Minggu, 26 Juli 2015

Allah Memiliki Tangan? Akidah Wahhabi Atau Akidah Imam Mazhab Ahlusunnah? Kontradiksikah Ayat al-Qur’an Meneyebutnya?





Dalil pertama

Firman Allah azza wajalla

إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ

“Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. tangan Allah di atas tangan-tangan mereka.”[1]

Dalil Kedua

Firman Allah azza wajalla

وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُوا بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ

“Orang-orang Yahudi berkata: "Tangan Allah terbelenggu", sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki.”[2]

Dalil ketiga

Firman Allah azza wajalla

أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا خَلَقْنَا لَهُمْ مِمَّا عَمِلَتْ أَيْدِينَا أَنْعَامًا فَهُمْ لَهَا مَالِكُونَ

“Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakan binatang ternak untuk mereka yaitu sebahagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan tangan-tangan Kami sendiri, lalu mereka menguasainya?”[3]

***

Diantara perbedaan paling mendasar dan membedakan antar firqah-firqah (kelompok) dalam islam adalah penetapan nama-nama dan sifat-sifat Allah azza wajalla, salah satunya adalah tangan.

Ahlusunnah waljama’ah berkeyakinan bahwa segala sifat yang telah  Allah sebutkan di dalam al-Qur’an tentang diri-Nya atau apa yang disebut oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang Allah azza wajalla wajib untuk diyakini sebagaimana yang disebut oleh Allah dan Rasul-Nya tersebut, tanpa tahrif (merubah maknanya), tasybih (menyerupakan dengan makhluk-Nya), takyif (mempertanyakan bagaimana bentuknya), tamtsil (menyamakan dengan makhluk-Nya), ta’thil (menyelewengkan maknanya) dan ta’wil (menakwilkan maknanya). Walaupun ahlusunnah tidak menolak ta’wil secara muthlak, karena ta’wil yang sesuai dengan dalil maka disebut sebagi tafsir.

Al-Imam Ibnu Abi al-Izz al-Hanafiy rahimahullah berkata:

اتفق أهل السنة على أن  الله ليس كمثله شيء لا في ذاته ولا في صفاته ولا في أفعاله ولكن لفظ التشبيه قد صار في كلام الناس لفظا مجملا يراد به المعنى الصحيح وهو ما نفاه القرآن ودل عليه العقل من أن خصائص الرب تعالى لا يوصف بها شيء من المخلوقات ولا يماثله شيء من المخلوقات في شيء من صفاته : { ليس كمثله شيء } رد على الممثلة المشبهة { وهو السميع البصير } رد على النفاة المعطلة

“Ahlusunnah bersepakat bahwa Allah subhanahu wata’ala tidak serupa dengan makhluk-Nya. Tidak serupa pada Dzat-Nya, pada sifat-sifat-Nya dan juga tidak serupa pada perbuatan-perbuatan-Nya. Akan tetapi lafazh yang sama terkadang dipakai juga sebagai lafzah yang digunakan oleh manusia dalam bentuk umum, yang menunjukkan makna yang benar. Akan tetapi lafazh manusia itu maknanya dinafikan oleh al-Qur’an namun akal itu tetap memahaminya, bahwa  diantara karakteristik Rabb yang Maha Tinggi adalah Dia tidak disifatkan sebagaimana sifat-sifat makhluk-Nya dan juga tidak disamakan dengan sifat-sifat makhluk-Nya pada segala sisi sifatnya. “Dia tidak serupa dengan makhluk-Nya” ayat ini sebagai bantahan bagi orang-orang yang menyamakan-Nya dengan makhluk-Nya. “Maha Mendengar dan Maha Melihat,” ayat ini sebagai bantahan bagi orang-orang yang menyelewengkan maknanya.”[4]

Perkataan ini merupakan salah satu contoh dari sekian banyak perkataan ulama ahlusunnah lainnya. Al-Imam Ahmad Ibnu Hambal rahimahullah setelah menyebutkan hadits Allah turun ke langit dunia, ia juga pernah berkata:

وما أشبه هذه الأحاديث نؤمن بها ونصدق بها بلا كيف ، ولا معنى ، ولا نرد شيئا منها ، ونعلم أن ما جاء به الرسول حق ، ولا نرد على رسول الله   صلى الله عليه وسلم ، ولا نصف   الله بأكثر مما وصف به نفسه بلا حد ولا غاية { لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ } ، ونقول كما قال ، ونصفه بما وصف به نفسه ، لا نتعدى ذلك

“Dan yang serupa dengan hadits-hadits ini, kita beriman dengannya, membenarkannya tanpa bertanya bagaimana tata caranya, atau bagaimana maknanya dan kita tidak membantah sedikitpun darinya. Kita mengetahui bahwa semua yang datang dari Rasul adalah kebenaran dan kita tidak menolak apa yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kita tidak menyifati Allah lebih banyak dari apa yang disifati oleh diri-Nya sendiri tanpa menyebutkan batasan dan tujuan. “Dia tidak serupa dengan makhluk-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” kita berkata sebagaimana apa yang Dia katakan, menyifati-Nya sebagaimana Dia menyifati diri-Nya sendiri dan kita tidak boleh melampaui batas dari itu.”[5]

Al-Imam Muhammad Ibnu Idris asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

آمنت بالله وبما جاء عن الله ، على مراد الله ، وآمنت برسول الله ، وبما جاء عن رسول الله على مراد رسول الله

“Aku beriman kepada Allah dan apapun yang datang dari Allah. Aku beriman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan segala apa yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di atas pemahaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”[6]

Dari semua perkataan itu, dikenallah satu kaidah baku dalam penetapan asma wasifaat (nama-nama dan sifat-sifat) Allah azza wajalla. Kaidah yang berbunyi:

لا يوصف الله إلا بما وصف به نفسه أو وصفه به رسوله صلى الله عليه وسلم ولا نتجاوز القرآن والحديث

“Allah tidak disifati kecuali sebagaimana Dia menyifati diri-Nya sendiri atau yang disifatkan oleh Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dan kita tidak boleh melebihi al-Qur’an dan Hadits.”[7]

Jika kita mencoba untuk menghayalkan atau menyelami bagaimana luasnya sifat-sifat Allah azza wajalla, niscaya akal kita tidak kan mampu menjangkau bagaimana luasnya makna sifat-sifat itu. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyifati surga dalam sebuah hadits qudsi, beliau mengatakan:

يقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

“Allah ta’ala berfirman: Aku telah menyiapkan untuk hamba-hamba-Ku yang shalih apa yang mata belum pernah melihatnya, telinga belum pernah mendengarnya bahkan belum pernah terbetik dalam hati sanubari manusia.”[8]

Jika kita mau mentadabburi hadits yang mulia ini, niscaya kita akan bisa memahami perkataan-perkataan ulama yang agung dan kaidah baku tadi. Allah sering menyebut kenikamatan surga berupa sungai-sungai, buah dan lainnya. Namun ternyata hadits ini menunjukkan sesuatu yang berbeda dengan lafazh yang kita gunakan. Mata belum pernah melihatnya, telinga belum pernah mendengarnya dan hati sanubari manusia belum pernah menjangkaunya. Hal ini menunjukkan lafzah-laazh yang disebutkan itu adalah sesuatu yang berbeda. Hanya saja lafazh itu digunakan sebagai lafazh standar yang maklum sehingga dapat dipahami oleh manusia walau hakikatnya berbeda. Sebab akal kita disetting hanya untuk dapat meyakini keberadaan Allah bukan untuk mengetahui bagaimana wujud-Nya. Karena melihat wujud Allah azza wajalla adalah balasan paling indah di surga kelak.

Nah, jika kita tidak mampu membayangkan dan tidak menakwilkan sifat-sifat surga di dalam al-Qur’an, maka menyifati Allah sebagaimana kaidah ini lebih utama untuk dilakukan.  

Oleh karena itu, berapapun besar upaya seorang manusia untuk mencoba mengetahui wujud Allah dengan mencoba terus mengkhayalkan-Nya, dia tidak akan pernah mampu mengetahuinya. Bahkan dikhawatirkan syaithan akan membisikinya dan mempermainkanya hingga ia tidak beriman kepada Allah azza wajalla.

Maka dari itu ahlussunnah memberikan kaidah pokok sebagai standar pijakan berfikir manusia yang sangat mudah dipahami dan tidak akan memberatkan pikiran manusia.

Al-Imam Ibnu Abi al-Izz rahimahullah berkata:

والتعبير عن الحق بالألفاظ الشرعية النبوية الآلهية هو سبيل أهل السنة والجماعة والمعطلة يعرضون عما قاله الشارع من الأسماء والصفات ولا يتدبرون معانيها ويجعلون ما ابتعدوه من المعاني والألفاظ هو المحكم الذي يجب اعتقاده واعتماده [ وأما أهل الحق والسنة والإيمان فيجعلون ما قاله  الله ورسوله هو الحق الذي يجب اعتقاده واعتماده ]

“Maka penyebutan yang benar dengan lafazh-lafazh syar’i an-nabawiyyah al-Ilahiyyah merupakan jalan Ahlussunnah waljama’ah. Adapun kaum mu’aththilah (yang menyelengkan maknanya) mereka menolak apa yang dikatakan oleh Allah dari penyebutan nama-nama dan sifat-sifat-Nya, bahkan mereka tidak mentadabburi maknanya. Sehingga mereka menjadikan apa yang mereka buat-buat dari lafazh-lafazh itu sebagai sesuatu yang muhkam yang wajib untuk diyakini. Adapun para pengikut kebenaran, yaitu pengikut sunnah dan orang-orang yang beriman, mereka menjadikan apa yang dikatakan oleh Allah dan Rasul-Nya sebagai kebenaran yang wajib untuk diyakini dan bersandar padanya.”[9]

Oleh karena pentingnnya hal ini, al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah dalam kitabnya al-Uluw menukil perkataan Nu’aim Ibnu Hammad Ibnu Mu’awiyyah al-Khaza’i al-Marwazi[10] rahimahullah, beliau berkata berkata:

من شبه الله بخلقه فقد كفر ومن أنكر ما وصف به نفسه فقد كفر وليس ما وصف الله به نفسه ولا رسوله تشبيها

“Barangsiapa menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya maka dia telah kafir dan barangsiapa mengingkari apa yang telah Allah sifatkan untuk diri-Nya sendiri maka dia juga telah kafir. Karena sesungguhnya apa yang Allah dan Rasul-Nya sifatkan tidak serupa dengan makhluk-Nya.”[11]

Dari semua penjelasan ini, kita menyimpulkan bahwa para ulama ahlusunnah dari kalangan imam empat mazhab dan lainnya meyakini bahwa Allah memiliki tangan, namun tangan Allah berbeda dengan tangan makhluk-Nya. Mengimaninya tanpa menyamakannya dengan tangan makhluk-Nya, tanpa menyelewengkan maknanya, mentahrif dan lainnya yang merupakan pemahaman keliru.

Dengan ini pula menjadi jelas bahwa ulama-ulama yang mengatakan bahwa Allah memiliki tangan seperti al-Imam Ibnu Qayyim rahimahullah, Ibnu Taimiyyah rahimahullah dan selain mereka, bukanlah aliran sesat, bahkan ajaran yang di bawakan oleh al-Imam Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah serta yang mengikutinya yang dituduh dengan ajaran Wahhabi bukanlah aliran sesat dan memiliki pemahaman baru dalam hal ini. sebagaimana yang dituduhkan oleh orang-orang yang dengki hatinya, sakit dan hanya ingin mencari pembenaran manusia agar orang-orang mengikuti kelompoknya yang batil bukannya berupaya memahamkan yang benar kepada manusia. Sungguh mereka menipu manusia dengan menafikan begitu banyak penjelasan ulama akan hal ini.

Adapun, sebagian ulama yang menakwilkan tangan dengan makna qudrah (kemampuan) atau nikmat maka ini tidak dapat diterima oleh orang-orang yang berakal. Karena qudrah dan nimkat merupakan jins (suatu jenis). Misalnya, firman Allah “Bahkan dua tangan-Nya terbuka” maka ini tidak cocok dimaknai sebagai qudrah (kekuasaan) dan nikmat. Oleh karena itu al-Imam ad-Darimi rahimahullah dalam membantah Bisyr al-Murisi dia mengatakan:
أنعمتان من أنعمه فقط مبسوطتان؟؟؟؟ فإن أنعمه أكثر من أن تحصى

“Apakah hanya dua nikmat Allah saja yang terbentang diantara begitu banyak nikmat-Nya??? Sesungguhnya nikmat Allah lebih banyak dari yang dapat kita hitung.”[12]

Al-Imam Abu Hanifah rahimahullah berkata:

وله يد ووجه ونفس كما ذكره الله تعالى في القرآن فما ذكره الله تعالى في القرآن من ذكر الوجه واليد والنفس فهو له صفات بلا كيف ولا يقال إن يده قدرته او نعمته لأن فيه إبطال الصفة وهو قول أهل القدر والاعتزال ولكن يده صفته بلا كيف وغضبه ورضاه صفتان من صفات الله تعالى بلا كيف

“Dan Dia (Allah) memiliki tangan, wajah dan jiwa sebagaimana yang Allah sebutkan di dalam al-Qur’an. Maka Apapun yang telah disebutkan oleh Allah di dalam al-Qur’an berupa penyebutan wajah, tangan dan jiwa, maka kita menyebutkannya untuk menyifati-Nya tanpa “kaif” (mempertanyakan bentuknya) dan kita juga tidak boleh mengatakan bahwa makna tangan-Nya adalah Qudrah atau Nikmat karena hal itu membatalkan sifat Allah. Sebab itu adalah perkataan Qadariyyah dan Mu’tazilah. Akan tetapi, kita meyakini tangan-Nya tanpa harus mengandai-andaikan bentuknya. Begitupula dengan kemurkaan-Nya, keridhaan-Nya yang merupakan dua sifat dari sifat-sifat Allah. [13]

Al-Imam Ibnu Baththal rahimahullah mengomentari firman Allah “Lima Khlaqtu Biyaday”[14] (sebagaimana telah Aku Ciptakan dengan dua tangan-Ku)” ia berkata:

قال بن بطال في هذه الآية اثبات يدين لله وهما صفتان من صفات ذاته وليستا بجارحتين خلافا للمشبهة من المثبتة وللجهمية من المعطلة ويكفي في الرد على من زعم انهما بمعنى القدرة انهم اجمعوا على ان له قدرة واحدة في قول المثبتة ولا قدرة له في قول النفاة لأنهم يقولون انه قادر لذاته ويدل على ان اليدين ليستا بمعنى القدرة ان في قوله تعالى لإبليس ما منعك ان تسجد لما خلقت بيدي إشارة إلى المعنى الذي أوجب السجود فلو كانت اليد بمعنى القدرة لم يكن بين آدم وابليس فرق لتشاركهما فيما خلق كل منهما به وهي قدرته ولقال إبليس وأي فضيلة له علي وانا خلقتني بقدرتك كما خلقته بقدرتك فلما قال خلقتني من نار وخلقته من طين دل على اختصاص آدم بان  الله خلقه بيديه قال ولا جائز ان يراد باليدين النعمتان لاستحالة خلق المخلوق بمخلوق لأن النعم مخلوقة

“Ayat ini menetapkan dua tangan Allah. Dua tangan itu merupakan sifat dzat-Nya dan bukanlah dua bagian tubuh sebagai penyelisihan terhadap kaum Musyabbihah dari yang menetapkan dan juga penyelisihan terhadap Jahmiyyah terhadap kaum Mu’aththilah. Dan cukuplah bantahan bagi orang-orang yang mengira bahwa dua tangan itu bermakna qudrah (kekuasaan) sesungguhnya mereka telah sepakat bahwa Allah memiliki satu kekuatan saja menurut pendapat yang menetapkan dan Allah tidak memiliki qudrah terhadap orang-orang yang menafikan. Sebab mereka mengatakan Dia (Allah) memiliki qudrah secara Dzat-nya. Adapun yang menunjukkan bahwa dua tangan itu bukan bermakna qudrah adalah firman Allah terhadap Iblis “Apa yang menghalangimu dari sujud padahal Aku telah menciptakanmu dengan dua tangan-Ku” hal ini memberi isyarat sebagai kewajiban Iblis sujud kepada Adam. Seandainya kata tangan bermakna qudrah maka Adam dan Iblis tidak akan memiliki perbedaan sebab mereka berdua sama-sama merupakan ciptaan tercipta dari qudrah (kekuasaan). Maka Iblis akan berkata, “Apa keutamaan Adam terhadapku Engkau menciptakanku dengan qudrah (kekuasaan-Mu) sebagaimana Engkau juga menciptakannya dengan qudrah-Mu???” Justru Iblis berkata, “Engkau menciptakanku dari api dan Engkau menciptakannya dari tanah.” Hal ini menunjukkan kekhususan Adam bahwa Allah menciptakannya dengan Dua Tangan-Nya. Dan tidak boleh mengatakan bahwa makna dua tangan adalah  dua ni’mah (nikmat) sebab mustahil makhluk menciptkan makhluk karena Nikmat itu adalah Makhluk (Ciptaan Allah). [15]

Alasan sebagian orang mengatakan bahwa terkadang tangan bermakna qudrah sebab tangan biasa digunakan dalam bahasa Arab bermkna kekuasaan, maka kita katakan:

Betul sekali, dalam bahasa Arab terkadang tangan bermakna kekuasaan jika mereka mengatakan “Li Fulanin ‘Alayya Yadun” di sini bermakna nikmat. Yang artinya baginya kenikmatan dariku. Akan tetapi orang Arab tidak pernah menggunakan pola kalimat seperti itu agar dipahami sebagai makna nikmat kecuali pada satu keadaan yaitu al-Qath’u ‘Ani al-Idhafah  yaitu kata itu tidak boleh di idhafahkan. Jika anda mengatakan yadu fulanin ‘alayya (tangan si fulan di atasku) atau “Yadu Muhammadin ‘alayya” (Tangan Muhammad di atasku) lalu kita memaknainya sebagai nikmat, maka ini adalah kesalahan besar karena orang Arab tidak pernah menggunkan kalimat seperti itu.[16]

Sehingga kita katakan sebagai kesimpulan dari semua penjelasan di atas bahwa tangan Allah harus diyakini sebagaimana Allah dan Rasul-Nya sebutkan tanpa mengingkari, mentahrif, menta’thil dan mentakyif, menta’wil dan lainnya. Dan ini juga membuktikan bahwa pemahaman ini bukanlah pemahaman bathil dan sesat serta merupakan akidah ulama-ulama imam empat mazhab dan selain mereka, tidak sebagaimana tuduhan orang-orang yang memiliki hati dengki dan iri hati serta orang-orang yang mengikuti mereka yang selalu menghasud manusia untuk membenci ulama-ulama yang berkeyakinan seperti ini lalu melabeli mereka dengan istilah Wahhabi. Allahul Musta’an wal Iyadzu Billah.

Lalu bagaimana menyatukan dalil-dalil atau beberapa ayat yang seolah kontradiksi di atas?

Sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat yang telah dikemukakan sebelumnya bahwasanya ayat-ayat itu datang dalam bentuk yang berbeda-beda, yang pertma mufrad (bentuk tunggal), ke dua bentuk tastniyah (bentuk dua) dan bentuk jamak.

Adapun bentuk mufrad (tunggal) tidak menghalangi kita untuk memahami bahwa bentuk tunggal itu masuk dalam makna tastniyah. Misal, anda memiliki dua tangan. Maka ketika ada yang menyebutkan bahwa anda memiliki tangan (disebutkan dalam bentuk mufrad) tidak dipahami bahwa anda hanya memiliki satu tangan saja. justru bisa bermakna satu, dua. Ini jelas!!

Kedua, penyebutan sesuatu yang jamak dalam bahasa arab memiliki kaidah nahwu. Bahwa kata-kata dalam bentuk mutsanna (penyebutan untuk pola dua bentuk) jika di idhafahkan kepada dhamir (kata ganti) tastniyah atau jamak maka boleh untuk keduanya di gabungkan. Boleh juga di tetapkan dalam bentuk tatsniyahnya. Dan ini merupakan bentuk yang fasih dalam bahasa Arab.

Misal, saya berkata:

Tangan Muhammad, tangan Muhammad dan Khalid, lalu disebut dengan kalimat "Kedua tangan Muhammad dan Khalid." Kemudian saya katakan lagi dan tangan mereka berdua. Ini bentuk penyebutan dhamir tastniyah. Penyebutannya jelas!!

Dan boleh juga kita mengatakan, tangan Muhammad, tangan Khalid dan tangan-tangan mereka (bentuk jamak). Sebab kaidah nahwu menyebutkan bahwa: “Anna al-mutsanna idza Udhifa ila dhamiir at-tatsniyah au dhmiiru jam’in jaaza jam’uhu” (bahwa sesuatu yang maknanya dua kemudian di idhafahkan (digandengakan) pada kata ganti bentuk tatsniyah dan kata ganti jamak maka boleh di gabungkan.”[17] Sehingga makna dari semuanya sama dan tidak berbeda yaitu Allah memiliki dua tangan.

Wallahu a’lam bishshowab.





[1] QS. Al-Fath: 10
[2] QS. Al-Maidah: 64
[3] QS. YAsin: 71
[4] Syarah al-Aqidah ath-Thahawiyyah: 1/154
[5] Lum’atul I’tiqad Karya Ibnu Quddamah al-Maqdisi al-Hambali: 3
[6] Lum’atul I’tiqad Karya Ibnu Quddamah al-Maqdisi al-Hambali: 4
[7] Al-Laaliu al-Bahiyyah Syarh al-Aqidah al-Washitiyyah: 1/29
[8] Muttafaq ‘alaih
[9] Syarah al-Aqidah ath-Thahawiyyah: 1/166
[10] Imam adz-Dzahabi berkata tentang dirinya, “Seorang imam, allamah, al-hafiz  shahibu tashanif.” Lihat Siyar a’lam an-Nubala: 20/103
[11] Al-Uluw Lil ‘Ali al-Ghaffar: 1/172. Perkataan ini juga di nukil oleh al-Imam Ibnu Abi al-Izz dalam Syarah al-Aqidah ath-Thahawiyyah: 1/178-179
[12] Al-Laaliu al-Bahiyyah Fi Syarhi al-Aqidah al-Washithiyyah: 1/347
[13] Asy-Syarhul Muyassar ‘Ala al-Fiqhain al-Absath wal-Akbar al-Muntasibiina li Abi Hanifah: 27
[14] QS. Shad: 75
[15] Fathul Bari Syarah Shahih al-Bukhari: 13/393-394, dinukil pula oleh al-Imam Ibnu Abi al-Izz rahimahullah pada Syarah al-Aqidah ath-Thahawiyah: 1/334
[16] Al-Laaliu al-Bahiyyah Fi Syarhi al-Aqidah al-Washitiyyah: 1/349
[17] Al-Laaliu al-Bahiyyah Fi Syarhi al-Aqidah al-Washitiyyah: 1/347-348, lihat juga pada Syarah al-Aqidah ath-Thahawiyah: 1/334

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar