Jumat, 13 Maret 2015

Dosa Sebagian Salafiyyin Yang Dipelihara 03



3. Serampangan Dalam Menuduh dan Memvonis
Kesalahan ini juga muncul karena tidak mau melakukan tabayyun. Memang doktrin ini terlalu kuat melekat pada diri mereka hingga kesalahan demi kesalahan berbuah dari doktrin ini.
Seorang pemuda pernah menuturkan pada penulis tentang kisah menyedihkan yang dialaminya. Kisah itu terjadi antara ia dan sahabatnya. Dimana sahabatnya belajar agama pada orang-orang yang tidak suka bertabayyun. Ia mengisahkan:

“Dahlu ada seorang sahabat menuduh saya. Ia berkata, “antum hizbiy!!!” jadi saya berkata padanya, “mana dalilnya? Karena kalau guru saya memberi materi maka saya tanya dalilnya.” Dia cuma menjawab, “guru saya tidak merekomendasikan saya untuk belajar disitu.”

Hal seperti ini bisa menjadi dalil untuk memvonis seseorang hizbiy?? Allahu al-Musta’an
Pada kisah yang lain, salah satu ormas yang juga menyuarakan dakwah salaf yang berpusat di Makassar pernah mengadakan muktamar. Ternyata salah satu surat kabar memuat berita bahwa ormas itu akan mendirikan partai sesuai hasil keputusan muktamar mereka. Kabar inipun akhirnya mereka sebar, lalu menuduh ormas itu dengan ormas hizbiyah.

Sering penulis berfikir, apakah memang seperti ini mereka diajarkan metode mengambil dan menyebarkan berita?? Bukankah para awak media itu terkenal suka memutar balikkan fakta?? Kenyataannya memang demikian, dalam muktamar yang mereka lakukan, tidak pernah menyinggung masalah ingin membuat partai. Lalu mana tradisi ahli hadits dalam menukil dan menyebarkan berita kalau memang mereka mengaku sebagai pengikut sunnah?? Bukankah para ulama yang memiliki perhatian penting terhadap hadits tidak menerima kabar dari orang-orang yang diketahui sering berdusta?? Apakah mereka tega menyebarkan dusta ini karena didasari hawa nafsu, kebencian dan permusuhan atau karena ilmu? Kalau karena didasari pada ilmu, maka sungguh tidak mungkin, karena menyelisihi kaidah-kaidah dalam mengambil berita.
Kejadian hampir sama, masih di Makassar. Kelompok yang tidak mau melakukan tabayyun ini menuduh ormas wahdah islamiyyah terlibat dalam jaringan terorisme. Lagi-lagi dalil mereka adalah surat kabar. Kabar ini masih terus di posting dalam website mereka hingga penulis menulis buku ini.

Masya Allah, sudah bertahun-tahun lamanya, bahkan yang dituduh sudah sering melakukan klarifikasi. Namun, mereka lebih mempercayai kabar yang datang dari orang-orang yang serampangan menyampaikan berita, yang tidak jelas asal-usul keagamaannya dan tidaklah mereka memuat berita kecuali hanya untuk mengharapkan uang. Tidak diragukan, mereka memang sering kali menjual berita dusta agar jualan berupa beritanya laris diburu oleh masyarakat.

Seandainya mereka melakukan tabayyun, kedustaan ini tidak akan tersbar dan menjadi fitnah di tengah masyarakat. Perlu diketahui, bahwa setelah mereka menyebarkan berita tersebut, ormas ini melakukan klarifikasi bahwa memang ada seorang laki-laki yang dikeluarkan dari salah satu Ma’had milik Wahdah Islamiyyah karena memiliki faham radikal. Sehingga Wahdah berlepas diri dari pemahaman laki-laki tersebut. Namun kelompok yang tidak mau melakukan tabayyun tersebut tidak mau tahu, hawa nafsunya telah menutup mata hatinya dari kebenaran.
Sungguh bijak seorang intel kepolisian[1] yang menyamar menjadi mahasiswa dan belajar di Ma’had tersebut. Setelah melakukan tugas beberapa lama, ia melihat bahwa kampus tersebut sama sekali tidak memiliki hubungan dengan jaringan terorisme. Ia kemudian bertaubat dan menjadi salah seorang yang menyokong  dan membantu dakwah ahlussunnah yang diserukan oleh ormas tersebut. Ia bahkan menjadi da’i dan terus menyuarakan dakwah ahlussunnah bersama dengan mereka. Peristiwa taubatnya sekitar delapan atau Sembilan tahun yang lalu. Bedakan dengan kelompok yang tidak suka bertabayyun tadi, mereka sampai hari ini terus menyebarkan berita dusta tersebut. inna lillahi wa innaa ilaihi raji’un.

Terlalu banyak contoh keserampangan mereka dalam menyebarkan berita. Tidak takutkah mereka pada sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang berbunyi:
كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
“Cukuplah seseorang dikatakan sebagai pendusta jika ia menyebarkan seluruh berita yang ia dengarkan.”[2]
Sesungguhnya Allah jalla wa’ala berfirman:
وَيَجْعَلُونَ لِلَّهِ مَا يَكْرَهُونَ وَتَصِفُ أَلْسِنَتُهُمُ الْكَذِبَ أَنَّ لَهُمُ الْحُسْنَى لا جَرَمَ أَنَّ لَهُمُ النَّارَ وَأَنَّهُمْ مُفْرَطُونَ
“Dan mereka menetapkan bagi Allah apa yang mereka sendiri membencinya, dan lidah mereka mengucapkan kedustaan, Yaitu bahwa Sesungguhnya merekalah yang akan mendapat kebaikan. Tiadalah diragukan bahwa nerakalah bagi mereka, dan Sesungguhnya mereka segera dimasukkan (ke dalamnya).”[3]

Allah azza wajalla juga berfirman:
وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا لِمَنْ حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مِنْ قَبْلُ وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلا الْحُسْنَى وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ
“Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. mereka Sesungguhnya bersumpah: "Kami tidak menghendaki selain kebaikan." dan Allah menjadi saksi bahwa Sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya).”[4]

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا
“Hendaklah kalian berbicara dengan kejujuran, karena sesunggughnya kejujuran menunjukkan pada kebaikan dan kebaikan akan mengantarkan kepada surga. Tidaklah seseorang selalu berkata jujur kecuali Allah akan menuliskan baginya bahwa ia seorang yang jujur. Dan janganlah berkata dusta, karena dusta akan mengantarkan pada keburukan dan keburukan akan mengantarkan ke neraka. Tidaklah seseorang senantiasa berkata dusta sampai Allah akan menuliskan baginya bahwa ia adalah seorang pendusta.”[5]

Melalui tulisan ini, penulis mengajak setiap orang yang telah terjatuh dalam dosa menyebar kedustaan untuk bertaubat dan meminta maaf kepada orang-orang yang telah mereka sobek-sobek kehormatannya. Takutlah dengan azab Allah yang pedih karena telah berhasil mencerai-beraikan persatuan umat melalui berita-berita dusta yang kalian sebar.



[1] . Beliau adalah pak Daus salah seorang anggota kepolisian yang mendapatkan hidayah dari tugasnya sebagai seorang intel kepolisian. Ia berhasil membangun beberapa masjid, berhasil mendakwahi keluarganya untuk beribadah sesuai sunnah dan menjadi da’i yang sangat dermawan serta sangat kuat menghidaupkan sunnah. Namun pada tahun 2014 ia ditembak oleh orang tak dikenal hingga beliau meninggal dunia, saat beliau hendak pergi melaksanakan shalat subuh di masjid. Semoga Allah merahmatinya dan mengampuni segala dosa-dosanya serta menikahkannya dengan bidadari-bidadari-Nya di Surga. Aamiin.
[2] . HR. Muslim: 7 (al-Maktabah Asy-Syamilah)
[3] . QS. An-Nahal:62
[4] . QS. At-Taubah:107
[5] . HR. Muslim: 6805

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar