Minggu, 15 Juni 2014

Mencari Rezki Dari Maksiat| Renungan Bagi Para Penolak Penutupan Gang Doli


Beberapa hari ini, mungkin kita sering disuguuhkan berita-berita hangat seputar aksi penolakan penutupan Gang Dolly yang dilakukan oleh beberapa oknum.  Pro dan kontra tidak pernah lepas dan selalu menghiasi tajuk masalah-masalah seperti ini. Masalah perut, lagi-lagi menjadi alasan dari aksi penolakan tersebut. Tidak ada mata pencarian lain, tidak bisa membeli makanan, tidak bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari dan berbagai alasan lainnya, yang tidak lain semua berhubungan dengan kebutuhan perut dan hawa nafsu.

Entah apa yang ada dipikiran manusia hari ini. Seolah kebutuhan akan hidup bisa menghalalkan segalanya. Praktek-praktek keharaman di promosikan hanya untuk menghasilkan uang, perzinahan dibela-bela, bahkan tidak tanggung-tanggung, mereka berteriak lantang rela mengorbankan nyawa dengan alasan “ini demi sesuap nasi” seolah ia hidup hanya sebatang kara kemudian ia tidak memiliki Allah yang memberikannya makanan, minuman dan pakaian.  Allahul musta’an.

Mari kita bicara jujur
Mari kita bicara jujur lalu memperhatikan keadaan sekitar kita. Di dekat rumah kita, mungkin ada seorang laki-laki atau wanita pincang membuka usaha jahit dan kini ia telah sukses. Di dekat rumah kita, mungkin ada seorang penjual ikan keliling namun dalam waktu dekat ia hendak melakukan ibadah haji. Di dekat rumah kita, mungkin ada seorang tukang becak. Dengan becaknya itu, kini anak-anaknya sudah menyelesaikan sekolahnya hingga perguruan tinggi. Di dekat rumah kita, mungkin ada seorang janda, tua renta, rela mengambil beberapa tumpukan pakaian-pakaian kotor milik orang lain untuk dicuci dan lembaran-lembaran pakaian kusut untuk disetrika demi mendapat gaji halal untuk kebutuahan sehari-hari dan menyekolakan anak-anaknya. Pada hakikatnya, ini bukanlah kemungkinan!! Melainkan rentetan kisah-kisah heroik yang terjadi disekitar kita, dan memang benar-benar terjadi. Namun, kita tidak pernah menjadikannya sebagai ibrah/pelajaran.

Berbeda dengan mereka hari ini, yang berdasi, bermobil mewah, rumah bak istanah dengan seluruh fasilitasnya, namun kesehariannya bergelut dengan perkara-perkara yang haram. Berbeda pula dengan laki-laki yang bertubuh kekar, berotot, kuat, namun kehidupannya layaknya banci yang hanya bisa memberi keamanan pada para pelaku-pelaku zina, tidak bisa mencari kerja yang halal dengan alasan “dari sinilah kami hidup hingga bisa beranak pinak seperti sekarang ini”. Padahal di sebelah rumahnya, ada seorang kakek rela mengayuh becaknya, mengantar pelanggannya demi memasukkan harta yang halal dalam perut anak-anaknya.

Mereka inilah orang-orang yang ketakutannya pada Allah melebihi segalanya. Mereka inilah orang-orang yang memiliki keyakinan kuat bahwa Allah lah yang memberi mereka makan, minuman, pakaian dan seluruh yang mereka miliki. Mereka ingin membeli surga dengan usaha keras dan kegigihan mereka.

Dalam sebuah hadits kudsi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Allah berfirman:

Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian semua tersesat, kecuali orang-orang yang telah Aku berikan hidayah kepadanya, maka mintalah hidayah kepada-Ku niscaya Aku akan memberikan hidayah pada kalian. Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian semua adalah hamba-hamba yang kelaparan, kecuali orang-orang yeng meminta kepada-Ku makanan, maka mintalah makanan kepada-Ku niscaya Aku akan memberikan makanan kepada kalian. Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian adalah hamba-hamba yang telanjang dan tidak berpakaian sehelai pun, kecuali orang-orang yang meminta kepada-Ku pakaian, maka mintalah pakaian kepada-Ku niscaya Aku akan memberikan pakaian keapda kalian. Wahai hamba-hamba-Ku sesungguhnya kalian melakukan kesalahan di malam dan di siang hari, sementara Aku mengampuni segala dosa, maka mohonlah ampunan kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuni kalian....... Wahai hamba-hamba-Ku, jika seandainya orang-orang yang pertama kali diciptakan hingga orang-orang yang terakhir kali diciptakan, dari kalangan jin maupun manusia, semuanya berkumpul pada tanah lapang lalu setiap dari mereka meminta kepada-Ku setiap apa yang mereka inginkan, kemudian Aku berikan semua permintaan mereka satu persatu, sesungguhnya itu tidak akan mengurangi sesuatupun dari apa yang ada pada diri-Ku kecuali seperti jarum yang dimasukkan dalam samudra yang luas, kemudian jarum itu diangkat kembali. Wahai hamba-hamba-Ku inilah amalan-amalan kalian di dunia, Aku menghitungnya untuk kalian kemudian Aku memberikan balasan dengannya (sesuai apa yang kalian kerjakan). Maka barang siapa yang mendapatkan kebaikan hendaknya ia memuji Allah. Dan barang siapa mendapatkan keburukan (di hari kiamat) maka janganlah ia mencela seorang pun kecuali mencela dirinya sendiri. HR: Muslim

Sementara para hamba pengekor hawa nafsu, mereka meminta rezki-rezkinya kepada syaithon, lalu kemudian mengarahkannya pada jurang-jurang api neraka yang siap menhangsukan tubuh-tubuh mereka. Mereka itu adalah orang-orang yang rugi, rela menjual surganya demi sesuap nasi dari cara-cara yang haram.
Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, Maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong. (QS. Al Baqarah: 86)

Kaya dengan barang haram nikmat yang dicepatkan azab yang ditunda
Seseorang yang kaya dari harta yang haram, niscaya dia tidak akan pernah merasa tenang dalam hidupnya. Dia akan senantiasa dihantui rasa bersalah, memikirkan harta-hartanya dan makin menumpuk angan-angannya. Bagaiamana ia akan tenang, sementara ia akan terus berfikir, dimana dirinya harus lari untuk menghindari azab Allah azza wajalla?. Olehnya, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “dosa itu menghitamkan wajah dan kegelapan di dalam hati. Adapun orang yang sudah aman dengan dosa-dosanya, sesungguhnya itu hanyalah kenikmatan yang dipercepat namun merupakan azab yang ditunda. Mereka adalah orang-orang yang telah diceritkan oleh Allah azzawa wajalla:

Maka Apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau Apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka Apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? tiada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi. (QS. Al A’raf: 97-99)

Seorang muslim hendaknya berkaca pada para salaf. Belajar, bagaiamana adab-adab mereka kepada Rabbnya. Benarlah apa yang dikatakan oleh imam Ahmad rahimahullah, “aku mendengarkan Bilal Ibn Sa’ad rahimahullah berkata, jangan melihat pada kecilnya dosamu akan tetapi lihat pada keagungan Dzat yang engkau maksiati.” (lihat: http://www.saaid.net/Minute/mm80.htm)

Jika saja seseorang takut berbuat salah kepada atasannya, lantas bagaiamana seseorang berani bermaksiat pada Dzat yang telah menciptakannya?

Mintalah Pada Allah
Sejatinya, setiap mu’min yakin bahwa mereka memiliki Rabb yang Maha Kaya lagi Maha Memberi. Tidak ada satu permintaan pun yang di ajukan kepada-Nya kecuali Allah akan mengabulkannya. Rasulullah shallalalhu ‘alaihi wasallam bersabda, ”sesungguhnya Allah Maha Hidup dan Maha Mulia, Dia merasa malu apabila hamban-Nya menengadahkan tangannya kepda-Nya kemudian Dia membalasnya kosong.” HR: Tirmidzi

Salah satu penyebab orang-orang gemar mencari harta yang haram adalah karena keraguan bahwa Allah tidak menyiapkan untuk mereka beragam rezki yang baik dan jalan keluar dari setiap masalah hidupnya. Menumbuhkan keyakinan adalah modal dasar dari semua ini karena takwa tidak akan lahir tanpa adanya keyakinan. Maka langkah awal yang harus dilakukan adalah memperbanyak istighfar (memohon ampunan) kepada Allah sehingga dapat menumbuhkan keyakinan dan ketakwaan.  Allah berfirman:

Maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan Mengadakan untukmu kebun-kebun dan Mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. (Qs. Nuh: 10-12)

Allah azza wajalla juga berfirman:
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (Qs: Ath Tholaq: 3)

Kefakiran yang Hakiki dan Kekayaan Hakiki
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sudah mewanti-wanti agar jangan sampai dunia dan kelezatannya menjadi orientasi seorang muslim, serta menjadi rutinitas siang malamnya, menyibukkan dirinya untuk berbuat taat dan memalingkan dirinya dari ibadah. Beliau shalllallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Barangsiapa berada di waktu pagi sementara dunia menjadi harapan terbesarnya, Allah azza wajalla akan menjadikan kefakiran berada di depan pelupuk matanya serta mencerai beraikan perhimpunannya. Dan dunia tidak akan datang kepadanya melainkan apa yang ditakdirkan untuknya. Dan barangsiapa yang berada di waktu pagi, sementara akhirat menjadi tujuan terbesarnya, Allah akan jadikan kekayaan dalam hatinya, Dia kumpulkan perhimpunannya dan dunia datang kepadanya dalam keadaan remeh. Dan Allah itu lebih cepat dalam kebaikan dalam setiap kebaikan yang datang keapdanya. HR. Tirimidzi dan dishahihka oleh al Bani  

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “inilah kefakiran hakiki dan kekayaan sejati. Jika ini saja sudah merupakan kekayaan bagi mereka yang tujuan terbesarnya adalah akhirat; maka bagaiamana pula orang yang menjadikan Allah sebagai tujuan terbesarnya? (Lihat: Bagaimana para salaf mencari nafkah: 28)

Renungan Malam pengantin
Kita mungkin masih bisa hidup hingga detik ini, namun tidak ada yang bisa memberi jaminan bahwa kita akan hidup hingga esok hari. Malam ini, ketika kita sudah tertidur lelap, kedua mata telah terpejam, adakah jaminan esok kita masih dapat membukanya? Harta yang menjadi milik kita hari ini hanyalah sederet diantara mahar untuk meminang bidadari di surga untuk menjadi permaisuri atau meminang Iblis untuk menjadi pempimpin di dalam neraka. Iyaadzan billah

Olehnya, hisablah diri kita sebelum Allah yang menghisabnya. Malam ini mungkin saja merupakan malam terkahir maka apa persiapan kita? Pada hakikatnya, perjalanan kita di dunia ini ibarat menjual diri kepada Allah, mari bertanya pada hati dan jawablah secara jujur “apa yang telah kita jual kepada Allah?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Semua manusia berjalan di pagi hari, maka ia menjual dirinya, entah dia memebaskan dirinya dari azzab Allah atau membinasakan dirinya. HR. Muslim
Wallahu a’lam bishowab.

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar