Minggu, 15 Maret 2015

Kaidah-Kaidah Pokok dan Prinsip-Prinsip dalam Manhaj Ahlu Sunnah Wal Jama’ah 04



a.      Ada orang-orang yang mendapat ilham pada umat ini

Ahlu sunnah juga berkeyakinan bahwa pada umat ini ada orang-orang yang mendapat karunia dari Allah berupa ilham-ilham dari-Nya, sebagaimana Umar Ibnu al-Khattab radhiyallahu ‘anhu. Mimpi yang shaleh adalah benar dan ia adalah bagian dari nubuwwah. Firasat yang yang dilandasi kejujuran adalah benar, juga adanya karamah bagi orang-orang shaleh. Syarat dari semua itu adalah tidak menyelisihi syariat dan bukanlah mashdar untuk akidah dan pendalilan syariat. [1]

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

قَدْ كَانَ يَكُونُ فِى الأُمَمِ قَبْلَكُمْ مُحَدَّثُونَ فَإِنْ يَكُنْ فِى أُمَّتِى مِنْهُمْ أَحَدٌ فَإِنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ مِنْهُم

“Sesungguhnya dikalangan umat-umat terdahulu ada orang-orang yang mendapatkan ilham. Jika terjadi pada umatku, maka Umar Ibnu al-Khattab adalah salah seorang dari mereka.”[2]

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah berkata:

“Muhdatsun jamak dari kata muhdats. Para ulama berbeda pendapat dalam menta’wilkannya. Diantara mereka ada yang berkata maksudnya adalah diberikan ilham. Ini adalah pendapat kebanyakan ulama. Mereka berkata, al-muhdats adalah seseorang yang prasangkanya selalu benar, dia diberikan kecerdasan oleh Allah sehingga ia berbicara kepada orang lain dengannya. Inilah yang dipilih oleh Abu Ahmad al-Askari rahimahullah. Diantara ulama juga ada yang berkata bahwa maksudnya adalah seseorang yang selalu berbicara dengan perkataan benar tanpa ia sadari, dan ada juga yang berpendapat bahwa ia adalah seorang yang dibuat berbicara, yaitu Malaikat yang membuatnya bicara. Akan tetapi ini bukanlah nubuwwah, terdapat hadits dari Abu Sa’id al-Khudri yang marfu’. Adapun lafazhnya: ada yang berkata kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم: “wahai Rasulullah, bagaimana ia berbicara?” maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Malaikat berbicara melalui lisannya.” Kami meriwayatkannya dalam “Fawaidu al-Jauhari.”[3]

Mengenai mimpi dari seorang yang shaleh, terdapat banyak hadits yang membicarakannya. Diantaranya adalah hadits yang berasal dari Anas Ibnu Malik radhiyallahu ‘anhu bahwasanya  Raslullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

الرُّؤْيَا الْحَسَنَةُ مِنَ الرَّجُلِ الصَّالِحِ جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِينَ جُزْءًا مِنَ النُّبُوَّةِ

“Mimpi yang baik dari seorang yang shaleh adalah bagian empat puluh enam dari bagian kenabian.”[4]

Dalam riwayat lain, Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma juga meriwayatkan satu hadits, bahwasanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِينَ جُزْءًا مِنَ النُّبُوَّةِ

“Mimpi yang shaleh adalah bagian tujuh puluh bagian dari bagian kenabian.”[5]

Sedangkan dalam riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

رُؤْيَا الرَّجُلِ الصَّالِحِ جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِينَ جُزْءًا مِنَ النُّبُوَّةِ

“Mimpi laki-laki yang shaleh adalah bagian empat puluh enam dari bagian kenabian.”[6]
Dalam riwayat lain yang juga berasal dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah صلى الله عليه وسلم  bersabda:

إِذَا اقْتَرَبَ الزَّمَانُ لَمْ تَكَدْ رُؤْيَا الْمُسْلِمِ تَكْذِبُ وَأَصْدَقُكُمْ رُؤْيَا أَصْدَقُكُمْ حَدِيثًا وَرُؤْيَا الْمُسْلِمِ جُزْءٌ مِنْ خَمْسٍ وَأَرْبَعِينَ جُزْءًا مِنَ النُّبُوَّةِ وَالرُّؤْيَا ثَلاَثَةٌ فَرُؤْيَا الصَّالِحَةِ بُشْرَى مِنَ اللَّهِ وَرُؤْيَا تَحْزِينٌ مِنَ الشَّيْطَانِ وَرُؤْيَا مِمَّا يُحَدِّثُ الْمَرْءُ نَفْسَهُ فَإِنْ رَأَى أَحَدُكُمْ مَا يَكْرَهُ فَلْيَقُمْ فَلْيُصَلِّ وَلاَ يُحَدِّثْ بِهَا النَّاسَ

“Apabila waktu telah serasa saling berdekatan[7] maka hampir-hampir saja mimpi seorang muslim adalah kedustaan. Maka yang paling benar mimpinya diantara kalian adalah yang paling jujur perkataannya. Mimpi seorang muslim adalah bagian empat puluh lima dari bagian kenabian. Sesungguhnya mimpi ada tiga macam. Adapun mimpi yang shaleh merupakan kabar gembira dari Allah, mimpi kesedihan datangnya dari syaithan dan adapula mimpi yang merupakan bisikkan jiwa manusia itu sendiri. Maka jika salah seorang dari kalian melihat apa yang ia tidak senangi dalam mimpinya, maka hendaknya ia bangkit untuk shalat dan tidak menceritakannya pada seorangpun.”[8]

Jika semua hadits yang berbicara mengenai hal ini dikumpulkan, maka akan didapatkan bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم menyebutkan pembagiannya dengan jumlah yang berbeda-beda  dari bagian kenabian. Al-Imam an-Nawawi rahimahullah dalam kitabnya al-minhaj syarh shahih muslim menukil satu perkataan al-Qadhi rahimahullah, bahwasanya beliau berkata:

“Ath-Thobari rahimahullah mengisyaratkan bahwa perbedaan ini kembali pada perbedaan keadaan orang yang bermimpi. Mu’min yang shaleh mimpinya adalah bagian dari empat puluh enam bagian kenabian sedangkan seorang yang fasik mimpinya merupakan bagian dari tujuh puluh bagian kenabian. [9]

Mengenai firasat, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

اتقوا فراسة المؤمن فإنه ينظر بنور الله

“Takutlah pada firasat seorang muslim, karena ia melihat degan cahaya Allah.”[10]

Abu al-‘Ala Muhammad Ibnu Abdu ar-Rahman al-Mubarakfuri rahimahullah dalam kitabnya tuhfatu al-ahwadzi berkata:

“Firasat terbagi dua. Pertama, apa yeng menunjukkan pada kenyataan suatu perkara. Ini merupakan sesuatu yang Allah masukkan pada hati para walinya, sehingga mereka mengetahui dengannya apa yang terjadi pada keadaan manusia. Ini merupakan jenis karamah. Kedua apa yang terjadi melalui petunjuk hasil percobaan.”[11]

Karamah merupakan kejadian luar biasa yang terjadi pada seseorang diluar kehendaknya, ia merupakan karunia Allah kepada para walinya. Wali yang di maksud adalah wali-wali Allah dan bukan wali-wali syaithan. Mereka adalah orang-orang yang dekat dan mencintai Allah, kuat keimanan dan ketakwaannya. Sebagaimana firman Allah:

أَلا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ (٦٢)الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (٦٣)

“Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.”[12]

b.     Al-Mira (debat kusir) tercela, sedangkan debat dengan adab yang baik disyariatkan. Telah dibenarkan dalam agama ini bahwa seseorang tidak dibolehkan tenggelam dalam debat kusir, sehingga wajib meninggalkannya dan menahan diri untuk tidak tenggelam pada hal-hal yang tidak bermanfaat bagi muslim dan mengembalikan semua keilmuan itu kepada Allah. [13]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

نزل القرآن على سبعة أحرف المراء في القرآن كفر ثلاث مرات فما عرفتم منه فاعملوا وما جهلتم منه فردوه إلى عالمه

“Al-Qur’an diturunkan dengan tujuh huruf (tujuh gaya bahasa arab). Berdebat dengan al-Qur’an adalah kekufuran (beliau mengulanginya tiga kali). Maka jika kalian mengetahui sesuatu darinya maka amalkanlah dan jika kalian tidak mengetahui tentangnya maka kembalikanlah pada yang ‘alim (yang lebih tahu) tentangnya.”[14]

Al-Munawi rahimahullah berkata ketika menanggapi hadits ini:

أَيْ الشَّكّ فِي كَوْنه كَلَام اللَّه ، أَوْ أَرَادَ الْخَوْض فِيهِ بِأَنَّهُ مُحْدَث أَوْ قَدِيم ، أَوْ الْمُجَادَلَة فِي الْآي الْمُتَشَابِهَة وَذَلِكَ يُؤَدِّي إِلَى الْجُحُود فَسَمَّاهُ كُفْرًا

“Meragukan bahwa al-Qur’an adalah firman Allah, atau ingin tenggelam dengan perkataannya bahwasanya ia adalah sesuatu yang dibuat-buat atau baru, atau berdebat pada ayat-ayat mutasyabih yang demikian itu menyebabkan penentangannya maka itu disebut kufur.”[15]

Pelarangan debat kusir disebabkan akan menimbulkan kerasnya hati lalu menjadikan seseorang berpaling dari kebenaran. Tujuan dari mira’ adalah memunculkan dalil lalu saling berbantah-bantahan dengan dalil yang dimunculkan, akan tetapi tidak ada niat untuk rujuk (kembali) pada kebenaran. Al-Imam as-Sa’di rahimahullah menjelaskan makna mira’ (debat kusir) dalam tafsirnya lalu memeberikan kaidah agung tentang debat yang dibolehkan. Beliau berkata ketika menafisrkan firman Allah:

فلا تمار فيهم إلا مراء ظاهرا

“Karena itu janganlah kamu (Muhammad) melaukan “mira” (bertengkar) tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja.[16]

Beliau (As-Sa’di rahimahullah) berkata:

“Hendaknya mendebati mereka di atas ilmu dan keyakinan dan juga dapat memberikan faidah. Adapun mendebati mereka dilandasi pada kejahilan dan pada perkara-perkara yang ghaib atau pada perkara-perkara yang tidak memberikan faidah di dalam debat itu, entah itu disebabkan karena permusuhan atau karena permasalahan yang tidak penting, tidak menambah faidah dalam beragama dengan mengetahuinya, sebagaimana jumlah orang-orang yang berada dalam gua atau selainnya, maka banyak berbicara mengenai itu dan berdebat tentangnya hanya akan menghabiskan waktu dan memberi bekas yang tidak baik pada hati tanpa ada faidahnya.”[17]

Lain halnya dengan debat yang dilakukan dengan penuh hikmah dan adab yang baik pada orang-orang yang jahil. Hal itu justru dianjurkan dan merupakan wasilah dakwah yang dibenarkan. Hal ini sebagaimana firman Allah:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah (debatilah) mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”[18]

Al-Imam as-Sa’di rahimahullah berkata:

“Hendaknya dakwahmu kepada makhluk, baik itu muslim atau kafir, ditujukan pada jalan Tuhanmu yang lurus, mengandung ilmu yang bermanfaat dan amalan yang shalih secara hikmah, yaitu semua sesuai dengan keadaan mereka (mad’u), pemahaman mereka, dan penerimannya. Dan diantara hikmah adalah berdakwah di atas ilmu bukan di atas kebodohan. Dakwah dimulai dengan mendahulukan yang paling penting lalu kemudian yang penting-penting, berupaya mencari jalan yang peling dekat agar mudah dipahami, dan dengan cara agar yang menerimanya, bisa menerima secara sempurna, juga dilakukan dengan kelemah lembutan. Semoga dengan hikmah dakwah diterima. Jika tidak, maka lanjut pada mau’izhah (nasehat) yang baik berupa perintah dan larangan dengan menyandengakannya pada targhib dan tarhib (memberi semangat dan motivasi serta manakut-nakuti).”[19]

Dapat disimpulkan bahwa perbedaan antara mira dan jidal yang hikmah adalah mira bertujuan untuk saling berbantah-bantahan dengan menggunakan dalil tanpa ada niat untuk rujuk pada kebenaran, tujuannya untuk merendahkan orang lain, memperlihatkan dirinya bahwa dia adalah orang yang hebat dan pandai. Adapun jidal yang hikmah adalah nasehat yang diinginkan seseorang dengan menggunakan dalil dengan harapan seseorang kembali pada kebenaran, dilakukan secara lemah lembut dan dilandasi ketakwaan pada Allah azza wajalla tanpa ada unsur riya atau sum’ah (ingin didenga orang) bahwa ia hebat.

c.      Wajib beriltizam pada manhaj wahyu dalam membantah, sebagaimana kewajiban dalam berakidah. Sehingga tidak membantah bid’ah dengan melakukan bid’ah yang lain dan tidak menolak yang melakukan tafrith (bermemudah-mudahan) dengan ghuluw (berlebih-lebihan) atau sebaliknya. [20]

Membantah pemahaman-pemahaman yang batil adalah sikap yang terpuji dan merupakan bagian dari hirasatu al-aqidah (penjagaan terhadap akidah). Akan tetapi, ahlu sunnah tetap memiliki adab dalam membantah pemahaman-pemahaman batil tersebut, agar tidak membantah kebatilan dengan mendatangkan kebatilan yang baru atau membantah bid’ah dengan membuat bid’ah yang baru.

Allah berfirman:

وَلا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ كَذَلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan Setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.”[21]

Al-Imam as-Sa’di rahimahullah berkata:

“Allah melarang kaum mu’minin pada perkara yang hakikatnya dibolehkan, bahkan perkara yang disyariatkan secara asalnya, yaitu mencela sembahan-sembahan kaum musyrikin dimana mereka menyembah berhala-berhala selain Allah. Kaum muslimin bertakarrub kepada Allah dengan menghinakan sembahan-sembahan itu. Akan tetapi, ketika celaan terhadap berhala-berhala itu menjadi jalan bagi kaum musyrikin untuk  mencela Allah Tuhan Semesta Alam yang semestinya nama-Nya harus disucikan dari segala celaan, maka Allah melarang mencela tuhan-tuhan kaum musyrikin. Karena mereka sangat bersemangat juga dalam beragama dan sangat fanatik terhadapnya. Setiap umat telah diperindah oleh Allah amalan-amalan mereka, sehingga mereka menganggapnya indah ……ayat ini menjadi kaidah syar’iyyah, bahwa segala wasilah-wasilah dianggap sebagai hukum suatu perkara yang mengantarkan padanya. Misalnya, wasilah menjadi haram walaupun hakikatnya boleh, ia menjadi haram ketika wasilah itu menyebabkan keburukan.”[22]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

“Dan perihal yang perlu diketahui pula bahwa kelompok-kelompok yang menisbatkan diri mereka dalam mengikuti kelompoknya dari segi ushul ad-din, terdapat beberapa derajat dalam membicarakan mereka. Diantara mereka ada yang menyelisihi sunnah dalam permasalahan ushul yang sangat besar dan diantara mereka pula ada yang menyelishi sunnah dalam permasalahan yang daqiqah (ringan-Pent). Maka siapa saja yang membantah kelompok-kelompok selain mereka yang jauh dari sunnah, maka hal itu adalah perbuatan yang terpuji atas bantahannya terhadap kebatilan dan perkataannya terhadap kebenaran. Akan tetapi terkadang mereka berlebihan sehingga tidak berbuat adil dalam membantahnya. Dimana mereka mengingkari sebagian kebenaran dan mengatakan sebagian yang lain sebagai kebatilan. Sehingga terkadang mereka membantah bid’ah yang besar dengan bid’ah yang lebih ringan darinya, dan membantah kebatilan dengan kebatilan yang lebih rendah darinya. Inilah keadaan kebanyakan pemilik perkataan yang menisbatkan dirinya pada ahlu sunnah wal jama’ah. Dan orang-orang seperti mereka, jika mereka tidak menjadikan perkara bid’ah yang mereka terjatuh di dalamnya sebagai standar perkataan (kebenaran), sehingga mereka berpisah dengannya dari jama’ah kaum muslimin, seperti setia dan memusihi karenannya maka itu merupakan kesalahan. Dan Allah mengampuni kesalahan kaum mu’minin dalam perkara seperti ini. Hal seperti ini pun banyak terjadi pada generasi umat dan imam-imam sebelumnya. Mereka memiliki perkataan dari ijtihad mereka yang menyelisihi al-Qur’an dan sunnah. Beda halnya dengan orang-orang yang setia karena sesuai dengannya dan memusuhi karena tidak sesuai dengannnya dan ia memisahkan dirinya dari jama’ah kaum muslimin serta mengkafirkan dan memfasikkan orang-orang yang berbeda dengannya dalam masalah hal-hal ijtihadiyyah sehingga ia menghalalkan untuk memerangi orang-orang yang tidak sesuai dengannya maka mereka ini adalah ahlu at-tafarruq wa al-ikhtilaf (kelompok pemecah belah agama).” [23]

d.     Semua perkara-perkara baru dalam urusan agama adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatsan tempatnya di neraka. [24]

Dari Jabir Ibnu Abdillah radhiyallahu ‘anhuma ia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلاَ صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ، يَقُولُ : صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ. وَيَقُولُ: بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةَ كَهَاتَيْنِ . وَيَقْرُنُ بَيْنَ إِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى وَيَقُولُ: أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ.

“Adalah Rasulullah صلى الله عليه وسلم jika beliau berkhutbah maka kedua matanya memerah, suaranya meninggi, dan beliau menjadi semakin marah. Seolah-olah ia sementara memperingatkan pasukan. Beliau berkata: “persiapkanlah pasukan kalian di pagi dan sore kalian.” Beliau berkata: “aku diutus antara aku dan datangnya hari kiamat antara kedua ini, sambil menunjukkan jari telunjuk dan jari tengahnya.” Beliau bersabda: “Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad صلى الله عليه وسلم, seburuk-buruk perbuatan adalah perbuatan yang diada-adakan dalam agama ini, karena semua yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.”[25] 

Dalam riwayat lain disebutkan dengan tambahan:

وكل ضلالة في النار

“Dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.”[26]

Dari Hudzifah Ibnu al-Yaman radhiyallahu ‘anhu ia berkata:

كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللهِ : عَنِ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ ، عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي ، فَقُلْتُ : يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ قَالَ نَعَمْ وَفِيهِ دَخَنٌ قُلْتُ وَمَا دَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ قُلْتُ فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ صِفْهُمْ لَنَا قَالَ هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا قُلْتُ فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ قُلْتُ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ ، وَلاَ إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ.

“Dahulu manusia bertanya kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم tentang perkara kebaikan. Adapun diriku bertanya tentang  perkara-perkara yang buruk karena takut aku terjatuh padanya. Maka aku bertanya: “wahai Rasulullah, sesungguhnya kami dahulu berada dalam masa jahiliah dan keburukan hingga Allah mendatangkan kami kebaikan ini. Apakah setelah masa kebaikan ini ada masa keburukan?” beliau bersabda: “ya.” Aku bertanya: “apakah setelah masa keburukan itu adalagi masa kebaikan?” beliau bersabda: “ya! Akan tetapi saat itu akan ada asap .” Aku berkata: “apakah asap itu?” beliau bersabda: “akan ada kaum yang memberikan petunjuk dengan selain petunjukku, engkau mengenali mereka lalu engkau mengingkarinya.” Aku berkata: “apakah setelah masa kebaikan itu adalagi masa keburukan?” beliau bersabda: “ya, akan muncul para da’i yang menyerukan pada pintu-pintu neraka jahannam. Siapa yang mengikuti mereka, akan masuk ke dalam jahannam. Aku berkata: “wahai Rasulullah, beritahukanlah sifat-sifat mereka.” Beliau bersabda: “mereka adalah kaum dari kalangan kulit kita yang juga berbicara dengan bahasa kita.” Aku berkata: “apakah yang engkau perintahkan kepadaku jika aku bertemu dengan mereka?” beliau bersabda: “iltizamlah pada jama’ah kaum muslimin dan imam-imam mereka.” Aku berkata: “bagaimana jika saat itu kaum muslimin sudah tidak memiliki jama’ah dan juga tidak memiliki imam?” Beliau bersabda: “menyingkirlah dari semua firaq (kelompok-kelompok) walau engkau hanya  berpegang pada akar pohon sampai datang kepdamu kematian dan engaku tetap berada dalam kondisi itu.”[27]

Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

اتَّبِعُوا، وَلا تَبْتَدِعُوا فَقَدْ كُفِيتُمْ، كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ

“Ittiba’lah dan janganlah berbuat bid’ah karena itu sudah cukup buat kalian. Setiap bid’ah adalah kesesatan.”[28]



[1] Mujmal Ushul Ahli Sunnah Wal Jama’ah fi al-Aqidah: 2 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[2] HR. Muslim: 6357 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[3] Fathu al-Bari: 7/50 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[4] HR. Bukhari: 6983 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[5] HR. Muslim: 6053 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[6] HR. Muslim : 6050 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[7] Ini merupakan diantara ciri-ciri hari kiamat
[8] HR. Bukhari: 7017, HR. Muslim: 6042. Lafazh ini dari Imam Muslim (al-Maktabah asy-Syamilah)
[9] Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim: 7/451 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[10] HR. Tirmidzi: . HR. Tirmidzi: 3127, sanadnya dinyatakan lemah oleh al-Albani (al-Maktabah asy-Syamilah)
[11] Tuhfatu al-Ahwadzi: 7/456 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[12] QS. Yunus: 62-63
[13] Mujmal Ushul Ahli Sunnah Wal Jama’ah fi al-Aqidah: 2 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[14] HR. Ahmad 7976, al-Arnauth mengatakan sanad hadits ini shahih sesuai syarat Imam Bukhari dan Imam Muslim (al-Maktabah asy-Syamilah)
[15] Aunu al-Ma’bud: 9/1817 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[16] QS. Al-Kahfi: 22
[17] Taisiru al-Karimi ar-Rahman: 651 (Jam’iyyatu Ihyaai at-Turats al-Islami)
[18] QS. An-Nahl: 125
[19] Taisiru al-Karimi ar-Rahman: 622 (jam’iyyatu Ihyaai at-Turats al-Islami)
[20] Mujmal Ushul Ahli Sunnah Wal Jama’ah fi al-Aqidah: 2 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[21] QS. Al-An’am: 108
[22] Taisiru al-Karimi ar-Rahman: 351 (Jam’iyyatu Ihyai at-Turats al-Islami)
[23] Majmu’ Fatawa, Bab Ma Hiya al-Firqatu an-Najiyyah, 3/349. (al-Maktabah asy-Syamilah)
[24] Mujmal Ushul Ahli Sunnah Wal Jama’ah fi al-Aqidah: 2 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[25] HR. Muslim: 2042 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[26] HR. Nasai: 1578 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[27] HR. Bukhari: 7084 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[28] HR. Ath-Thobrani 8682 (al-Maktabah asy-Syamilah)

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar