Minggu, 15 Maret 2015

Mengenal dan Memahami Manhaj Ahlu Sunnah Wal Jama’ah 02 (Dalil-Dalil Wajibnya Berpegang Teguh Pada Manhaj Salaf Ahlu Sunnah Wal Jama’ah)




1.1Dalil-Dalil Wajibnya Berpegang Teguh Pada Manhaj Salaf Ahlu Sunnah Wal Jama’ah

a.      Dalil Qur’an

1.      Firman Allah ta’ala pada surah Ali Imran:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”[1]

Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan dari Abdullah Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

“Makna firman Allah (Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar) mereka adalah sahabat-sahabat Nabi صلى الله عليه وسلم yang hijrah bersama Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم ke kota Madinah.”[2]

Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

“Yang benar adalah bahwa ayat ini menunjukkan keumuman pada seluruh umat, pada setiap generasi. Sebaik-baik generasi itu adalah generasi yang padanya diutus Rasulullah صلى الله عليه وسلم kemudian generasi setelah mereka, kemudian generasi setelah mereka. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah yang lain (dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu umat Islam, umat yang wasath)”[3] yaitu sebagai yang terbaik.”[4]

Lalu setelah beliau menyebutkan hadits-hadits yang menunjukkan pendalilannya akan pendapat yang ia yakini, beliau berkata:

فمن اتصف من هذه الأمة بهذه الصفات دخل معهم في هذا الثناء عليهم والمدح لهم

“Maka barangsiapa dari umat ini bersifat dengan sifat-sifat ini (sifat umat terbaik/salaf-pent), maka ia termasuk dalam pujian Allah (dalam ayat tersebut).”[5]

2.     Firman Allah Ta’ala dalam surah an-Nisa:

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan Barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalannya orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.”

Syaikhul Islam Ahmad Ibnu Taimiyyah al-Harrani rahimahullah berkata:

“Dan Allah mempersaksikan para sahabat Nabi صلى الله عليه وسلم serta orang-orang yang mengikuti mereka berupa kebaikan dalam keimanannya. Maka diketahui secara pasti bahwa merekalah yang dimaksudkan dalam ayat yang mulia ini. Allah berfirman: “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.”[6] Allah juga berfirman: “Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, Maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi Balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat.”[7]dan Allah telah menetapkan bahwa siapa saja yang mengambil jalan selain jalan mereka, maka Allah akan berpaling dari mereka dan akan dimasukkan kedalam neraka jahannam.”[8]

3.      Firman Allah dalam surah al-An’am:

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.”[9]
Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata dalam tafsirnya tentang ayat ini:

وهذه السبل تعم اليهودية والنصرانية والمجوسية وسائر أهل الملل وأهل البدع والضلالات من أهل الأهواء والشذوذ في الفروع، وغير ذلك من أهل التعمق في الجدل والخوض في الكلام. هذه كلها عرضة للزلل، ومظنة لسوء المعتقد

“Dan jalan-jalan ini secara umum adalah jalan orang-orang yahudi, nashrani, majusi, millah-millah (agama) yang lain, ahli bid’ah dan pengikut kesesatan yang merupakan pengagung hawa nafsu yang selalu neyeleneh, serta selain mereka dari kalanagn orang-orang yang gemar berdebat dan tenggelam dalam ilmu kalam (filsafat). Semua ini adalah jalan yang menyebabkan ketergeliniciran dan merupakan tempat asal buruknya I’tiqad/keyakinan.”[10]

Beliau kemdian melanjutkan perkataanya:

وقال مجاهد في قوله:" وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ" قال: البدع. قال ابن شهاب: وهذا كقوله تعالى:" إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكانُوا شِيَعاً. فالهرب الهرب، والنجاة النجاة! والتمسك بالطريق المستقيم والسنن القويم، الذي سلكه السلف الصالح

“Mujahid berkata ketika menafsirkan firman Allah (dan jangan ikuti jalan-jalan lain) maksudnya adalah bid’ah. Ibnu Syihab rahimahullah berkata: “hal ini sebagaimana firman Allah (sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi berberkelompok-kelompok) maka hindarilah dan cari keselamatan. Berpegang teguhlah pada jalan yang lurus yang ditempuh oleh salafu ash-sholeh.”[11]

b.     Dalil Sunnah

1.      Hadits larangan mengambil jalan selain jalan yang ditujukkan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم .

عن عبد الله قال : خط رسول الله صلى الله عليه و سلم خطا بيده ثم قال هذا سبيل الله مستقيما قال ثم خط عن يمينه وشماله ثم قال هذه السبل ليس منها سبيل إلا عليه شيطان يدعو إليه ثم قرأ { وان هذا صراطي مستقيما فاتبعوه ولا تتبعوا السبل }

“Dari Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah membuat satu garis lurus dengan tangannya lalu ia bersabda: “ini adalah jalan Allah yang lurus .” Lalu beliau kembali membuat garis di kanan dan kiri dari garis tersebut, kemudian ia bersabda: “ini adalah jalan-jalan, tidaklah pada setiap jalan ini kecuali ada syaithan yang senantiasa menyeru kepadanya.” Lalu beliau membaca firman Allah: “dan inilah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan lain.”[12]

2.      Hadits ‘Irbadh Ibnu Sariyah radhiyallahu ‘anhu tentang nasehat perpisahan.

فَقَالَ الْعِرْبَاضُ صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ذَاتَ يَوْمٍ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا فَوَعَظَنَا مَوْعِظَةً بَلِيغَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا فَقَالَ : أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Irbadh Ibnu Sariyah radhiyallahu ‘anhu berkata:  Suatu hari Rasulullah  صلى الله عليه وسلم pernah memimpin kami shalat, lalu (setelah selesai shalat) beliau menghadap kepada kami dan menasehati kami. Nasehat itu begitu menyentuh, membuat air mata kami berduyur jatuh, menangis. Dan nasehat itu begitu menggetarkan hati-hati kami. Maka salah seorang sahabat bertanya, “wahai Rasulullah صلى الله عليه وسلم nampaknya ini adalah nasehat perpisahan, maka apakah yang engkau wasiatkan untuk kami?” maka beliau صلى الله عليه وسلم bersabda: “Aku wasiatkan kepada kalian untuk senantiasa bertaqwa kepada Allah, mendengar dan taat walaupun kalian dipimpin oleh seorang budak dari habasyah (ethopia), karena sesungguhnya siapa saja yang hidup setelah aku meninggal nanti, maka dia akan melihat perselisihan yang sangat banyak. Maka hendaklah kalian berpegang pada sunnah-sunnahku dan sunnah-sunnah para khalifah yang mendapatkan petunjuk dan terbimbing. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah segala perkara-perkara baru dalam agama karena setiap yang baru dalam agama ini adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat.”[13]

3.      Hadits Perpecahan Umat

عن عبد الله بن عمرو قال : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ليأتين على أمتي ما أتى على بني إسرائيل حذو النعل بالنعل حتى إن كان منهم من أتى أمه علانية لكان في أمتي من يصنع ذلك وإن بني إسرائيل تفرقت على ثنتين وسبعين ملة وتفترق أمتي على ثلاث وسبعين ملة كلهم في النار إلا ملة واحدة قالوا ومن هي يا رسول الله قال ما أنا عليه وأصحاب

“Dari Abdullah Ibnu Amr dia berkata, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Sungguh akan datang suatu masa pada umatku sebagaimana telah terjadi pada kalangan Bani Israil persamaannya seperti sepasang sendal[14] sampai-sampai walau dikalangan Bani Israil itu ada yang menggauli/berzina dengan ibunya, maka sungguh pada umatku akan ada yang melakukan hal itu. Sesungguhnya Bani Israil terpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan dan umatku akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya masuk neraka kecuali satu.” Mereka (para sahabat) bertanya, “siapakah mereka wahai Rasulullah صلى الله عليه وسلم? Beliau bersabda: “siapa yang berada di jalanku dan jalan para sahabatku.”[15]

Abu al-A’la Muhammad Ibnu Abdi ar-Rahman Ibnu Abdi ar-Rahim al-Mubarakfuri rahimahullah dalam kitabnya tuhfatu al-ahwadzi bisyarhi jami’ at-tirmidzi, berkata:

وَاعْلَمْ : أَنَّ أُصُولَ الْبِدَعِ كَمَا نُقِلَ فِي الْمَوَاقِفِ ثَمَانِيَةٌ : الْمُعْتَزِلَةُ الْقَائِلُونَ بِأَنَّ الْعِبَادَ خَالِقُو أَعْمَالِهِمْ وَبِنَفْيِ الرُّؤْيَةِ وَبِوُجُوبِ الثَّوَابِ وَالْعِقَابِ وَهُمْ عِشْرُونَ فِرْقَةً . وَالشِّيعَةُ الْمُفْرِطُونَ فِي مَحَبَّةِ عَلِيٍّ كَرَّمَ اللَّهُ وَجْهَهُ وَهُمْ اِثْنَانِ وَعِشْرُونَ فِرْقَةً ، وَالْخَوَارِجُ الْمُفْرِطَةُ الْمُكَفِّرَةُ لَهُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَمَنْ أَذْنَبَ كَبِيرَةً وَهُمْ عِشْرُونَ فِرْقَةً ، وَالْمُرْجِئَةُ الْقَائِلَةُ بِأَنَّهُ لَا يَضُرُّ مَعَ الْإِيمَانِ مَعْصِيَةٌ كَمَا لَا يَنْفَعُ مَعَ الْكُفْرِ طَاعَةٌ وَهِيَ خَمْسُ فِرَقٍ ، وَالنَّجَّارِيَّةُ الْمُوَافِقَةُ لِأَهْلِ السُّنَّةِ فِي خَلْقِ الْأَفْعَالِ وَالْمُعْتَزِلَةِ فِي نَفْيِ الصِّفَاتِ وَحُدُوثِ الْكَلَامِ وَهُمْ ثَلَاثُ فِرَقٍ ، وَالْجَبْرِيَّةُ الْقَائِلَةُ بِسَلْبِ الِاخْتِيَارِ عَنْ الْعِبَادِ فِرْقَةً وَاحِدَةً ، وَالْمُشَبِّهَةُ الَّذِينَ يُشَبِّهُونَ الْحَقَّ بِالْخَلْقِ فِي الْجِسْمِيَّةِ وَالْحُلُولِ فِرْقَةً أَيْضًا ، فَتِلْكَ اِثْنَتَانِ وَسَبْعُونَ فِرْقَةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ ، وَالْفِرْقَةُ النَّاجِيَةُ هُمْ أَهْلُ السُّنَّةِ الْبَيْضَاءِ الْمُحَمَّدِيَّةِ وَالطَّرِيقَةُ النَّقِيَّةُ الْأَحْمَدِيَّةُ

“Ketahuilah, sesungguhnya dasar ahli bid’ah ada delapan, sebagaimana dinukil dalam al-muwafiq: (1) al-Mu’tazilah yaitu orang-orang yang mengatakan bahwa setiap hamba amalan-amalannya adalah makhluk dengan menafikan pahala dan juga hukuman pelaku dosa. Mereka berjumlah dua puluh golongan. (2) Syiah yaitu orang-orang yang berlebih-lebihan dalam mencintai Ali –semoga Allah memuliakannya- mereka terbagi menjadi dua puluh dua golongan. (3) Khwarij yaitu orang-orang yang berlebih-lebihan dan mengkafirkan pelaku dosa besar, mereka berjumlah dua puluh kelompok. (4) al-Murjiah yaitu orang-orang yang mengatakan bahwa maksiat tidak mempengaruhi keimanan seseorang, sebagaimana ketaatan tidak akan bermanfaat pada kekufuran, mereka berjumlah lima kelompok. (5) an-Najariyyah yaitu kelompok yang sepakat dengan ahlu sunnah dalam masalah perbuatan manusia dan serupa dengan mu’tazilah dalam menafikan sifat dan mereka terbagi menjadi tiga kelompok. (6) al-Jabariyyah yaitu kelompok yang berkeyakinan bahwa amalan itu semua pilihan manusia tanpa campur tangan Allah, mereka satu kelompok. (7) al-Musyabbihah yaitu kelompok yang menyerupakan Allah dengan makhluknya, mereka satu kelompok juga. Semua kelompok yang telah disebutkan berjumlah tujuh puluh dua masuk neraka. (8) al-Firqatu an-Najiyah (kelompok yang selamat) yaitu ahlu sunnah yang putih mereka terpuji, jalan yang suci dan murni.” [16]

c.      Atsar Para Salaf

1.      Muadz Ibnu Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata:

أيها الناس عليكم بالعلم قبل أن يرفع إلا وإن رفعه ذهاب أهليه وإياكم والبدع والتبدع والتنطع وعليكم بأمركم العتيق

“Wahai sekalian manusia, hendaknya kalian menuntut ilmu sebelum ilmu itu diangkat. Karena sesungguhnya dengan terangkatnya ia, maka pemiliknya (para ulama) akan pergi. Dan jauhilah perbuatan bid’ah dan berlebih-lebihan dalam agama. Berpegang teguhlah pada perkara kalian (sunnah) yang ‘atiq (yang datang dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم).”[17]

2.      Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

مَنْ كان مُسْتنّا فَلْيَسْتن بمَنْ قَدْ مَاتَ أولئكَ أَصْحابُ مُحمد - صلى الله عليه وسلم - كانوا خَيرَ هذه الأمَّة، وأَبَرها قُلوبا، وأَعْمقَها عِلْما، وأَقَلّها تَكلفا ، قَوم اخْتارَهُمُ اللهُ لِصُحْبَة نَبيه - صلى الله عليه وسلم - ونَقلِ دينه فَتَشبَّهوا بأَخْلاقِهِم وطَرائِقِهم؛ فَهُمْ كانوا عَلَى الهَدْي المُستقِيم

“Barangsiapa ingin mengikuti sunnah, meka hendaknya ia mengikuti sunnah-sunnah orang-orang yang telah meninggal dunia. Mereka adalah sahabat-sahabat Nabi صلى الله عليه وسلم. Mereka adalah umat terbaik pada umat ini, paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit berbuat kesalahan. Mereka adalah kaum yang dipilih oleh Allah azza wajalla untuk menemani Nabi-Nya dan menyampaikan agama-Nya. Maka serupakanlah diri kalian dengan akhlak-akhlak mereka dan jalan-jalan mereka. Karena sesungguhnya mereka berada dalam shirath al-mustaqim (jalan yang lurus).”[18]

3.      Al-Imam al-Auza’i rahimahullah berkata:

عليك بآثار من سلف وإن رفضك الناس، وإياك وآراء الرجال وإن زخرفوه لك بالقول

“Berpegang teguhlah pada astar para salaf, walau manusia tidak menerimamu. Dan jauhilah pendapat-pendapat manusia walau mereka menghisinya dengan perkataan-perkataan mereka.”[19]
4.      Imam ahlu sunnah Ahmad Ibnu Hambal rahimahullah berkata:

أصول السنة عندنا التمسك بما كان عليه أصحاب رسول الله - صلى الله عليه وسلم - والإقتداء بهم وترك البدع وكل بدعة فهي ضلالة

“Prinsip ahlu sunnah bagi kami adalah berpegang teguh dengan sunnah para sahabat Rasulullahصلى الله عليه وسلم dan mengikuti mereka serta menjauhi bid’ah karena semua bid’ah adalah sesat.” [20]

5.      Imam Malik rahimahullah berkata:

لن يصلح آخر هذه الأمة إلا بما صلح به أولها

“Tidak akan pernah baik orang-orang terakhir umat ini kecuali dengan mengikuti kebaikan pendahulunya.”[21]


[1] . QS. Ali Imran: 110
[2] . HR. Ahmad: 2463. Syuaib al-Arnauth menghasankan sanadnya. (al-Maktabah asy-Syamilah)
[3] . QS. Al-Baqarah: 143
[4] . Tafsir Ibnu Katsir: 2/94 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[5] . Ibid
[6] . QS. At-Taubah: 100
[7] . QS. Al-Fath: 18
[8]. Majmu’ al-Fatawa: 4/2 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[9] . QS. Al-An’am: 153
[10] . Tafsir al-Qurthubi: 7/138 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[11] . Tafsir al-Qurthubi: 7/138 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[12] . HR. Ahmad: 4437 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[13] . HR. Abu Dawud: 4609, HR. Ahmad: 17185 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[14] . Hal ini merupakan kondisi dimana kaum muslimin selalu mengikut-ngikuti gaya hidup orang-orang yahudi dan nashrani, Rasulullah صلى الله عليه وسلم mempermisalkan mereka dengan sepasang sandal karena begitu mirip kelakuannya.
[15] . HR. Tirmidzi: 2641 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[16] . Tuhfatu al-Ahwadzi Bisyarhi Jami’ at-Tarmidzi: 6/440 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[17] . Al-Bida’u Wa an-Nahyu ‘Anha: 33 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[18] . Syarhu as-Sunnah karya al-Baghawi: 1/214 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[19] . Syarah Lum’atu al-I’tiqad karya Khalid Ibnu Abdillah Ibnu Muhammad al-Mushlih: 2/16 (al-Maktabah asy-Syamilah)
[20] . Syarh Ushul I’tiqad Ahlu Sunnah Wal Jama’ah: 1/156 (al-maktabah asy-syamilah)
[21] . Syarah Sunan Abi Dawud Karya Syaikh Abdul Muhsi al-Abbad: 2/433 (al-Maktabah asy-Syamilah) 

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar