Rabu, 01 April 2015

Allah Maha Pengasih dan Penyanyang || Mengapa Ada Yang Dibiarkan Tersesat?


Bagi orang-orang yang dihatinya ada penyakit, akan selalu muncul pernyataan-pernyataan nyeleneh dari lisan-lisan mereka. Tujuannya, ingin menggoyangkan dan meruntuhkan keyakinan atau akidah umat islam yang kuat. Ketidak pahaman akan sifat-sifat mulia Rabb mereka, menjadikannya bebas berbicara tanpa ada rasa takut dan khawatir akan ucapannya yang amat berbahaya itu.

Pernyataan-pernyataan nyeleneh seperti ini, biasanya timbul dari orang-orang yang malas membaca al-Qur’an apalagi mentadabburinya. Sebab, al-Qur’an merupakan nutrisi bagi hati dan jiwa. Ketika ia telah jauh dari seseorang, kehidupan yang sempit akan menghantuinya. Itulah juga, mengapa Allah memerintahkan kepada kita untuk senantiasa mentadabburi ayat-ayat-Nya dan juga nama-nama-Nya. Alasannya, dengan itu kita bisa mengenal Rabb kita, Allah azza wajalla.

Mungkin, ada yang bertanya. Benarkah Allah azza wajalla Maha Pengasih dan Penyayang? Kalau Allah benar-benar Maha Pengasih dan Penyayang, mengapa Dia membiarkan hamba-hamba-Nya tenggelam dalam kekafiran dan kefasikan yang akan mengantar mereka kepada neraka?? Mengapa Allah tidak jadikan saja semua manusia berada dalam hidayah? Bukankah Allah memiliki ar-Rahman dan ar-Rahim?? Apakah ada hal yang kontradiksi dalam al-Qur’an?

Pertama: Satu hal yang perlu kita ketahui adalah bahwa kita ini adalah milik Allah. Apapun yang terjadi pada kita, itu sesuai keinginan dan kehendak-Nya. Toh kita semua adalah milik-Nya. Mungkin kita pernah punya mainan. Terkadang kita biarkan saja permainan itu dengan segala bentuk cara kita bermain dengannya. Rusak atau tidak, kita tidak akan merasa pusing dengan hal itu, asal perasaan kita puas bermain dengannya. Toh itu milik kita sendiri. Tapi Allah tidak seperti kita. Allah sangat menyangi hamba-Nya. Jadi Dia tidak akan merusak kita dan sangat tidak ingin melihat kita binasa. Itu yang perlu kita tanamkan dalam diri kita pertama.

Allah azza wajalla berfirman:

وَمَا ظَلَمْنَاهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

“Kami tiada menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang Menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. An-Nahal: 118)

Allah juga berfirman:

مَثَلُ مَا يُنْفِقُونَ فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَثَلِ رِيحٍ فِيهَا صِرٌّ أَصَابَتْ حَرْثَ قَوْمٍ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ فَأَهْلَكَتْهُ وَمَا ظَلَمَهُمُ اللَّهُ وَلَكِنْ أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

“Perumpamaan harta yang mereka nafkahkan di dalam kehidupan dunia ini, adalah seperti perumpamaan angin yang mengandung hawa yang sangat dingin, yang menimpa tanaman kaum yang menganiaya diri sendiri, lalu angin itu merusaknya. Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang Menganiaya diri mereka sendiri.” (QS. Ali Imran: 117)

Begitu juga firman Allah azza wajalla:

وَظَلَّلْنَا عَلَيْكُمُ الْغَمَامَ وَأَنْزَلْنَا عَلَيْكُمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوَى كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَمَا ظَلَمُونَا وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

“Dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu "manna" dan "salwa". makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu; dan tidaklah mereka menganiaya Kami; akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS: al-Baqarah: 57)

Kedua: Kehidupan kita di dunia ini hakikatnya memang hanyalah permainan. Permainan yang sementara dan memiliki batas waktu. Namun permainan ini memiliki satu nilai dan arti, sebab ia merupakan proses jual beli yang akan menentukan kehidupan kita selanjutnya. Surga atau neraka. Olehnya,  Allah azza wajalla banyak menyebutkan hal ini secara tegas dalam al-Qur’an. diantaranya:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الأمْوَالِ وَالأوْلادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20)


وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُ الآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلا تَعْقِلُونَ

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?”

Namun perlu diingat dan diperhatikan, permainan ini adalah permainan yang memiliki upah dan balasan. Permainan ini tidak akan berakhir begitu saja, sebab ia adalah proses jual beli dengan Sang Pemilik permainan. Jika kita tunduk, patuh dan taat kepada-Nya, Dia akan memberikan kita surga dengan ketaatan itu. Dan jika kita berpaling dari peringatan-Nya dan bermaksiat pada-Nya, balasannya adalah apa yang telah Dia janjikan pula. Berupa siksa dan api neraka. Maka jika mendapatkan kebaikan pada rekam jejak amalanmu dari lembaran-lembaran shuhufmu di akhirat nanti,  maka pujilah Allah. Dan jika mendapatkan selain itu, maka jangan salahkan siapapun, kecuali mencela dirimu sendiri.

Ketiga: Siapa saja yang berkata bahwa Allah membiarkan dirinya terjatuh dalam kekafiran, kefasikan dan kemaksiatan adalah kedustaan yang amat besar dan bukti ketidak syukurannya kepada Tuhannya. Tuhannya telah memberikan mata untuk melihat tanda-tanda kebesaran-Nya, Tuhannya yang telah mengarunianya telinga sebagai alat untuk mendengarkan ayat-ayat-Nya, Tuhannya yang telah memberikannya hati untuk berfikir dan memahami tanda-tanda kebesaran-Nya, Tuhannya yang telah mengutus Rasul kepadanya sebagai pembawa berita gembira dan pembawa peringatan dari Tuhannya, Tuhannya yang telah menurunkan kepadanya kitab sebagai pelita yang akan menuntunya kepada kebenaran ketika ia tersesat dalam kehidupan yang gelap, Tuhannya yang yang telah menjadikan baginya akal untuk berfirkir, kaki untuk berjalan, tangan untuk merangkul, hidung untuk mencium dan berbagai kenikmatan lainnya. Maka nikmat Allah mana lagi yang harus engkau dustakan???

Jika kita mensyukuri semua karunia itu dan mempergunakannya secara hikmah, kita akan merasakan kebesaran Tuhan kita dan begitu sayangnya Dia kepada kita hamba-hamba-Nya. Olehnya bagi yang tidak mempergunakannya untuk kebaikan, Allah berfirman:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.”

Ya.. betul-betul lalai. Lalai untuk bersyukur, lalai untuk mentadabburi dan memikirkan betapa besar kasih sayang Tuhannya kepadanya. Mungkin, kita pernah melihat atau mendengar kisah seorang raja yang memberikan wejangan-wejangan kepada rakyatnya ketika membuka ajang perlombaan kepada rakyatnya. Rakyatnya akan bermain dan bertanding dalam satu turnamen untuk mendapatkan hadiah yang sangat besar. Raja itu lalu menasehati mereka, memberikan berbagai sarana yang dapat digunakan untuk memenangkan perlombaan itu, memberi mereka buku panduan untuk menjadi pedoman selama mereka bermain dan bertanding yang dapat dibuka kapan saja agar menjadi pemenang dalam perlombaan itu, sebab disitu semua aturan permainanya. Rajanya juga bahkan mengutus kepada mereka seorang utusan yang akan mengarahkan mereka dan memberi peringatan agar tidak salah dalam mengambil langkah, menolong dan membangkitkan ketika terjatuh di tengah jalan, membacakan berbagai kabar gembira untuk menyemangati mereka, karena raja sangat berharap kemenangan untuk rakyatnya. Sangat sayang, dan sangat sayang! Karena Raja itu menginginkan semua rakyatnya memenangkan pertandingan itu. Tapi ketika rakyat itu tidak mensyukuri semua kenikmatan raja yang diberikan padanya, maka sungguh ia telah mennzhalimi dirinya sendiri karena sombong dan angkuh sedang raja tidak menzhaliminya sedikitpun.

Inilah gambaran kehidupan kita di dunia ini. semua yakin dengan permainan ini. Permainan dari Sang Raja Yang Maha Agung Allah subhanahu wata’ala yang telah mengutus kepada kita seorang Rasul. Bahkan pada setiap umat memiliki Rasul-Rasul tersendiri, yang membacakan ayat-ayat-Nya, memperingati kaumnya, mengabarkan kabar gembira dan lain sebagainya sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya. Maka siapakah yang menzhalimi dirinya?

Keempat: Alasan bahwa jika seandainya Allah menyanginya Allah tidak membiarkannya terjatuh dalam kekafiran adalah adalah alasan yang menipu dirinya sendiri, sebab Allah tidak pernah mennginginkan dirinya untuk kafir namun dialah yang memilih jalan itu sendiri. Sebagaimana penjelasan point ketiga. Alasan ini juga pernah menjadi alasan orang-orang terdahlu. Allah berfirman:

سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا وَلا آبَاؤُنَا وَلا حَرَّمْنَا مِنْ شَيْءٍ كَذَلِكَ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ حَتَّى ذَاقُوا بَأْسَنَا قُلْ هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ عِلْمٍ فَتُخْرِجُوهُ لَنَا إِنْ تَتَّبِعُونَ إِلا الظَّنَّ وَإِنْ أَنْتُمْ إِلا تَخْرُصُونَ (١٤٨) قُلْ فَلِلَّهِ الْحُجَّةُ الْبَالِغَةُ فَلَوْ شَاءَ لَهَدَاكُمْ أَجْمَعِينَ (١٤٩)

“Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: "Jika Allah menghendaki, niscaya Kami dan bapak-bapak Kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) Kami mengharamkan barang sesuatu apapun." Demikian pulalah orang-orang sebelum mereka telah mendustakan (para Rasul) sampai mereka merasakan siksaan kami. Katakanlah: "Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada kami?" kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta. Katakanlah: "Allah mempunyai hujjah yang jelas lagi kuat; Maka jika Dia menghendaki, pasti Dia memberi petunjuk kepada kamu semuanya.” (QS. Al-An’am: 148-149)

Syaikh Abdurrahman Ibnu Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Ini merupakan berita dari Allah bahwasanya kaum musyrikin akan berhujjah akan kesyirikan mereka dan atas pengharaman mereka atas apa yang Allah halalkan untuk mereka dengan Qadha dan Qadar (takdir). Mereka menjadikan kehendak Allah yang sempurna atas segala sesuatu berupa kebaikan dan keburukan sebagai hujjah bagi mereka dan untuk menolak keburukan yang disematkan kepada mereka. Allah menyebutkan bahwasanya hujjah ini juga yang disebutkan oleh umat-umat sebelumnya yang telah mendustakan dakwah dan ajakan para Rasul. Jika seandainya ini merupakan hujjah yang benar, niscaya Allah akan membebaskan mereka dari azab dan Allah tidak akan menyiksa mereka. Sebab siksa Allah hanya untuk orang-orang yang berhak padanya. Maka dapat diketahui bahwa ini adalah hujjah yang rusak dan syubhat yang tidak dapat diterima dengan beberapa jawaban:

1.      Allah menyebutkan jika seandainya ini adalah hujjah yang benar, Allah tidak akan memberikan hukuman kepada mereka.

2.      Hujjah harus berlandaskan ilmu dan sesuatu yang jelas. Jika ia dibagun di atas dasar prasangka dan kebohongan maka itu adalah hujjah yang batil. Oleh karena itu Allah berfiman dalam ayat ini, “Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada kami?” jika seandainya mereka memiliki pengetahuan tentangnya niscaya itu dapat mencegah mereka dan dapat mengeluarkan merekadari siksa. Namun,  kenyataannya mereka tidak dapat keluar dari siksa Allah dengan alasan itu. Maka dapat diketahui bahwa mereka tidak memiliki ilmu akan alasan mereka itu.


Allah berfirman:

إِنْ تَتَّبِعُونَ إِلا الظَّنَّ وَإِنْ أَنْتُمْ إِلا تَخْرُصُونَ
“Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta.”

Siapa saja yang membangun hujjah-hujjahnya di atas kedustaan dan prasangka, maka hujjah-hujjah itu adalah hujjah yang batil. jika saja dua hal itu adalah kebatilan maka bagiamana lagi jika hujjah itu dibangun di atas dasar kelaliman, penentangan, keburukan dan kerusakan?

3.      Hujjah yang nyata di sisi Allah adalah hujjah yang disepakati oleh para Nabi dan Rasul, kitab-kitab Allah, atsar-atsar kenabian, akal yang sehat,  pandangan yang lurus, dan akhlak yang mulia. Sehingga dapat kita ketahui bahwa semua yang melanggar dalil-dalil yang qath’I (pasti) ini adalah dalil yang batil. Sebab sesuatu yang menyelisihi kebenaran adalah kebatilan.

4.      Sesungguhnya Allah mengaruniakan kemampuan dan keinginan kepada setiap makhluk-makhluk-Nya. Sehingga dengan itu, seseorang dapat menjalankan apa yang dibebankan kepada-Nya. Karena Allah tidak membebankan sesuatu kepada makhlu-Nya apa yang dia tidak sanggupi, tidak mengharamkan sesuatu kepada seseorang apa yang tidak mampu ia tinggalkan. Sehingga berhujjah qadha dan qadar (takdir) setalah mengatahui perkara ini adalah kezhaliman dan penentangan terhadap Allah.


5.      Sesungguhnya Allah tidak memaksa hamba-hamba-Nya untuk melakukan sesuatu, justru Allah menjadikan perbuatan-perbuatan mereka sesuai pilihan mereka sendiri. Jika mereka ingin melakukan sesuatu maka hal itu dipersilahkan dan jika mereka tidak menghendaki mereka berhenti. Dan hal ini adalah sesuatu yang kita saksikan bersama-sama, tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang-orang yang sombong dan tidak dapat merasa.

6.      Sesungguhnya orang-orang yang berhujjah dengan kemaksiatan serta Qadha dan Qadar (takdir) saling kontradiksi dalam perbuatan mereka. hal ini tidak bisa terhindar dari setiap diri mereka. jika seandainya ada seseorang yang berbuat buruk terhadap mereka dengan cara memukulinya atau mengambil hartanya maka jika yang berbuat buruk itu berhujjah dengan perbuatannya itu kepada saudaranya yang juga sering berhujjah dengan takdir maka saudaranya ini tidak akan menerima hujjahnya.  Bahkan dia akan sangat marah, sangat marah!


Maka sungguh aneh mereka yang sering berdalih dengan takdir untuk bermaksiat kepada Allah padahal mereka sendiri tidak menerima jika ada orang yang berbuat buruk kepada mereka dengan dalih seperti itu!!!!!

Sungguh mereka sangat memahami bahwa perbuatan yang mereka lakukan bukanlah hujjah.  Sesungguhnya yang mereka inginkan hanyalah menolak kebenaran. (Lihat Taisiru al-Karimi ar-Rahman Fi Tafsiri Kalami al-Mannan: 312-313 cetakan al-Bayan)

Intinya secara ringkas sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Abi al-Izz rahimahullah:

أما أهل السنة  فيقولون  : إن الله وإن كان يريد المعاصي قدرا - فهو لا يحبها ولا يرضاها ولا يأمر بها بل يبغضها ويسخطها ويكرهها وينهى عنها وهذا قول السلف قاطبة فيقولون : ما شاء الله كان وما لم يشأ لم يكن


“Adapun ahlu sunnah, mereka berkata, “Sesungguhnya Allah walaupun ia menakdirkan adanya kemaksiatan, Dia tidak mencintainya, tidak meridhainya dan tidak pula memerintahkannya. Justru Allah sangat amat membencinya, memurkainya, tidak suka dengannya dan melarang melakukannya. Ini adalah perkataan seluruh kaum salaf. mereka berkata, jika Allah berkehendak sesuatu itu akan terjadi dan jika tidak maka ia juga tidak akan terjadi.” (Lihat Syarah al-Aqidah ath-Thahawiyyah: 173 jilid 1 cetakan Dar ar-Risalah al-Ilmiyyah)

wallahu a'lam bish-showab

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar