Minggu, 15 Maret 2015

Kaidah-Kaidah Pokok dan Prinsip-Prinsip dalam Manhaj Ahlu Sunnah Wal Jama’ah 02




a.      Marja’ (refernsi) dalam memahami al-Qur’an dan sunnah adalah nash-nash yang menjelaskan tentangnya, pemahaman para salaf ash-sholeh dan para ulama yang senantiasa berjalan di atas manhaj mereka serta tidak boleh menolak perkara itu hanya karena menilai dari sudut perspektif bahasa. [1]

Allah berfirman:

بِالْبَيِّنَاتِ وَالزُّبُرِ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.”[2]

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

Makna firman Allah (Kami turunkan kepadamu Adz-Dzikr) yaitu al-Qur’an (agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka) yaitu dari Tuhanmu melalui ilmu yang telah diturumkan padamu, semangatmu terhadapnya, engkau senantiasa mengikutinya, dan karena Kami mengetahui bahwa engkau adalah manusia terbaik, pemimpin anak cucu Adam, maka engkau menjelaskan mereka makna yang umum lalu menjelaskan masalah mereka (supaya mereka memikirkan) yaitu agar mereka melihat pada diri mereka, lalu mereka mendapatkan petunjuk dan selamat dalam beragama.”[3]

Dipahami bahwa para sahabatlah yang paling paham tentang perkara agama ini. Melalui masalah mereka merekalah Allah menurunkan ayatnya, lalu karena berbagai masalah dari mereka pula Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjelaskan ayat-ayat Tuhannya, maka jelaslah para sahabtlah yang paling mengetahui tafsir-tafsir ayat itu setelah Rasulullah صلى الله عليه وسلم di muka bumi ini. Merekalah para salaful ummah yang mengajarkan ilmu pada generasi-generasi setelah mereka. Maka tidak boleh mengambil penafsiran al-Qur’an ataupun hadits dari pemahaman selain mereka.

Sesungguhnya yang menyebabkan islam ini terpecah belah adalah banyaknya manusia yang gemar mengikuti hawa nafsunya untuk sok pandai dalam menafsirkan al-Qur’an. Padahal penafsirannya jauh dari makna yang diinginkan Allah dan Rasul-Nya.

Seperti inilah contoh yang terjadi pada kaum murjiah, dimana mereka berkeyakinan bahwa iman itu adalah cukup hanya dengan percaya saja sebagaimana jika ditinjau dari makna bahasa, lalu tidak menganggap dan memperhatikan makna iman jika ditinjau dari segi syariat.

b.     Ushul ad-din semuanya telah dijelaskan oleh Nabi, maka tidak boleh bagi siapapun membuat perkara baru dalam agama lalu mengaku bahwa itu adalah bagian dari agama ini. [4]

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

 الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا فَمَنِ

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu.”[5]

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

هذه أكبر نعم الله ، عز وجل، على هذه الأمة حيث أكمل تعالى لهم دينهم ، فلا يحتاجون إلى دين غيره، ولا إلى نبي غير نبيهم، صلوات الله وسلامه عليه؛ ولهذا جعله الله خاتم الأنبياء، وبعثه إلى الإنس والجن، فلا حلال إلا ما أحله، ولا حرام إلا ما حرمه، ولا دين إلا ما شرعه، وكل شيء أخبر به فهو حق وصدق لا كذب

“Ini adalah nikmat Allah azza wajalla terbesar bagi umat ini. Dimana Allah menyempurnakan agama bagi mereka. Sehingga mereka tidak membutuhkan agama yang lain selain islam, juga tidak membutuhkan Nabi selainnya semoga shalawat dan keselamatan selau tercurah padanya. Oleh karena itu, Allah menjadikannya sebagai Nabi terakhir dan penutup para Nabi, lalu Allah mengutusnya kepada manusia dan jin. Maka tidak ada kehalalan kecuali yang ia halalkan, tidak pula ada keharaman kecuali yang ia haramkan. Tidak ada agama kecuali sesuai dengan yang ia syariatkan,  segala sesuatu yang ia kabarkan adalah kebenaran dan bukanlah kedustaan.” [6]

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد

“Barangsiapa melakukan satu amalan yang tidak pernah kami perintahkan maka amalannya tertolak.”[7]

Dalam riwayat lain:

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد

“Barangsiapa membuat perkara-perkara baru dalam urusan (agama) kami maka amalannya tertolak.”[8]

Syaikh al-Utsaimin rahimahullah berkata:[9]

“Agar diketahui bahwa mutaba’ah (mengikuti sunah) dapat terealisasi jika amalan sesuai syariat pada enam perkara, sebab jika tidak memenuhi ke enam hal ini maka ibadah yang dilakukan itu adalah sesuatu yang batil.

1.       Hendaknya suatu amalan sesuai syariat pada sebabnya. Maka, jika ada seseorang melakukan ibadah, dimana syariat tidak menjadikannya sebagai “sebab” maka hal itu tertolak. Seperti orang yang menjadikan shalat dua raka’at setiap kali masuk rumahnya, lalu ia menjadikannya sebagai sunnah. Maka amalan ini tertolak. Padahal, shalat adalah ibadah yang disyariatkan. Akan tetapi, karena ia menjadikan shalatnya itu sebagai “sebab” setiap kali masuk rumahnya, padahal syariat tidak mensyariatkannya sebagai “sebab” maka ibdahnya menjadi tertolak.

Misalnya juga, jika ada orang-orang yang mewajibkan atau menyunahkan dzikir berjama’ah, bersalam-salaman pada setiap kali selesai shalat sambil bershalawat kepada Nabi صلى الله عليه وسلم maka hal ini tertolak, karena syariat tidak pernah menjadikannya sebagai sebab.[10]

2.       Hendaknya suatu amalan sesuai syariat pada jenisnya. Maka, jika seseorang beribdah dengan perkara yang syariat tidak menyepakati jenisnya maka amalannya tertolak. Misalnya, ada seseorang yang berkurban dengan kuda, maka kurbannya tertolak. Karena ibadah kurban hanya disyariatkan pada hewan ternak. Yaitu sapi, kambing dan unta. Adapun jika ia menyembelih kuda untuk disedekahkan, maka ini dibolehkan karena hal ini dimaksudkan untuk sedekah bukan untuk ibadah kurban.

3.       Hendaknya suatu amalan sesuai syariat pada takarannya. Sehingga jika ada orang beribadah yang menyelisihi syariat pada takarannya maka ibadahnya tertolak. Misalnya, jika ada yang berwudhu sebanyak empat kali setiap gerakan maka hal ini tertolak. Karena ia menambah pada sesuatu yang telah ditetapkan oleh syariat.

4.       Hendaknya suatu amalan sesuai syariat pada tata cara pelaksanaannya. Sehingga jika ada seseorang melakukan ibadah yang tidak sesuai dengan syariat, maka amalannya tertolak. Misalnya, jika ada seseorang yang shalat, ia sujud sebelum ruku’, maka shalatnya batil dan tertolak.

5.       Hendaknya suatu amalan sesuai syariat pada waktunya. Jika ada seseorang yang beribadah menyelisihi waktu yang ditetapkan syariat, maka amalannya tertolak. Misalnya, jika ada seseorang yang shalat sebelum waktunya, maka amalannya tertolak. Atau jika ada orang yang berkurban sebelum pelaksanaan shalat ‘ied, maka kurbannya dianggap tidak sah.

6.       Hendaknya suatu amalan sesuai syariat pada tempatnya. Jika ada seseorang beribadah pada tempat yang menyelisihi yang ditetapkan syariat maka ibdahnya tertolak. Misalnya, jika ada orang yang I’tikaf bukan di dalam masjid seperti sekolah atau rumah, maka I’tikafnya batil dan tertolak.

Imam Malik rahimahullah berkata:

من ابتدع في الاسلام بدعه يراها حسنه فقد زعم ان محمدا صلى الله عليه وسلم خان الرسالة لان الله يقول (اليوم أكملت لكم دينكم) فما لم يكن يومئذ دينا فلا يكون اليوم دينا

“Barangsiapa membuat perkara-perkara baru dalam agama (bid’ah) dalam agama islam, diamana bid’ah itu dinilainya baik, maka sungguh dia telah menuduh Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah mengkhianati risalah dari Allah. Karena Allah telah berfirman (pada hari ini telah kusempurnakan untukmu agamamu). Maka apa yang tidak pernah terjadi pada saat itu (dalam perkara agama) sebagai bagian agama, maka pada hari ini juga ia bukanlah perkara agama.”[11]


c.      Menerima semua keputusan yang datang dari Allah dan Rasul-Nya yang zhahir maupun yang batin, maka tidak boleh menolak sesuatu dari al-Qur’an atau sunnah yang shahih dengan mengutamakan qiyas (analogi), atau karena tidak sesuai dengan perasaannya, atau dengan kasyf (membuka tabir) atau menolaknya dengan perkataan seorang syaikh atau imam. [12]

Allah azza wajalla berfirman:

فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata dalam tafsirnya mengenai ayat ini:

“Allah bersumpah dengan keagungan diri-Nya Yang Maha Mulia dan Maha Suci, bahwasanya tidak beriman seseorang sampai ia menjadikan Rasul صلى الله عليه وسلم sebagai pemberi hukum disetiap masalahnya. Maka setiap yang dihukumi oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم wajib untuk diterima yang zhahir maupun batin. Oleh karena itu, Allah berfirman (kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya) maksudnya, jika mereka telah berhukum denganmu(wahai Muhammad صلى الله عليه وسلم)mereka akan taat kepadamu dalam perkara-perakara mereka yang batin, lalu mereka tidak mendapatkan dalam diri mereka perasaan yang tidak mengenakan pada apa yang engkau putuskan. Mereka menerimanya secara zhahir maupun batin, menerima semua tanpa ada perasaan yang menghalanginya, mencoba membela diri, atau prasangka-prasangka belaka. Sebagaimana sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم (demi jiwaku yang ada pada genggaman tangan-Nya, tidak beriman salah seorang diantara kalian hingga hawa nafsunya tunduk pada apa yang aku bawa).”[13]

Mua’dzah Bintu Abdillah al-Adawiyyah berkata:

سَأَلْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ مَا بَالُ الْحَائِضِ تَقْضِى الصَّوْمَ وَلاَ تَقْضِى الصَّلاَةَ فَقَالَتْ أَحَرُورِيَّةٌ أَنْتِ قُلْتُ لَسْتُ بِحَرُورِيَّةٍ وَلَكِنِّى أَسْأَلُ. قَالَتْ كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ.

“Aku bertanya kepada ‘Aisyah: apa yang menyebabkan haidh bisa menjadikan puasa harus di qadha (diganti) sementara shalat tidak di qadha dengannya?” dia berkata: “apakah anda seorang khawarij?" aku berkata: “ aku bukanlah seorang khwarij, akan tetapi aku hanya sekedar bertanya.” Maka beliau berkata: “begitulah kami diperintahkan ketika kami mendapatinya, kami diperintahkan untuk mengqadha puasa akan tetapi tidak diperintahkan untuk mengqadha shalat.”[14]

Al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata:

وَإِذَا رَأَيْتَ المُتَكَلِّمَ المُبْتَدِعَ يَقُوْلُ: دَعْنَا مِنَ الكِتَابِ وَالأَحَادِيْثِ الآحَادِ وَهَاتِ العَقْلَ، فَاعْلَمْ أَنَّهُ أَبُو جَهْلٍ، وَإِذَا رَأَيْتَ السَّالِكَ التَّوْحِيْدِيَّ يَقُوْلُ: دَعْنَا مِنَ النَّقْلِ وَمِنَ العَقْلِ وَهَاتِ الذَّوْقَ وَالوَجْدَ، فَاعْلَمْ أَنَّهُ إِبْلِيْسُ قَدْ ظَهَرَ بِصُوْرَةِ بَشَر

“Jika engkau melihat seorang ahli kalam sang ahli bid’ah berkata: “tinggalkanlah sesuatu dari al-Qur’an dan dari hadits-hadits jika bersama kami lalu datangkanlah hujjah menggunakan akal,” maka ketahuilah ia adalah Abu Jahal. Dan jika engkau melihat orang-orang yang berjalan di atas manhaj kelompok “tauhidiy” berkata: “ Tinggalkanlah sesuatu yang berasal dari dalil-dalil naqal (dalil syar’i) jika bersama kami dan datanglah dengan hujjah perasaan, maka ketahuilah ia adalah iblis yang telah tampak dalam wujud manusia.”[15]

Syaikh al-Utsaimin rahimahullah berkata: “tidak boleh berpaling dari sunnah Rasulullah صلى الله عليه وسلم hanya karena arahan manusia. Tidak dari kalangan khulafa ar-rasydin dan tidak pula dari selain mereka. Dan jika ada diantara perkataan para khulafa ar-rasyidin yang menyelishi perkataan Rasulullah صلى الله عليه وسلم maka ia mendapat udzur dan tidak boleh berhujjah dengannya untuk menyelisihi sunnah Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Yang penting harus kita ketahui bahwa kedudukan sunnah para khalifah harus ditempatkan setelah sunnah Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “hampir-hampir saja kalian dihujani batu dari langit. Aku berkata telah bersabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم kalian malah berkata “tapi Abu Bakar berkata seperti ini, Umar berkata seperti ini”. Ini adalah perkataan Abu Bakar dan Umar, lantas bagaimana dengan orang-orang yang menolak sunnah Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang derajatnya jauh dibawah mereka berdua? Sebagaimana jika dikatakan padanya ini adalah sunnah Rasulullah صلى الله عليه وسلم, ia berkata, “ tapi ulama ini berkata seperti ini?”[16]



[1] Mujmal Ushul Ahli Sunnah Wal Jama’ah fi al-Aqidah: 1 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[2] QS. An-Nahal: 44
[3] Tafsir Ibnu Katsir: 4/574 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[4] Mujmal Ushul Ahli Sunnah Wal Jama’ah fi al-Aqidah: 1 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[5] QS. Al-Maidah: 3
[6] Tafsir Ibnu Katsir: 3/26 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[7] HR. Muslim: 4590
[8] HR. Bukhari: 29697, HR. Muslim: 4589 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[9] Syarh al-Arba’in an-Nawawiyyah: 98-100 (Daaru ats-Tsurya Li an-Nasyr)
[10] Tambahan dari penulis
[11] al-I’tisham: 1/49 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[12] Mujmal Ushul Ahli Sunnah Wal Jama’ah fi al-Aqidah: 2 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[13] Tafsir Ibnu Katsir: 2/349 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[14] HR. Muslim: 789 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[15] Siyar A’lam an-Nubala: 8/28 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[16] Syarah Riyadhu ash-Shalihin: 1/181 (al-Maktabah asy-Syamilah)

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar