Minggu, 15 Maret 2015

Kaidah-Kaidah Pokok dan Prinsip-Prinsip dalam Manhaj Ahlu Sunnah Wal Jama’ah 01


a.      Mashdar aqidah ahlu sunnah wal jama’ah adalah al-Qu’an, hadits-hadits yang shahih dan ijma’ (kesepakatan) para salaf.[1]

Hal ini berdasarkan firman Allah azza wajalla:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan Barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.”[2]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Firman Allah (Dan Barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya) yaitu bagi siapa saja yang mengambil jalan selain jalan syariat yang Rasulullah صلى الله عليه وسلم datang dengannya. Maka dia termasuk dalam orang-orang yang menentang. Hal itu disebabkan karena mereka berbuat dengan sengaja setelah jelas bagi mereka kebenaran. Adapun firman Allah (dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin) ini menunjukkan sifat yang pertama. Akan tetapi terkadang penyelisihan terjadi pada nash syariat, atau terhadap apa yang telah disepakati oleh umat al-muhammadiyyah (yang senantiasa mengikuti petunjuk Nabi صلى الله عليه وسلم)pada hal-hal yang diketahui secara pasti bahwa  mereka telah sepakat pada satu permasalahan. Karena telah dijamin bagi mereka akan terbebas dari kesalahan mereka dalam kesepakatan mereka.”[3]

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

إن الله لا يجمع أمتي أو قال أمة محمد صلى الله عليه وسلم على ضلالة

“Sesungguhnya Allah tidak mengumpulkan umatku -atau beliau berkata- umat Muhammad صلى الله عليه وسلم pada kesesatan.”[4]

b.     Semua sunnah yang telah dinyaatakan keshahihannya maka wajib untuk diterima dan beramal dengannya dalam akidah atau selainnya, walau ia hadits ahad.[5]

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya.”[6]
Imam al-Qurthubi rahimahullah dalam tafsirnya menukil satu perkataan al-Mahdawi rahimahullah, bahwasanya beliau berkata:

“Adapun makna firman Allah (Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah) ini menunjukkan bahwa perintah yang datang dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم merupakan perintah dari Allah azza wajalla.”[7]

Adapun mengenai hadits ahad, sesungguhnya terdapat dalil yang sangat banyak dari al-Qur’an dan sunnah serta ijma’ para sahabat dan para salaf, yang menunjukkan kepastian wajibnya menerima hadits ahad pada setiap bab-bab syariah, baik dalam perkara i’tiqadiyyah (aqidah) atau dalam perkara ‘amaliyah. Adapun pemisahan antara keduanya, maka ini adalah perkara bid’ah, dimana yang pertama kali melakukannya adalah para pengekor hawa nafsu dari kalangan qadariyah, jahmiyah, mu’tazilah dan para ahli kalam serta orang-orang yang berada pada jalan mereka untuk menolak dalil-dalil yang membatalkan kebid’ahan mereka.
Allah berfirman:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”[8]

Allah azza wajalla dalam ayat ini menagnjurkan kepada kaum mu’min agar dari mereka ada thoifah yang menetap dan tidak pergi berperang. Kata thoifah dalam bahasa arab bisa bermakna satu atau lebih. Oleh karena itu, ayat ini dijadikan oleh para ulama sebagai dalil tsabitnya khabar ahad.

Allah juga berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”[9]

Mafhum mukhlafah dari ayat ini adalah, jika seorang yang tsiqah (terpercaya) jujur, kuat dan bukan seorang yang fasik, maka jika ia membawa satu berita maka beritanya diterima walau ia hanya sendiri.

Tidak mengherankan jika Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengutus para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum ke berbagai wilayah seorang diri untuk mengajarkan mereka akidah. Sebagaimana ia telah mengutus Mu’adz Ibnu Jabal, Mush’ab Ibnu ‘Umair, Dihya Ibnu Khalifah al-Kalbi radhiyallahu ‘anhum hanya seorang diri ke berbagai wilayah yang berbeda-beda. Jika seandainya khabar ahad tidak diterima dalam agama ini, sungguh Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidak akan mengutus sahabatnya itu seorang diri.

Ibnu Abdil Bar rahimahullah berkata:

كلهم يدين بخبر الواحد العدل في الاعتقادات، ويعادي ويوالي عليها، ويجعلها شرعا ودينا في معتقده، على ذلك جماعة أهل السنة، ولهم في الأحكام ما ذكرنا.

“Semua dari mereka (para ahli fikih dan hadits) tetap beragama dengan khabar ahad dari seorang yang adil lalu diaplikasikan dalam keyakinan-keyakinan mereka, mereka memusuhi dan mencintai berdasarkan hadits ahad dan menjadikannya sebagai syariat dan agama dalam keyakinan mereka. Perkara ini adalah keyakinan jama’ah ahlu sunnah dan mereka mengamalkannya pula dalam masalah hukum-hukum.”[10]

Ibnu Abi al-Izz rahimahullah berkata:

وَخَبَرُ الْوَاحِدِ إِذَا تَلَقَّتْه الْأُمَّة بِالْقَبُولِ، عَمَلًا به وَتَصْدِيقًا له - يُفِيدُ الْعِلْمَ الْيَقِينِي عِنْدَ جَمَاهِيرِ الْأُمَّة، وَهُوَ أَحَدُ قِسْمَي الْمُتَوَاتِرِ. وَلَمْ يَكُنْ بَيْنَ سَلَفِ الْأُمَّة في ذَلِكَ نِزَاعٌ

“Dan khabar ahad jika ummat telah mengambilnya dan menerimanya, beramal dengannya dan membenarkannya, maka hal ini menjadikannya mencapai derajat “ilmu yakini” bagi jumhur umat, dan ia adalah salah satu dari bentuk khabar mutawatir. Hal ini tidak ada perselisihan dikalangan salaf terdahulu.”[11]

Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam fath al-bari:

وقد شاع فاشيا عمل الصحابة والتابعين بخبر الواحد من غير نكير فاقتضى الاتفاق منهم على القبول

“Telah nampak dan tersebar bahwa para sahabat dan tab’in beramal dengan khabar ahad tanpa mengingkarinya. Maka ini menjadi kesepakatan diantara mereka bahwa mereka menerimanya.”[12]


[1] Mujmal Ushul Ahli Sunnah Wal Jama’ah fi al-Aqidah: 1 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[2] QS. An-Nisa: 115
[3] Tafsir Ibnu Katsir: 2/412 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[4] Sunan Tirmidzi: 2167 di shahihkan oleh al-Albani rahimahullah (al-Maktabah asy-Syamilah)
[5] Mujmal Ushul Ahli Sunnah Wal Jama’ah fi al-Aqidah: 1 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[6] QS. Al-Hasyr: 7
[7] Tafsir al-Qurthubi: 18/17 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[8] QS. At-Taubah: 122
[9] QS. Al-Hujurat: 6
[10] At-Tamhid Lima Fi al-Muwaththa’: 8 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[11] Syarh ‘Aqidah at-Thohawiyyah: 342 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[12] Fath al-Bari: 13/234 (al-Maktabah asy-Syamilah)

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar