Minggu, 01 Juni 2014

Suami Berkata Kepada Istrinya “Wahai Mama, atau Wahai Adik” Bolehkah?

Pertanyaan:
Bagaiamana hukumnya apabila seorang suami berkata kepada istrinya, “wahai mama atau wahai adik, bukan maksud untuk mengharmkan (menzhihar)  istrinya akan tetapi hanya bentuk berbuat baik kepadanya. Apakah suami harus membayar kaffarah (denda)?

Jawaban:
Tidak boleh dia berkata seperti itu, ini perbuatan makruh (tidak baik), ini perbuatan yang makruh apabila seorang suami berkata kepada istrinya dengan sebutan wahai adik, wahai ibu, ini dibenci karena menyerupai zhihar, maka hendaknya ia menjauhkan dirinya dari hal-hal seperti ini. Kalau dia ingin menghormatinya maka carilah lafazh yang lain, adapun lafazh wahai adik, wahai ibu, atau perkataan lain yang merupakan mahram baginya maka ditinggalkan. Dan tidak ada kaffarah (denda) bagi dia akan tetapi hendaknya dia meninggalkan perbuatan ini.

Jawaban ini dijawab oleh Fadhilatus Syaikh Dr Sholeh al Fauzan (Anggota Haihah Kibaril Ulama Saudi Arabia)
Sumber: http://alfawzan.af.org.sa/node/8909

Jawaban Lain:
Pertama: Perkataan seorang suami kepada istrinya kamu ibu, adik atau mama, menimbulkan dua kemungkinan. Entah dia dalam masuk dalam kategori zhihar atau tidak, tergantung pada niatnya, sebagaimana sabda nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya” HR. Muttafaq ‘alaihi.

Akan tetapi kebanyakannya, seorang suami berkata dengan kalimat seperti ini hanya sebagai kelembutan dan kerendahan hati. Maka dalam hal ini tidak dikategorikan sebagai zhihar, dan tidak mengharamkan istri atas suaminya.

Ibnu Quddamah rahimahullah berkata dalam “al Mughni” (8/6) apabila seorang suami berkata kepada istrinya, engkau bagiku seperti ibuku atau ibuku dengan niat zhihar maka dia termasuk zhihar akan tetapi jika dia berniat dengan perkataannya itu untuk memuliakan maka dia bukan zhihar.

Maka begitulah hukumnya jika dia berkata, engkau ibuku, atau istriku ibuku. Selesai dengan ringkasan

Ditanyakan pula kepda Lajnah ad Daimah (Komisi tetap untuk Fatwa):
Beberapa orang berkata kepada istrinya, “saya saudaramu dan engkau adalah saudariku” maka apa hukumnya?

Jawaban:
Apabila seorang suami berkata kepada istrinya, saya saudaramu dan engkau sadariku, atau ibuku atau seperti ibuku, jika dia memaksudkan perkataannya itu untuk pemuliaan, atau menyambungkan kebaikan, atau untuk menghormati, atau dia tidak memiliki niat zhihar atau tidak ada indikasi yang menunjukkan pada zhihar, maka jika itu terjadi, itu bukanlah zhihar dan tidak ada kewajiban atasnya sesuatu apapun.

Adapun jika dia mengingikan kalimatnya tersebut untuk zhihar, atau adanya indikasi yang menunjukkan hal itu sebagai zhihar misalnya sebab keluarnya kalimat ini karena marah atau ancaman, maka dia termasuk zhihar sebagai mana perkataan para ulama secara umum. Sehingga dia wajib bertaubat dan wajib baginya membayar kaffarah sebelum ia menggaulinya.

Adapun kaffarahnya adalah membebaskan budak, jika dia tidak mampu maka berpuasa dua bulan berturut-turut dan jika dia tidak mampu maka hendaknya dia memberi makan pada enam puluh orang miskin.
Selesai kutipan, dari fatawa lajnah ad daimah.

Kedua: para ulama membenci perkataan seperti itu, jika suami berkata kepada istrinya “ wahai ibu, atau wahai saudari.” Al imam Abu Dawud rahimahulah meriwayatkan (2210) bahwasanya seorang lelaki berkata kepada istrinya “yaa ukhayya (wahai adikku), maka rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “dia adikmu? Maka rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membencinya dan melarangnya.”

Yang benar, tidak dibenci dalam masalah ini. hadits ini tidak shahih sebagaimana syaikh al Bani telah mendhoifkan hadits ini dalam “dhoif Abi Dawud”

Sumber: http://www.muslm.org/vb/archive/index.php/t-356630.html
Penerjemah: Muhammad Ode Wahyu

-------------------------------------------

Pilihan kami:

Wallahu a’lam, dalam masalah ini kami lebih memilih pendapat syaikh al Fauzahan hafizahullah karena meyerupai zhihar. Wallahu a’lam

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar