Selasa, 02 Desember 2014

Kerja Sama Dengan Ikhwanul Muslimin, Tapi Masih Disebut Ahlu Sunnah. Ini Alasannya


Ahlu sunnah sebagai kelompok yang mendapat tazkiyah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu menjadi rebutan. Tidak jarang kita menemukan diantara yang saling memperbutkannya, saling menyesatkan satu sama lain hanya untuk melegitimasi kelompoknya sebagai kelompok ahlu sunnah wal jama’ah yang mendapat rekomendasi itu.

Akan tetapi, Ahlu sunnah tidak hanya kelompok. Ia merupakan manhaj nubuwah yang agung warisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebatas pengakun akannya, tidak bisa menjadi dalil bahwa ialah kelompok ahlu sunnah itu. Pengamalan yang sesuai manhajnya menjadi syarat muthlak agar bisa menjadi ahlu sunnah sekalipun ia tidak mengaku ahlu sunnah atau hanya sendirian.

Olehnya Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “al jama’ah (ahlu sunnah) adalah apa yang sesuai dengan kebenaran walau engkau hanya sendirian.” (lihat syarah Aqidah al-Washitiyyah karya syaikh al Fauzan: 6. Al-Maktabah asy-Syamilah).

Keindahan manhaj ahlu sunnah ini, kini harus terkotori akibat ulah sebagian oknum yang merasa paling sunnah. Mereka gemar mencela dan memecah belah kaum muslimin hanya karena tidak melihatnya pada gurunya. Kurangnya tabayyun menjadi kekurangan mereka, sehingga lisannya bak pedang yang menyayat-nyayat hati saudaranya seiman. Melukai dan terus melukai dengan kata-kata kejinya. Dan mereka tidak sadar kalau mereka terjebak dalam sandiwara syaithan.

Ikhwan al-muslimin berbaju salafi, demikian salah satu tuduhan yang mereka lontarkan. Hal ini disebabkan karena seorang petingginya menyampaikan beberapa kalimat di sebuah kegiatan di salah satu ormas yang bermanhaj salaf. Lalu dengan serampangan mereka menyerang saudaranya. Allahul Musta’an.

Salahkah jika melakukan kerja sama dalam hal kebaikan?

Tidak tabayyun dan serampangan mengambil berita ini jadi penyakit kronis mereka yang tidak ingin dirubah. Padahal sudah sering diundang untuk melakukan konfirmasi tapi penyakit taklid butanya selalu menggelapkan pikiran mereka. Kerja sama dengan ikhwan al-muslimin dalam kebenaran dan ketakwaan salahkah?

Apa kata lajnah daimah?

Berikut ini adalah fatwa lajnah daimah nomor 6250 tentang ikhwanul muslimin.

س1: في العالم الإسلامي اليوم عدة فرق وطرق الصوفية مثلا: هناك جماعة التبليغ ، الإخوان المسلمين ، السنيين ، الشيعة ، فما هي الجماعة التي تطبق كتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم؟

Pertanyaan: dalam dunia islam saat ini terdapat beberapa kelompok dan kelompok-kelompok shufiyah misalnya jama’ah tabligh, al-ikhwan al-muslimin, sunni dan syiah. Kelompok manakah yang menerapkan kitab Allah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?

Jawaban:

ج1: أقرب الجماعات الإسلامية إلى الحق وأحرصها على تطبيقه: أهل السنة : وهم أهل الحديث ، وجماعة أنصار السنة ، ثم الإخوان المسلمون .

Kelompok-kelompok islam yang paling dekat dengan kebenaran dan semangat dalam mempraktekannya adalah ahlu sunnah, dan mereka adalah ahlul hadits jama’ah ansharu as-sunnah dan jama’ah ikhwan al-muslimin

وبالجملة فكل فرقة من هؤلاء وغيرهم فيها خطأ وصواب، فعليك بالتعاون معها فيما عندها من الصواب، واجتناب ما وقعت فيه من أخطاء، مع التناصح والتعاون على البر والتقوى.
وبالله التوفيق. وصلى الله على نبينا محمد، وآله وصحبه وسلم

Ringkasnya, setiap kelompok dari mereka dan selainnya terdapat kesalahan dan kebenaran pada mereka. Maka bekerjasamalah dengan mereka pada kebenaran dan jauhilah kesalahannya. Dan saling nasehat menasehatilah dalam kebaikan dan takwa. Semoga mendapat taufik dari Allah. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah pada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam beserta keluarga serta sahabatnya.

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
عضو … عضو … نائب رئيس اللجنة … الرئيس
عبد الله بن قعود … عبد الله بن غديان … عبد الرزاق عفيفي … عبد العزيز بن عبد الله بن باز

Lajnah ad-Daimah Lil Buhuts al-Ilmiyyah wal ifta
Anggota                            Anggota                           Wakil Ketua                 Ketua
Abdullah Ibnu Qu’ud   Abdullah Ibnu Ghudyan Abdurrazzaq al Afifi   Abdul ‘Aziz Ibnu Adillah Ibnu Baz



Akan tetapi, rupanya kedengkian terlalu menguasai hati dan pikiran mereka (para pengaku ahlu sunnah). Hingga ketika salah satu dari saudara mereka, begitu bangganya jika diantara mereka sudah mulai saling bergandengan tangan, mereka malah sakit hati dan makin melemparkan celaan-celaan yang begitu menyayat hati. Tidak mau bersatu menjadi persepsi yang dimunculkan, kecuali bergabung dengan kelompoknya. Beginilah sifat setan yang dipeliahara oleh sebagian mereka. Tidak mau tabayyun itulah awal dari penyakit kronisnya.

Padahal Ibnu Qayyim al Jauziyyah rahimahullah berkata:

إذَا طَلَبَ الْمُشْرِكُونَ وَأَهْلُ الْبِدَعِ وَالْفُجُورِ وَالْبُغَاةُ وَالظّلَمَةُ أَمْرًا يُعَظّمُونَ فِيهِ حُرْمَةً مِنْ حُرُمَاتِ اللّهِ أُعِينُوا عَلَيْهِ
وَمِنْهَا : أَنّ الْمُشْرِكِينَ وَأَهْلَ الْبِدَعِ وَالْفُجُورِ وَالْبُغَاةِ وَالظّلَمَةِ إذَا طَلَبُوا أَمْرًا يُعَظّمُونَ فِيهِ حُرْمَةً مِنْ حُرُمَاتِ اللّهِ تَعَالَى أُجِيبُوا إلَيْهِ وَأُعْطُوهُ وَأُعِينُوا عَلَيْهِ وَإِنْ مَنَعُوا غَيْرَهُ فَيُعَاوَنُونَ عَلَى مَا فِيهِ تَعْظِيمُ حُرُمَاتِ اللّهِ تَعَالَى لَا عَلَى كُفْرِهِمْ وَبَغْيِهِم

Apabila kaum musyrikin, ahlul bida’ pelaku fujjar, bughat mememohon pertolongan pada satu perkara dimana perkara itu memuliakan syariat dari syariat Allah maka bantulah.
Dan diantaranya, bahwa kaum musyrikin, ahli bid’ah , kaum fujjar, bughat dan pelaku kezholiman jika mereka meminta tolong pada perkara yang dimana perkara itu akan mengagungkan syariat-syariat Allah maka jawablah permintaan itu dan tolonglah mereka dan jika mereka melarang selainnya maka di tolong pada perkara yang mengagungkan syariat-syariat Allah saja bukan pada kekufuran dan perbuatan aniaya mereka. (lihat Za’adul Ma’ad: 3/256. Al Maktabah Syamilah)

Dari sini, kita bisa menyimpulkan bahwa tidak selamanya bekerja sama dengan kelompok yang tidak semanhaj sebagai ahli bid’ah. Semoga Allah mengokohkan kita diatas kebenararan serta menjaga lisan-lisan kita dari menyakiti hati saudara kita, serta menyatukan barisan dakwah kaum muslimin.

Dari yang merindukan persatuan
Abu Ukasyah Wahyu Al Munawy
------------------------------------------

Palembang, 10 safar 1435 H

2 komentar:

  1. Assalamu alaikum. Akhi. Mohon antum komentari nukilan ana dari web abusalma yg dia tulis Tentang kesalahan syekh hasan al banna.


    Hasan Albanna berkata tentang dirinya sendiri dalam kitabnya Mudzakkirah Ad-Dakwah Wa ad-da’iyah hal.27 : Aku berteman dengan teman-teman tarekat Hasofiyah di Damanhur dan aku rajin berkumpul di masjid Taubah setiap malam….lalu hadir Sayyid Abdul Wahhab tokoh tarekat Hasofiyah Syadziliyah dan akupun mengambil tarekat Hasofiyah Syadziliyah darinya dan aku diizinkan untuk memegang tugas-tugasnya.

    Hasan Albanna mengatakan dalam kitab Mawaaqif fid dakwah wat tarbiyah hal.120 oleh Abbas As-Siisy : Sudah dimaklumi oleh Jama’ah Ikhwanul muslimin bahwa mereka menyeru dan berdakwah untuk berhukum kepada Al-Qur’an Al- karim. Dan hal ini membuat ketakutan serta keraguan pada diri saudara-saudara kita orang-orang Nashara.

    Dia juga berkata dalam kitab Al-Ikhwanul muslimun ahdaatsun shanaat at-taarikh hal.409 : Saya menyatakan bahwa sesungguhnya permusuhan kita dengan orang-orang Yahudi bukanlah karena agama. Sebab Al-Qur’an menganjurkan untuk bersatu dan bersahabat dengan mereka. Agama Islam adalah agama insani/kemanusiaan sebelum menjadi agama qaumi (kaum/kelompok). Allah telah memuji mereka dan menjadikan antara kita dan mereka kesepakatan.

    وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

    “Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka.” (QS. Al-Ankabut : 46)


    Hasan Albanna berkata dalam kitab Dzikkrayaatun laa mudzakkiraat hal.250 : “Ketahuilah bahwa ahlussunnah dan syiah adalah kaum muslimin yang dipersatukan oleh kalimat laa ilaha illallahu wa anna Muhammadan rasulullah yang merupakan prinsip aqidah. Syiah dan sunnah sama dan serupa di dalamnya. Adapun perselisihan antara mereka hanyalah dalam perkara-perkara yang mungkin bisa didekatkan…Syiah terpecah menjadi kelompok-kelompok seperti terpecahnya empat madzhab dalam tubuh ahlussunnah[8]. Syiah Imamiyah misalnya berkata bahwasannya kepemimpinan adalah pokok yang wajib dalam Islam dan harus diwujudkan. Mereka tidak berperang melainkan bersama imam/pemimpin Al-Muntazhar (yang ditunggu), karena imam adalah penjaga syariat dan ucapan imam adalah hakim atas hukum-hukum syariat serta mentaati imam adalah wajib secara mutlak. Dan masih ada perbedaan yang lain yang masih bisa dihilangkan seperti masalah nikah mut’ah, banyaknya istri bagi seorang muslim. Yang demikian ini ada pada sebagian kelompok mereka dan masalah-masalah lain yang tidak harus kita jadikan sebagai pemutus tali persaudaraan antara ahli sunnah dan syiah. Sungguh kedua kelompok ini sudah menyatu sejak ratusan tahun yang lalu dan para Imam-imam (syiah) telah banyak mengarang kitab Islami yang memenuhi perpustakaan-perpustakaan.

    https://abunamira.wordpress.com/2017/07/14/mengenal-ikhwanul-muslimin-dan-sosok-pendirinya/

    BalasHapus
  2. Akhi, tolong komentari yg tertulis di alamat ini tentang sayid qutb.
    https://abusalma.net/2007/08/01/fatwa-ulama-umat-terhadap-sayyid-quthb-1/

    BalasHapus

Silahkan Memberi komentar