Sabtu, 14 Maret 2015

Dosa Sebagian Salafiyyin Yang Dipelihara 05


5.  Gemar Berpecah Belah

Nampaknya Allah memperlihatkan siapa yang lebih menjaga persatuan umat dan siapa yang gemar melakukan perpecahan di tubuh umat. Mereka yang dahulunya berteriak-teriak untuk bersatu dan menjauhi perpecahan, kini mereka itu antara yang satu dengan yang lainnya saling serang menyerang, saling memvonis pendusta, saling menuduh ikhwani dan lain sebagainya.
Dahulu, mereka membuat “piagam ahlussunnah”. Di dalam keputusannya merekomendasikan beberapa orang da’i sunnah dan memvonis beberapa orang da’i dan salah satu ormas yang mendakwahkan ahlussunnah dengan gelar sururiyyah.

Namun mereka yang menandatangani “piagam” tersebut kini saling memusuhi antara yang satu dengan yang lain. Memanfaatkan beberapa masyaikh hanya untuk mentahdzir saudaranya yang lain.

Dibeberapa daerah bisa kita temukan perpecahan yang sangat memilukan hati. Di kota aceh, mereka terpecah menjadi tiga atau empat kelompok, di Sulawesi Selatan juga demikian, terpecah belah. Di pulau jawa lebih-lebih lagi. Lebih menyedihkan dan memalukan, salah satu pesantren yang berada di kabupaten Gowa, dahulunya satu, akhirnya pun terpecah menjadi dua. Masing-masing membuat pesantren yang tidak saling berjauhan.

Inilah salah satu hasil dari kegemaran mereka menuduh saudaranya dan para dua’at dengan gelar da’i-da’i pemecah belah umat. Kini Allah memperlihatkan siapa sebenarnya yang menjaga persatuan dan siapa yang gemar berpecah belah.

Sungguh benar apa yang dikatakan oleh al-Hafizh Abu al-Qasim Ali Ibnu al-Hasan Ibnu Hibatullah Ibnu Asakir rahimahullah, beliau berkata:

“Ketahuilah wahai sadaraku, semoga Allah memberi taufik kepada kami dan juga padamu pada keridhoan-Nya agar termasuk orang-orang yang takut dan bertakwa dengan sebenar-benarnya takwa bahwasanya daging-daging para ulama rahimahumullah itu beracun.”[1]

Nampaknya racun itu sementara menggerogoti tubuh mereka akibat memakan daging-daging para ulama dalam majelis-majelisnya. Seseorang yang dahulunya diakui oleh gurunya, kini justru ditahdzir oleh gurunya sendiri bahkan dikatakan sebagai seorang pendusta. Begitupula yang lainnya, saling memaki dan mencaci lalu berpecah-belah.

 Sungguh indah perkataan seorang penyair:

ـJika engkau ingin hidup selamat dari gangguan
Maka hiduplah dengan meninggalkan keburukan manusia
Dan semua orang mengaku punya hubungan dengan Salma
Akan tetapi Salma tidak mengakui pengakuan-pengkuan mereka itu[2]

Begitu banyak hari ini yang mengaku menjaga persatuan umat, namun ternyata merekalah yang membuat umat berpecah belah. Penyebab utama mereka mudah berpecah belah adalah karena mereka menjadikan standar mencintai seseorang jika sesuai dengan mereka dan saling memusuhi jika tidak sesuai dengannya. Sungguh benar apa yang dikatakan oleh syaikhul islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah pada orang-orang seperti ini. Beliau berkata:

وَمِمَّا يَنْبَغِي أَيْضًا أَنْ يُعْرَفَ أَنَّ الطَّوَائِفَ الْمُنْتَسِبَةَ إلَى مَتْبُوعِينَ فِي أُصُولِ الدِّينِ وَالْكَلَامِ عَلَى دَرَجَاتٍ مِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ قَدْ خَالَفَ السُّنَّةَ فِي أُصُولٍ عَظِيمَةٍ وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إنَّمَا خَالَفَ السُّنَّةَ فِي أُمُورٍ دَقِيقَة وَمَنْ يَكُونُ قَدْ رَدَّ عَلَى غَيْرِهِ مِنْ الطَّوَائِفِ الَّذِينَ هُمْ أَبْعَدُ عَنْ السُّنَّةِ 
مِنْهُ ؛ فَيَكُونُ مَحْمُودًا فِيمَا رَدَّهُ مِنْ الْبَاطِلِ وَقَالَهُ مِنْ الْحَقِّ ؛ لَكِنْ يَكُونُ قَدْ جَاوَزَ الْعَدْلَ فِي رَدِّهِ بِحَيْثُ جَحَدَ بَعْضَ الْحَقِّ وَقَالَ بَعْضَ الْبَاطِلِ فَيَكُونُ قَدْ رَدَّ بِدْعَةً كَبِيرَةً بِبِدْعَةِ أَخَفَّ مِنْهَا ؛ وَرَدَّ بِالْبَاطِلِ بَاطِلًا بِبَاطِلِ أَخَفَّ مِنْهُ وَهَذِهِ حَالُ أَكْثَرِ أَهْلِ الْكَلَامِ الْمُنْتَسِبِينَ إلَى السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ. وَمِثْلُ هَؤُلَاءِ إذَا لَمْ يَجْعَلُوا مَا ابْتَدَعُوهُ قَوْلًا يُفَارِقُونَ بِهِ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ ؛ يُوَالُونَ عَلَيْهِ وَيُعَادُونَ ؛ كَانَ مِنْ نَوْعِ الْخَطَأِ . وَاَللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَغْفِرُ لِلْمُؤْمِنِينَ خَطَأَهُمْ فِي مِثْلِ ذَلِكَ . وَلِهَذَا وَقَعَ فِي مِثْلِ هَذَا كَثِيرٌ مِنْ سَلَفِ الْأُمَّةِ وَأَئِمَّتِهَا : لَهُمْ مَقَالَاتٌ قَالُوهَا بِاجْتِهَادِ وَهِيَ تُخَالِفُ مَا ثَبَتَ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ ؛ بِخِلَافِ مَنْ وَالَى مُوَافِقَهُ وَعَادَى مُخَالِفَهُ وَفَرَّقَ بَيْنَ جَمَاعَةِ الْمُسْلِمِينَ وَكَفَّرَ وَفَسَّقَ مُخَالِفَهُ دُونَ مُوَافِقِهِ فِي مَسَائِلِ الْآرَاءِ وَالِاجْتِهَادَاتِ ؛ وَاسْتَحَلَّ قِتَالَ مُخَالِفِهِ دُونَ مُوَافِقِهِ فَهَؤُلَاءِ مِنْ أَهْلِ التَّفَرُّقِ وَالِاخْتِلَافَاتِ

“Dan perihal yang perlu diketahui pula bahwa kelompok-kelompok yang menisbatkan diri mereka dalam mengikuti kelompoknya dari segi ushul ad-din, terdapat beberapa derajat dalam membicarakan mereka. Diantara mereka ada yang menyelisihi sunnah dalam permasalahan ushul yang sangat besar dan diantara mereka pula ada yang menyelishi sunnah dalam permasalahan yang daqiqah (ringan-Pent). Maka siapa saja yang membantah kelompok-kelompok selain mereka yang jauh dari sunnah, maka hal itu adalah perbuatan yang terpuji atas bantahannya terhadap kebatilan dan perkataannya terhadap kebenaran. Akan tetapi terkadang mereka berlebihan sehingga tidak berbuat adil dalam membantahnya. Dimana mereka mengingkari sebagian kebenaran dan mengatakan sebagian yang lain sebagai kebatilan. Sehingga terkadang mereka membantah bid’ah yang besar dengan bid’ah yang lebih ringan darinya, dan membantah kebatilan dengan kebatilan yang lebih rendah darinya. Inilah keadaan kebanyakan pemilik perkataan yang menisbatkan dirinya pada ahlu sunnah wal jama’ah. Dan orang-orang seperti mereka, jika mereka tidak menjadikan perkara bid’ah yang mereka terjatuh di dalamnya sebagai standar perkataan (kebenaran) sehingga mereka berpisah dengannya dari jama’ah kaum muslimin, seperti setia dan memusihi karenannya maka itu merupakan kesalahan. Dan Allah mengampuni kesalahan kaum mu’minin dalam perkara seperti ini. Hal seperti ini pun banyak terjadi pada generasi umat dan imam-imam sebelumnya. Mereka memiliki perkataan dari ijtihad mereka yang menyelisihi al-Qur’an dan sunnah. Beda halnya dengan orang-orang yang setia karena sesuai dengannya dan memusuhi karena tidak sesuai dengannnya. Ia memisahkan dirinya dari jama’ah kaum muslimin serta mengkafirkan dan memfasikkan orang-orang yang berbeda dengannya dalam masalah hal-hal ijtihadiyyah sehingga ia menghalalkan untuk memerangi orang-orang yang tidak sesuai dengannya maka mereka ini adalah ahlu at-tafarruq wa al-ikhtilaf (kelompok pemecah belah agama).”[3]

Mengharapkan persatuan umat dari orang-orang yang gemar berpecah belah seperti ini adalah sungguh hal yang sangat mustahil. Semoga Allah menyatukan hati-hati kaum muslimin.



[1] Tabyiinu kadzbi al-muftari: 29. (al-maktabah asy-syamilah)
[2] Majma’ al-hikam wal amtsal (al-maktabah asy-syamilah)
[3] Majmu’ fatawa, bab ma hiya al firqatun najiyyah, 3/349. (al-maktabah asy-syamilah)

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar