Kamis, 30 Oktober 2014

Pemimpin Hari Ini, Wajibkah Ditaati?



Dalam islam, masalah kepemimpinan dianggap sebagai masalah yang sangat urgen. Seorang pemimpin dalam islam memiliki manzilah/kedudukan khusus, karena di pundaknya amanah-amanah berat kaum muslimin. Tidak mengherankan kalau Allah memberikan banyak keutaamaan terhadap para pemimpin yang dapat berlaku adil pada rakyatnya. Demi menjaga keutuhan dan kesatuan antara pemimpin dengan rakyatnya, Allah dan rasul-Nya banyak memberikan wasiat-wasiat pada umat manusia agar senantiasa menaati pemimpin-pemimpin mereka dalam kehidupannya.

Pemimpin ibarat otak dalam tubuh manusia,yang mengatur sistem-sistem kerja tubuh yang ada. Jika salah satu anggota sistem kerja tubuh tidak menerima dengan baik perintah yang datang dari otak, maka tubuh akan mengalami sakit. Begitupula jika rakyat tidak mematuhi pemimpinnya, niscaya akan menciptakan kehidupan bermasyarakat yang tidak sehat. Kekacauan akan terjadi diamana-mana, pemberontakan, demonstrasi dan lain sebagainya.

Disisi lain, jika pemimpin itu berbuat zalim, maka perbuatan zalim itu merupakan dosa mereka sendiri yang akan dipertanggung jawabkan di pengadilan Allah nantinya. Akan tetapi, kaum muslimin tetap wajib taat pada pemimpin mereka walau dalam kondisi zalim seperti itu, selama mereka tidak diperintahkan untuk bermaksiat kepada Allah –azza wajalla-.

Taat Pada Pemimpin (Ulul Amr)

Semua pemimpin adalah ulul amr dan wajib di taati jika mereka adalah muslim, selama mereka tidak memerintah untuk berbuat maksiat. Allah berfiman, “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa: 59)

Hudzaifah Ibnul Yaman menceritakan perbincangannya bersama rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- ia berkata, “wahai rasulullah sesungguhnya dahulu kami berada dalam keburukan. Lalu Allah datang dengan kebaikan dan kami (sekarang) berada dalam kebaikan itu. Apakah setelah kebaikan ini akan ada keburukan?” Beliau bersabda, “ya” aku berkata, “apakah setelah keburukan itu ada kebaikan?” beliau berkata, “ya” aku berkata, “apakah setelah kebaikan itu ada keburukan?” beliau berkata, “ya”, aku berkata, “bagaimana itu?” beliau bersabda, “ akan terjadi setelah meninggalku nanti, pemimpin-pemimpin yang tidak memberi petunjuk dengan petunjukku, tidak berhhukum dengan sunah-sunahku. Akan muncul orang-orang yang hati mereka adalah hati syaithan dalam bentuk manusia.” Aku berkata, “apa yang harus aku lakukan wahai rasulullah jika aku menemui zaman itu?” beliau bersabda, “dengar dan taatlah pada pemimpinmu walau mereka memenggal lehermu dan mengambil hartamu.” (HR. Muslim No: 1847)

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- ingin mengajarkan kepada umatnya akan pentingnya taat pada pemimpin. Karena taat pada pemimpin merupakan bentuk keataatan kepada Allah –azza wajalla-. Olehnya, Imam Nawawi -rahimahullah- membuat satu bab dalam shahih muslim dengan judul, “Bab wajibnya iltizam pada jama’ah kaum muslimin ketika terjadi fitnah dan setiap keadaan mereka, serta diharamkannya keluar dari ketaatan terhadap jama’ah itu dan berpisah dari jama’ah.

Menyoal Pemimpin dan Hukum Negri Ini

Masalah ini sebenarnya merupakan masalah serius dan rumit. Sehingga diharapkan kepada kaum muslimin tidak mudah dan gegabah memvonis kafir pada orang-orang yang enggan untuk berhukum dengan hukum Allah. Butuh kehati-hatian dan tidak tergesah-gesah. Sekalipun ini merupakan musibah besar yang sedang menimpa pemimpin-pemimpin kita hari ini. “semoga Allah senantiasa memperbaiki kondisi pemimpin-pemimpin negri ini”

Syaikh al ‘Utsaimin -rahimahullah- menjelaskan hukum ini dengan sangat hati-hati. Beliau berkata:
Siapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah dengan menghinakannya atau merendahkannya atau berkeyakinan bahwa selain hukumnya itu lebih baik dan lebih bermanfaat bagi manusia atau sama dengan hukum Allah maka dia kafir dan keluar dari agama islam. Diantara mereka adalah orang-orang yang meletakkan syariat untuk manusia dengan menyelisihi syariat islam agar menjadi manhaj yang setiap orang harus berjalan diatasnya. Tidaklah mereka membuat syariat yang menyelisihi syariat islam itu kecuali karena mereka berkeyakinan bahwa itu lebih baik dan lebih bermanfaat bagi manusia.

Dan barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan, dengan kondisi dia tidak merendahkan hukum Allah, tidak menghinakannya, dan tidak pula berkeyakinan bahwa selain hukum Allah itu lebih baik dan lebih bermanfaat untuk manusia. Maka dalam tingkatan seperti ini dia zholim dan tidak kafir. Tingkatan kezholimannya sesuai apa yang dihukumi dan sarana-sarana hukumnya.

Dan barang siapa yang tidak berhukum dengan hukum Allah, dengan tidak menghinakan hukum Allah, tidak juga merendahkannya dan juga tidak berkeyakinan bahwa selain hukum Allah lebih bermashlahat dan lebih bermanfaat untuk manusia, akan tetapi dia berhukum dengan selain hukum Allah karena ada pengaruh yang lain seperti suap atau selainnya dari tujuan keduniawian lainnya, maka dia dikategorikan sebagai orang yang fasik. Dan bukan seorang yang kafir. Kefasikan orang seperti ini sesuai dengan apa yang dia hukumi dan sarana-sarana hukum tersebut.

Permaslahan ini, yang saya maksud adalah permasalahan berhukum dengan selain hukum Allah adalah diantara masalah-masalah yang sangat besar dimana pemerintah kita saat ini sedang diuji dengannya. Maka hendaknya setiap orang tidak teegesah-gesah dalam menghukumi mereka dengan perkara yang tidak berhak disematkan kepada mereka. Sampai betul-betul jelas padanya akan kebenaran, karena masalah ini adalah masalah yang berbahaya. (lihat: Syarah Ushulu ats Tsalatsah: 158-159)

Sehingga tidak diperbolehkan bagi kaum muslimin untuk keluar atau memberontak dari pemerintahan yang ada, selama pemimpin itu adalah seorang msulim. Kecuali, ia melihat pemimipin itu melakuakn kekufuran yang nyata, dan  ia memiliki kemampuan untuk keluar dari kepemimpinan itu.

‘Auf Ibnu Malik al Asyja’i -radhiyallahu ‘anhu- berkata aku mendengarkan rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “sebaik-baik pemimpin kalian adalah pemimpin yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian, kalian mendoakan mereka dan mereka mendoakan kalian. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah pemimpin yang kalian benci dan mereka membenci kalian, kalian mencelanya dan mereka pula mencela kalian.” Kami berkata, “apakah kami harus memerangi mereka pada saat seperti itu?” beliau bersabda, “tidak!! Selama ia masih mengerjakan sholat di tengah-tengah kalian.” (HR. Muslim: 1855).

Menjaga Kehormatan Seorang Muslim

Pemilu telah berakhir, dan Mahkamah Konstitusi telah menetapkan presiden kita. Presiden yang terpilih adalah seorang muslim, sehingga hak-haknya sebagai muslim dan sebagai pemimpin harus dijaga. Maka setelah ini, sebaiknya kita sebagai muslim, tidak lagi terbawa arus perang kempanye yang menjatuhkan kehormatan pemimpin terpilih. Pemimpin telah ditetapkan, maka wajib untuk ditaati dan harus dijaga kehormatannya.

Sebagai nasehat terakhir, hendaknya kepada setiap muslim untuk tidak saling memberi gelar-gelar buruk kepada saudaranya, tidak mudah memvonis dengan ucapan kufur atau sebutan jelek lainnya. permasalahan ini adalah permasalahan yang rumit, sehingga ada baiknya pula tidak menyebut orang yang menyelisihi ini dengan manhaj “khawarij” atau “neo khwarij”. Sekali lagi, ini adalah masalah yang rumit. Para ulama membahasnya cukup panjang dalam kitab-kitab mereka. Adapun tulisan ini, hanyalah merupakan kesimpulan dari pembahsaan yang panjang tersebut.

Sholat dan sabar harus senantiasa bersama dengan para da’i kaum muslimin, menghiasi ibdahnya dengan doa untuk pemimpin-pemimpin kita agar senantiasa mendapat petunjuk dari Allah –azza wajalla- . Jangan jadikan masalah ini sebagai ajang untuk berpecah belah, sungguh agama kita melarang kita untuk berpecah belah. Perpecahan dikubu kaum muslimin adalah kebahagiaan bagi orang kafir.

Semoga bermanfaat, wallahu a’lam bish showab.

  

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar