Minggu, 15 Maret 2015

Mengenal dan Memahami Manhaj Ahlu Sunnah Wal Jama’ah 01


1.1 Defenisi Ahlu Sunnah Wal Jama’ah

a.      Makna Sunnah Secara bahasa

Sunnah secara bahasa bermakna jalan, yang baik ataupun buruk.[1] Diantara yang menunjukkan hal itu adalah sabda Nabiصلى الله عليه وسلم :

لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا شِبْرًا وذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوهُمْ

“Sungguh kalian akan mengikuti jalan-jalan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Hingga walau mereka masuk ke dalam lubang biawakpun kalian akan mengikutinya.”[2]

Rasulullah صلى الله عليه وسلم juga bersabda:

مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

“Barangsiapa yang membuat sunnah yang baik maka baginya pahala dan pahala orang-orang yang mengikutinya setelahnya tanpa mengurangi pahala orang-orang yang mengikutinya sedikitpun. Dan barangsiapa yang membuat sunnah yang buruk, maka baginya dosa dan dosa orang-orang yang mengikutinya setelahnya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka.”[3]
Ibnu Manzhur rahimahullah berkata, “sunnah adalah sirah (jalan) entah itu baik ataupun buruk.”[4]

Ibnu al-Atsir rahimahullah berkata, “Kata sunnah telah berulang kali disebutkan dalam hadits dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Dan secara asal ia adalah thoriqah atau sirah (jalan).[5]

b.     Makna Sunnah Secara Istilah

Pendefenisian sunnah berbeda-beda dikalangan para ulama sesuai bidang mereka masing-masing. Yang kami pilih disini adalah defenisi paling masyhur dikalangan ulama aqidah, bahwa sunnah adalah satu petunjuk yang berasal dari Rasulullahصلى الله عليه وسلم  dan ditapaki oleh para sahabatnya, baik ilmu, keyakinan, perkataan, perbuatan dan penetapannya. Sunnah juga bermakna lawan dari bid’ah.[6]

c.     Makna Jama’ah Secara Bahasa

Jama’ah berasal kata jam’u, juga dari kata ijtima’ (perkumpulan/persatuan) yang merupakan lawan kata dari at-tafarruq (perpecahan). Adapun jama’ah adalah jumlah yang banyak dari kalangan manusia, atau pohon atau tumbuhan, atau sekelompok manuisa yang dikumpulkan karena satu tujuan yang sama.[7]

d.     Makna Jama’ah Secara Istilah

Asy-Syaikh Sholeh Ibnu Abdul ‘Aziz Alu Syaikh rahimahullah dalam kitabnya syarhu al-‘aqidah al-washithiyyah menyeutkan beberapa defenisi jama’ah secara istilah. Yaitu:[8]
1-     Al-Jama’ah adalah sawadul a’zhom (kebanyakan kaum muslimin).[9]
2-     Al-Jama’ah adalah Jama’ah para ulama sunnah, atsar dan hadits. Baik mereka adalah ulama yang belajar hadits dan mengajarkannya, atau para ahli fikih yang senantiasa belajar dan mengajarkannya, atau para ahli bahasa yang belajar dan mengajarkannya.
3-     Al-Jama’ah adalah para sahabat Nabi صلى الله عليه وسلم, perkataan ini dinukil dari khalifah Umar Ibnu Abdil ‘Aziz rahimahullah
4-     Al-Jama’ah adalah jama’ah kaum muslimin secara umum. Akan tetapi ini adalah pendapat yang keliru, sebab Rasulullah صلى الله عليه وسلم telah menyebutkan terjadinya perpecahan umat.
5-     Al-Jama’ah adalah sebagian kaum muslimin yang senantiasa berkumpul diatas petunjuk imam al-haq (Rasulullah صلى الله عليه وسلم) mereka beragama sesuai petunjuknya, mendengar dan patuh akan perintahnya dan mereka berbaiat kepadanya dengan bai’at syar’iyyah. Defenisi ini dipilih oleh Ibnu Jarir ath-Thobari rahimahullah dan para ulama lainnya.
Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “al-jama’ah adalah siapa saja yang berada dalam ketaatan, walau engkau hanya seorang diri.”[10]

e.      Sebab Penamaan Ahlu Sunnah Wal-Jama’ah

Dari penjelasan kalimat sunnah dan al-Jama’ah tadi, maka dapat kita katakan bahwasanya ahlu sunnah wal jama’ah adalah orang-orang yang senantiasa berjalan di atas petunjuk Nabi صلى الله عليه وسلم dan para sahabatnya serta orang-orang yang senantiasa mengikuti mereka dalam keyakinan, perkataan dan perbuatan. Mereka berpegang teguh dengan sunnah-sunnahnya, istiqomah dalam ittiba’ terhadapnya. Mereka menjauhi bid’ah di segala tempat dan zaman. Mereka akan senantiasa ada dan tertolong hingga hari kimat kelak. Maka mengikuti mereka adalah petunjuk dan menyelisihi mereka adalah kesesatan.

Adapun sebab penamaan mereka dengan nama ahlu sunnah wal jama’ah, karena mereka senantiasa menisbatkan diri mereka terhadap sunnah Nabi صلى الله عليه وسلم, mereka berpegang teguh terhadapnya dan selalu mengikutinya, yang zhahir maupun yang batin, dalam perkataan, perbuatan dan akidah (keyakinan). Dinamakan pula al-Jama’ah karena mereka senantiasa bersatu di atas kebenaran, tidak berpecah belah dalam beragama, senantiasa bersama mengikuti petuah imam-imam yang mengikuti kebenaran serta tidak berpisah dari mereka. Dan mereka senantiasa mengikuti apa yang telah disepakati oleh salaful ummah (para umat yang saleh terdahulu).[11]

1.2 Nama dan Gelar-Gelar Ahlu Sunnah Wal Jama’ah

Ahlu sunnah wal jama’ah memiliki beberapa nama lain selain nama yang masyhur dikalangan umat ini. ia biasa disebut ahlu sunnah, ahlu al-Jama’ah dan al jama’ah. Nama-nama ini, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, juga pernah di sebutkan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم ketika meyebutkan hadits iftiraq. Beliau bersabda:

ان أهل الكتابين افترقوا في دينهم على ثنتين وسبعين ملة وان هذه الأمة ستفترق على ثلاث وسبعين ملة يعني الأهواء كلها في النار الا واحدة وهي الجماعة

“Sesungguhnya dua ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) telah terpecah belah dalam agama mereka sebanyak tujuh puluh dua golongan. Adapun umat ini, akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Mereka adalah para pengikut hawa nafsu. Semuanya masuk neraka kecuali yaitu al jama’ah.”[12]

Selain nama-nama itu pula, masih ada nama-nama ahlu sunnah wal jama’ah yang lain. Yaitu:

a.      Al-Ghuraba

Nama ini sebagaimana sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم:

بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاء

“Islam datang dalam keadaan asing, lalu akan kembali menjadi asing, maka beruntunglah orang-orang yang asing itu.”[13]

Dalam riwayat imam Ahmad rahimahullah disebutkan:

بدأ الإسلام غريبا ثم يعود غريبا كما بدا فطوبى للغرباء قيل يا رسول الله ومن الغرباء قال الذين يصلحون إذا فسد الناس

“Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing maka beruntunglah orang-orang yang asig itu.” Para sahabat bertanya, “wahai Rasulullah siapakah yang asing itu?” beliau bersabda, “mereka adalah  orang-orang yang senantiasa mengadakan ishlah (perbaikan) ketika orang-orang telah rusak (agama dan akhlaknya-pent).” [14]

Rasulullah صلى الله عليه وسلم juga bersabda:

يأتي على الناس زمان الصابر فيهم على دينه كالقابض على الجمر

“Akan tiba suatu zaman dikalangan manusia, dimana orang-orang yang bersabar untuk berpegang teguh pada agamanya seperti orang-orang yang menggengam bara api.”[15]
b.     Ath-Thoifah al-Manshurah
Pengambilan nama ini juga berdasar pada hadits yang mulia. Diriwayatkan bahwa Rasululah صلى الله عليه وسلم pernah bersabda:
لا تزال طائفة من أمتي منصورين لا يضرهم من خذلهم حتى الساعة
“Akan senantiasa ada kelompok dikalangan umatku yang mendapatkan pertolongan. Tidak akan ada satupun dari kalangan yang menghinakan mereka bisa memberikan mudharat pada mereka hingga datangnya hari kimat.”[16]

c.      As-Salafu Ash-Sholeh

Secara bahasa, kata salaf bermakna at taqaddum (sesuatu yang lampau). Adapun secara istilah, para ulama akidah memutlakkannya pada tiga generasi awal yaitu para sahabat, tabi’in dan atbau at-tabi’in. Semua mereka berada pada zaman yang utama.[17]
Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah yang hidup di zamanku (sahabat), kemudian orang-orang yang hidup setelah mereka (tabi’in), lau orang-orang yang hudup setelah masa mereka lagi (atbau at-tabi’in).”[18]

Sehingga orang-orang yang mengikuti manhaj tiga generasi utama ini disebut salafi atau salafiyyun. Salafi bukanlah kelompok sesat sebagaimana pemahaman masyarakat yang berkambang selama ini. Ia biasa digandengangkan dengan nama wahabi sehingga masyhurlah istilah “salafi wahabi”.

Hakikatnya, istilah “salafi wahabi” adalah istilah yang dilemparkan orang-orang syiah di tengah masyarakat untuk memecah belah kaum muslimin. Akhirnya, kaum muslimin pun terfitnah dengan istilah itu, lalu ikut-ikutan menjelek-jelekkan istilah mulia ini. Wahabi sendiri diambil dari nama seorang ulama yang kembali memurnikan akidah umat ini dari kesyrikan dan penghambaan diri terhadap kuburan. Dia adalah Muhammad Ibnu Abdil Wahhab at-Tamimi rahimahullah.

Salafi bukanlah satu kelompok tertentu yang menamakan kelompok mereka dengan nama salafi namun praktek kehidupan sehari-hari mereka jauh dari manhaj dan akhlak salafu ash-sholeh. Tidak cukup dengan hanya sekedar pengakuan akan nama ini sehingga ia disebut seorang salafi, tapi harus sesuai dalam segala aspek kehidupan mereka, baik akidah, manhaj ataupun akhlak.

Begitu banyak saat ini yang menisbatkan diri mereka dengan istilah salafi, namun sifatnya lebih kejam dari orang-orang khawarij. Begitu banyak hari ini yang mengaku sebagai salafi, namun kebenciannya terhadap saudaranya yang muslim menyamai kebenciannya terhadap kafir bahkan melebihinya.

Sebagian orang juga menganggap bahwa penamaan ini adalah penamaan yang baru dalam agama ini, padahal nama ini sudah disebutkan oleh ulama-ulama sebelumnya.
Adalah al-Hafizh adz-Dzahabi rahimahullah berkata:

وَصَحَّ عَنِ الدَّارَقُطْنِيِّ أَنَّهُ قَالَ:مَا شَيْءٌ أَبغضُ إِلَيَّ مِنْ عِلمِ الكَلاَمِ. قُلْتُ:لَمْ يَدْخلِ الرَّجُلُ أَبداً فِي علمِ الكَلاَمِ وَلاَ الجِدَالِ، وَلاَ خَاضَ فِي ذَلِكَ، بَلْ كَانَ سلفيّاً

“Dan telah benar dari imam ad-Daruquthni rahimahullah, bahwasanya dia berkata, “tidak ada sesuatu yang paling aku benci dari ilmu kalam (filsafat).”  Aku berkata: tidaklah seseorang menjauhi ilmu kalam, meninggalkan perdebatan dan ia tidak mau tenggelam di dalamnya kecuali ia adalah seorang salafi.”[19]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

لَا عَيْبَ عَلَى مَنْ أَظْهَرَ مَذْهَبَ السَّلَفِ وَانْتَسَبَ إلَيْهِ وَاعْتَزَى إلَيْهِ بَلْ يَجِبُ قَبُولُ ذَلِكَ مِنْهُ بِالِاتِّفَاقِ . فَإِنَّ مَذْهَبَ السَّلَفِ لَا يَكُونُ إلَّا حَقًّا

“Bukanlah aib bagi siapa saja yang menampakkan mazhab salaf dan menisbatkan dirinya padanya. Bahkan wajib menerima itu darinya berdasarkan kesepakatan. Karena sesungguhnya mazhab salaf tidaklah ia ada melainkan ia adalah kebenaran.”[20]

Imam Abu Ja’far Ahmad Ibnu Muhammad ath-Thohawi rahimahullah berkata dalam kitabnya Aqidatu ath-Thohawiyyah:

وعلماء السلف من السابقين، ومن بعدهم من التابعين -أهل الخير والأثر، وأهل الفقه والنظر- لا يذكرون إلا بالجميل، ومن ذكرهم بسوء فهو على غير السبيل.

“Dan para ulama salaf dari para pendahulu dan orang-orang setelah mereka dari kalangan tabi’in –para ahli al-khair dan ahlu al-atsar serta ahli fiqih- tidaklah mereka disebut kecuali dengan keindahan. Dan jika ada yang menyebut mereka dengan keburukan, maka dia tidak berada pada jalan ini (jalan yang benar-pent).”[21]

d.     Al-Firqatu an-Najiyah

Al-Firqatu an-najiyah bermakna kelompok yang selamat. Penamaan ini juga bersumber pada hadits Nabi صلى الله عليه وسلم pada hadits iftiraq. Beliau bersabda:

ان أهل الكتابين افترقوا في دينهم على ثنتين وسبعين ملة وان هذه الأمة ستفترق على ثلاث وسبعين ملة يعني الأهواء كلها في النار الا واحدة وهي الجماعة

“Sesungguhnya dua ahli kitab (Yahudi dan Nashrani) telah terpecah belah dalam agama mereka sebanyak tujuh puluh dua golongan. Adapun umat ini, akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Mereka adalah para pengikut hawa nafsu. Semuanya masuk neraka kecuali yaitu al jama’ah.”[22]

Pada hadits tersebut, Rasulullah صلى الله عليه وسلم menyebutkan tujuh puluh dua kelompok dalam islam yang akan masuk neraka. Satu saja dari kelompok itu yang akan selamat dari keburukan bid’ah, kesesatan dan siksa api neraka. Inilah wajah pendalilan sehingga ia (ahlu sunnah wal jama’ah) disebut al-firqatu an-najiyah (kelompok yang selamat)

e.      Ahlu al-Atsar

Mereka disebut juga ahlu al-atsar karena mereka senantiasa mengambil dan mengikuti atsar yang ditinggalkan, yaitu sunnah-sunnah Nabi صلى الله عليه وسلم dan apa yang datang dari para sahabat-sahabat Nabi صلى الله عليه وسلم.

f.        Ahlu al-Hadits

Ahlu sunnah wal jama’ah disebut juga ahlu al-hadits karena mereka senantiasa mengambil hadits-hadits Nabi صلى الله عليه وسلم secara periwayatan dan dirayah. Mereka mengikutinya tanpa mempertanyakan maksud dan tujuan dari hadits tersebut, karena mereka yakin bahwasanya semua perintah dan larangan yang datang dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم adalah kebaikan.

g.      Ahlu al-Ittiba’

Mereka disebut juga ahlu al-ittiba’ karena mereka senantiasa mengikuti apa yang datang dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan tidak beribadah kecuali sesuai yang dicontohkan oleh Rasulullah.




[1] Al-Mu’jam al-wasith: 1/456 (al-Maktabah asy-syamilah)
[2] HR. Bukhari, No: 3456; Muslim, No:  6952 (al-Maktabah asy-syamilah)
[3] HR. Muslim, No: 2397; Ahmad, No: 19179 (al-Maktabah asy-syamilah)
[4] Lisan al-Arab: 13/220 (al-Maktabah asy-syamilah)
[5] An-Nihayatu fi gharibi al-atsar 2/1022 (al-maktabah asy-syamilah)
[6] Al-Wajiz Fi ‘Aqidati as-Salafi ash-Sholih: 23
[7] Al-Mu’jamu al-Wasith: 1/135 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[8] Syarah al-‘Aqidah al-Washithiyyah: 23 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[9] Kebanyakan kaum muslimin maksudnya yang terjadi di zaman sahabat Nabi صلى الله عليه وسلم, karena mereka hidup di atas tuntunan Nabi صلى الله عليه وسلم. Adapun jika dimaksudkan dengan kebanyakan kaum muslimin hari ini, maka hal tersebut adalah satu kekeliruan. Sebab kaum muslimin hari ini banyak yang berpaling dari tuntunan dan petunjuk Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Allah berfirman:
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الأرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلا يَخْرُصُونَ
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta terhadap Allah.” (QS. Al-An’am:116)


[10] Syarah Ushul Ahli Sunnah Wal-Jama’ah: 1/109 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[11] Diraasaatu Fi Manhaji Ahli as-Sunnah wal-Jama’ah yang dikumpulkan oleh guru kami fadhilatul ustadz Muhammad Yusran Anshar hafizhahullah: 4
[12] HR. Ahmad: 16979 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[13] HR. Muslim: 389 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[14] HR. Ahmad: 16736 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[15] HR. Tirmidzi: 2260. Di shahihkan oleh syaikh al-Albani rahimahullah (al-Maktabah asy-Syamilah)
[16] HR. Tirmidzi: 2196, di shahihkan oleh syaikh al-Albani rahimahullah. (al-Maktabah asy-Syamilah)
[17] Diraasaatu Fi Manhaji Ahli as-Sunnah wal Jama’ah: 7
[18] HR. Bukhari: 2652, 3651, 6429. HR Muslim: 6635 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[19] Siyar A’lam an-Nubala: 40/32 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[20] Majmu’ Fatawa: 4/149 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[21] Matnu al-Aqidatu ath-Thohawiyyah: 202 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[22] HR. Ahmad: 16979 (al-Maktabah asy-Syamilah)

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar