Senin, 30 Maret 2015

Sabda Rasulullah: "Manusia Tidak Masuk Surga Dengan Amalannya." Lalu Buat Apa Beramal??



Sesungguhnya segala sesuatu yang berhubungan dengan agama islam ini sangat jelas dan terang benderang. Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meninggalkan umatnya kecuali di atas sesuatu yang sangat terang benderang. Ibarat malamnya bagaikan siang dengan cahaya ilmu dan keyakinan.


Menjadi pertanyaan sebagian orang tatkala mereka membaca sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ قَالُوا ، وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ : لاَ ، وَلاَ أَنَا إِلاَّ أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ

“Tidak seorangpun akan dimasukkan surga dengan amalannya.” Para sahabat bertanya, “Apakah hal ini berlaku juga bagimu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Bahkan diriku pun seperti itu. Kecuali Allah melimpahkan fadhilah (keutamaan) dan rahmat-Nya (kasih sayang-Nya) kepadaku.” (HR: Bukhari dan Muslim)

Ada saja segelintir manusia yang menjadikan hadits
ini sebagai dalil baginya untuk bermalas-malasan dalam beramal shaleh, berlaku maksiat dan bermudah-mudahan dalam agama ini. dengan dalil Allah tidak memasukkan surga dengan amalannya?

Muncul pula orang-orang yang beranggapan bahwa dalam agama ini ada hal-hal yang kontradiksi (bertolak belakang). Sebab di dalam al-Qur’an Allah banyak menjelaskan bahwa Allah menghadiahkan surga begi orang-orang yang beriman dan beramal shaleh.

Allah berfirman:

وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan Itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan.” QS. Az-Zukhruf: 72

Allah azza wajalla juga berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahal: 97)

Lalu bagaimana memahami konteks nash yang seolah kontradiksi ini??

Pertama: yang perlu di ketahui adalah bahwa bahasa arab memiliki ragam kosa kata yang sangat banyak dan memiliki arti yang sangat luas. Sehingga untuk memahami ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hendaknya memahami bahasa ini dengan sempurna. Sebab al-Qur’an dan hadits keluar dari Misykah yang sama yaitu wahyu ilahi, sehingga keduanya tidak akan pernah terjadi kontradiksi.

Kedua: bahwa sesungguhnya yang mengalami kontradiksi adalah pemahaman manusia yang kurang memahami ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebab mereka tidak memahami maksud dari keduanya.

Ketiga: Bahwa sekelompok manusia yang menjadikan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai dalil bagi mereka untuk tidak melakukan amalan adalah pemahaman yang batil. Tidak satupun dari kalangan sahabat memahaminya sebagaimana pemahaman mereka ini. sungguh indah apa yang dikatakan oleh al-Hasan al-Bashri rahimahullah:

إن قوما ألهتهم أماني المغفرة حتى خرجوا من الدنيا وليست لهم حسنة  يقول إني أحسن الظن بربي كذب ولو أحسن الظن بربه لأحسن العمل

“Sesungguhnya ada satu kaum yang terpedaya oleh angan-angan berupa ampunan dari Allah hingga tatkala mereka berlalu dari dunia ini mereka tidak melakukan satu amalan apapun. Ia berkata, “Aku berbaik sangka pada Tuhanku.” Sungguh ia telah berdusta. Jika seandainya ia berbaik sangka kepada Allah niscaya ia akan memperbaiki amalannya.” (al-Wajlu wa at-Tautsiq Bi al-Amal karya Ibnu Abi ad-Dunya: 28 Maktabah Syamilah)

Keempat:  Sesungguhnya segala sesuatu di dunia dan di akhirat ini memiliki sebab. Dan penyebab seseorang bisa masuk ke dalam surga adalah dengan melakukan amalan-amalan yang shaleh. Oleh karena itu Allah azza wajalla menegaskannya dalam firman-Nya yang tertuang dalam ayat-ayat al-Qur’an yang telah disebutkan di atas, yaitu bahwa manusia bisa masuk surga disebabkan amalan-amalan mereka.

Kelima: Untuk memhami ayat dan hadits ini harus memhami shighah kalimatnya. Huruf “Ba” (ب) dalam ayat-ayat di atas adalah huruf “Ba” as-Sababiyyah. Maksudnya semua orang dapat masuk surga di sebabkan amalan-amalan mereka. Adapn huruf  “Ba” (ب) dalam hadits itu adalah “Ba” al-Iwadh (pengganti). Maskudnya sebesar dan sebanyak apapun seseorang melakukan amalan, amalan itu tidak akan dapat  menyamai harga dan nilai tukar akan ketinggian kemuliaan surga. sehingga amalan yang dilakukan oleh manusia tidak akan bisa menyamai harga surga itu. Misalnya, seseorang ingin membeli rumah yang sangat mewah dengan harga 20 miliyar rupiah. Maka nilai rumah sebanding dengan harga uangnya. Adapun surga tidak sebanding dengan amalan manusia. Sehingga seberapapun manusia melakukan amalan tetap saja nilai dari amalan itu tidak bisa menyamai harga surga.  Adapun maksud dari perintah untuk melakukan amalan-amalan shaleh karena dengannya seseorang akan mendapatkan fadhl (keutamaan) dan rahmat (kasih sayang) dari Allah sebab itulah penyebab seseorang mendapat rahmat yang menjadikannya masuk kedalam surga. Keberadaan surga yang bertingkat-tingkat akan di huni oleh setiap orang yang berbeda-beda tingkat amalannya. Sehingga jelas tidak ada kontradiksi antara kedua nash tersebut (ayat maupun hadits). (lebih jelasnya, lihat penjelasannya pada kitab Syarah al-Aqidah ath-Thahwiyyah karya al-Imam Ibnu Abi al-Izz ad-Dimasyqi: 665 cetakan Dar ar-Risalah al-Alamiyyah).

Keenam: Penjelesan pada point nomor lima di atas lebih dipertegas lagi pada lanjutan hadits tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إلا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا ، وَلاَ يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمُ الْمَوْتَ إِمَّا مُحْسِنًا فَلَعَلَّهُ أَنْ يَزْدَادَ خَيْرًا وَإِمَّا مُسِيئًا فَلَعَلَّهُ أَنْ يَسْتَعْتِبَ.

“Kecuali jika Allah melimpahkan keutamaan dan rahmat-Nya kepadaku. Dan Janganlah sekali-kali salah seorang diantara kalian berharap kematian. Jika seandainya dia adalah orang yang selalu berbuat baik, semoga Allah mengaruniakannya untuk menambah kebaikannya dan jika ia adalah seorang yang buruk semoga Allah menganugrahkannya untuk bertaubat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa memang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan kita untuk melakukan amalan yang shaleh.

Ketujuh: Jika kita sudah memahami maksud dari point nomor lima dan nomor enam di atas, maka akan dengan sendirinya terjawab bahwa orang yang mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak dijamin masuk surga adalah pemahaman yang batil dan pemahaman yang sesat.


Wallahu a’lam bishshowab. 

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar