Rabu, 07 Oktober 2015

Kata Syiah: Syiah Tidak Mengkafirkan Ahlusunnah? Dusta! Ini Buktinya




Bukan Syiah namanya kalau tidak pandai berdusta. Dusta merupakan bagian dari agama mereka. Siapa yang tidak berdusta, maka tidak ada agama baginya. Oleh karena itu, berdutsa menjadi senjata andalan mereka untuk memuluskan aqidah busuk mereka. Tidak salah memang jika imam Syafi’i rahimahullah mengatakan bahwa kelompok sesat ini adalah kelompok yang paling gemar berdusta atas nama Allah azza wajalla.

Diantara kedustaan yang terus mereka gaungkan yang merupakan siasat licik untuk menipu umat islam adalah pernyataan bahwa Syiah tidak mengkafirkan Ahlusunnah. Syiah dan Ahlusunnah bersaudara, katanya.

Ini adalah salah satu cara dan trik licik untuk mencari simpati kaum muslimin serta menggiring mereka dalam jebakan Iblis yang dapat membinasakan. Sebab kenyataan sebenarnya, permusuhan mereka terhadap ahlusunnah amat besar dan mendalam.

Al-Kulaiani, seorang tokoh ulama Syiah tersohor dalam kitabnya “Ushul al-Kafi” meriwayatkan beberapa hadits berikut:



Imam Ja’far berkata: “Tidak beriman seorang hamba hingga dia mengenal Allah dan Rasul-Nya, seluruh Imam dan Imam yang ada di zamannya.” (Ushul al-Kafi: 1/129)

Jika dikatakan seseorang tidak beriman, maka maknanya adalah KAFIR



“Dari Abu Abdillah dia berkata, Aku pernah mendengarkannya dia berkata: “Kami adalah kaum yang telah Allah tetapkan agar manusia taat kepada kami. Tidaklah manusia mendengarkan kami kecuali harus mengetahui kami, dan manusia tidak akan mendapatkan udzur karena jahil akan diri kami. Siapa yang meyakini kami maka dia adalah seoang mukmin dan siapa yang mengingkari kami maka dia KAFIR.” (Ushul al-Kafi; 1/134)

Dua hadits syiah yang menunjukkan keutamaan imam mereka secara jelas dan tegas mengkafirkan orang-orang yang tidak meyakini keutamaan mereka.

Apa keutamaan Imam-imam Syiah menurut mereka?

1. Para Imam mengetahui semua ilmu termasuk ilmu para Malaikat, para Nabi dan para Rasul. 



Abu Abdillah berkata: “Sesungguhnya Allah tabaraka wata’ala memiliki dua ilmu, ilmu yang di tampakkan oleh para Malaikat-Nya, para Nabi dan para Rasul-Nya. Maka apa yang telah di tampakkan oleh para Malaikat, para Nabi dan para Rasul, maka kami telah mengetahuinya.” (ushul al-Kafi: 1/184)

2. Para Imam mengetahui kapan ajal mereka, tempat kematiannya dan siapa yang akan membunuh mereka.

Al-Kulaini berkata dalam “Ushul al-Kafi”: “Bab para imam mengetahui kapan mereka akan mati, dan mereka tidak akan mati kecuali atas pilihan mereka sendiri.” (Ushul al-Kafi: 1/186)



Abu Abdillah (Imam Ja’far) berkata: “Siapa saja yang mengaku seorang imam namun tidak mengetahui musibah yang akan menimpanya dan sampai kapan terjadinya, maka dia bukanlah hujjah Allah atas makhluk-Nya.” (Ushul al-Kafi: 1/186)



Ali Ibnu al-Husain mendatangi ayahnya pada malam kematiannya dengan membawa minuman (obat).  Dia berkata, “Wahai ayahku, minumlah ini.” Maka dia (ayahnya) berkata, “Wahai anakku, malam ini adalah malam dimana nyawaku akan di cabut. Ini merupakan malam dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga diwafatkan.” (Ushul al-Kafi: 1/187)

Dari al-Hasan Ibnu Jahm dia berkata, aku berkata kepada Imam ar-Ridha: “Sesungguhnya Amirul Mu’minin (Ali radhiyallahu ‘anhu) telah mengetahui siapa yang akan membunuhnya, pada malam apa ia akan dibunuh, dan tempat dimana dia akan dibunuh.” (Ushul al-Kafi: 1/187)

3. Para Imam mengetahui segala sesuatu melebihi ilmu para Nabi



Al-Kulaini menulis satu bab dalam bukunya, “Bab Sesungguhnya para imam mengetahui ilmu apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi, dan sesungguhnya tidak ada yang tersembunyi dari mereka sedikitpun.” (Ushul al-Kafi: 1/188)

Imam Ja’far berkata: “Demi pemilik Ka’bah dan Rabb Baniyyah 3x Jika seandainya diriku berada diantara Musa dan Khidir, sungguh aku akan mengabarkan kepada mereka bahwasanya diriku lebih mengetahui sesuatu (yang ghaib) dari mereka dan aku akan mengabarakan kepada mereka apa yang tidak ada pada mereka berdua. Karena Musa dan Khidir hanya diberikan ilmu berupa ilmu akan apa yang telah terjadi dan mereka tidak diberikan ilmu tentang apa yang akan terjadi atau apa yang akan terjadi hingga hari kimat. Karena kami telah mewarisinya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Ushul al-Kafi: 1/188)   

Inilah diantara akidah Syiah yang bathil akan keutamaan para imam mereka. akidah ini adalah akidah yang sesat dan menyesatkan. Meyakininya berarti kita terjatuh dalam kekufuran terhadap ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits yang shahih.

Keyakinan Syiah bahwa para Imam mengetahui ilmu ghaib mereka, sungguh ini adalah kekafiran. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

قُلْ لا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلا مَا يُوحَى إِلَيَّ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الأعْمَى وَالْبَصِيرُ أَفَلا تَتَفَكَّرُونَ

“Katakanlah wahai Muhammad: Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: "Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?" Maka Apakah kamu tidak memikirkan(nya)?" (QS. Al-An’am: 50)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

أي: لست أملكها ولا أتصرف فيها، { وَلا أَعْلَمُ الْغَيْبَ } أي: ولا أقول: إني أعلم الغيب إنما ذاك من علم الله، عَزَّ وجل،لا أطلع منه إلا على ما أطلعني عليه

“Maksud ayat ini yaitu katakanlah sesunggunya aku tidak memiliki perbedanharaan Allah dan aku juga tidak mampu berbuat apa-apa darinya. Dan katakanlah bahwa aku tidak pernah mengatakan kepada kalian bahwa aku mengetahui ilmu ghaib. Sesungguhnya hal itu hanya merupakan ilmu Allah azza wajalla aku tidak dapat mengamati itu kecuali atas apa yang Dia berikan kepadaku.” (Tafsir Ibnu Katsir: 2/123)

Ayat ini menjelaskan bahwa perkara ghaib yang pernah Allah azza wajalla beritakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bukanlah ilmu yang diwariskan turun temurun. Maksudnya perkara ghaib yang sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mencakup seluruh ilmu ghaib melainkan hanya sedikit dari risalah Allah yang dibutuhkan umatnya untuk menambah keyakinan mereka. Sebab dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengetahui hal ghaib. Yang menunjukkan hal itu adalah firman Allah azza wajalla:

قُلْ إِنْ أَدْرِي أَقَرِيبٌ مَا تُوعَدُونَ أَمْ يَجْعَلُ لَهُ رَبِّي أَمَدًا (٢٥)عَالِمُ الْغَيْبِ فَلا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا (٢٦)إِلا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا (٢٧)لِيَعْلَمَ أَنْ قَدْ أَبْلَغُوا رِسَالاتِ رَبِّهِمْ وَأَحَاطَ بِمَا لَدَيْهِمْ وَأَحْصَى كُلَّ شَيْءٍ عَدَدًا (٢٨)

Katakanlah: "Aku tidak mengetahui, apakah azab yang diancamkan kepadamu itu dekat ataukah Tuhanku menjadikan bagi (kedatangan) azab itu masa yang panjang?". (Dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang ghaib, Maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya, Maka Sesungguhnya Dia Mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. Supaya Dia mengetahui, bahwa Sesungguhnya Rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu. (QS. Al-Jin: 25-28)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

يقول تعالى آمرًا رسوله صلى الله عليه وسلم أن يقول للناس: إنه لا علم له بوقت الساعة، ولا يدري أقريب وقتها أم بعيد؟ { قُلْ إِنْ أَدْرِي أَقَرِيبٌ مَا تُوعَدُونَ أَمْ يَجْعَلُ لَهُ رَبِّي أَمَدًا } ؟ أي: مدة طويلة.

“Allah memerintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk berkata kepada manusia bahwasanya dirinya tidak mengetahui waktu terjadinya hari kiamat apakah waktu yang ditentukan itu dekat ataukah jauh. Allah menjadikan waktu itu waktu yang panjang.” (Tafsir Ibnu Katsir: 4/373)

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلا يَعْلَمُهَا وَلا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأرْضِ وَلا رَطْبٍ وَلا يَابِسٍ إِلا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” (QS. Al-An’am: 59)

Lain halnya dengan Syiah. Jika ahlusunnah berkeyakinan sesuai al-Qur’an bahwa tidak ada yang memiliki perbendaharaan ilmu Allah bahkan para Nabi, maka syiah mengatakan para imam adalah perbendaharaan ilmu Allah. Dalam hal ini, para imam lebih hebat daripada para Nabi.

Al-Kulaiani berkata dalam kitabnya:



“Bab sesungguhnya para Imam adalah wali-wali Allah dan merupakan perbendaharaan ilmunya.” (Ushul al-Kafi: 1/138)

Abu Abdillah (Imam Ja’far) berkata: “Kami adalah wali-wali Allah dan perbendaharaan ilmu-Nya serta merupakan Aibah (tempat penyimpanan-pent) wahyu Allah.” (Ushul al-Kafi: 1/138)

Padahal Allah azza wajalla berfirman:

قُلْ لا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلا مَا يُوحَى إِلَيَّ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الأعْمَى وَالْبَصِيرُ أَفَلا تَتَفَكَّرُونَ

“Katakanlah wahai Muhammad: Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: "Apakah sama orang yang buta dengan yang melihat?" Maka Apakah kamu tidak memikirkan(nya)?" (QS. Al-An’am: 50)

Diantara keyakinan batil dan menyesatkan mereka adalah para imam mengetahui kapan mereka akan meninggal dunia, dan di belahan bumi mana mereka akan meninggal dunia. Padahal Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الأرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ (٣٤)

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana Dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Luqman: 34)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengomentari ayat ini menukil perkataan Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwasanya dia berkata:

من حدثك أنه يعلم أنه يعلم ما في غد فقد كذب ثم قرأت وما تدرى نفس ماذا تكسب غدا

“Siapa saja yang berkata kepadamu bahwa dia mengetahui apa yang akan terjadi besok, sungguh dia telah berdusta. Kemudian dia membaca firman Allah “Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok” (Tafsir Ibnu Katsir: 3/406)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah juga berkata:

ليس أحد من الناس يدري أين مضجعه من الأرض، أفي بحر أم بر، أو سهل أو جبل

“Tidak ada satupun dari manusia yang mengetahui dimana tempat berbaring kematiannya di muka bumi ini. apakah di daratan ataukah lautan, di tanah datar ataukah pegunungan.” (Tafsir Ibnu Katsir: 3/406 perkataan ini juga di katakana oleh al-Imam ath-Thabari dalam kitab Tafsir Jami’ al-Bayan Tafsir ath-Thabari: 20/160)

Allah azza wajalla juga berfirman:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلا يَسْتَقْدِمُونَ

“Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Maka apabila telah datang ajal mereka, mereka tidak akan dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (QS. Al-A’raf: 34)


Dari penjelasan ini, nampak jelas, siapa yang kafir terhadap al-Qur’an dan siapa yang beriman. Wallahu a’lam bishshowab.  

Abu Ukasyah Wahyu al-Munawy

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar