Minggu, 27 September 2015

Mengapa Syiah Biasa Membuat Keonaran Saat Musim Haji?



Telah diberitakan bahwa peristiwa Mina, yaitu peristiwa jatuhnya korban kaum muslimin baik yang meninggal dunia atau luka-luka saat melakukan manasik haji di Mina adalah disebabkan oleh kaum Syiah Iran yang tidak mengikuti arahan agar tertibnya pelakansaan Ibadah Haji.

Peristiwa ini memang sungguh menyedihkan dan membuat luka yang dalam bagi kaum muslimin. Dan sungguh memang seperti itulah mereka. Syiah, ya Syiah, manusia yang akalnya sangat rendah. Sebagaimana yang dikatakan oleh al-Imam Ibnu al-Jauzi rahimahullah:

ثم هم بعد ذلك أتباع كل ناعق إلى باطل، وأكثر ما يفسدون من جهة الرافضة ويدخلون إلى الباطل من جهتهم، لانهم أقل الناس عقولا

“Kemudian selain itu, mereka juga menjadi pengikut setiap penyeru kepada kebatilan. Kebanyakan mereka adalah orang-orang rusak yang berasal dari agama Rafidhah (Syiah) dan mereka masuk ke dalam kebatilan dari arah mereka, karena mereka adalah manusia-manusia yang paling dangkal akalnya.” (Lihat al-Bidayah wa an-Nihayah Karya Ibnu Katsir: 11/71)

Peristiwa di Mina bukanlah peristiwa yang pertama kali dilakukan oleh mereka. Bahkan diantara yang lebih parahhnya dari perbuatan mereka, sebagaimana di kabarkan oleh al-Imam Ibnu Katsir dalam Kitabnya al-Bidayah wa an-Nihayah bahwa beliau berkata:

والمقصود أن هذه الطائفة تحركت في هذه السنة، ثم استفحل أمرهم وتفاقم الحال بهم كما سنذكره، حتى آل بهم الحال إلى أن دخلوا المسجد الحرام فسفكوا دم الحجيج في وسط المسجد حول الكعبة وكسروا الحجر الاسود واقتلعوه من موضعه، وذهبو به إلى بلادهم في سنة سبع عشرة وثلاثمائة، ثم لم يزل عندهم إلى سنة تسع وثلاثين وثلاثمائة، فمكث غائبا عن موضعه من البيت ثنتين وعشرين سنة فإنا لله وإنا إليه راجعون

“Maksudnya, kelompok ini melakukan pergerakan pada tahun ini, yang membuat situasi menjadi gawat/genting, dan kegentingan itu sebagaimana yang akan kami sebutkan. Kegentingan itu terjadi ketika mereka masuk ke dalam masjid al-Haram lalu mereka menumpahkan darah kaum muslimin yang sedang melakukan ibadah haji di tengah-tengah masjid sekitaran ka’bah. Mereka juga memecahkan Hajar Aswad dan memindahkannya dari tempatnya lalu kemudian membawanya di negri mereka pada tahun 317 H. Hajar Aswad itu tidak kembli hingga tahun 339 H. Hajar Aswad hilang dari tempatnya selama 22 tahun. Innaa Lillahi Wa Innaa Ilaihi Raji’unn.” (Lihat: al-Bidayah wa an-Nihayah Karya al-Hafizh Ibnu Katsir: 11/72)  

Tidak hanya itu, beliau juga berkata:

ثم دخلت سنة أربع وتسعين ومائتين في المحرم من هذه السنة اعترض زكرويه في أصحابه إلى الحجاج من أهل خراسان وهم قافلون من مكة فقتلهم عن آخرهم وأخذ أموالهم وسبى نساءهم فكان قيمة ما أخذه منهم ألفي ألف دينار، وعدة من قتل عشرين ألف إنسان، وكانت نساء القرامطة يطفن بين القتلى من الحجاج وفي أيديهم الآنية من الماء يزعمن أنهن يسقين الجريح العطشان، فمن كلمهن من الجرحى قتلنه وأجهزن عليه لعنهن الله ولعن أزواجهن

Kemudian masuk tahun 294 H, pada bulan Muharram di tahun ini, Zakrawaih dan sahabat-sahabatnya merampok jama’ah Haji yang berasal dari penduduk Khurasan yang sedang melakukan perjalanan dari Makkah. Mereka membantai mereka semua serta merampas hartanya dan menawan wanita-wanitanya. Nilai harta yang mereka rampok adalah sebesar 1.000.000 (satu juta) dinar, sedangkan jumlah yang dibantai sebanyak 20.000 (dua puluh ribu) jiwa. Para wanita al-Qaramithah berjalan di antara orang-orang yang terbunuh dari kalangan jama’ah Haji sambil memegang tempat minuman air dalam rangka berpura-pura memberikan air minum bagi orang yang terluka dalam kehausan. Namun jika ada yang berbicara kepada mereka dari orang yang terluka, maka mereka akan membunuhnya dan mengakhiri hidupnya semoga laknat Allah atas wanita (Syiah al-Qaramithah) dan laknat atas suami-suaminya.” (Lihat: al-Bidayah wa an-Nihayah: 11/ 114)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah juga berkata:

وقطعت الاعراب وطائفة من القرامطة الطريقين على الراجعين من الحجيج، وأخذوا منهم أمولا كثيرة، وقتلوا منهم خلقا وأسروا أكثر من مائتي امرأة حرة، فإنا لله وإنا إليه راجعون

“Arab Badui dan Syiah al-Qaramithah merampas harta jama’ah yang baru pulang dar haji. Mereka mengambil harta yang sangat banyak, membunuh jiwa dan menwan wanita-wanitanya lebih dari 200 orang wanita yang merdeka. Innaa lillahi wa inaa ilahi raji’un.” (Lihat: al-Bidayah wa an-Nihayah: 139)

Mungkin muncul pertanyaan di benak anda, mengapa mereka sangat tidak menghormati kesucian ka’bah dan Ibadah Haji?

Jawabannya, karena mereka tidak memuliakan Ka’bah dan Ibadah Haji.

Disebutkan dalam berbagai riwayat dalam kitab mereka bahwa Karbala lebih mulia daripada Ka’bah. Berikut kami kutip dari kitab Kamil az-Ziyaraat:




Ali Ibnu Husain berkata: “Allah menjadikan tanah Karbala sebagai tanah haram, aman dan berberkah 24 ribu tahun sebelum Dia menciptakan tanah Ka’bah dan menempatkan haram-Nya di sana. Ketika Allah menggoncangkan dan menggerakkan bumi (kiamat) maka tanah Karbala dengan turbah dan tanahnya akan terangkat ke atas dalam keadaan bercahaya, terang benderang. Ia akan diletakkan di kebun-kebun surga terbaik dan menjadi tempat tinggal terbaik, di sana tidak akan tinggal seorangpun kecuali para Nabi yang pernah di utus atau para Nabi ulul azmi.  Sesungguhnya tanah ini terlihat amat indah di tengah-tengah kebun surga, sebagaimana bintang yang berkilau di antara planet-planet yang kemilau, cahaya tanah ini menyilaukan mata para penghuni surga dan dengan suara keras ia mengatakan, Aku adalah tanah yang suci, baik, dan mubarak, tempat bersemayamnya pemimpin para syuhada dan penghulu pemuda penduduk surga.” (Lihat: Lihat Kamilu az-Ziyaaraat karya Abu al-Qasim Ja’far Ibnu Muhammad Ibnu Qulawaih al-Qumi : 451)



Abu Abdillah Ja'far Shadiq berkata, “Tanah Ka’bah yang posisinya di atas tempat-tempat yang lain dengan sombong berkata, adakah tanah yang sepertiku, tempat dimana Allah membangun rumahnya punggungku dan manusia mendatangiku dari tempat-tempat yang jauh, Allah telah menjadikanku haram-Nya dan menjadikanku sebagai tanah yang aman. Allah kemudian mengirimkan wahyu kepadanya, Dia berfirman, Diam dan tenanglah! Demi Kemuliaan dan Keagungan-Ku, apa yang engkau anggap sebagai kemuliaanmu jika dibandingkan dengan kemuliaan yang kuberikan kepada tanah Karbala hanyalah sebagaimana setetes air dari sebuah jarum yang dicelupkan ke dalam samudra lalu jarum itu diangkat. Jarum itu hanya akan membawa tetesan tersebut bersamanya. Sesungguhnya, jika tidak ada tanah Karbala maka tidak akan ada kemuliaan ini bagimu, demikian juga jika tidak ada sesuatu yang disembunyikan oleh tanah ini, maka niscaya Aku tidak akan menciptakanmu, dan niscaya rumah yang berada di punggungmu yang engkau banggakan itu juga tidak akan Aku ciptakan. Karena itu, diam dan tenanglah, rendah dan hinakan dirimu dan lembutlah kepada tanah Karbala, jangan perlihatkan kesombongan, merasa besar dan keras kepala, dan jika engkau melakukan hal ini, engkau akan tenggelam dan aku akan memasukkanmu ke neraka Jahannam.” (Lihat Kamilu az-Ziyaaraat karya Abu al-Qasim Ja’far Ibnu Muhammad Ibnu Qulawaih al-Qumi : 450, juga dalam kitab Biharul anwar: 10/107)


Allahul Musta’an



Abu Ukasyah Wahyu al-Munawi

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar