Selasa, 07 April 2015

Nabi Ibrahim Melihat Bintang, Bulan dan Matahari dan Berkata Ini Tuhanku, Apa Maksudnya?



Dalil Pertama

Firman Allah:

وَكَذَلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ الْمُوقِنِينَ (٧٥)  فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَى كَوْكَبًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لا أُحِبُّ الآفِلِينَ (٧٦)  فَلَمَّا رَأَى الْقَمَرَ بَازِغًا قَالَ هَذَا رَبِّي فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَئِنْ لَمْ يَهْدِنِي رَبِّي لأكُونَنَّ مِنَ الْقَوْمِ الضَّالِّينَ (٧٧) فَلَمَّا رَأَى الشَّمْسَ بَازِغَةً قَالَ هَذَا رَبِّي هَذَا أَكْبَرُ فَلَمَّا أَفَلَتْ قَالَ يَا قَوْمِ إِنِّي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ (٧٨)

“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang-orang yang yakin. Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam. Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaKu, pastilah aku termasuk orang yang sesat. Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar". Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.”[1]

Dalil Kedua

Firman Allah:

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.”[2]

Firman Allah:

وَقَالُوا كُونُوا هُودًا أَوْ نَصَارَى تَهْتَدُوا قُلْ بَلْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Dan mereka berkata: "Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk." Katakanlah: "Tidak, melainkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik.”[3]

Firman Allah:

قُلْ إِنَّنِي هَدَانِي رَبِّي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ دِينًا قِيَمًا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah: "Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik.”[4]

Untuk memahami dalil pertama dan dalil kedua dapat dilihat dari beberapa sisi:

Pertama: Maksud dan tujuan Allah azza wajalla memperlihatkan kerajaan-Nya kepada Nabi Ibrahim alaihissalaam hanya agar ia menjadi orang-orang yang yakin terhadap ketuhanan Allah. Ketika Allah memperlihatkan kerajaan-Nya itu, tentu saja Allah azza wajalla akan menjaganya agar maksud dari memperlihatkan tanda-tanda kebersaran-Nya itu tercapai. Sebab Nabi Ibrahim ‘alaihissalam akan diangkat menjadi Rasul dan kekasih-Nya.

Kalau saja seorang Raja di dunia ini tidak akan membiarkan kekasihnya terjatuh dalam pelanggaran yang sangat berat yang berujung pada siksaan yang sangat berat darinya, maka apatah lagi Allah yang Maha Suci dari penyerupaan diri-Nya terhadap makhluk-Nya? Sungguh Dia tidak akan menjadikan kekasih-Nya terjatuh dalam kesyirikan yang balasannya adalah kekekalan di dalam neraka.

Oleh karena itu, al-Imam Muhammad Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah berkata:

وأما قوله:"وليكون من الموقنين"، فإنه يعني أنه أراه ملكوت السماوات والأرض، ليكون ممن يقرّ بتوحيد الله،  ويعلم حقيقة ما هداه له وبصّره إياه، من معرفة وحدانيته، وما عليه قومه من الضلالة، من عبادتهم الأصنام، واتخاذهم إياها آلهة دون الله تعالى

“Adapun firman Allah, “Agar menjadi orang-orang yang yakin” maksudnya adalah Allah memperlihatkan kepadanya kerajaan-kerajaan langit dan bumi agar ia menjadi seorang yang menetapkan ketauhidan Allah, mengetahui hakikat yang telah memberikannya hidayah, mengetahui siapa yang telah memperlihatkan kepadanya tanda-tanda kebesaran-Nya, mengetahui ke Esaan-Nya dan mengajarinya bahwa kaumnya sementara berada dalam kesesatan yaitu dalam penyembahan berhala dimana mereka menjadikan berhala-berhala itu sebagai tuhan selain Allah.”[5]

Kedua: Perkataan Ibrahim “Ini Tuhanku” para ulama menjelaskannya dengan beberapa jawaban diantaranya:

1.      Perkataan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu:

قوله:"وكذلك نري إبراهيم ملكوت السماوات والأرض وليكون من الموقنين"، يعني به الشمس والقمر والنجوم ="فلما جنّ عليه الليل رأى كوكبًا قال هذا ربي"، فعبده حتى غاب، فلما غاب قال: لا أحب الآفلين ="فلما رأى القمر بازغًا قال هذا ربي"، فعبده حتى غاب، فلما غاب قال: لئن لم يهدني ربي لأكونن من القوم الضالين ="فلما رأى الشمس بازغة قال هذا ربي هذا أكبر" فعبدها حتى غابت، فلما غابت قال: يا قوم إنّي بريء مما تشركون.

­­“Firman Allah: “Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang-orang yang yakin.” Maksudnya dengan matahari, bulan dan bintang. “Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku” maka ia menyembhanya hingga ia menghilang. Ketika telah menghilang ia berkata "Saya tidak suka kepada yang tenggelam.” “Ketika ia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku” Maka ia menyembahnya hingga bulan itu menghilang. tatkala bulan itu menghilang ia berkata, “Jika seandainya Tuhanku tidak memberiku petunjuk pasti aku termasuk orang yang tersesat.” “Ketika ia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar". Maka ia menyembahnya haingga matahari itu menghilang. Tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.”[6]

2.      Dalam riwayat yang disebutkan oleh Muhammad Ibnu Ishak rahimahullah kisah ini terjadi di waktu Ibrahim masih kecil. Sebab ia berada di dalam gua persembunyian sekitar 15 bulan, lalu kemudian meminta izin kepada Ibunya untuk keluar melihat suasan di luar gua. Saat itu pertumbuhan Nabi Ibrahim sangat cepat. Sehari bagaikan sebulan dan sebulan bagaikan setahun. Setelah ia keluar dari gua, kisah Allah memperlihatkan padanya bintang, bulan dan matahari itu terjadi. Secara ringkas, dalam riwayat ini disebutkan bahwa setelah Ibrahim pulang ke rumahnya dan diketahui oleh Azar (ayah beliau), setiap harinya ia diperintahkan untuk menjual patung-patung kepada masyarakat.  Namun ketika ia menjualnya  ia berkata: “Siapa yang ingin membeli sesuatu yang tidak akan memberikan mudharat padanya dan tidak akan bisa menguntungkannya?” akhirnya tidak ada seorangpun yang membelinya. Dalam riwayat ini menunjukkan Nabi Ibrahim biasa berdialog dengan kaumnya mengeani prinsip ketauhidan.”[7]

3.      Beberapa ulama menyebutkan bahwa kalimat “Ini Tuhanku” dalam shighah istifham (bentuk pertanyaan) sehingga maknanya adalah “Apakah ini Tuhanku?” Bentuk seperti ini dimaksudkan untuk mengingkari. Yang berarti pertanyaan itu menunjukkan jawabannya sendiri yaitu “Ini bukan Tuhanku”. Bentuk kalimat seperti ini banyak dipakai dalam bahasa Arab.[8]


Bentuk kalimat seperti ini pula biasa dipakai dalam bahasa Indonesia. Yaitu dengan menghilangkan kata tanya namun dimaksudkan untuk pertanyaan dan pengingkaran. Misalnya ketika seseorang mengingkari tuduhan terhadap dirinya dan berkata, “Seperti itu kejadiannya?” Maksudnya, mengingkari dalam bentuk pertnayaan.

4.      Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

والحق أن إبراهيم، عليه الصلاة والسلام، كان في هذا المقام مناظرا لقومه، مبينا لهم بطلان ما كانوا عليه من عبادة الهياكل والأصنام، فبين في المقام الأول مع أبيه خطأهم في عبادة الأصنام الأرضية، التي هي على صورة الملائكة السماوية
“Dan yang benar adalah bahwa Ibrahim ‘alaihi ash-sholatu wassalaam saat itu dalam keadaan mendebati kaumnya. Ia menjelaskan kebatilan yang sementara mereka lakukan, yaitu berupa penyembahan kepada patung-patung besar. Pada kisah pertama ia menjelaskan kesalahan itu kepada ayahnya yang menyembah patung-patung yang terbuat dari tanah yang dibentuk seperti malaikat yang berasal dari langit.”[9]

5.      Syaikh Aburrahman Ibnu Nashir as-Sa’di rahimahullah mengatakan “Perkataan Ibrahim “ini Tuhanku” dalam bentuk mendebati. Maksudnya ia berkata kepada kaumya, “Kemari, mari kita perhatikan, apakah ini berhak untuk disifati dengan sifat ketuhanan?[10]

Dari kelima jawaban ini kita dapat menarik kesimpulan jawaban:

a.       Bahwa pernyataan pertama dari Ibnu Abass rahimahullah tidak tepat sebab menyelisihi ayat-ayat yang lain

b.      Riwayat Muhammad Ibnu Ishak rahimahullah sekalipun di riwayatkan oleh ulama-ulama salaf yang lain, akan tetapi jika itu dilakukan semasa kecilnya masih dianggap tidak benar oleh para ulama sebagaimana di nukil oleh al-Imam ath-Thabari rahimahullah. Alasan ini tidak dibenarkan juga oleh syaikh Abdurrahaman Ibnu Nashr as-Sa’di rahimahullah.


c.       Kesimpulannya (menurut kami) dari tiga jawaban terakhir adalah kata-kata “Ini tuhanku” yang disebutkan oleh Nabi Ibrahim alaihissalaam adalah kata-kata dalam bentuk pertanyaan pengingkaran dalam keadaan mendebati kaumnya. Sebagaimana penjelasan sebelumnya.
Sehingga jelas, tidak ada yang kontradiksi dalam ayat-ayat al-Qur’an.
Wallahu a’lam bish-showab





[1] QS. Al-An’am: 75-78 (terjemahan seperti ini tersebar  pada beberapa kitab terjemahan al-Qur’an)
[2] QS. Al-An’am: 79
[3] QS. Al-Baqarah: 135
[4] QS. Al-An’am: 161
[5] Jami’ul Bayan Fi Ta’wili al-Qur’an: 11/475 (Maktabah Syamilah)
[6] Jami’ul Bayan Fi Ta’wili al-Qur’an: 11/ 480 (Maktabah Syamilah)
[7] Kisah ini secara lengkap disebutkan oleh al-Imam ath-Thabari dalam Jami’ul Bayan Fi Ta’wili al-Qur’an: 11/481 (Maktabah Syamilah)
[8] Jami’ul Bayan Fi Ta’wili al-Qur’an: 11/484 (Maktabah Syamilah)
[9] Tafsir al-Qur’an al-Azhim karya Ibnu Katsir: 3/292 (Maktabah Syamilah)
[10] Taisiru al-Karimi Fi Tafsiri al-Kalami al-Mannan: 292 cetakan al-Bayan

1 komentar:

  1. sudah disebutkan bahwa sesembahan yang banyak disembah pada zaman nabi ibrahim adalah berhala, lalu perdebatan dengan menggunakan media matahari, bulan dan bintang mnejadi tidak tepat, apalagi ketika melilhat waktu perdebatan yang berlangsung dari malam hingga pagi tentu akan menjadi mustahil lagi menjelaskan kalau maksud dari perkataaan nabi ibrahim untuk mendebat...... jelas itun adalah perkataan pribadi nabi ibrahim tapi dalam pencarianya terhadap tuhan..... wallahua'lam

    BalasHapus

Silahkan Memberi komentar