Senin, 01 Desember 2014

Kafirkah Utsman Menurut Ali Karena Telah Membakar Al-Qur'an? Ini Jawabannya



Mungkin menjadi pertanyaan oleh sebagian pihak, mengapa Utsman membakar al Qur’an di zamannya. Perbuatan ini memang bukan tanpa alasan. Utsman yang merupakan menantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bukanlah seorang yang jahil akan al Qur’an.

Yang menjadi sebab hal itu terjadi adalah bahwa ketika di zaman Ustman Ibnu Affan radhiyallahu ‘anhu saat beliau menjadi menjadi khalifah, terjadi kemelut perselisihan dikalangan sahabat seputar qiraat al Qur’an. Saat itu telah terjadi banyak futuhat (perluasan daerah kaum muslimin) di beberapa wilayah. Para qari’ berbeda dengan qari’ yang lain, sehingga setiap wilayah mengambil bacaan Qur’an sesuai utusan Qari’ yang ada di wilayahnya. Setiap dari mereka mengaku bersanad hingga ke Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Pada saat terjadi perang irminiyah  dan perang adzrabiijaan, Hudzaifah Ibnul Yaman yang saat itu ikut dalam dua perang tersebut melihat perbedaan yang sangat banyak pada wajah qiraah beberapa sahabat. Sebagiannya bercampur dengan bacaan yanag salah. Melihat kondisi para sahabat yang beselisih, maka ia melaporkannya kedapa Utsman radhiyallahu ‘anhu. Mendengar kondisi yang seperti itu, Utsman radhiyalahu ‘anhu lalu mengumpulkan manusia untuk membaca dengan qiraah yang tsabit dalam satu huruf (yang sesuai dengan kodifikasi Utsman). (lihat mabaahits fi ‘ulumil Qur’an karya Manna’ al Qaththan: 128-129. Cetakan masnyuratul ashr al hadits).

Setelah Utsman radhiyallahu ‘anhu memerintahkan kepada sahabat untuk menulis ulang al Qur’an, beliau kemudian mengirimkan al Qur’an tersebut ke seluruh penjuru negri dan  memerintahkan kepada manusia untuk membakar al Qur’an yang tidak sesuai dengan kodifikasi beliau. (lihat Shahih Bukhari, kitab Fadhailul Qur’an bab jam’ul Qur’an, al Maktabah Syamilah)

Ali Dengan Tegas Menyepakati Perbuatan Utsman

Perlu diketahui sebelumnya, bahwasanya mushaf-mushaf diperintahkan untuk dibakar oleh Utsman saat itu karena mushaf-mushaf itu bercampur dengan ayat-ayat yang telah mansukh namun beberapa sahabat tetap memasukkannya dalam mushaf mereka. Demikian pula urutan penomoran surat tidak sesuai yang ditujukan oleh Jibril, serta beberapa penafsiran sahabat yang bukan merupakan ayat  al Qur’an namun dianggap sebagai al Qur’an. Karena itu Utsman memerintahkannya agar membakarnya supaya tidak menjadi fitnah di kemudian hari. (Lihat Hiqbatun min at tarikh: 57, cetakan markaz tsaqafatul islamiyyah)

Perbuatan Utsman disepakati oleh Ali Ibnu Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Beliau dengan tegas berkata:

لو لم يصنعه عثمان لصنعته

“Jika seandainya Utsman tidak melakukan hal itu maka akulah yang akan melakukannya.” (lihat al Mashahif, Bab Ittifaaqun naas ma’a Utsman ‘ala Jam’il Mushaf, hal. 177)
Mush’ab Ibnu Sa’ad berkata, “aku mendapati banyak manusia ketika Utsman membakar al Qur’an dan aku terheran dengan mereka. Dia berkata, Tidak ada seorang pun yang mengingkari/menyalahkan perbuatan Utsman. (lihat al Mashahif: 178)

Ibnul ‘Arabi berkata tentang jam’ul Qur’an dan pembakarannya, “itu adalah kebaikan terbesar pada Utsman dan akhlaknya yang paling mulia, karena ia menghilangkan perselisihan lalu Allah menjaga al Qur’an melalui tangannya. (lihat hiqbatun min at tarikh : 57 dan lihat al ‘awashim minal qawashim: 80)
Lain halnya dengan ahlu sunnah yang mengaku bahwa al Qur’an yang ada pada kita hari ini adalah al Qur’an yang terjaga keasliannya, maka syiah berkeyakinan bahwa ada al Qur’an lain yang di sembunyikan oleh ‘Ali  yang keberadaanya sekarang berada pada imam Mahdi.

Muhammad Asy Syahhat seorang ulama syiah itsna ‘asyariyah yang mengaku sebagai naib Imam Mahdi ketika di tanya oleh syaikh khalid al Wuhsabi hafizahullah, “apakah ada Qur’an lain milik Ali selain Qur’an yang ada pada kita sekarang?” Ia menjawab, Benar, ada akan tetapi itu disembunyikan oleh Ali dan sekarang bersama pada Imam Mahdi.” Ia juga menuturkan bahwa sesungguhnya Qur’an yang ada pada Ali adalah al Qur’an yang diturunkan sebagai mana ia diturunkan pada Nabi secara harfiyyah dan ia lebih besar dari Qur’an yang ada pada kita hari ini. Dalam penjelasannnya lagi, ia mengatakan bahwa Qur’an terbagi menjadi dua yaitu Qur’an bayiinaat (yang berisi penjelasan) dan Qur’an ghairu bayyinat (Qur’an yang tidak berisi penjelasan). Ia pula mengatakan bahwa Qur’an Ali berbeda dengan Qur’an yang ada pada kita hari ini. (Silahkan lihat video dialog Muhammad Asy Syahhat ulama Syiah Itsna ‘aysariah sang Naib Imam Mahdi dengan Syaikh Khalid al Wushabi hafizahullah pada menit ke 6-16 di sini: https://www.youtube.com/watch?v=ZCuMtfqmwkE)

Jelas sekali dalam video tersebut, sang Naib Imam Mahdi berusaha mengelabui syaikh Khalid dengan cara meyakinkan bahwa al Qur’an yang ada pada kita hari ini adalah al Qur’an yang benar namun di sisi lain ia mengatakan ada perbedaan. Aneh memang,  maka sesungguhnya dalam hal ini mereka (agama Syiah) menghina Ali radhiyallahu ‘anhu dengan berupa laknat, karena Allah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللاعِنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang Menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknat oleh Allah dan dilaknat (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat melaknat.” (QS. Al Baqarah: 159)

Bukankah ini penghinaan terbesar terhadap Ali dan Ahlu Baitnya? Semoga kita bisa menjadi manusia-manusia yang bisa berfikir cerdas dan mendapatkan hidayah dari Allah.


Wallahu a’lam dan semoga bermanfaat

4 komentar:

  1. Sejarah mencatat bahwa di awal beredarnya ajara Islam ada banyak mushaf yang menimbulkan perselisihan. Perselisihan itu begitu keras sampai satu sama lain saling mengatakan kafir. Semua itu bisa terjadi karena masalah dialek saja…?
    Apakah TUHAN salah menurunkan kitab ke bangsa Arab…?
    Hanya karena masalah dialek saja tidak satupun Qur'an yang otentik yang bertahan…?
    Baik itu yang ditulis semasa Muhammad hidup, maupun yang dikumpulkan Abu Bakar, plus mushaf karya dua orang yang direkomendasikan Muhammad semuanya dibakar…?

    BalasHapus
    Balasan
    1. ada dua kesimpulan yang bisa saya tarik dari pernyataan anda.

      pertama: anda seorang syiah yang meyakini al-Qur'an tidak otentik lagi
      kedua: anda tidak membaca tulisan di atas

      Hapus
  2. apakah usman pernah mencatat perkaatan nabi ?perselisihan seperti apa sampai membakar?
    aku bersaksi kepada Muhammad SAW bukan sekedar percaya saja ,jadi para muslim harus meneliti lebih dalam lagi sejarah dari islam banyak sahabat2 yg mencatat sbg mushaf quran,tugas muslim mengumpulkan semua mushaf alquran yg pernah dicatat oleh sahabat disitu kalian tahu islam rahmatan lil alamin seperti apa. tidak sekarang ini banyak golongan islam atau yg mengaku islam islam bukan sunni islam bukan syiah islam ya islam

    BalasHapus

Silahkan Memberi komentar