Jumat, 17 April 2015

Memahami Dalil-Dalil Ajal, Kontradiksikah? Bisakah Ajal Berubah Atau Ia Merupakan Ketetapan ?



Dalil Pertama:

Firman Allah:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلا يَسْتَقْدِمُونَ

“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu. Maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.”[1]

Firman Allah:

إِنَّ أَجَلَ اللَّهِ إِذَا جَاءَ لا يُؤَخَّرُ لَوْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu Mengetahui.”[2]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ثم يرسل إليه الملك فينفخ فيه الروح ويؤمر بأربع كلمات بكتب رزقه وأجله وعمله وشقي أو سعيد

“Kemudian diutuslah Malaikat kepadanya (janin) lalu ditiupkanlah ruh padanya. Kemudian Malaikat itu diperintahkan untuk menulis empat perkara, menulis rizkinya, ajalnya, amalannya, dan apakah ia akan sengsara atau bahagia.”[3]

Dalil Kedua:

Allah Berfirman:

يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرْكُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى

“Niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan memanjangkan umumrmu pada batas yang ditentukan.”[4]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

من أحب أن يبسط له في رزقه وينسأ له في أثره فليصل رحمه

“Barangsiapa yang ingin di lapangkan rezkinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambung silaturahmi.”[5]

***

Untuk memahami dalil-dalil yang seolah kontradiksi ini, terlebih dahulu kita perlu memahami beberapa hal berikut:

Pertama: Penulisan takdir makhluk-makhluk Allah terjadi dua kali. Ada yang tidak diketahui oleh seluruh makhluk-Nya termasuk Malaikat, adapula yang diketahui oleh Malaikat namun tidak diketahui oleh makhluk yang lain. Untuk memahaminya perhatikan beberapa hadits dan ayat berikut:

Penulisan takdir pertama: Penulisan takdir seluruh makhluk yang tidak diketahui seluruh makhluk termasuk Malaikat.

Hadits pertama: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Allah azza wajalla menuliskan takdir-takdir makhluk-makhluk-Nya lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi.”[6]

Hadits kedua:

أن الوليد بن عبادة بن الصامت قال: أوصاني أبي رحمه الله تعالى فقال يا بني أوصيك أن تؤمن بالقدر خيره وشره فإنك إن لم تؤمن أدخلك الله تبارك وتعالى النار قال وسمعت النبي صلى الله عليه و سلم يقول أول ما خلق الله تبارك وتعالى القلم ثم قال له اكتب قال وما أكتب قال فاكتب ما يكون وما هو كائن إلى أن تقوم الساعة

“Bahwasanya al-Walid Ibnu Ubadah Ibnu Shamit berkata, “Ayahku menasehatiku semoga Allah merahmatinya, ia berkata, “Wahai anakku aku wasiatkan kepadamu untuk beriman pada takdir yang baik maupun yang buruk. Karena sesungguhnya jika engkau tidak beriman terhadap takdir, Allah akan memasukkanmu kedalam neraka. Aku pernah mendengarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Hal yang pertama kali diciptakan oleh Allah tabaraka wata’ala adalah al-Qalam (pena) lalu Allah berkata kepadanya “Menulislah!” Pena menjawab, “Apa yang harus aku tulis?” Allah menjawab: “Tulislah semua hal yang akan terjadi hingga terjadinya hari kiamat kelak.”[7]

Hadits ketiga:

عن أبي هريرة قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول أول شيء خلقه الله القلم ثم خلق النون وهي الدواة ثم قال اكتب قال وما أكتب قال اكتب ما هو كائن من عمل أو أثر أو رزق أو أجل فكتب ما هو كائن الى يوم القيامة فذلك قوله عز وجل {ن والقلم وما يسطرون} ثم ختم على القلم فلم ينطق ولا ينطق الى يوم القيامة

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku telah mendengarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hal yang pertama kali diciptakan oleh Allah adalah Qalam (pena) lalu menciptakan an-Nuun dan ia adalah tinta. Lalu Allah berkata: “Menulislah!” Qalam menjawab: “Apa yang harus aku tulis?” Allah menjawab: “Tulislah semua hal yang akan terjadi dari perbuatan, atsar, rizki,  hingga terjadinya hari kiamat. Inilah maksud firman Allah Nuun wal qalami wamaa yashthurunn. Kemudian Dia menutup al-Qalam dan tidak lagi bebicara hingga hari kiamat.”[8]

Allah berfirman:

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلا يَعْلَمُهَا وَلا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأرْضِ وَلا رَطْبٍ وَلا يَابِسٍ إِلا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).”[9]

Penulisan takdir kedua: Takdir yang diketahui oleh Malaikat

Dari Abdullah Ibnu Mas’ud ia berkata, “Rasulullah telah menceritakan kepada kami:

إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِى بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا ثُمَّ يَكُونُ فِى ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُونُ فِى ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِىٌّ أَوْ سَعِيدٌ

“Sesungguhnya setiap kalian diciptakan oleh Tuhannya di dalam perut ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk mani kemudian setelah empat puluh hari kemudian ia berubah menjadi segumpal darah dan setelah empat puluh hari berikutnya ia berubah menjadi segumpal daging. Setelah berumur demikian, diutuslah Malaikat untuk meniupkan ruh dan diperintahkan untuk menuliskan empat takdirnya. Menuliskan rizkinya, ajalnya, amalannya dan apakah ia akan sengsaara atau bahagia.”[10]

Kedua: Setelah kita memahami dalil-dalil di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa penulisan takdir kedua yang diketahui oleh Malaikat telah tertulis dalam penulisan takdir yang pertama yang tertutup rapat di Lauh al-Mahfuzh.

Ketiga: Semua amalan Malaikat yang akan terjadi hingga hari kiamat kelak telah tertulis dalam penulisan takdir pertama yang tidak diketahui oleh Malaikat. Sehingga semua amalan-amalan para Malaikat baik berupa menulisakan tambahan umur seseorang  berdasarkan perintah Allah, menyampaikan wahyu kepada para Nabi, meniupkan sangkakala hakikatnya telah tertulis dalam Lauh al-Mahfuzh dan tidak akan berubah.

Keempat: Tentang penambahan umur yang disebutkan dalam ayat-ayat dan hadits hakikatnya telah ditetapkan dalam Lauh al-Mahfuzh pada penulisan takdir pertama. Sehingga tidak ada kontradiksi antara ayat-ayat maupun hadits. Allah berfirman:

يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرْكُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى

“Niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan memanjangkan umumrmu pada batas yang ditentukan.”[11]

Kata-kata musamma bermakna muhaddad yaitu pada waktu yang telah ditentukan. Hal ini berarti ditentukan pada penulisan takdir pertama yaitu di Lauh al-Mahfuzh. Sehingga jika dalam ayat-ayat menyebutkan ketidak berubahan umur seseorang, maksudnya ketetapan dalam Lauh al-Mahfuzh. Adapun penambahan umur maksudnya pada penulisan takdir yang di ketahui oleh Malaikat.

Kelima: Allah tabaraka wata’ala menyebutkan bahwa Dia akan menambahkan umur karena semua ini adalah hal-hal yang ghaib dimana tidak seseorangpun yang mengetahuinya termasuk Malaikat. Allah azza wajalla menghendaki semua terjadi berdasarkan sunah-sunah-Nya yang rahasia. Sunah Allah, semua makhluk beramal dan tidak tidak mengetahui hal yang ghaib itu.

Jadi sama sekali tidak ada kontradiksi.
Wallahu a’lam bish-showab



[1] QS. Al-A’raf: 34
[2] QS. Nuh: 4
[3] HR. Bukhari dan Muslim
[4] QS. Nuh: 4
[5] HR. Muttafaqun Alaihi
[6] HR. Muslim
[7] HR: Ahmad. al-Arnauth berkata hadits ini shahih namun sanadnya lemah.
[8] HR. Ibnu Baththah dalam al-Ibanah
[9] QS. Al-An’am: 59
[10] HR. Bukhari dan Muslim
[11] QS. Nuh: 4

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar