Jumat, 13 Maret 2015

Dosa Sebagian Salafiyyin Yang Dipelihara 04


4.  Terlalu Mudah Dalam Menyesatkan

Bersikap pertengahan merupakan perkara yang sangat ditekankan dan sangat dianjurkan dalam syariat. Islam sebagai agama yang penuh rahmat, tidak mensyariatkan pemeluknya berlebihan dalam menjalankan Ibadah, serta tidak juga terlalu bermudah-mudahan atau bersikap meremehkan. Sifat pertengahan harus selalu dikedepankan dalam menyikapi setiap perkara.

Ahlussunnah wal jama’ah sebagai kelompok yang telah mendapatkan tazkiyah dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم salah satu cirinya adalah memiliki sikap pertengahan. Pertengahan dalam akidah dan manhaj serta mulia dengan akhlaknya. Mereka tidak bersifat ghuluw dalam mengkafirkan pelaku dosa besar sebagaimana akidah khawarij. Tidak pula bersikap tasahhul (bermudah-mudahan) dalam menghukumi pelaku dosa sebagaimana keyakinan pemahaman murjiah bahwa dosa besar tidak mempengaruhi keimanan seseorang. Tidak pula bersifat nyeleneh sebagaimana pemahaman mu’tazilah bahwa pelaku dosa besar kedudukannya antara dua kedudukan, yaitu anatara kafir dan beriman akan tetapi pelakunya kekal di neraka.

Dalam menghukumi pelaku dosa besar, ahlussunnah berkeyakinan bahwa hal itu berada dibawah kehendak Allah. Jika Dia menghendaki, Dia akan mengazabnya dan jika Dia menghendaki Dia akan mengampuninya.

Jika memperhatikan orang-orang yang mengaku mengikuti ahlussunnah hari ini, kita akan saksikan ketajaman lisan-lisan mereka dalam menyesatkan saudaranya sendiri yang bermanhaj ahlussunnah. Lagi-lagi penyebabnya karena tidak mau melakukan tabayyun. Mereka menyesatkan dengan berita-berita dusta sebagaimana yang telah penulis sebutkan sebelumnya.
Ketajaman lisan mereka dalam menyesatkan saudaranya juga dapat terlihat dari kebiasaan memvonis kafir pada hal-hal yang diperselisihkan oleh para ulama. Misalnya pada pembolehan memberikan suara saat pemilu dengan merujuk pada kaidah irtikab akhaffi adh-dhararain (mengambil mudharat yang paling kecil ketika terjadi benturan dua mudharat) sebagaimana hal ini difatwakan oleh para ulama, seperti majelis ulama Lajnah ad-Daimah Saudi Arabia, syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah bahkan beliau mewajibkan ikut serta di dalamnya, syaikh Ibnu Baz rahimahullah,  syaikh al-Bani rahimahullah, syaikh Shaleh al-Fauzan hafizhullah dan ulama-ulama senior lainnya yang tidak di ragukan kredibilaitas ilmu dan pembelaannya terhadap islam.

Lebih parahnya lagi ketika mereka mengkafirkan para dua’at, misalanya Sayyid Quthb rahimahullah. Padahal jika kita melihat para ulama kibar seperti syaikh al-Bani rahimahullah, syaikh Bakar Abu Zaid rahimahullah, syaikh al-Utsaimin rahimahullah, syaikh al-Fauzan hafizahahullah, kita akan menemukan sikap isnhaf mereka terhadapnya.

Pembelaan ini terhadapnya bukan berarti penulis adalah salah seorang pengikutnya. Akan tetapi bagaimana kita bersikap sebagaimana sikap isnhaf yang dicontohkan oleh para ulama senior.[1]

Adalah syaikh al-Bani rahimahullah ketika salah seorang bertanya kepada beliau untuk mempertanyakan karya-karya yang salah dalam perkara akidah milik Sayyid Quthb rahimahullah dan ingin mengkafirkannya, beliau berkata:

رأينا أنه رجل غير عالم وانتهى الأمر!! ماذا تريد- يعني- أكثر منهذا؟!! إن كنتَ تطمع أن نكفِّره، فلستُ من المكفّرين، ولا حتى أنتَ أيضاً من المكفّرين..
لكن ماذا تريد إذاً؟؟!! يكفي المسلم المنصف المتجرِّد أن يُعطي كل ذي حق حقه، وكما قال تعالى:\" ولا تبخسوا الناس أشياءهم ولا تعثوا في الأرض مفسدين\". الرجل كاتب، ومتحمس للإسلام الذي يفهمه، لكن الرجل أولاً ليس بعالم، وكتاباته (العدالة الاجتماعية) هي من أوائل تآليفه، ولما ألّف كان محض أديب، وليس بعالم

“Kami berpendapat bahwasanya ia bukanlah seorang alim, selesai perkara!! Apa yang engkau inginkan??? Apa yang engkau inginkan lebih banyak dari perkataan ini??!! Jika engkau rakus untuk mengkafirkannya, maka ketahuilah aku bukanlah diantara orang-orang yang berpemahaman takfiri. Dan engkau juga bukanlah seorang yang berpemhaman takfiri. Akan tetapi apa yang engkau inginkan kalau begitu? Cukuplah seorang muslim yang inshaf untuk menilai orang lain sesuai hak-hak mereka. Sebagaimana firman Allah ta’ala: "Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.”[2] Dia adalah seorang penulis, sangat bersemangat untuk memperjuangkan islam sesuai yang ia pahami. Tapi yang perlu ketahui bahwa ia bukanlah seorang alim. Dan tulisannya (al-Adalatu al-Ijtimaiyyah) merupakan karya-karya yang pertama ia tulis. Dan ketika ia menulisnya ia adalah seorang sastrawan dan bukan seorang alim.”[3]
Bahkan dalam satu karya syaikh al-Bani rahimahullah beliau menukil perkataan Sayyid Quthb rahimahullah sebanyak tiga halaman dalam kitabnya Mukhtashar al-Uluw. Beliau kemudian memuji dan mentazkiyahnya. Beliau berkata:

ولقد تنبه لهذا أخيرا بعض الدعاة الإسلامين فهذا هو الأستاذ الكبير سيد قطب رحمه الله تعالى

“Dan sungguh beberapa da’i islam telah memberikan perhatian yang sangat besar. Dan inilah seorang da’i, “ustadz kabir” (guru yang memiliki kedudukan tinggi) Sayyid Quthub semoga Allah merahmatinya.”[4]

Demikian juga sikap inhsaf Syaikh al-Utsaimin rahimahullah terhadap Sayyid Quthb rahimahullah ketika ditanyakan kepada beliau mengenai pemahaman sayyid Quthb rahimahullah. Berikut dialognya:

Seorang penanya berkata: Apa pendapat anda terhadap buku Sayyid Quthb Fii Zhilaali al-Qur’an? Sebagaimana diketahui bahwa dalam kitab ini terdapat pemahaman akidah wihdatu al-wujud.

Syaikh menjawab:  ini adalah tuduhan bahwa di dalam kitab  itu terdapat pemahaman wihdatu al-wujud. Karena seandainya ini betul ada maka sungguh ini adalah diantara kekufuran yang paling besar. Akan tetapi kami katakan kepada yang menuduh, datangkan buktinya... datangkan bukti atas apa yang engkau katakan bahwa kitab ini terdapat di dalamnya perkataan  tentang wihdatu al-wujud atau penetapan akan akidah wihdatu al-wujud.

Buku itu walau bagaimanapun juga, saya belum membacanya. Akan tetapi saya telah membaca beberapa nukilan dari kitab tersebut dari beberapa ulama kita yang mulia. Yaitu pada beberapa pembahasan, dia memiliki pembahasan yang baik sebagaimana yang telah kami dengar dari beberapa orang ikhwah. Dan dalam beberapa hal memang di dalamnya terdapat kesalahan.

Sungguh Ibnu Rajab rahimahullah (dia adalah ulama bermazhab Hanabilah diantara murid-murid Ibnu al-Qayyim rahimahullah) pernah berkata dalam kitabnya al-Qawaaidu al-Fiqhiyyah: “Allah tidak ingin menjadikan selain kitab-Nya memiliki ishmah (terbebas dari kesalahan) dan pelayan yang dimaafkan adalah pelayan yang sedikit kesalahannya dan banyak kebenarannya”. Ini adalah pelayanan. Siapa yang selamat dari kesalahan? Semua anak cucu adam berbuat salah. Dan sebaik-baik yang berbuat salah adalah yang bertaubat yang kembali kepada kebenaran. Terdapat dalam kitab itu kesalahan-kesalahan, maka kita temui kesalahan itu dan kita menolaknya  (syaikh memperbaiki) dan kita jumpai kebenaran dan kita tolak kesalahan.

Penanya kembali bertanya: (suara penanya tidak jelas, nampaknya ia menanyakan tafsir surah al-Ikhlas ; Qul Huwallahu Ahad)

Syaikh menjawab: tafsir surah Qul Huwallahu Ahad? saya katakan kepadamu saya belum membaca kitab tersebut. Akan tetapi tolong berikan kepada kami sekarang buku itu agar kami melihatnya.

Penanya memotong perkataan syaikh dengan suara yang tidak jelas.

Syaikh berkata: mana dia? Dan bagaimana?

Penanya terus memotong perkataan syaikh Utsaimin dengan suara yang kurang jelas.

Syaikh Ibnu Utsaimin berkata: yang terpenting kami tidak berkata sesuatu apapun sampai kami melihatnya dengan mata kepala kami, karena masalah ini sangatlah berbahaya. Dan saya mengatakan kepada kalian,  jika terjadi pada seorang ‘alim yang dikenal selalu menasehati ummat, jika terjadi padanya kebimbangan antara kebenaran dan kebimbangan pada kesalahan, maka bawalah keadaan tersebut dengan perkiraan paling baik.

Penanya berkata: ini masalah akidah wahai syaikh.

Syaikh Utsaimin berkata: pada masalah akidah atau bukan akidah!! Jika dia dikenal dalam menasehati ummat, dan perkataannya disegani, maka bawalah kondisi tersbut pada kemungkinan paling baik. Sebagai penghormatan pada laki-laki itu!! sebagai penghormatan pada laki-laki itu!! Dan aku katakan pada kalian:  sekarang ini ada orang-orang –kita memohon kepada Allah hidayah untuk kita dan untuk mereka- mereka suka mencari-cari kesalahan para ulama. Kemudian mereka memunculkannya dan diam pada kebaikan-kebaikan yang berlipat-lipat dari kesalahan ini.

Penanya memotong perkataan syaikh Utsaimin; dalam masalah akidah wahai syaikh.

Syaikh Ustaimin tetap melanjutkan: ini salah,, ini salah,, dalam masalah akidah –semoga Allah memberkahimu- seperti yang lainnya. Karena terkadang seseorang terjatuh dalam kesalahan. Apakah engkau tidak mengetahui bahwa para ulama berbeda pendapat pada masalah apakah neraka itu abadi atau tidak? Ini terjadi dikalangan salaf dan ulama belakangan ini. Apakah ini akidah atau bukan akidah??! Aku bertanya kepadamu!! Ini masalah akidah dan mereka berbeda pendapat di dalamnya. Jembatan shirath yang di letakkan di atas jahannam apakah dia shirath jalanan (jembatan jalan) sebagaimana yang lainnya seperti jalan-jalan itu?? Atau lebih halus dari sehelai rambut atau lebih tajam dari pedang. Terdapat khilaf.

Penanya kembali memotong perkataan syaikh.

Syaikh melanjutkan perkataannya: Dengarkan!! Yang ditimbang pada hari kiamat apakah amalan-amalannya, atau orang yang mengerjaan amalan itu, atau mushaf-mushaf yang berisi amalannya??

Penanya berbicara dengan suara kurang jelas.

Syaikh Ustaimin melanjutkan: aku menuturkan kepada kalian beberapa khilaf. Apakah Rasulullah صلى الله عليه وسلم sudah pernah melihat Allah atau belum? Apakah ruh dikembalikan pada badan di dalam kubur sehingga ketika seorang di azab dalam kubur bersama dengan ruh dan badannya? Atau cuma ruhnya saja? Semua ini adalah permasalahan akidah.

Penanya kembali bertanya dengan suara yang kurang jelas.

Syaikh Utsaimin menjawab: baiklah. Saya ingin memberikan kepada kalian kaidah dalam masalah menafikan istiwa (bersemayamnya Allah) dan lainnya dari sifat-sifat Allah. Siapa yang menafikan sifat dengan nafyu ingkar dalam hal ini dia mendustai al qur’an. Dan siapa yang menafikannya dengan nafyu ta’wil. Maka diperhatikan pada ta’wilnya.

Syaikh bertanya kepada penanya. Apakah engkau tahu? Yaitu misalnya apabila seseorang berkata: sesungguhnya Allah tidak bersemayam di atas arsy

Syaikh ustaimin bertanya pada penanya: ini penafian dalam hal apa? Ingkar atau ta’wil?

Penanya menjawab: ingkar

Syaikh membenarkan perkataanya: ingkar, ini kafir karena dia telah mendustai al qur’an. Dan barang siapa yang mengatakan sesungguhnya Allah bersemayam diatas arsy akan tetapi makna istiwa adalah istaula (menguasai)

Syaikh bertanya: ini  bentuk nafyu apa?

Salah seorang dari mereka menjawab: ta’wil

Syaikh membenarkan jawabannya. Ta’wil, maka dilihat apakah ta’wilnya ini mejadikan seseorang kufur, fasik atau dia dimaafkan dalam hal ini?
Maka harus dilihat dulu.
(suara kurang jelas)

Penanya berkata: apakah boleh menghormati mereka?... terhadap Sayyid

Syaikh Ustaimin menjawab: Saya katakana, adapun ketergeasah-gesahan dalam menghukumi seseorang dalam hal ini mentabdi’ (membd’ahkan seseorang), mantafsiiq (memafasikan seseorang), dan mentakfir (mengkafirkan seseorang) adalah sesuatu yang diharamkan. Tidak boleh. Sebagaimana ketergesah-gesahan dalam menghalakan sesuatu atau mengharamkan, ini diharamkan. Jauhilah dari berkata-kata terhadap Allah apa yang kamu tidak ketahui tentangnya.  Karena sesungguhnya Allah telah mengharamkan hal tersebut. Allah berfirman:

“Katakanlah wahai muhammad sesungguhnya Allah telah mengharamkan perbuatan keji yang nampak dan apa yang tidak nampak, perbuatan dosa, perbuatan zhalim tanpa alasan yang benar, juga mengharamkan kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu, sementara Dia tidak menurunkan alasan untuk itu. Dan mengharamkan membicarakan tentang Allah apa yang kamu tidak ketahui tentangnya.”[5]

Maka dalam masalah takfir, yaitu dalam mengkafirkan seseorang berhubungan dengan dua perkara yang mengharuskan keduanya:

Perkara pertama: kita harus mengetahui bahwasanya dalil-dalil menunjukkan atas apa yang kita kafirkan tersebut karena kekufurannya. Dan begitu banyak perkara-perkara yang beberapa orang mengira itu adalah kekafiran akan tetapi ternyata bukanlah kekafiran. Maka kita harus mengetahui bahwasanya dalil menunjukkan akan kekufuran perbuatan itu atau kekufuran perktaan tersebut.

Perkara kedua: harusnya kita mengetahui bahwa orang yang berkata dengan perkataan ini atau orang yang berbuat dengan perbuatan ini ia memiliki udzur atau tidak memiliki udzur. Karena terkadang seseorang berkata dengan perkataan kufur akan tetapi dia beruzur. Entah karena kebodohan, atau ta’wil, atau kondisi orang tersebut. Seperti dalam kondisi sangat marah atau sangat gembira atau yang semisal dengan hal itu. Padahal sebenarnya dia tidak ingin mengucapkan perkataan kufur dengan perkataannya itu. Telah tsbit dari nabi Allah sangat gembira.... rekaman berakhir.[6]

Begitu pula syaikh shaleh al-Fauzan hafizhahullah, beliau menukil perkataan-perkataan Sayiyd Quthb dalam kitabnya tahqiqaat al-mardhiyyah fi al-mabahits al-fardhiyyah

Semua ini hakikatnya menunjukkan keinshafan para ulama dalam menghukumi beliau. Tidak seperti orang-orang yang mengaku mengikuti ahlussunnah hari ini, begitu mudah mengkafirmkannya.

Kembali penulis pertegas, bahwa membicarakan Sayyid Quthb bukan berarti saya membenarkan kesalahan-kesalahan beliau dan mengikutinya. Tidak!!hal ini sebagai contoh agar kita bisa bersikap isnhaf sebagaimana para ulama.



[1] . Masalah inshaf akan dibahas pada pembahasan selanjutnya insya Allah.
[2] . QS. Hud: 85
[3] . lebih lanjut silahkan lihat di: http://www.ansarsunna.com/vb/showthread.php?t=32268
[4] . Mukhtashar al-Uluw: 58
[5] . QS. Al-A’raf: 33

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar