Jumat, 13 Maret 2015

Dosa Sebagian Salafiyyin Yang Di Pelihara 01



1 Tidak Mau Melakukan Tabayyun/Tastabbut

Tabayyun atau mengkroscek kebenaran satu berita adalah sesuatu yang sangat dianjurkan dalam islam. Bahaya yang ditimbulkan dari meninggalkannya sangat besar. Entah akan menyebar berita dusta atau menyebar berita yang tidak diketahui asal-usulnya. Sebagian besar para penuntut ilmu syar’i hari ini tidak lagi memperhatikan masalah ini. Pasalnya, mereka telah mendapat doktrin dari guru mereka bahwa hal ini adalah salah satu wasilah untuk mengelabui umat. Sebab, guru mereka telah menganggap saudaranya yang tidak bersamanya dalam perjuangan sebagai musuh dakwah. Padahal, hakikatnya mereka memiliki manhaj yang sama, ahlussunnah wal jama’ah.

Karena permusuhan itu, beberapa gelarpun disematkan kepada saudaranya demi memuaskan hawa nafsu akan rasa kebenciannya. Mereka bukan ahlussunnah, mereka Sururiyyah[1], quthbiyyah[2], thuratsiy[3], ikhwaniy berbaju salaf, dan beberapa gelar lainnya, menjadi sederet gelar yang mereka nisbatkan pada saudaranya.

Begitu mirisnya hati ketika melihat kenyataan pahit ini. Mereka mengaku pengikut sunnah namun lebih senang memelihara dan menyebar kedustaan yang berakibat pada perpecahan umat. Kedustaan itu berpindah dari satu orang ke orang lain dan berlangsung bertahun-tahun lamanya. Ketika diajak untuk melakukan tabayyun, mereka enggan dan berpaling seraya berkata, “Kami mendapatkan kabar dari seorang yang tsiqah (terpercaya)!!??.”

Inilah satu praktek dari doktrin yang mereka telan mentah-mentah. Doktrin bahwa tastabbut adalah wasilah sururiyyah untuk mengelabui umat. Sururiyyah yang dimaksud oleh sebagian mereka adalah saudaranya sendiri yang bermanhaj ahlussunnah wal jama’ah. Sebagaimana yang dituduhkan pada salah satu jam’iyyah yang menyerukan dakwah salaf yang berpusat di Makassar, yaitu Jam’iyyatu al-Wahdati al-Islamiyyah.

Diantara tuduhan dusta yang mereka pelihara dan sebar sejak belasan tahun yang lalu hingga hari ini adalah bahwa jam’iyyah ini melakukan bai’at[4] kepada pemimpinnya, melakukan demosntrasi, memiliki hubungan dengan jaringan terorisme, mengajarkan empat macam tauhid, yaitu tauhid hakimiyyah[5], memiliki pemahaman wihdatu al-wujud[6], mengajarkan kitab-kitab karya Sayyid Quthb rahimahullah, membangkang pada pemerintah, memiliki pemahaman takfiri[7] dan merupakan kelompok ikhwan al-muslimin yang berbaju salaf[8].

Andai saja mereka mau bertabayyun/tastabbut, kedustaan ini tidak akan tersebar di tengah-tengah kaum muslimin sehingga tidak akan menimbulkan perpecahan. Namun karena kejahilan dan tertipu oleh doktrin bid’ah yang menyebutkan bahwa tastabbut adalah wasilah untuk mengelabui umat, maka mereka pun terus menyebar kedustaan itu tanpa ada rasa takut pada Allah kalau mereka telah menyebar dusta.

Alasan mereka berbuat demikian karena gurunya adalah seorang yang tsiqah, jujur dan seorang yang shalih. Sehingga tidak perlu meragukan kabar yang ia bawa. Mereka berdalih dengan firman Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”[9]

Kalimat yang haq akan tetapi diinginkan dengannya kebatilan. Kalimat ini sangat cocok bagi mereka yang gemar menyebar kedustaan dengan berdalihkan ayat ini. perlu diketahui bahwa tidak selamanya seorang yang tsiqah shalih dan jujur diterima berita yang dibawanya. Ia bisa tertolak jika ada qarinah (indikasi) yang menunjukkan kesalahan berita yang dibawanya itu.

Para ulama telah menjelaskan metode pengambilan berita yang benar sesuai praktek dan pemahaman para salaf jika seorang yang tsiqah meriwayatkan berita yang tidak sesuai dengan pemilik kisah. Dalam hal ini ada dua cara:

1.      Mendahulukan riwayat pemilik kisah daripada riwayat yang bukan pemilik kisah karena dia lebih tahu apa yang terjadi pada dirinya. Misalnya:

Hadits Abdullah Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:
أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم تَزَوَّجَ مَيْمُونَةَ وَهُوَ مُحْرِمٌ
“Rasulullah صلى الله عليه وسلم menikahi Maimunah dalam keadaan ihram (kondisi ini diharamkan menikah-pent).”[10]

Kemudian ada hadits lain yang menyelisihi hadits Abdullah Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu dari Yazid ibn al-Ashm ia berkata:
حَدَّثَتْنِى مَيْمُونَةُ بِنْتُ الْحَارِثِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- تَزَوَّجَهَا وَهُوَ حَلاَلٌ قَالَ وَكَانَتْ خَالَتِى وَخَالَةَ ابْنِ عَبَّاسٍ
“Maimunah Bintu al-Harits telah menceritakan kepadaku bahwasanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم menikahinya dalam keadaan halal.” Ia berkata, “ia adalah bibiku dan bibi Ibnu Abbas.”[11]
Dalam kondisi seperti ini, riwayat dari Maimunahlah yang harus didahulukan daripada riwayat ibnu Abbas karena ia adalah pemilik kisah yang lebih tahu tentang dirinya sendiri.
2.      Mendahulukan riwayat yang melihat kisah secara langsung dari yang tidak melihat kisah. Misalnya:
Hadits dari Abdullah ibnu Abbas bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم menikahi Maimunah dalam keadaan ihram.[12]
Kemudian ada riwayat dari Abu Rafi’ dia berkata:
تزوج رسول الله صلى الله عليه و سلم ميمونة وهو حلال وبنى بها وهو حلال وكنت أنا الرسول فيما بينهما
 “Rasulullah صلى الله عليه وسلم Maimunah dalam keadaan halal dan mendatanginya juga dalam keadaan halal saat itu diriku sebagai utusan diantara mereka berdua (saat menikah-pent).”[13]
Maka dalam hal seperti ini, riwayat Abu Rafi’ harus didahulukan karena dia sebagai utusan yang berada diantara mereka berdua, yang melihat peristiwa secara langsung.[14]

Menyebarkan berita tanpa melakukan tabayyun/tatsabbut hakikatnya telah membuka pintu-pintu kesalahan berikutnya. Diantaranya adalah fanatik dan taklid buta serta meninggalkan kaidah-kaidah dalam bermuamalah sesama muslim yang telah disebutkan dalam hadits-hadits Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Pengakuan mereka bahwa tabayyun adalah sarana untuk mengelabui umat adalah bid’ah.

Mengenai beberapa tuduhan dusta yang disebutkan sebelumnya akan dibahas pada pembahasan berikutnya insya Allah. Begitu juga dengan sifat sebagian guru-guru mereka yang talah di tahdzir langusng oleh guru-gurunya sendiri dengan istilah kadzdzab (tukang dusta).


[1] Sururiyyah adalah gelar bagi orang-orang yang mengikuti jejak Muhammad Surur Ibnu Nayif Zainal Abidin
[2] Quthbiyyah adalah gelar bagi orang-orang yang mengikuti jejak Sayiid Quthub
[3] Thuratsiy adalah istilah yang diberikan oleh sebagian orang kepada orang-orang yang memiliki hubungan dengan Jam’iyyah Ihyai at-Turasts
[4] Bai’at adalah sumpah setia untuk tunduk, patuh dan taat kepada pimpinan tertinggi.
[5] Penulis tidak memahami apa yang dimaksud dengan tauhid hakimiyyah. Karena tuduhan ini penulis dengar dari mereka, bukan dari para da’i ormas wahdah islamiyyah. Tapi nampaknya mereka maksud ini adalah pemhaman takfiri. Wallahu a’lam
[6] wihdatu al-wujud yaitu aqidah batil yang menyatakan bahwa Allah menyatu dalam tubuh hamba-Nya
[7] Pemahaman gemar mengkafirkan
[8] Tuduhan bahwa mereka adalah ikhanul muslimin karena pernah bekerja sama dengan mereka, insya Allah akan di bahas pada pembahasan selanjutnya.
[9] QS. Al-Hujurat: 6
[10] HR. Bukhari: 1837, 4258; Muslim: 3517 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[11] HR. Muslim: 3519 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[12] HR. Bukhari: 1837, 4258; Muslim: 3517 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[13] HR. Tirmidzi: 841; Nasai: 5381
[14] Mudzakkirah Fii Ushul al-Fiqh Min Muhadharaat Fadhilatu asy-Syaikh ad-Duktur Muhammad bin Abdurrazzaq ad-Duwaisy hafizhahullah yang disusun oleh Khairul Masmu’ Mas’udi al-Banjari al Jawi: 357-358 dalam format PDF

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar