Senin, 02 Juni 2014

Ramdhan, Bulan Suci Yang Dilalaikan

Ramdhan, bulan suci penuh berkah semakin mendekati kita. Kurang lebih sekitar satu bulan lagi, bulan itu akan datang menghampiri kita dengan berbagai fadhilah dan keutamaanya. Tidak heran, jika para salaf mempersiapkan diri mereka enam bulan sebelum datangnya bulan ramadhan untuk menyambut bulan penuh kemuliaan tersbut. Alasannya, karena mereka tidak ingin menjadi orang-orang yang rugi sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits:

 “celakalah bagi seseorang yang datang kepadanya bulan ramadhan kemudian bulan itu pergi berlalu darinya sebelum ia dimapuni” HR. Tirmidzi

Ramdhan adalah bulan madrasah yang bertujuan untuk mencetak pribadi-pribadi sholeh yang bertakwa kepada Allah azza wajalla. Olehnya, Allah subhanahu wata’ala berfirman pada akhir ayat pewajiban puasa ramadhan dengan kalimat, “agar kalian menjadi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Baqarah:183)

Syaikh Abdurrahman Ibnu Nashir as Sa’di rahimahullah mengomentari petikan kalimat yang terdapat dalam ayat ini; sesungguhnya shiyam (puasa) merupakan diantara penyebab terbesar seseorang dapat memperoleh ketakwaan, karena di dalamnya terdapat perintah untuk mengerjakan perintah-Nya serta mejauhi larangan-Nya. Dan diatara yang mencakup ketakwaan adalah, seseorang menjauhi apa yang diharamkan oleh Allah azza wajalla dari makan, minum, jima’, dan lain-lain. Dimana hati seorang hamba  selalu condong pada semua itu, akan tetapi dia meninggalkannya untuk bertakarrub kepada Allah azza wajalla, berharap ajar (pahala) kepada Allah dengan meninggalkannya. Dan ini semua merupakan ketakwaan. Begitupula, seseorang yang berpuasa melatih dirinya untuk mendekatkan diri kepada Allah azza wajalla, dia meninggalkan apa yang disukai oleh hawa nafsunya bersamaan dengan kemampuannya untuk melakukan hal tersebut, akan tetapi karena dia mengetahui bahwa Allah melihatnya, maka dia meninggalkan apa yang dia sanggupi tersebut. (Taisirul karimi ar rahman fi kalaami al mannan: 94 cetakan jam’iyyatu ihyaaut turaats al islami)

Potret perispan kita

Berbeda dengan para salaf dalam menjemput bulan ramadhan. Akhir-akhir ini, sebagian orang justru terlalu disibukkan dengan berbagai aktfitas yang terlalu banyak menyita waktu, pikiran dan tenaganya, sehingga mereka lupa untuk bersiap-siap menjamu bulan penuh keberkahan. Akhirnya, ketika ramadhan datang menghampiri, mereka tidak siap untuk memaksimalkan ibadah di dalamnya. Jadilah mereka diantara orang-orang yang berpuasa namun hanya merasakan lapar dan dahaganya saja. Adapun pahala beserta keutamannya pergi meninggalkannya bersama berlalunya waktu, tanpa disadari. Iyaadzan billah.

Menyambut mahasiswa baru, pemilihan presiden dan menyambut piala dunia menjadi sederet alasan yang melalaikan. Seorang hamba yang orientasinya adalah surga, tidak akan lalai dari semua kesibukan itu untuk tetap bersiap-siap menjamu bulan suci ramadhan, apalagi hanya sekedar menyambut piala dunia. Sesungguhnya hidup ini hanyalah kumpulan dari waktu dan hari-hari.

Imam Hasan al Bashri rahimahullah berkata, “aku menjumpai beberapa kaum diamana mereka sangat bersemangat menjaga waktu-waktunya (untuk kebaikan-pent) daripada menjaga dinar dan dirham kalian.” Dinukil  dari ‘Amir Ibnu Qais rahimahullah dari tabi’in dia berkata, “ada seorang laki-laki berkata kepadanya, kesinilah aku akan menceritakan kepadamu sesuatu. Dia berkata, hentikan matahari untukku dan penjarakan dari perjalanannya agar aku bisa berkata sesuatu hal kepadamu. Sesungguhnya waktu sangat cepat berlalu dan dia tidak akan kembali setelah terlelwati. Maka kerugian tidak bisa tergantikan.” (http://www.sahab.net/forums/index.php?showtopic=124327)

Kita Bukanlah Kumpulan Ikan

Seekor ikan jika dia cerdas, dia tidak akan terpancing oleh umpan yang dililitkan pada kail-kail tukang pancing. Dia akan belajar dari nenek moyangnya bahwa kail itulah yang membinasakan nenek moyangnya dahulu. Namun karena akal selalu dikalahkan oleh hawa nafsunya, maka merekapun sering kali terjebak dalam kesalahan yang sama.
Sejatinya, kita sebagai seorang muslim bisa belajar dari ikan. Belajar dari kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan sebelumnya agar tidak terulang kembali. Olehnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Seorang muslim tidak akan terjatuh dalam lubang yang sama sebanyak dua kali.”  HR. Bukhari Muslim

Jadikan kesalahan-kesalahan sebagai pengalaman paling berharga sebagaimana kata pepatah experience is the best techer (Pengalaman adalah guru terbaik). Jika dahulu kita lalai, maka kali ini kita upayakan agar kesalahan itu tidak terulang kembali.

Persiapan Sebelum Ramadhan

Ada beberapa amalan yang dianjurkan oleh para ulama dalam mempersiapkan diri menjamu bulan ramadhan. Diantaranya:

1.Berdoa
Doa adalah senjata utama kaum muslimin. Memperbanyak doa kepada Allah menunjukkan kelemahan kita sebagai seorang hamba dan butuhnya kita pada pertolongan Allah azza wajalla. Orang-orang yang enggan untuk berdoa kepada Allah di katakan sebagai orang yang sombong pada-Nya sehingga balasannya adalah neraka. Allah berfirman:

Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku (Berdoa) akan masuk neraka Jahannam dalam Keadaan hina dina". (QS Ghafir 60)

Dalam satu hadits qudsi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Allah berfirman “Wahai hamba-hamba-Ku, jika seandainya orang-orang yang pertama kali diciptakan hingga orang-orang yang terakhir kali diciptakan, dari kalangan jin maupun manusia, semuanya berkumpul pada tanah lapang lalu setiap dari mereka meminta kepada-Ku setiap apa yang mereka inginkan, kemudian Aku berikan semua permintaan mereka satu persatu, sesungguhnya itu tidak akan mengurangi sesuatupun dari apa yang ada pada diri-Ku kecuali seperti jarum yang dimasukkan dalam samudra yang luas, kemudian jarum itu diangkat kembali.” HR. Muslim

Memperbanyak doa bukanlah maksiat melainkan ibadah yang dianjurkan. Oleh karena itu, kita sebagai seorang mu’min yang rindu pada ramadhan,  hendaknya banyak-banyak memohon kepada Allah azza wajalla agar dipertemukan dengan bulan ramadhan. Tidak ada doa secara khusus dalam masalah ini, sehingga kita bisa berdoa dalam bentuk apa saja.

2.Memperbanyak Puasa
Di anjurkan memperbanyak puasa dalam mempersiapkan diri menjamu bulan ramdhan. Terutaman pada bulan sya’ban, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “aku tidak pernah melihat rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dia berpuasa selama sebulan penuh kecuali pada bulan ramadhan dan aku tidak pernah pula melihat ia banyak melakukan ibadah puasa kecuali pada bulan sya’ban.” HR. Bukhari Muslim.

3.Membayar Utang Puasa
Sebelum datangnya bulan ramadhan, hendaknya seorang muslim mulai mengingat-ngingat kembali berapa utang puasanya pada tahun yang lalu. Secara asal, ada beberapa golongan yang di bolehkan tidak berpuasa pada bulan ramadhan namun mereka tetap harus mengqadhanya (menggantinya) pada hari-hari yang lain di bulan yang lain. karena ini merupakan kewajbian, maka seorang muslim jika ia tidak menggantinya akan berdosa kepada Allah dan di akhirat kelak dia harus mempertanggung jawabakna dosanya tersebut.

4.mempelajari masalah-masalah fiqih seputar ramadhan
Diantara hal yang sering dilalaikan oleh kaum muslimin adalah mempelajari hukum-hukum fiqih seputar puasa ramadhan. Padahal ini memiliki efek yang sangat besar kitannya dengan puasa seseorang. Banyak hal-hal yang merupakan pembatal puasa atau perkara-perkara yang membuat puasa tidak bernilai yang tidak diketahui, begitupula beberapa amalan yang dianjurkan diperbanyak pada bulan tersebut yang bisa membuat ibadah puasanya lebih berpahala.


Wallahu a’lam bishshowab.

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar