Selasa, 01 Juli 2014

Shalat Wajib Vs Sholat Tarawih

Salah satu ciri bulan ramadhan adalah berbondong-bondongnya manusia dalam mengerjakan ibadah, berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan, sebagai bentuk peneladanan kepada nabi dan manusia mulia Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Bulan ramadhan adalah musim kebaikan, di dalamnya terdapat keutamaan dan juga ibadah yang tidak ada di bulan lainnya, misalnya shalat tarawih. Sekalipun pada hakikatnya ia merupakan shalat qiyamul lail.

Namun, karena Ibadah ini identik dengan ramadhan, dimana rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah melakukannya bersama sahabat-sahabatnya walau hanya beberapa hari, maka bukan kesalahan jika kaum muslimin berlomba-lomba mengikutinya untuk mendapatkan keutamaanya. Sebagaiamana dilakukan oleh Umar Ibnu al Khattab sebagai sahabat pertama yang menghidupkan kembali sunnah ibadah agung ini karena kekhwatiran rasululllaah shallallahu ‘alaihi wasallam sudah tidak mungkin terjadi, yaitu kaum muslimin akan menganggapnya sebagai kewajiban.

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, shalat tarawih merupkan ibadah sunnah dan tidak sampai pada derajat fardhu/wajib. Dalam artian, shalat tarawih adalah ibadah yang apabila dikerjakan akan mendapatkan pahala namun jika ditinggalkan tidak mendapatkan dosa namun rugi karena tidak mendapatkan pahala yang besar. Lain halnya dengan shalat lima waktu di masjid. Ia merupakan kewajiban, sehingga dianggap sebuah kesalahan dan dosa bagi orang-orang yang melakukan shalat wajib di rumah walaupun shalatnya tetap sah sebagaiamana pendapat yang kuat dari para ulama, karena yang dimaksud dengan jama’ah dalam nash-nash yang ada adalah  berjama’ah di masjid bukan berjama’ah di rumah.

Dalil-dalil yang menunjukkan Kewajiban Sholat Jama’ah di Masjid

Ada beberapa dalil yang dijadikan sandaran oleh para ulama yang menguatkan pendapat mereka bahwa shalat jama’ah di masjid hukumnya wajib bagi kaum pria dan sunnah bagi kaum wanita. Diantaranya adalah:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “siapa yang mendengarkan seruan adzan namun dia tidak datang memenuhinya, maka tidak ada sholat baginya.” HR. Ibnu Majah dan di shahihkan oleh syaikh Muhammad Nashruddin al Albani

Seorang sahabat yang bernama Abdullah Ibnu Ummi Maktum yang matanya buta datang menemui rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk meminta rukhsah (keringanan) agar mendapat izin sholat dirumahnya. Namun ketika ditanya oleh rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “apakah engkau mendengarkan seruan adzan?” ia berkata, “iya.” Maka rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, “penuhi panggilan itu.” HR. Muslim, Ahmad dan lainnya.

Dalam hadits yang lainnya, rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hendak ingin menyuruh orang lain untuk memimpin sholat lalu ia keluar untuk membakar rumah orang-orang yang tidak shalat berjama’ah di masjid. HR. Bukhari

Lalu mengapa di hari-hari ini, di bulan yang penuh berkah ini, masih ada saja orang yang enggan untuk sholat wajib berjama’ah di masjid, begitu sulitnya ia melangkahkan kakinya untuk memenuhi seruan adzan, sementara muadzin begitu merdunya memanggil pada kemenangan dan ancaman dari rasulpun begitu nyata. Namun di lain waktu, mereka begitu mudah melagkahkan kakinya ke masjid tanpa ada seruan panggilan muaddzin dan tanpa ada ancaman dari manusia paling mulia tersebut. Kita tidak mencela orang-orang yang beribadah ini, sama sekali tidak. Namun hendaknya mereka bisa membedakan kewajiban dan sunnah, bisa melihat mana yang harus lebih dahulu didahulukan.

Bagaimana Menjawab Pertanyaan Allah?

Jika Allah bertanya pada anda di hari kiamat nanti, “Mengapa engkau tidak memenuhi seruan panggilan adzan sementara peringatan sudah datang kepdamu?” apakah anda akan berkata “telah berkata si fulan dan si allan.”

Ini adalah seruan dari utusan-Nya maka penuhilah. Maka apakah faidah masjid dibangun dengan megahnya jika tidak untuk di penuhi seruannya? Sementara Allah berfirman, “

“Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan mesjid-mesjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka. Sesungguhnya  yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, Maka merekalah orang-orang yang diharapkan Termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” QS. At Taubah: 17-18

Sungguh, hanya orang-orang berimanlah yang memakmurkan masjid-masjid Allah. Karena tidak mungkin orang-orang kafir ingin memakmurkan masjid-masjid Allah. Lalu bagaimana seorang hamba tidak tersentuh hatinya ketika seruan ilahiyyah coba diperdengarkan di telinganya “mari menuju kemenangan-mari menuju kemenagan Allahu akbar” lalu ia berkata, “aku sibuk dengan duniaku, aku sibuk dengan pekerjaanku, aku sibuk ingin memberi nafkah pada keluargaku,” sementara semua itu merupakan pemberian dari yang menginginkan seruan-Nya dipenuhi. Betapa tidak bersyukurnya diri ini.

Al imam Ibnu Katsir menukil satu hadits ketika mengomentari ayat ini. Dari Abu sa’id al Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwasanya rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “apabila kalian melihat seorang laki-laki yang selalu bersiap ke masjid maka persaksiakanlah sesungguhnya dia adalah orang yang beriman.” (HR. Tirmidzi dan lainnya, Hadits ini diperselisihkan ke shahihannya, namun imam Nawawi rahimahullah memasukkannya dalam riyadhus shalihin dimana beliau berazam untuk memasukkan hadits yang tsabit saja dalam kitabnya tersebut.)

Sepatah kata buat si camat (calon mayat)

Sungguh mengherankan para pemburu dunia, mereka berlomaba-lomba mengumpulkan segala keindahan dan kenikmatan yang ada di dalamnya, lalu lupa bersyukur kalau itu semua merupakan karunia dari-Nya. Sungguh mengherankan para penggila dunia, ketika Tuhannya memanggilnya pada kemenangan, namun ia asik-asikan pada kehinaan. Asik mengumpulkan harta, asik bersenda gurau dengan istri cantiknya, asik bermain dengan anak pelipur laranya, sementara itu semua hanyalah nikmat dari-Nya yang menjadi ujian, dimana semuanya akan dimintai pertanggung jawabannya oleh-Nya. Lalu bagaimana ia akan menjawab jika Allah bertanya kepadanya di hari kiamat nanti, “mengapa engkau tidak memenuhi seruan-Ku, sementara kenikmatan sudah Ku cukupkan padamu?” apakah ia berani menjawab, “aku sibuk dengan urusan duniaku?”

“Bermegah-megahan (banyak harta, anak, pengikut, kemuliaan, dan seumpamanya) telah melalaikan kamu, Sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), Dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, Dan Sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin. Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).”

Wahai camat yang terhormat, sebentar lagi diri ini akan dimakan oleh cacing-cacing tanah, tubuh berselimutkan kafan, bertemankan kesunyian, berkawankan kegelapan tidak ada lagi tawa dan pelipur lara melainkan penantian hari pembalasan.

Wahai camat yang terhormat, wajah cantikmu sebentar lagi akan pudar ditelan masa, tubuh indahmu kan dimakan oleh binatang-binatang menjijikkan di dalam tanah, ketenaranmu hanya tinggal kenangan, kita hanya akan menunggu balasan di dekatkan.

“Dan diletakkanlah Kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: "Aduhai celaka Kami, kitab Apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). dan Tuhanmu tidak Menganiaya seorang juapun". QS. Al Kahfi: 49

Mari memperbaiki diri dibulan ramadhan.
Wallahu a’lam


0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar