Selasa, 13 Mei 2014

Mengaku Punya Kitab Fiqh Peninggalan Ja’far Ash Shodiq

Tidak ada kitab fiqh dikalangan syiah yang ditulis sendiri oleh imam Ja’far Ash Shodiq rahimahullah atau telah dibukukan oleh murid-muridnya yang bisa digunakan oleh manusia hingga hari ini. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh ulama-ulama fiqh yang lain. Adapun penisbatan fiqh kepadanya sesungguhnya itu tertulis ketika ratusan tahun setelah wafatnya beliau tanpa sanad yang shahih sehingga kita bisa merasa tenang dengannya.

Diantara kenyataan yang tidak terbetik di pikiran kaum awam syiah bahwasanya Ja’far ash Shodiq rahimahullah atau salah seorang dari dua belas imam itsna asyariah sama sekali tidak menulis kitab dalam bidang fiqh, begitupula dalam bidang hadits.

Sebaliknya, imam mazhab yang empat dan selain mereka, setiap dari mereka meninggalkan kitab yang mereka tulis dalam bidang fiqh dan hadits yang bisa kita gunakan.

Imam Abu Hanifah an Nu’man ibn Tsabit rahimahullah, murid-muridnya telah menukil fiqhnya sebagai kabar gembira untuknya seperti al Qadhi Abu Yusuf rahimahullah dan Muhammad ibn al Hasan asy Syaibani rahimahullah.
Imam Malik ibn Anas rahimahullah telah meninggalkan kitabnya al Muwatha’ dalam bidang fiqh dan hadits, dimana ini ditulis oleh dirinya sendiri. Imam Syafi’i rahimahullah mewariskan kitab al Musnad dalam bidang hadits dan kitab al Umm dalam bidang fiqh. Dia merupakan ulama yang menjadi muassis (pendiri) ilmu ushul filq dalam kitabnya ar risalah. Kitab ini merupakan kiatb pertama dalam sejarah islam yang ditulis dalam bidangnya.

Imam Ahmad ibn Hanbal asy Syaibani rahimahullah Musnadnya di bidang hadits merupakan diantara yang paling masyhur dibidangnya. Adapun fiqhnya terjaga dan terbukukan. Diantara muridnya yang paling terkenal yang membukukan fiqhnya adalah imam al Khalal rahimahullah.

Bahkan imam Zaid bin ‘Ali rahimahullah fiqhnya pun dibukukan untuknya dan juga kitab dalam bidang hadits. Adapun Ja’far ibn Muhammad ash Shadiq rahimahullah, kita belum mendapatkan kitab miliknya dalam bidang hadits atau dalam bidang fiqh yang ditulis oleh dirinya sendiri atau dikumpulkan oleh murid-muridnya. Mererka tidak memiliki musnad yang dipakai untuk berfatwa kecuali riwayat-riwayat yang tidak mungkin bagi mereka memastikan kesahihannya bahwa itu dinisbatkan kepada Ja’far ash Shodiq, bahkan mereka berterus terang dengan celaan-celaan mereka pada riwayat-riwayat tersebut dan ragu akannya.

Sesungguhnya riwayat-riwayat yang dinisbahkan kepadanya hanyalah muncul setalah kematiannya, yang terjadi setelah berlalunya zaman yang panjang setelah kematiannya. Kitab yang paling awal dari riwayat-riwayat itu dalam bidang fiqh, yang mu’tamad dikalangan syiah imamiyah, yang ada saat ini adalah kitab furu’ul Kaafi karya al Kulaini yang meninggal pada tahun 359 H atau 180 tahun setalah kematian imam Ja’far ash Shodiq rahimahullah. Kemudian datang setelahnya Muhammad ibn ‘Ali ibn Babuyah al Qumi meninggal pada tahun 381 H dalam kitabnya faqih man laa yahdhuruhu al faqiih yaitu 230 tahun setelah kematian Ja’far ash Shodiq 

Sumber: Ushturah Mazhab Ja'fari halaman: 14
Penerjemah: Muhammad Ode Wahyu

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar