Selasa, 30 Juni 2015

Bolehkah Berhujjah Dengan Takdir? || Penjelasan Kisah Perdebatan antara Adam dan Musa




Dalil pertama:

Firman Allah:

سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا وَلا آبَاؤُنَا وَلا حَرَّمْنَا مِنْ شَيْءٍ كَذَلِكَ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ حَتَّى ذَاقُوا بَأْسَنَا قُلْ هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ عِلْمٍ فَتُخْرِجُوهُ لَنَا إِنْ تَتَّبِعُونَ إِلا الظَّنَّ وَإِنْ أَنْتُمْ إِلا تَخْرُصُونَ

“Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: "Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun." Demikian pulalah orang-orang sebelum mereka telah mendustakan (para Rasul) sampai mereka merasakan siksaan kami. Katakanlah: "Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada kami?" kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta.”[1]


Dalil kedua

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : الْتَقَى آدَمُ ، وَمُوسَى فَقَالَ مُوسَى لآدَمَ أَنْتَ الَّذِي أَشْقَيْتَ النَّاسَ وَأَخْرَجْتَهُمْ مِنَ الْجَنَّةِ قَالَ لَهُ آدَمُ أَنْتَ الَّذِي اصْطَفَاكَ اللَّهُ بِرِسَالَتِهِ وَاصْطَفَاكَ لِنَفْسِهِ وَأَنْزَلَ عَلَيْكَ التَّوْرَاةَ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَوَجَدْتَهَا كُتِبَ عَلَيَّ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَنِي قَالَ نَعَمْ فَحَجَّ آدَمُ مُوسَى

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda; Adam dan Musa berjumpa, maka Musa berkata kepada Adam, “Engkau telah mencelakakan manusia dan mengeluarkan mereka dari surga.” Adam berkata, “Engkau adalah manusia yang telah dipilih oleh Allah untuk menjadi Rasul-Nya dan menurunkan kepadamu Taurat.” Musa berkata, “Benar.” Adam berkata, “Engkau mendapatkannya di dalam taurat bahwa hal itu telah ditetapkan atasku sebelum Allah menciptakanku.” Musa berkata, “Ya.” Maka Adam mengalahkan Musa dalam perdebatan.[2]

Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى  الله عليه وسلم - « احْتَجَّ آدَمُ وَمُوسَى عَلَيْهِمَا السَّلاَمُ عِنْدَ رَبِّهِمَا فَحَجَّ آدَمُ مُوسَى قَالَ مُوسَى أَنْتَ آدَمُ الَّذِى خَلَقَكَ اللَّهُ بِيَدِهِ وَنَفَخَ فِيكَ مِنْ رُوحِهِ وَأَسْجَدَ لَكَ مَلاَئِكَتَهُ وَأَسْكَنَكَ فِى جَنَّتِهِ ثُمَّ أَهْبَطْتَ النَّاسَ بِخَطِيئَتِكَ إِلَى الأَرْضِ فَقَالَ آدَمُ أَنْتَ مُوسَى الَّذِى اصْطَفَاكَ اللَّهُ بِرِسَالَتِهِ وَبِكَلاَمِهِ وَأَعْطَاكَ الأَلْوَاحَ فِيهَا تِبْيَانُ كُلِّ شَىْءٍ وَقَرَّبَكَ نَجِيًّا فَبِكَمْ وَجَدْتَ اللَّهَ كَتَبَ التَّوْرَاةَ قَبْلَ أَنْ أُخْلَقَ قَالَ مُوسَى بِأَرْبَعِينَ عَامًا. قَالَ آدَمُ فَهَلْ وَجَدْتَ فِيهَا (وَعَصَى آدَمُ رَبَّهُ فَغَوَى) قَالَ نَعَمْ. قَالَ أَفَتَلُومُنِى عَلَى أَنْ عَمِلْتُ عَمَلاً كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَىَّ أَنْ أَعْمَلَهُ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَنِى بِأَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « فَحَجَّ آدَمُ مُوسَى ».

“Adam dan Musa ‘alaihimassalaam berdebat di hadapan Tuhan mereka, lalu Adam mengalahkan Musa.” Musa berkata, “Engkau adalah Adam yang telah diciptakan oleh Allah dengan tangan-Nya, meniupkan kepadamu dari ruh-Nya, para malaikat diperintahkan bersujud kepadamu dan memasukkanmu di dalam surga-Nya lalu engkau menurunkan manusia ke bumi dengan dosamu.” Adam berkata, “Engkau wahai Musa adalah seorang yang telah Allah pilih dengan risalah-Nya dan dengan kalam-Nya. Dia memberikan kepadamu lauh (lembaran-lembaran kitab) yang di dalamnya terdapat penjelasan terhadap segala sesuatu dan mendekatkanmu pada keselamatan. Maka berapa perbandingan waktu yang kau dapatkan di dalam Tuarat saat Allah menetapkanku hal itu sebelum aku diciptakan?” Musa menjawab, “40 tahun.” Adam berkata, “Apakah engkau mendapatkan di dalamnya firman Allah, “Dan Adam bermaksiat kepada Tuhannya lalu iapun tersesat.” Musa berkata, “Ya.” Adam berkata, “Lalu mengapa engkau mencelaku pada sesuatu yang telah Allah tetapkan kepadaku 40 tahun sebelum Dia menciptakanku?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Maka Adam mengalahkan Musa.”[3]

***

Pada pembahasan sebelumnya mengenai kehendak Allah dan kehendak manusia, telah dijelaskan bahwa agama ini tidak menerima seseorang yang berhujjah dengan takdir atas maksiat-maksiat yang dilakukannya. Ini merupakan manhaj dan keyakinan ahlul haq dari kalangan orang-orang shalih terdahulu.

Kisah perdebatan antara Nabi Adam dan Nabi Musa ‘alaihimassalaam lalu memunculkan pendapat baru, yaitu bahwa seseorang boleh berhujjah dengan takdirnya sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Adam ‘alaihissalaam mengalahkan Nabi Musa ‘alaihissalaam dalam kisah tersebut (menurut pandangan sebagian ahli bid’ah). Kedua dua dalil ini juga seolah memperlihatkan sesuatu yang kontradiksi antara dalil pembolehan dan tidak membolehkannya.

Tentu saja, sebagaimana pembahasan sebelumnya, kita telah membuktikan bahwa tidak ada sesuatu yang kontradiksi pada dalil-dalil syar’i selama dalil itu adalah dalil yang shahih. Sebab keduanya berasal dari sumber yang sama, yaitu wahyu Allah.

Mengenai hadits-hadits yang menyebutkan kisah perdebatan antara Nabi Adam dan Nabi Musa ‘alaihimassalaam ada beberapa kelompok manusia yang memahaminya sesuai akidah mereka:

Pertama: Kelompok yang menolak hadits ini. Kelompok ini adalah kelompok Qadariyah. Mereka menolaknya karena hadits-hadits tersebut membenarkan adanya takdir. Sedangkan keyakinan dan akidah mereka adalah tidak membenarkan adanya takdir, atau Allah tidak mengetahui satu peristiwa sebelum peristiwa itu terjadi. Akidah ini pertama kali di usung oleh Ma’bad al-Juhani

Kedua: Kelompok yang membenarkan dan menjadikan hadits-hadits tersebut sebagai pembenaran akan maksiat-maksiat yang mereka lakukan. Sebab hadits-hadits tersbut seolah menyebutkan bahwa Nabi Adam ‘alaihissalaam berhujjah dengan takdir akan kemaksiatannya. Kelompok ini adalah kelompok Jabariyyah. Mereka berkeyakinan semua perbuatan manusia diatur oleh Allah dan manusia tidak memiliki kehendak.

Ketiga: Kelompok yang membenarkannya namun tidak pernah menjadikan takdir sebagai dalil pembenaran untuk berbuat maksiat. Kelompok ini adalah Ahlusunnah Waljama’ah.
Untuk kelompok pertama dan kedua telah dijelaskan sebelumnya akan batilnya pemahaman mereka. Maka pada pembahasan kali ini, kita akan membahas tentang indahnya manhaj ahlu sunnah dalam memahami hadits ini.

Pertama: Perkataa Nabi Adam ‘alaihissalaam kepada Nabi Musa ‘alaihissalaam: “Apakah engkau mendapatkan di dalamnya firman Allah, “Dan Adam bermaksiat kepada Tuhannya lalu iapun tersesat.” Menunjukkan Adam mengakui kesalahannya lalu iapun bertaubat. Pengakuan akan kemaksiatan yang dilakukannya juga menunjukkan bahwa dosa yang dilakukannya adalah merupakan kehendak dirinya sendiri. Sehingga kisah perdebatan ini sama sekali tidak berpihak pada keyakinan batil kelompok Jabariyyah yang mengatakan manusia tidak memiliki kehendak.

Kedua: Jika kita sudah memahami point pertama, maka kita sudah bisa menarik kesimpulan bahwa kisah ini sama sekali tidak menunjukkan sesuatu yang kontradiksi antara dalil pertama, yaitu ayat yang terdapat dalam surah al-An’am ayat 148 dan dalil kedua yaitu kisah perdebatan anatara Adam ‘alaihimassalaam. Yang kami maksud adalah bahwa kita tidak diperbolehkan berhujjah dengan takdir saat melakukan kemaksiatan.

Ketiga: Perkataan Adam: “Lalu mengapa engkau mencelaku pada sesuatu yang telah Allah tetapkan kepadaku 40 tahun sebelum Dia menciptakanku?” Perkataan ini sama sekali tidak menunjukkan Adam berhujjah dengan Takdir pada dosanya, melainkan hujjah pada takdir akan musibah yang menimpa dirinya, yaitu dikeluarkannya dia dan Hawa dari surga. Dan berdalil dengan takdir pada musibah yang menimpa seseorang diperbolehkan. Adapun berdalil dengan takdir pada dosa merupakan sesuatu yang batil.

Al-Imam Ibnu Abdil Izz rahimahullah berkata:

بل الصحيح أن آدم لم يحتج بالقضاء والقدر على الذنب وهو كان أعلم بربه وذنبه، بل آحد بنيه من المؤمنين لا يحتج بالقدر فإنه باطل وموسى عليه السلام كان أعلم بأبيه وبذنبه من أن يلوم آدم على ذنب قد تاب منه وتاب الله عليه واجتباه وهداه وإنما وقع اللوم على المصيبة التي أخرجت أولاده من الجنة. فاحتج آدم عليه السلام على المصيبة لا على الخطيئة فإن القدر يحتج به عند المصائب لا عند المعايب

“Bahkan yang benar adalah bahwasanya Adam tidak berhujjah dengan qadha dan qadr terhadap dosa yang dilakukannya. Sebab dia merupakan manusia yang paling tahu akan Tuhannya juga akan dosanya. Bahkan tidak seorang pun dari keturunannya diantara kaum mu’minin yang berhujjah dengan qadar (takdir). Sebab itu merupakan perkara yang batil. Adapun Musa, dia merupakan seorang yang paling tahu dengan kondisi kakeknya dan dosanya sehingga tidak pantas baginya untuk mencelanya pada dosa yang dimana Adam telah bertaubat darinya, lalu Allah pun telah mengampuni dosa itu. Kemudian Allah memilihnya untuk menjadi Nabi-Nya dan Allah memberinya petunjuk. Sehingga celaan yang dilakukan oleh Musa kepada Adam merupakan celaan terhadap musibah yang mengeluarkan manusia dari surga. Sehingga Adam berhujjah dengan takidr pada musibah itu dan bukan pada kesalahannya. Sebab takdir bisa menjadi hujjah saat mendapat musibah dan tidak dapat menjadi hujjah pada kesalahan-kesalahan.”[4]

Ini merupakan perkataan paling indah, sebab jika seseorang berhujjah dengan takdir pada musibah yang sedang menimpanya, hal itu menunjukkan keridhoannya pada cobaan itu. Bahkan dengan keridhaan itulah Allah akan semakin meninggikan derajatnya. Berbeda halnya dengan dosa, kita tidak bisa berdalilkan dengan takdir. Sebab jika kita berdosa, kita di syariatkan untuk istighfar dan memohon ampunan atas dosa itu.
Allah jalla jalaaluhu berfirman:

فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالإبْكَارِ (٥٥)

“Maka bersabarlah kamu, karena sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi.”[5]

Bersabar pada ujian lalu memohon ampun atas dosa.




[1] QS. al-An’am: 148
[2] HR. Bukhari
[3] HR. Muslim
[4] Syarah Aqidah ath-Thahawiyyah:222/1
[5] QS. Ghafir: 55

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar