Minggu, 15 Maret 2015

Kaidah-Kaidah Pokok dan Prinsip-Prinsip dalam Manhaj Ahlu Sunnah Wal Jama’ah 03




a.       Akal yang lurus akan sejalan dengan dalil-dalil naqal yang shahih, keduanya tidak akan terjadi kontradiksi selamanya. Dan jika terjadi tawahhum maka dalil syar’i harus di dahulukan.

Umar Ibnu al-Khattab radhiyallahu tatkala hendak mencium hajar aswad berkata:

إني لأعلم أنك حجر لا تضر ولا تنفع، ولولا أني رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقبلك ما قبلتك

“Sesungguhnya aku sangat tahu bahwa engkau hanyalah batu, tidak memberi mudharat dan tidak pula memberi manfaat. Jika seandainya aku tidak melihat Rasulullah صلى الله عليه وسلم menciummu maka akupun tidak akan menciummu.”[1]

Ali Ibnu Abi Thalib rahdiyallahu ‘anhu berkata:

لو كان الدين بالرأي، لكان أسفل الخف أولى بالمسح من أعلاه وقد رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يمسح على ظاهر خفيه

“Jika seandainya agama ini dengan akal, maka sungguh dasar/telapak khuf[2] akan lebih utama untuk diusap saat berwudhu daripada bagian atasnya. Tapi sungguh aku telah melihat Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengusap zhahir (bagian atas)kedua  khufnya.[3]

Kedua atsar ini menunjukkan ketaatan para sahabat radhiyallahu ‘anhum kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan tidak mendahulukan akal mereka daripada dalil yang telah mereka ketahui. Sungguh agama ini tidak diambil kecuali dari orang-orang yang sangat setia pada Rasulullah صلى الله عليه وسلم sebagai pembawa syariat yang menuntun pada kebahagian. Sesungguhnya akal manusia yang selalu membenarkan perbuatan mereka dimana jelas-jelas menyeslihi syariat, adalah perbuatan membuat syariat baru dalam agama ini yang akan ia pertanggung jawabkan dipengadilan Allah kelak.

b.     Wajib beriltizam pada lafazh-lafzh syar’iyyah. [4]

Diantara kaidah-kaidah pokok manhaj Ahlu sunnah waljama’ah adalah wajib beriltizam pada lafazh-lafazh syar’iyyah dalam masalah aqidah serta menjauhi lafazh-lafazh bid’iyyah yang dibuat-buat oleh manusia.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

فطريقة السلف والأئمة أنهم يراعون المعاني الصحيحة المعلومة بالشرع والعقل ويراعون أيضا الألفاظ الشرعية فيعبرون بها ما وجدوا إلى ذلك سبيلا ومن تكلم بما فيه معنى باطل يخالف الكتاب والسنة ردوا عليه ومن تكلم بلفظ مبتدع يحتمل حقا وباطلا نسبوه إلى البدعة أيضا

“Maka cara para salaf dan para imam senantiasa memperhatikan makna- makna yang benar yang diketahui berdasarkan syariat ini dan berdasarkan akal, mereka juga memperhatikan istilah-istilah syariat lalu menjelaskan maksud dari istilah-istilah itu sesuai dengan apa-apa yang mereka ilmukan. Maka barangsiapa yang berbicara dengan makna yang batil yang menyelisihi al-Qur’an dan sunnah maka hal itu di tolak. Dan barangsiapa yang berbicara dengan lafazh bid’ah yang kemungkinan benar atau salah maka tetap mereka menisbatkannya dengan bid’ah juga.”[5]

Sebagai contoh dalam hal ini, apa yang pernah terjadi pada Imam Malik rahimahullah, sebagaimana dinukil oleh Ahmad Ibnu Ghunaim Ibnu Salim an-Nafrawi rahimahullah dalam kitabnya Al-Fawakihu ad-Diwaniyu ‘Ala Risalati Ibni Abi Zaid, ia menjelaskan bahwa ketika seseorang bertanya kepada Imam Malik tentang makna istiwa’ (bersemayam). Beliau menjawab:

الاستواء معلوم والكيف مجهول والإيمان به واجب والسؤال عنه بدعة

“Bersemayam itu sudah dipahami maknanya, adapun tata caranya adalah perkara yang tidak diketahui, namun beriman dengannya adalah suatu kewajiban. Dan bertanya tentangnya adalah bid’ah.”[6]

Ali Ibnu Abi al-Izz rahimahullah dalam kitabnya syarah ‘aqidah ath-thohawiyyah menukil satu perkataan Abu Hanifah rahimahullah dalam kitabnya al-fiqhu al-akbar, bahwasanya  Imam Abu Hanifah rahimahullah berkata:

له يد ووجه ونفس كما ذكر تعالى في القرآن من ذكر اليد والوجه والنفس فهو له صفة بلا كيف ولا يقال : أن يده قدرته ونعمته لأن فيه إبطال الصفة

“Allah memiliki tangan ,wajah dan jiwa sebagaimana Allah menyebutkannya dalam al-Qur’an berupa penyebutan tangan, wajah, dan jiwa. Maka Dia memiliki sifat tanpa harus kita pertanyakan bagaimana itu dan juga tidak boleh dikatakan bahwa tangan-Nya adalah qudrah (kemampuan) dan ni’mat-Nya karena hal itu adalah membatalkan sifat Allah (yang disebutkan-Nya sendiri-pent).”[7]

Yang menjadi inti dari penetapan sifat Allah azza wajalla adalah tidak boleh menyamakan-Nya dengan makhluk-Nya, juga tidak mempertanyakan tata cara, bentuk, merubah atau menyelewengkan maknanya. Iltizam dengan sifat atau lafazh syar’i yang Allah azza wajalla sebutkan itulah kaidah para salaf dan jalan keselamatan. Oleh karena itu, syaikhul islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

فلم ينطق أحد منهم في حق الله بالجسم لا نفيا ولا إثباتا ولا بالجوهر والتحيز ونحو ذلك لأنها عبارات مجملة لا تحق حقا ولا تبطل باطلا

“Tidak ada salah seorang dari mereka (para salaf) yang berkata dalam menetapkan hak (sifat) Allah dengan jism (tubuh), mereka tidak menafikan dan tidak juga menetapkannya, tidak juga dengan menyebutkan dzatnya secara terperinci dan tidak pula dengan menyelewengkannya atau selain itu, karena itu merupakan ibarah yang umum (tidak disebutkan secara rinci) maka tidak dapat dibenarkan sepenuhnya juga tidak mengingkari sepenuhnya.”[8]

Adapun lafazh-lafazh umum yang kemungkinan salah atau benar, maka harus ditafsirkan maknanya. Jika seandainya benar, maka lafazh tersebut ditetapkan dan jika salah maka hal itu tertolak.

Ibnu Abdi al-Izz rahimahullah berkata:

وأما الألفاظ التي لم يرد نفيها ولا اثباتها فلا تطلق حتى ينظر في مقصود قائلها فإن كان معنى صحيحا قبل لكن ينبغي التعبير عنه بألفاظ النصوص دون الألفاظ المجملة إلا عند الحاجة مع قرائن تبين المراد

“Adapun lafazh-lafazh yang tidak disebutkan penafian atau penetapannya maka tidak boleh memutlakkannya hingga mengetahui maksud dari yang berkata. Jika maknanya benar, maka makna itu diterima akan tetapi hendaknya menyampaikannya dengan lafazh yang disetujui oleh nash-nash syar’i tanpa menggunakan lafazh yang sifatnya umum, kecuali jika ada hajat yang penyebutannya disertakan dengan indikasi yang menjelaskan maksudnya.”[9]

Kesimpulannya, sebagaimana perkataan Ibnu Abi al-Izz rahimahulla:

“Dan pengungkapan akan kebenaran berdasarkan lafazh-lafazh syar’iyyah an-nabawiyyah al-ilahiyyah adalah jalan ahlu sunnah wal jama’ah. Sedangkan para penyeleweng senantiasa menolak apa yang diungkapkan oleh Allah dari nama-nama dan sifat-sifat-Nya, mereka tidak mentadabburi maknanya, lalu menjadikan bid’ah yang mereka lakukan dari makna-makna dan lafazh-lafazh sebagai hukum yang harus dan wajib diyakini. Adapun pengikut kebenaran, pengikut sunnah yang beriman, mereka menjadikan apa yang difirmakan oleh Allah dan Rasul-Nya sebagai kebenaran yang wajib diyakini.”[10]

c.      Kemaksuman ditetapkan untuk Rasulullah صلى الله عليه وسلم

Diantara kaidah dan prinsip ahlu sunnah juga  adalah menetapkan kemaksuman (keterbebasan dari dosan dan kesalahan) untuk Rasulullah صلى الله عليه وسلم, sementara umat ini ditetapkan kemaksumannya pada keputusan melalui kesepakatan mereka. Adapun perseorangan maka tidak ada kemaksuman pada diri mereka. Sehingga jika terjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama, maka tempat kembalinya adalah al-Qur’an dan sunnah. Jika pendapat mereka sesuai sunnah maka pendapatnya diterima, lalu memberikan udzur pada ulama mujtahid yang berpendapat salah.[11]

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

إن الله لا يجمع أمتي أو قال أمة محمد صلى الله عليه و سلم على ضلالة ويد الله مع الجماعة

“Sesungguhnya Allah tidak mengumpulkan umatku –atau dia berkata- ummat Muhammad صلى الله عليه وسلم di atas kesesatan dan tangan Allah bersama dengan orang-orang yang berjama’ah.”[12]

Abu ‘Isa[13] rahimahullah berkata: “yang dimaksud jama’ah dikalangan ahli ilmu adalah ulama ahli fiqh dan ahli hadits.”[14]

Perbedaan ahlu sunnah dengan beberapa kelompok lain adalah sudut pandang berfirkir akan kemaksuman manusia. Ahlu sunnah berkeyakinan bahwa tidak ada manusia yang maksum selain Rasulullah صلى الله عليه وسلم, adapun kelompok lain sangat mengkultuskan guru-gurunya sehingga setiap kata yang keluar dari lisan gurunya dianggap sebagai kebenaran walau jelas-jelas menyelisihi al-Qur’an dan sunnah. Jelas ini adalah kebodohan yang dipelihara oleh kebanyakan manusia.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

كل ابن آدم خطاء وخير الخطائين التوابون

“Setiap anak cucu Adam pasti berbuat dosa, dan sebaik-baik dari mereka yang berdosa adalah yang bertaubat”[15]

Imam Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah berkata:

فالواجب على كل من بلغه أمر الرسول وعرفه أن يبينه للأمة وينصح لهم ، ويأمرهم باتباع أمره وإن خالف ذلك رأي عظيم الأمة ، فإن أمر الرسول صلى الله عليه وسلم أحق أن يعظم ويقتدى به من رأي معظم قد خالف أمره في بعض الأشياء خطأ ومن هنا رد الصحابة ومن بعدهم من العلماء على كل من خالف سنة صحيحة ، وربما أغلظوا في الرد - لا بغضاً له بل هو محبوب عندهم ، معظم في نفوسهم - لكن رسول الله صلى الله عليه وسلم أحب إليهم ، وأمره فوق كل أمر مخلوق . فإذا تعارض أمر الرسول وأمر غيره فأمر الرسول صلى الله عليه وسلم أولى ان يقدم ويتبع ، ولا يمنع من ذلك تعظيم من خالف أمره وإن كان مغفوراً له ، بل ذلك المخالف المغفور له

“Maka wajib bagi setiap yang sampai kepadanya perintah dari Rasul صلى الله عليه وسلم dan ia memahaminya untuk menjelaskannya kepada umat dan menasehati mereka, lalu memerintahkan mereka untuk mengikuti perintah Rasulullah صلى الله عليه وسلم walau hal itu menyelisihi pendapat seorang ulama yang sangat dimuliakan umat. Karena sesungguhnya perintah Rasulullah صلى الله عليه وسلم lebih berhak untuk dimuliakan dan diikuti dari sekedar orang yang dimuliakan tetapi dalam beberapa pendapatnya salah, menyelisihi Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Dari sini para sahabat dan orang-orang setelah mereka dari kalangan para ulama menolak setiap orang yang menyelisihi sunnah yang shahih. Bahkan mungkin saja, terkadang mereka keras dalam penolakannya. Bukan karena marah dan benci kepada mereka, justru karena penolakan itu dibangun atas asas kecintaan terhadap mereka, juga tetap memulikan mereka. Akan tetapi, Rasulullah صلى الله عليه وسلم lebih harus dicintai dari mereka, dan derajat perintahnya di atas perintah seluruh makhluk. Sehingga jika terjadi kontradiksi antara perintah Rasul dan pendapat orang lain, maka perintah Rasulullah صلى الله عليه وسلم harus lebih didahulukan dan diikuti. Dan hal itu tidak berarti menghalangi seseorang dari memuliakan mereka, karena sesungguhnya mereka dimaafkan pada kesalahannya itu. ”[16]

Oleh karena itu, para ulama salaf dari kalangan imam-imam yang dimuliakan senantiasa menasehatkan kepada umat agar selalu mendahulukan sunnah Rasulullah صلى الله عليه وسلم dari perkataan-perkataan mereka, karena mereka bukanlah orang-orang yang terjamin kemaksumannya.

Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

“Maka jika setiap kali aku menetapkan satu prinsip dari beberapa prinsip ternyata menyelisihi sunnah Rasulullah صلى الله عليه وسلم maka yang berhak diikuti adalah perkataan Rasul dan itulah perkataanku.”[17]

Mujahid rahimahullah berkata:

لَيْسَ أَحَدٌ بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا يُؤْخَذُ مِنْ قَوْلِهِ وَيُتْرَكُ، إِلَّا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Tidak seorangpun setelah meninggalnya Nabi صلى الله عليه وسلم diterima seluruh perkataaannya, perkataan mereka ada yang dterima dan ada juga yang tertolak. Kecuali perkataan Nabi صلى الله عليه وسلم .”[18]

Sehingga jelas, manhaj ahlu sunnah dalam menyikapi perbedaan pendapat dikalangan ulama adalah dikembalikan pada al-Qur’an dan sunnah sesuai pemahaman salaf al-ummah. Jika pendapat seorang ulama sesuai dalil, maka pendapatnya diterima. Hal ini merupakan implementasi dari firman Allah tabaraka wata’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

Adapun jika pendapat salah seorang ulama meyelisihi dalil, maka dia mendapat udzur dan dimaafkan. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ ثمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ ، وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْر

“Jika seorang hakim memutuskan keputusan dengan ijtihadnya lalu ia benar, maka baginya dua pahala. Jika seandainya ia salah, maka baginya satu pahala.”[19]



[1] HR. Bukhari: 1605 dan selainnya (al-Maktabah asy-Syamilah)
[2] Khuf adalah sesuatu yang dikenakan di kaki menyerupai sepatu dan kaus kaki
[3] HR. Abu Dawud: 162 dan selainnya (al-Maktabah asy-Syamilah)
[4] Mujmal Ushul Ahli Sunnah Wal Jama’ah fi al-Aqidah: 2 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[5] Dar’u Ta’arudhi al-‘Aql Wa an-Naql: 1/145 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[6] Al-Fawakihu ad-Diwaniyu ‘Ala Risalati Ibni Abi Zaid: 215 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[7] Syarah ‘Aqidah ath-Thohawiyyah: 1/333-334 (Daaru ar-Risalati al-Ilmiyyah)
[8] Ar-Risalatu at-Tadmuriyyah: 57 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[9] Syarah ‘Aqidah ath-Thawiyyah: 1/331  (Daaru ar-Risalati al-Ilmiyyah)
[10] Syarah ‘Aqidah ath-Thawiyyah: 1/166  (Daaru ar-Risalati al-Ilmiyyah)
[11] Mujmal Ushul Ahli Sunnah Wal Jama’ah fi al-Aqidah: 2 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[12] HR. Tirmidzi: 2167 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[13] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu Isa Ibnu Saurah Ibnu Musa  at-Tirmidzi lebih dikenal dengan nama Imam Tirmidzi rahimahullah
[14] Sunan Timidzi: 4/466 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[15] HR. Tirmidzi: 2499 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[16] Al-Hikamu al-Jadirah Bi al-idzaa’ati Min Qauli an-Nabi: 12-13 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[17] Dinukil dari kitab fiqhu al-Ibadaat ‘Ala al-Mazhab asy-Syafi’i: 12 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[18] HR. Bukhari dalam kitab Raf’u al-Yadain Fi ash-Sholah: 179 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[19] HR. Bukhari: 7352, HR. Muslim: 4584 (al-Maktabah asy-Syamilah)

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar