zaid Rahimahullah. Falzam as sabiil... walaa tattabi’u as subula fatafarraqa bikum an sabiilihi (iltizamlah dengan jalan... Janganlah engkau mengikuti jalan-jalan lain yang akan membuat kalian terpecah belah dari jalan-Nya). Ayat terakhir dari judul itu. Nasehat yang membekas dari seorang ‘alim.

Masih teringat ketika mendengarkan namanya disebut sebagai “anak ingusan” oleh saudaranya yang bermanhaj salaf pula, namun balasan ketika menyebut saudaranya yang melecehkannya adalah “hafizahullah” (semoga Allah menjaga dirinya). Sejenak aku berfikir, inilah praktek dari apa ia ajarkan kepadaku dari kitab itu beberapa tahun lalu, khafdhul janaahi wa nabdzul khuyalaa wal kibriyaa’ (merendahkan sayap dan meninggalkan kesombongan). Aku sudah belajar akhlaq yang baik darinya... tidak memperburuk keadaan, ya.. ini yang aku tangkap.

Betul, membalas berarti memperburuk keadaan, sebagaimana pepatah arab mengatakan, “laa tadha’u al milh ‘alal jarh (janganlah engkau menaruh garam di atas luka),” tepat sekali, karena hanya akan menambah rasa perih. Diam layaknya air yang terus berjalan mengaliri setiap pelosok yang dilaluinya lalu menumbuhkan tanaman baru namun bisa menghacurkan batu yang menghalanginya.

Pesan-pesan singkat yang bisa saya tarik, jika ada saudaramu dikalangan salafi yang melecehkanmu, maafkanlah dia dan doakan agar tidak memperpanjang masalah. Seorang penuntut ilmu hendaknya bisa menahan lisannya dari melecehkan kehormatan saudaranya, tidak merendahkan orang lain karena merupakan bentuk dari kesombogan.

Olehnya, jika engkau dapatkan wahai saudaraku, seseorang yang mulai membolehkan apa yang ia haramkan untukmu dahlu serta mencelamu, maka mintalah pahala dari Allah dari hal itu dan maafkanlah ia serta jangan sekali-kali katakan “ia telah menjilat air liurnya yang telah ia muntahkan ke tanah”. Jangan! Karena ini hanya akan membuat kita susah bersatu.

Jika memang kita seorang salafi sejati, yang mendambakan persatuan umat, maka bersikap dewasalah dan jadilah kesatria-kesatria sunnah yang memiliki keluasan dan kepalangan dada.


Allahu Yubaarik fiikum

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar