Minggu, 29 Maret 2015

Bantahan Syubhat Qadariyyah : Allah Tidak Mengetahui Peristiwa Kecuali Setelah Terjadinya Peristiwa


Tentu saja semua orang meyakini keilmuan Allah yang Maha Luas. Kebesaran dan Kemahakuasaan-Nya menjadikan-Nya sebagai Rabb satu-satunya yang patut dan berhak untuk disembah.

Diantara akidah Ahlussunnah Waljama’ah yang membedakan dengan pemahaman firqah-firqah yang lain adalah mereka selamat dalam memposisikan nama-nama Allah yang husna (paling baik) dan sifat-sifat Allah yang Agung.

Namun, terkadang dalam memahami nama-nama dan sifat-sifat itu, muncul beberapa syubhat (keragu-raguan) atau pertanyaan-pertanyaan oleh sebagian orang. Misalnya,  benarkah Allah Maha Mengetahhui segalanya? Benarkah Allah mengetahui apa yang telah terjadi, sedang terjadi dan akan terjadi? Atau Allah tidak mengetahui sesuatu kecuali setelah terjadinya suatu peristiwa?

Ada satu firqah (kelompok) yang berkeyakinan bahwa Allah azza wajalla tidak mengetahui satu  peristiwa atau perkara kecuali setelah terjadinya peristiwa atau perkara tersebut. Mereka adalah kelompok Qadariyyah.

Diantara dalil-dalil mereka adalah firman Allah subhanahu wata’ala:

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imran: 142)

Juga Firman Allah ta’ala:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ

“Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.” (QS. Muhammad: 31)

Atau ayat-ayat lain yang semisal dengan dua ayat di atas. Kedua ayat ini, atau ayat-ayat yang serupa dengannya seolah-olah menyebutkan bahwa Allah azza wajalla tidak mengetahui sesuatu kecuali setelah terjadinya peristiwa itu. Inilah yang menjadi dalil bagi mereka bahwa Allah tidak mengetahui satu peristiwa kecuali setelah terjadinya peristiwa tersebut.

Namun, benarkah demikian?

Hal yang juga membedakan Ahlussunnah Waljama’ah dengan kelomok lain adalah mereka senantiasa membangun keyakinan mereka dengan dalil yang hikmah. Tidak mengambil satu dalil/ayat lalu kemudian menafikan dalil-dalil lainnya.

Untuk mengetahui bagaimana seharusnya kita memahami dua ayat di atas atau ayat-ayat yang semisal dengannya, hendaknya kita membaca buku-buku ulama-ulama Ahlussunnah Waljama’ah agar tidak salah dalam memahaminya. 

Syaikh Muhammad Ibnu al-Utsamin rahimahullah menjawab syubhat ini dengan dua sisi.

PertamaBahwa pengetahuan Allah setelah terjadinya suatu peristiwa bukanlah pengetahuan Allah sebelum terjadinya suatu peristiwa. Karena pengetahuan Allah sebelum terjadinya suatu peristiwa adalah pengetahuan bahwa peristiwa itu pasti akan terjadi dan pengetahun setelah terjadinya peristiwa adalah pengetahuan yang telah terjadi. Misalnya adalah ketika Allah menginginkan segala sesuatu akan terjadi pada masa yang akan datang yang tidak ada ujungnya. Allah yang menghendaki itu, dan kita tidak meragukan hal tersebut. Akan tetapi kehendak itu menyertai ketika peristiwa itu terjadi. Allah berfirman:

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" Maka terjadilah ia.” (QS. Yasin: 82)

Dari sini kita mengetahui bahwa kehendak Allah itu ada dua. Kehendak yang dahulu dan kehendak yang menyertai terjadinya suatu peristiwa. Apabila Allah menghendaki untuk menciptakan sesuatu berarti Allah menghendaki penciptaan itu. Akan tetapi kehendak ketika Dia akan menciptakannya di kemudian hari bukanlah kehendak yang meyertai peristiwa itu terjadi. Hal ini sama dengan ilmu Allah.

Kedua: Kata-Kata Hatta Na’lama (hingga Kami mengetahuinya) sebagaimana di sebutkan dalam surah Muhammad ayat 31 adalah pengetahuan yang dengannya seseorang dapat diberikan pahala dari perbuatannya atau ia mendapatkan siksa dan azab dari apa yang ia lakukan. Karena pengetahuan Allah sebelum terjadinya suatu peristiwa tidak menjadikan seseorang akan di berikan pahala atau seseorang dengannya mendapatkan azab. Sebab pahala dan azab diberikan kepada manusia setelah melalui ujian. (Lihat: Syarah al- Arbain an-Nawawiyyah Karya Syaikh Muhammad Ibnu Shaleh al-Utsaimin rahimahullah: 65)

Jawaban syaikh al-Ustaimin rahimahullah sangat tepat. Hal ini di tunjukan juga oleh firman Allah azza wajalla:

وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنْتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلامُ الْغُيُوبِ (١١٦) مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ (١١٧)

“Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Tuhan selain Allah?". Isa menjawab: "Maha suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha mengetahui perkara yang ghaib-ghaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu", dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan Aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. dan Engkau adalah Maha menyaksikan atas segala sesuatu.” (QS. Al-Maidah: 116-117)

Ayat ini mempertegas jawaban syaikh al-Utsaimin rahimahullah di atas. Yaitu ketika Allah azza wajalla bertanya kepada Isa Ibnu Maryam alaihissalaam, tidak terbetik dalam diri Nabi Isa sama sekali bahwa Allah tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Justru beliau mengatakan

Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha mengetahui perkara yang ghaib-ghaib.”

Oleh karena itu, ada satu kaidah yang di nukil oleh al-Imam Ali Ibnu Ali Ibnu Muhammad Ibnu Abi al-Izz rahimahullah dalam kitabnya Syarah al-Aqidah ath-Thahawiyyah satu perkataan dari al-Imam Abu Hanifah rahimahullah, beliau berkata:

لا يشبه شيئا من خلقه ولا يشبهه شيئ من خلقه – ثم قال بعد ذلك- وصفاته كلها خلاف صفات المخلوقين يعلم لا كعلمنا يقدر لا كقدرتنا يرى لا كرؤيتنا

“Dia (Allah) tidak serupa dengan makhluk-Nya dan makhluk-Nya tidak ada satupun yang serupa dengan-Nya –kemudian ia berkata setelah itu-  dan sifat-sifat-Nya semua berbeda dengan sifat-sifat seluruh makhluk. Dia mengetahui sesuatu tidak seperti pengetahuan kita. Dia mampu melakukan segala sesuatu tidak seperti kemampuan kita dan Dia melihat tidak seperti penglihatan kita.” (Lihat Syarah al-Aqidah ath-Thahawiyyah: 178-179)

Allah berfirman:

وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

“Dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab: 40)

Ibnu Abi al-Izz rahimahullah berkata, “Allah mengetahui segala sesuatu yang dahulu dan selamanya.” (Lihat: Lihat Syarah al-Aqidah ath-Thahawiyyah: 379)

Allah berfirman:

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.” (QS. Al-Baqarah: 255)

Syaikh Abdurrahman Ibnu Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Dibelakang mereka” maksudnya segala perkara makhluknya yang telah terjadi sedangkan , “Dihadapan mereka” maksudnya segala perkara makhluknya yang akan terjadi di kemudian hari.” (Lihat Taisiru al-Karimi ar-Rahman: 113)


Wallahu A’lam bishshowab.

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar