Kamis, 15 Mei 2014

Kembalikan Ruh Tarbiah

Delapan tahun yang lalu, masa remaja yang awalnya suka hura-hura, suka bermain musik dengan sahabat-sahabat anak jalanan, orang-orang mungkin akan takut mendakwahi kami. Rambut pirang ‘ala jabrik, anting-anting pun terpasang di telinga dengan pakaian yang sobek, berjalan di jalanan sambil memegang gitar bersama teman-teman yang wajahnya seram-seram. Kami pikir inilah hidup, tapi jujur memang hidup seperti itu kemana-mana merasa diawasi oleh musuh. Siapa yang mau mendakwahi kami???

Saat itu tidak ada yang mendakwahi, “saudaraku ini gak boleh,” tidak ada.  Tapi alhamdulillah ada saja jalan menuju hidayah, pasti doa dari ibuku. Orang-orang yang sudah terkader di satu organisasi dakwah yang bernama al wahdtul islamiyyah pun mencoba mendakwahi kami, megajak untuk selalu datang ke masjid. Saat itu, hampir seluruh remaja yang seumuran dengan kami didakwahi oleh mereka. Alhamdulillah.

Pertemuan pekanan itu, ya... halaqah tarbiah. Disitu kami belajar mengaji, saat itu kami masih sangat takut membaca al qur’an depan teman-teman, karena memang masih sangat minim dalam membaca al qur’an. Tapi alhamdulillah, bisa. Disitu mulai diajarkan idgham, qalqalah, mad. Disitu pula kami belajar manghafal juz 30 dari surah an naba. Disitu kami belajar dan menghafalkan hadits arbain, nama-nama dan susunan surah, serta disitulah kami tahu nama-nama ulama sunnah dan manhaj mulia ini. Inilah awal perkenalan kami dengan ahlu sunnah wal jama’ah dan kami rasa, inilah yang melahirkan semangat dan militansi kami dalam berdakwah. Pada pertemuan itulah kami lahir, lahir menajadi pejuang-pejuang dakwah yang rela dikirim kemanapun untuk berdakwah.

Mungkin inilah yang membuat saudara-saura kami menuduh kami berbaiat. Karena kepatuhan kami dalam pengorganisasian dakwah. Kami berbaiat? Allahu akbar. Kami ingat dahulu, mereka tidak berani mendakwahi masyarakat, hanya berani mendakwahi orang-orang yang sudah terkader oleh saudara-saudara yang tergabung dalam lembaga dakwah tersebut. Melemparkan tuduhan-tuduhan keji yang sama sekali tidak pernah diajarkan. Anehnya ternyata sampai detik ini juga masih seperti itu.

Yaa Sudahlah, mereka adalah suadara kami, semoga bisa bertaubat dan bersatu dalam dakwah. Kembali pada tarbiah, memang inilah jalan perbiakan itu, jalan untuk membangun umat. Namun sayang, kini ruh tarbiah itu sudah tidak kami dapatkan lagi. Semoga saja tulisan ini bisa membangkitkan semangat saudara-saudaraku untuk bisa memperbaiki halaqah tarbiahnya. Karena kami lahir dari generasi tarbiah.  Mari hidupkan halaqah tarbiah


0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar