Kamis, 10 Juli 2014

Maqaashid dan Dhawabith Dalam Memahami Hajr Terhadap Ahli Bid’ah

Salah satu yang menjadi ciri ahlu sunnah wal jama’ah adalah mereka menghajr (mendiamkan) para pelaku-pelaku bid’ah. Hajr dalam pengertiannya adalah menjauhi orang-orang yang menyeslisihi sunnah (baca: ahli Bid’ah), tidak duduk bersama mereka, meninggalkan perkataan-perkataan mereka, tidak memberi salam pada mereka dan tidak menemuinya. (lihat: da’watu ahli bid’ah, Khalid Ibnu Ahmad az Zahrani hafizahullah, hal: 80-81, cet: Tauzii’ Daar Ibnul Jauzi)

Hajr merupakan ibadah dan pelakunya mendapatkan pahala dari Allah azza wajalla. Perbuatan ini pernah dicontohkan oleh rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya dimana beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

فمن أحدث فيها حدثا أو آوى محدثا فعليه لعنة من الله والملائكة والناس أجمعين

“Siapa yang melakukan perkara-perkara baru dalam agama ini di dalamnya (Kota Haram) atau melindungi mereka maka dia mendapatkan laknat dari Allah, Malaikat-Nya dan manusia keseluruhan.” (HR. Bukhari Muslim)

Dari Abdullah Ibnu Mas’ud rashiyallahu ‘anhu bahwasanya rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ما من نبي بعثه الله في أمة قبلي إلا كان له من أمته حواريون وأصحاب يأخذون بسنته ويقتدون بأمره ثم إنها تخلف من بعدهم خلوف يقولون ما يفعلون ويفعلون ما يؤمرون فمن جادهه بيده فهو مؤمن ومن جاهده بقلبه فهو مؤمن وليس وراء ذلك من الإيمان ولو خردل

“Tidaklah satu nabi diutus oleh Allah pada umat sebelumku kecuali bersamanya para hawariyyun dan sahabat-sahabatnya. Mereka mengambil sunah-sunnah nabinya dan mengikutinya dalam perintahnya. Setelah mereka ada orang-orang yang meneyelisihinya, berkata dengan perkataan yang keji. Mereka berkata namun tidak mengamalkannya dan mengamalkan sesuatu yang tidak pernah diperintahkan. Maka barangsiapa yang berjihad melawan mereka dengan tangannya maka dia adalah seorang mu’min dan barangsiapa yang berjihad melawan mereka dengan hatinya maka dia adalah seorang mu’min dan tidak ada dibelakang itu keimanan walau sebeasar biji sawi.” (HR. Muslim)

Sebagai contoh dari pelaksanaan hajr ini adalah, rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menghajar beberapa sahabatnya yang tidak ikut dalam perang tabuk. Sebagaimana diriwayatkan oleh beberapa sahabat seperti Ka’ab Ibnu Malik, Ibnu Umar dan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhum. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam pernah menghajr Ka’ab Ibnu Malik selama lima puluh hari hingga beliau taubat.

Terdapat pula contoh-contoh dari para sahabat dalam menghajar sahabat-sahabat yang lain. Sebagaimana dilakukan oleh Umar dalam menghajr Ziyad Ibnu Hadir dan beberapa contoh yang lain.

Bertolak dari itu semua, maka pelaksaan hajr merupakan sesuatu yang disyariatkan. Namun dalam prakteknya, ternyata para thullabul ‘ilmi saling meghajr sesama mereka pada hal-hal yang tidak layak untuk dipraktekkan. Sehingga karena kesalahan itu, mereka menjadikan agama ini terpecah dan terkotak-kotak. Muncullah ahlu sunnah versi ustadz fulan, juga ahlu sunnah versi ustdz fulan, dan lain sebagainya. Semua saling bermusuhan, terlebih murid-muridnya yang baru belajar namun merekalah yang lebih memperkeruh masalah sehingga menjadi parah.

Sungguh indah perkataan seorang sahabat Ali radhiyallahu ‘anhu:

لو سكت الجاهل ما حدث في الإسلام فتنة

“Jika seandainya orang-orang jahil diam saja, niscaya tidak akan terjadi fitnah pada agama islam ini.”

Maka perlu diperhatikan Maqashid dan Dhawabith dari hal ini.

Maqashid (Tujunnya):

1.Pelarangan dengan hajr merupakan bentuk hukuman yang syar’i bagi orang yang di Hajr, ini merupakan jenis jihad di jalan Allah agar menjadikan kalimat Allah lebih tinggi.
2.Membangunkan jiwa-jiwa kaum muslimin dari keterjatuhan mereka pada bid’ah
3.Mencegah tersebarnya bid’ah
4.Mencegah para pelaku bid’ah dan melarang mereka agar mereka semakin lemah dalam menyebarkan bid’ahnya
5.Memberi tanbih pada pelaku bid’ah akan kesalahannya.

Dhawabith (Prinsip-prinsipnya)

Hal ini betul-betul harus dipahami oleh para penuntut ilmu agar tidak salah dalam mempraktekkan jenis ibadah ini. karena ini merupakan ibadah, maka dia memiliki syarat-syarat dalam pelaksanaannya. Misalnya:

1.Ikhlas
Syaikhul islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Hajr yang syar’i merupakan diantara amalan-amalan yang diperintahkan oleh Allah dan rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka ketaatan harus didasari pada ketaatan pada Allah dan harus sesuai dengan contohnya, maka barang siapa yang menghajr karena hawa nafsunya maka ini keluar dari perkara ini.” (Majmuu’ Fatawa:28/207)

2.Muataba’ah (mengikuti contoh)

Dalam menghajr seseorang harus memastikan beberapa perkara berikut:

a.Memastikan dan menkonfirmasi adanya bid’ah. Tidak cukup dengan mendengar dari orang lain atau menaqal (memindahkan berita) dari orang perorang. Bahkan harus memastikan langsung pada pelakunya

b.Hendaknya bid’ah itu adalah perkara yang disepakati para oleh ulama, maka tidak boleh menghajr pada perkara yang khilafiyyah.

c.Sampainya hujjah pada pelaku bid’ah, ia memahaminya, hilangnya penghalang berupa kebodohan, dan teragkatnya syubhat padanya dan terbangun dari kelalaian.

Maka secara singkat dhawabith dari hajr ini adalah:

1.memperhatikan perkara mashlahat dan mafsadah (kerusakan)
2.Hukuman terjadi para orang-orang yang berdosa (terus menerus dalam kesalahannya: pent)


(Sumber: Da’watu Ahli Bid’ah karya Khalid Ibnu Ahmad az Zahrani Hafizahullah dan telah di taqdim keapada syaikh Sholeh al Fauzan hafizahullah juga kepada syaikh Sholeh Ibnu Abdullah ad Darwisy hafizahullah.)

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar