Jumat, 13 Maret 2015

Dosa Sebagian Salafiyyin Yang Dipelihara 02


 2.  Ta’ashub (Fanatik) dan Taklid Buta

Kesalahan berikutnya adalah kesalahan yang terjadi akibat tidak mau melakukan tabayyun, yaitu ta’ashub (fanatik) golongan dan taklid buta. Mereka menganggap perkataan guru mereka seabagai sesuatu yang tidak mungkin salah. Padahal jelas-jelas sebuah kesalahan. Mereka terus mempertahankannya dan menyebarkan kedustaan walau sang tertuduh telah sering mengatakan dengan tegas bahwa itu adalah kedustaan, bahkan ia sampai melakukan sumpah. Namun ternyata sumpah itu tidak memiliki efek sama sekali bagi mereka.  Sifat fanatik dan taklid buta pada guru-guru mereka telah membutakan mata hatinya lalu meninggalkan kebenaran.

Sebagian kelompok yang mendakwahkan sunnah terkadang menuduh orang lain selain mereka dengan istilah ta’ashub. Mereka tidak sadar kalau sebenarnya merekalah yang terjatuh dalam keta’ashuban, karena jahil dengan istilah ta’ashub tersebut.

Ta’ashshub berasal dari kata ‘ashabiyyah yang bermakna:
أن يدعو الرجل إلى نصرة عصبيته، و الوقوف معها على من يُناوئها، ظالمة كانت أو مظلومة
“Dakwah yang dilakukan untuk menolong kelompoknya dan selalu bersamanya terhadap orang-orang yang memusuhinya. Baik dalam keadaan berbuat zhalim atau terzhalimi.”[1]

Ashabiyyah juga bermakna:
الميل إلى الباطل، و المعاندة فيه، و عدم قبول الحق
“Kecenderungan pada kebatilan, melakukan permusuhan karenanya dan tidak mau menerima yang haq.”[2]

Jika kita memperhatikan paraktek yang dilakukan oleh sebagian orang yang mengaku mengikut sunnah, mereka terjatuh dalam hal ini.  Kecintaan mereka pada guru mereka membutakan segalanya. Mereka lebih mempercayai dan membela gurunya yang salah daripada orang lain yang berada pada kebenaran.  Hal ini menjadikan sebagian mereka meninggalkan kaidah yang disebutkan oleh para ulama ketika terjadi khusumah (perselisihan) antara dua belah pihak. Kaidah itu adalah:
البينة على المدعي واليمين على من أنكر
“Bukti dan penjelasan dikemukakan bagi yang menuduh dan sumpah bagi yang mengingkarinya.”

Hal ini sesuai sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم :
أن النبي صلى الله عليه و سلم قال في خطبته البينة على المدعي واليمين على المدعى عليه
“Bukti harus diperlihatkan oleh yang menuduh dan sumpah bagi yang dituduh.”[3]

Kaidah agung ini ditinggalkan dan mereka tetap kekeuh dengan kejahilannya yang jelas-jelas menyelisihi syariat. Menyebar dusta dengan dalih gurunya yang berkata demikian. Allahul musta’an.

Sebagai contoh, ketika salah seorang da’i sunnah yang cukup populer di kota  Makassar menuduh bahwa Ormas Wahdah Islamiyyah ditengarai memiliki hubungan dengan ISIS, murid-muridnya pun lantas menyebarkan berita dusta itu. Ketika di beritahukan dengan tegas bahwa itu adalah kedustaan, mereka tetap bersikukuh dengan kedustaan itu demi membela gurunya. Padahal sangat jelas peernyataan ormas ini dalam web mereka terhadap kelompok yang dituduhkan tersebut.

Mereka tidak sadar, guru-guru mereka sendiri telah saling tuduh-menuduh dengan gelar pendusta sesama mereka. Dahulunya bersatu, sebagaimana “piagam keahlussunahan” yang pernah mereka buat. Namun kini, orang-orang yang menandatangani piagam ahlussunnah itu sudah saling memusuhi yang satu dengan lainnya. Sungguh  sangat memalukan. Wal’iyadzu billah

Kefanatikan mereka juga dapat dilihat ketika menuntut ilmu. Mereka melarang sahabat-sahabatnya untuk menuntut ilmu pada sudaranya yang lain dengan dalih bahwa saudaranya adalah ahli bid’ah. Padahal kitab rujukannya sama, ulama yang menjadi panutannya juga sama, materinya pun sama. Hanya saja perbedaannya adalah di tempat mereka belajar lebih diutamakan masalah tahdzir mentahdir. Sehingga banyak ditemukan saudara mereka yang belum pintar ngaji, belum tau akidah yang benar tapi sudah pandai menyesatkan. Jika ditanyakan dalil, jawaban mereka “ustadz ini bilang begitu.” Innaalillahi wa innaa ilaihi raji’uun.


[1] At-Ta’ashshubu al-Mazhabi Fi at-Tarikh Mazhahiruhu Aatsaruhu Asbabuhu ‘Ilajuhu: 2 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[2] Ibid
[3] HR. Tirmidzi: 1341 (al-Maktabah asy-Syamilah)

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar