Kamis, 19 Maret 2015

Shalat Meminta Hajat dan Shalat Taubat, Adakah dalam Islam?



Pertanyaan:

Apakah hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad rahimahullah  tentang bolehnya shalat hajat merupakan hadits yang shahih?

Jawaban:

Benar, Imam Ahmad rahimahullah dan selain dirinya telah meriwayatkan hadits seperti itu dengan sanad yang shahih.  Sanadnya dari Ali radhiyallahu ‘anhu dari Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

من أذنب ذنبا ثم تاب ثم تطهر وصلى ركعتين فتاب إلى الله من ذلك الذنوب تاب الله عليه

“Siapa saja yang melakukan satu dosa kemudian ia bertaubat lalu menyucikan dirinya dan shalat dua raka’at untuk bertaubat kepada Allah atas dosa yang ia lakukan itu, maka Allah azza wajalla akan mengampuninya dari dosa itu.” (HR. Ahmad dalam musnad al-Asyara al-Mubasysyiriina bi al-Jannah, Musnad Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu nomor: 46)

Atau sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini benar, telah tsabit dan merupakan diantara sebab-sebab yang telah ma’ruf.  Apabila seseorang melakukan satu dosa yang dibenci oleh Allah hendaknya ia bersuci dan melakukan shalat dua raka’at untuk melakukan shalat taubat., kemudian memohon kepada Allah azza wajalla dan beristighfar. Dengan itu, maka ia pantas mendapatkan taubat dari Allah sebagaimana yang telah Allah janjikan.

Adapun mengenai hadits shalat istikharah, ia biasa dikenal dengan shalat hajat. Yaitu ketika seseorang meminta pilihan pada hajat-hajat yang sangat dibutuhkan. Maka disyariatkan baginya untuk shalat dua raka’at dan meminta pilihan kepada Allah akan perkara yang ia alami.


Sumber: ad-Durar ats-Tsariyyah Min Fatawa al-Baziyah Li Samahati asy-Syaikh Abdul Aziz Ibnu Abdillah Ibu Baz rahimahullah halaman: 420

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar