Selasa, 01 Juli 2014

Kemuliaan pagi

Mengingatkan anaknya, Lukman Al Hakim pernah berkata kepada putranya, “Jangan sampai ayam jantan lebih cerdas daripada dirimu. Ia berkokok sebelum fajar, sementara kamu masih mendengkur tidur hingga matahari terbit.” (Tafsir Al Qurthubi)

Karena Pagi Tidak Berubah, yang Berubah adalah Kita
Pagi seperti tak pernah bosan menyapa kita. Kala kita sakit, bersedih, berduka, atau sedang bersuka cita, pagi selalu datang dengan berjuta optimisme dan harapan.

Hingga sekarang, mungkin tak terhitung lagi, sudah berapa kali pagi menyambangi kita. Suasananya tak pernah berubah, pagi yang dulu tetap pagi yang sekarang, penuh dengan kesejukan dan kesegaran. Tetapi, itulah karakter waktu. Ia tidak akan pernah berubah kecuali Allah menentukan takdirnya yang lain, atau masa yang telah ditentukan telah tiba, yang berarti keberlangsungan dunia ini akan segera berakhir.

Tanpa kita sadari, ternyata pagi telah mengantarkan kita pada usia yang sekarang. Usia yang barangkali tidak lagi bisa dikatakan muda, karena kekuatan fisik yang dulu kita banggakan kini mulai melemah, ketampanan dan kecantikan mulai memudar, ketajaman mata mulai berkurang, rambut mungkin juga sudah mulai berganti warna, dan anak-anak di sekitar kita pun sudah semakin besar. Itu semua menjadi pertanda bahwa kita semakin tua, meskipun belum tentu dewasa.

Waktu memang terkadang menggilas kita. Tetapi, tentu karena ulah kita sendiri yang sering lupa, sering hilang kesadaran, bahwa kita harus berubah; lebih beramal, lebih berilmu, lebih beriman, dan lebih dekat kepada Allah ta'ala karena kulitas ibadah yang terus meningkat.
Karena itu, Rasulullah mengingatkan kita,

“Jangan sekali-kali mencela waktu, karena sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berfirman, “Akulah waktu itu.”” (HR Ahmad)

Seorang salafu shalih memberi nasehat, “Beramallah untuk diri kalian di malam yang gelap gulita ini. Karena, sesungguhnya orang yang tertipu adalah orang yang tertipu oleh kebaikan siang dan malam. Orang yang terhalangi adalah orang yang tidak mampu untuk memperoleh kebaikan yang ada pada keduannya. Ia merupakan jalan kebaikan yang ada pada keduanya. Ia merupakan jalan kebaikan bagi kaum Muslimin untuk mentaati Rabbnya, dan bencana bagi mereka yang melalaikan dirinya. Maka, hidupkanlah diri kalian dengan selalu mengingat Allah.”
Tidak ada jalan lain, kita harus berani melihat pagi. Karena bisa jadi pagi ini adalah pagi yang terakhir untuk kita, sebelum sempat memperbaiki diri.

Ingat, ...

Waktu pagi bukan waktu untuk tidur ...

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar