Sabtu, 17 Mei 2014

Sahabat Diusir Dari Telaga Rasulullah shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Syubhat pertama yang dilemparkan syiah pada agama ini adalah hadits haudh (telaga), dimana umat rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diusir dari telaga tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَلاَ إِنَّهُ يُجَاءُ بِرِجَالٍ مِنْ أُمَّتِي، فَيُؤْخَذُ بِهِمْ ذَاتَ الشِّمَالِ، فَأَقُولُ: يَا رَبِّ أَصْحَابِي، فَيُقَالُ: لاَ تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ
Ketahuilah akan didatangkan sekelompok orang dari umatku, kemudian mereka diambil dari sebelah kiri, maka aku berteriak,” wahai Rabb sahabat-sahabatku.” Kemudian dikatakan, “sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka perbuat setalah kematianmu.[1]
Hadits ini memiliki banyak jalan, diantaranya:
أَنَا عَلَى حَوْضِي أَنْتَظِرُ مَنْ يَرِدُ عَلَيَّ، فَيُؤْخَذُ بِنَاسٍ مِنْ دُونِي، فَأَقُولُ: أُمَّتِي، فَيُقَالُ: لاَ تَدْرِي، مَشَوْا عَلَى القَهْقَرَى
"aku berada di telagaku menunggu-nunggu orang yang datang kepadaku, tiba-tiba orang di belakangku ditangkap dan dijauhkan dariku sehingga aku berteriak-teriak; 'Itu umatku, itu umatku! ' Tiba-tiba ada suara menjawab; 'Kamu tidak tahu! Mereka berjalan dengan mundur kebelakang (murtad). [2]
أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الحَوْضِ، لَيُرْفَعَنَّ إِلَيَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ، حَتَّى إِذَا أَهْوَيْتُ لِأُنَاوِلَهُمْ اخْتُلِجُوا دُونِي، فَأَقُولُ: أَيْ رَبِّ أَصْحَابِي، يَقُولُ: لاَ تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَك
Aku mendahului kalian di telagaku, kemudian akan didatangkan sekelompok orang dari kalian, hingga apabila aku hendak menggandeng mereka, tiba-tiba mereka ditangkap dan dijauhkan dariku, sehingga aku berteriak-teriak 'Ya rabbi, itu sahabatku, ya rabbi, itu sahabatku! ' Allah menjawab; kamu tidak tahu apa yang perbuat sepeninggalmu![3]

Dan beberapa riwayat yang lainnya.

Jawaban:
Pertama: sesungguhnya makna sahabat disini adalah orang-orang munafik yang dahulu menampakkan keislamannya di masa rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaiamana firman Allah subhaanahu wata’ala:
إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ
Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: "Kami mengakui, bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah". dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta (QS. Al Munafiqun: 1)

Merekalah kaum munafik yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengetahui kemunafikan mereka. Hal ini sebagaimana firman Allah Subhaanahu wata’ala:
وَمِمَّنْ حَوْلَكُمْ مِنَ الأعْرَابِ مُنَافِقُونَ وَمِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ مَرَدُوا عَلَى النِّفَاقِ لا تَعْلَمُهُمْ نَحْنُ نَعْلَمُهُمْ سَنُعَذِّبُهُمْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَى عَذَابٍ عَظِيمٍ
Di antara orang-orang Arab Badwi yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. mereka keterlaluan dalam kemunafikannya. kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) kamilah yang mengetahui mereka. nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar. (QS. At Taubah: 101)

Merekalah kaum munafik yang rasulullah shallalalhu ‘alaihi wasallam mengira mereka sebagai sahabat padahal mereka bukanlah sahabat.

Kedua: yang dimaksud dengan orang-orang yang diusir itu adalah orang-orang yang murtad setelah wafatnya rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena setelah wafatnya beliau ‘alihi  ash sholatu was salaam, banyak dikalangan kaum arab saat   itu yang murtad hingga tidak ada yang tersisa kecuali orang-orang yang tinggal di Makkah, Madinah, Thoif dan orang-orang yang tinggal di Bahrain. Adapun selain mereka, mereka telah murtad dari agama mereka. Merekalah yang dimaksudkan dalam hadits yang disebukan oleh rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “sahabat-sahabatku,” sehingga dikatakan kepadanya, “ sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang elah mereka lakukan setelah kematianmu, sesungguhnya mereka murtad setelah engkau meninggalkan mereka.

Ketiga: yang dimaksud dalam hadits itu adalah sahabat dalam makna umum. Yaitu semua yang ber”sahabat” dengan nabi shlallahu ‘alaihi wasallam walau mereka tidak mengikutinya (baca: beriman). Maka mereka ini tidak masuk dalam defenisi secara istilah akan tetapi hanya dalam defenisi secara bahasa.

Yang menunjukkan ini adalah ketika nabi shallalalhu ‘alaihi wasallam berkata kepada Abdullah Ibn Salul, “Jika kita kembali ke Madinah, akan nampak orang orang yang mulia dari orang-orang yang hina.” Dahulu Abdullah Ibn Salul adalah pemimpin munafiqin di kota Madinah. Ketika sampai kepada Umar Ibn al Khattab radhiyallahu ‘anhu perkataan ini, dia berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “ wahai Rasulullah, bolehkah aku memenggal lehernya?, “ kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jangan!! Jangan sampai ada orang yang berkata  sesungguhnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah membunuh sahabat-sahabatnya.[4]
Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan mereka dalam makna sahabat-sahabatnya, akan tetapi dari sisi bahasa bukan dalam makna istilah, karena Abdullah Ibn Salul adalah pimpinan kaum munafik. Dia adalah orang yang telah di buka aib-aibnya oleh Allah azza wajalla. Dia pula orang yang telah menampakkan kemunafikannya.

Keempat: terkadang kata “sahabat” bermakna semua yang beriman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam walaupun belum berjumpa dengannya. Ini ditunjukkan dengan riwayat lain yang berbunyi “ummatku-ummatku” atau riwayat lain “sesungguhnya mereka adalah ummatku”

Adapun perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “aku mengenal mereka” maksdunya adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengenal umat-umatnya. Ketika ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “wahai Rasulullah bagaimana engaku mengenal umat-umatmu sementara engkau belum pernah melihat mereka?” maka beliau berkata, “sesungguhnya aku mengeal mereka dari bekas-bekas wudhu mereka.[5]

Sesungguhnya tidak ada yang mnggunakan hadits-hadits tersebut untuk mengkafirkan para sahabat. Tidak dari kalangan mu’tazilah, tidak pula dari kalangan nawashib dan tidak pula dari kalangan khawarij, kecuali orang-orang syiah.

Maka kita katakan kepada mereka, dalam hadits-hadits itu mana kalimat yang menunjukkan Ali, al Hasan, al Husain, Hamzah, al ‘Abbas dan selain mereka dari ahli bait Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak masuk daalam hadits itu???
Mana yang menunjukkan bahwa mereka tidak masuk dari orang-orang yang murtad dalam hadits-hadits tersebut????

Kita tidak mengatakan mereka murtad bahkan kita mengakui keimaman mereka, kita pula mengakui bahwa mereka adalah penghuni surga, sebagaimana sabda rassulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu ketika mereka berada diatas gua Hira.
اثبت حراء فإنما عليك نبي أو صديق أو شهيد
“Tenanglah wahai Hira’ sesungguhnya orang yang berada di atasmu adalah Nabi, seorang jujur (Abu Bakar) dan Seorang yang syahid (‘Ali).”[6]
Saat itu ‘Ali pun bersama degan Nabi shallallahu ‘alaihi wasalallam dan dia pula termasuk penghuni surga.

Kita katakan kepada syiah, jika seandainya kalian mengatakan Abu Bakar, Umar Abu ‘Ubaidah dan selainnya dari kalangan sahabat-sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diantara orang-orang yang diusir dari telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka apa yang menghalangi kalian seperti dari kalangan nawashib misalnya mereka memasukkan kalian begitu pula ‘Ali Masuk di dalamnya, diantara orang-orang yang diusir dari telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Jika kalian berkata, “sesungguhnya telah tsabit hadits-hadits akan kemulian ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, maka mereka akan berkata, sesungguhnya hadits-hadits tentang yang tsabit akan keutamaan Abu Bakar dan Umar itu lebih banyak.

Wallahu a’lam

Jawaban ini diterjemahkan dari kitab hiqbah mina at atarikh karangan Syaikh Dr Utsman al Khamis hafizhahullah

Penerjemah: Muhammad Ode Wahyu



[1] . Shohih Bukhari; Kitab at tafsir bab  kama bada’naa awaala khalqin nu’iduhu no 4740
[2] . Shohih Bukhari; Kitabul fitnah bab qaulullahi wattaquu fitnah no 7048
[3] . Shohih bukhari; Kitabul fitnah bab qaulullahi wattaqu fitnah no 7049
[4] . Shahih Bukhari Kitabu at Tafsir bab  yaquuluuna lain raja’naa  ilaa al Madinah nomor 4907
[5] . Shahih Bukhari: Kitabul Wudhu, Bab Fadhlul wudhu, nomor 136
[6] . Sunan Abi Dawud: Kitabu as Sunnah, Bab fil Khlulafaa, Nomor4648 dan Sunan Tirmidzi: Kitabul Manaqib, Bab Manaqib Sa’id Ibn  Zaid Nomor 3757

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar