Senin, 09 November 2015

Halal Untuk Mereka Haram Untuk Wahdah Islamiyyah



Fenomena tashnif (pengelompokkan kaum muslimin) merupakan satu penyakit kronis yang tidak disadari sedang menimpa kaum muslimin, khususnya para pengikut manhaj salaf yang lebih dikenal dengan Salafiy. Penyakit ini menyerang dan mematahkan sendi-sendi ukhuwaah dan persatuan kaum muslimin hingga mereka bagaikan batang-batang lidi yang berserakan, semua orang boleh mengambilnya dan mematahkannya. Sayangnya, diantara mereka ada yang justru memelihara penyakit ini.

Ta’ashub (fanatik) merupakan salah satu penyebabnya. Hal ini menjadikan pelakonnya membabi buta menyerang orang-orang yang berseberangan dengan gurunya dalam masalah ijtihadiyyah, terlebih pada perkara yang bersifat kontemporer. Lagi-lagi mereka tidak sadar kalau penyakit ini sedang menimpa diri mereka, yang mengakitabtkan sipelaku ta’ashshub itu selalu meneriakkan orang lain sebagai pelaku ta’ashshub. Yaa, ibarat maling teriak maling.

Kenapa seperti itu? Jawabannya karena mereka tidak mengerti makna ta’ashshub.

Ibnu al-Jauzi rahimahullah berkata:

نعوذ بالله من العصبية فإن مصنف هذا الكتاب لا يخفى عليه أن هذا الحديث موضوع

“Kita berlindung kepada Allah dari sifat ta’shshub, sesungguhnya penulis kitab ini –kitab hadits- tidak tersembunyi baginya bahwa hadits ini adalah hadits palsu.” (Lihat: Lisanul Mizan karya Ibnu Hajar al-Asqalani: 4/462)

Dr.Khalid Kabir ‘Ilal rahimahullah berkata:

فمن العصبية عنده أن يعتمد الإنسان على حديث يعلم أنه موضوع، انتصارا لأمر في نفسه ، فيترك الصحيح و يأخذ السقيم

“Merupakan termasuk perkara ta’shshub menurut Ibnu al-Jauzi rahimhullah adalah ketika seseorang beri’timad (melandaskan keyakinan) pada satu hadits yang dia ketahui bahwa hadits itu adalah hadits palsu, untuk menolong keyakinannya sehingga dia meninggalkan hadits yang shahih lalu mengambil hadits yang palsu.” (Lihat: At-Ta’ashshubu al-Mazhabi Fi at-Tarikh Mazhahiruhu, Aatsaruhu, Asbabuhu, ‘Ilajuhu: 3)

Sama halnya dengan orang-orang yang enggan untuk mengkonfirmansi kebenaran berita atas tuduhan-tuduhan dutsa yang dilemparkan kepada saudaranya. Padahal amat mudah bagi mereka untuk mencari kebenaran berita melalui berbagai sarana dan alat komunikasi yang begitu banyak, atau langsung mendatangi saudara yang tertuduh itu. Ketika mereka enggan untuk melakukan hal itu,  hasilnya adalah ta’ashshub dengan tingkat yang lebih parah dari itu, yaitu:

أن يدعو الرجل إلى نصرة عصبيته، و الوقوف معها على من يُناوئها، ظالمة كانت أو مظلومة

“Dakwah (ajakan) yang dilakukan untuk menolong kelompoknya dan selalu bersamanya terhadap orang-orang yang memusuhinya. Baik dalam keadaan berbuat zhalim atau terzhalimi.” (Lihat: At-Ta’ashshubu al-Mazhabi Fi at-Tarikh Mazhahiruhu Aatsaruhu Asbabuhu ‘Ilajuhu: 2)

Anda mungkin sering mendengar bahwa diantara orang-orang yang mengaku mengikuti manhaj salaf ada yang tidak pernah mau melakukan tabayyun (konfirmasi) atas berita-berita dusta yang dituduhkan kepada wahdah islamiyyah. Alasannya, karena gurunya sudah mengatakan begini dan begitu, yang tidak lain semua itu hanya merupakan nukilan berupa Qila wa Qala, tidak ada satupun dari mereka yang mau melakukan konfirmasi atas tuduhan itu.

Padahal para ulama telah menjelaskan metode pengambilan berita yang benar sesuai praktek dan pemahaman para salaf, jika seorang yang tsiqah (terpercaya) meriwayatkan berita yang tidak sesuai dengan pemilik kisah.  Metode itu adalah:

1.  Mendahulukan riwayat pemilik kisah daripada riwayat yang bukan pemilik kisah, karena dia lebih mengetahui apa yang terjadi pada dirinya. Misalnya:

Hadits Abdullah Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, dia berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم تَزَوَّجَ مَيْمُونَةَ وَهُوَ مُحْرِمٌ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikahi Maimunah radhiyallahu ‘anha dalam keadaan ihram (kondisi ini diharamkan menikah-pent).” (HR. Bukhari: 1837, 4258; Muslim: 3517)

Lalu ternyata ada hadits lain yang menyelisihi hadits Abdullah Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, yaitu hadits Yazid ibn al-Ashm. Ia berkata:

حَدَّثَتْنِى مَيْمُونَةُ بِنْتُ الْحَارِثِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- تَزَوَّجَهَا وَهُوَ حَلاَلٌ قَالَ وَكَانَتْ خَالَتِى وَخَالَةَ ابْنِ عَبَّاسٍ

“Maimunah Bintu al-Harits telah menceritakan kepadaku bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikahinya dalam keadaan halal.” Ia berkata, “Ia adalah bibiku dan bibi Ibnu Abbas.” (HR. Muslim: 3519)

Dalam kondisi seperti ini, riwayat dari Maimunahlah yang harus didahulukan daripada riwayat Ibnu Abbas karena ia adalah pemilik kisah yang lebih tahu tentang dirinya sendiri.

2.  Mendahulukan riwayat yang melihat kisah secara langsung dari yang tidak melihat kisah. Misalnya:

Hadits dari Abdullah Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menikahi Maimunah dalam keadaan ihram. (HR. Bukhari: 1837, 4258; Muslim: 3517)

Lalu ternyata ada riwayat dari Abu Rafi’ yang menyelishi hadits sebelumnya, dia berkata:

تزوج رسول الله صلى الله عليه و سلم ميمونة وهو حلال وبنى بها وهو حلال وكنت أنا الرسول فيما بينهما

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikahi Maimunah dalam keadaan halal dan mendatanginya juga dalam keadaan halal saat itu diriku sebagai utusan diantara mereka berdua (saat menikah-pent).” (HR. Tirmidzi: 841; Nasai: 5381)

Maka dalam hal seperti ini, riwayat Abu Rafi’ harus didahulukan karena dia sebagai utusan yang berada diantara mereka berdua, yang melihat peristiwa secara langsung. (Mudzakkirah Fii Ushul al-Fiqh Min Muhadharaat Fadhilatu asy-Syaikh ad-Duktur Muhammad bin Abdurrazzaq ad-Duwaisy hafizhahullah yang disusun oleh Khairul Masmu’ Mas’udi al-Banjari al Jawi: 357-358 dalam format PDF)

Harusnya seperti ini yang dipraktekkan oleh mereka terhadap saudara-saudaranya di ormas Wahdah Islamiyyah. Menanyakan langsung kepada mereka, karena mereka lebih mengerti tentang peristiwa yang terjadi pada mereka.

Lain halnya dengan keengganan mereka melakukan tabayyun kepada saudara mereka di Wahdah Islamiyyah, di kelompok mereka, hal itu adalah sesuatu yang halal dan harus dilakukan. Ketika salah seorang guru mereka tertuduh mendukung Basyar Asad dan menggembosi perjuangan mujahidin Suriah, mereka lantas berteriak “Tabayyun akhi, tabayyun….”

Lalu mengapa hal ini tidak dilakukan kepada saudara-saudaranya di Wahdah Islamiyyah? Halalkah bagi mereka dan haramkah untuk dilakukan kepada saudara-saudaranya di Wahdah?

Abu Qilabah rahimahullah pernah berkata:

إذا بلغك عن أخيك شيء تكرهه فالتمس له عذرا فإن لم تجد له عذرا فقل لعل له عذرا لا أعلمه

“Apabila sampai kepadamu berita tentang saudaramu tentang perkara yang engkau membencinya, maka carikanlah udzur untuknya. Jika engkau tidak mendapatkan udzur untuknya maka katakanlah, “Mungkin ada udzur baginya yang tidak aku ketahui.” (Lihat: Raudhatu al-Uqalaa wa Nuzhatu al-Fudhala: 184)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah memiliki satu perkataan yang sangat mulia untuk orang-orang yang seperti ini, yaitu orang-orang yang senantiasa melakoni fenomena tashnif dimana mereka mencintai sesuatu karena bersama dengan kelompok mereka dan membenci sesuatu ketika tidak sesuai dengan keinginan kelompoknya. Beliau rahimahullah berkata:

وَمِمَّا يَنْبَغِي أَيْضًا أَنْ يُعْرَفَ أَنَّ الطَّوَائِفَ الْمُنْتَسِبَةَ إلَى مَتْبُوعِينَ فِي أُصُولِ الدِّينِ وَالْكَلَامِ  عَلَى دَرَجَاتٍ مِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ قَدْ خَالَفَ السُّنَّةَ فِي أُصُولٍ عَظِيمَةٍ وَمِنْهُمْ مَنْ يَكُونُ إنَّمَا خَالَفَ السُّنَّةَ فِي أُمُورٍ دَقِيقَةٍ . وَمَنْ يَكُونُ قَدْ رَدَّ عَلَى غَيْرِهِ مِنْ الطَّوَائِفِ الَّذِينَ هُمْ أَبْعَدُ عَنْ السُّنَّةِ مِنْهُ ؛ فَيَكُونُ مَحْمُودًا فِيمَا رَدَّهُ مِنْ الْبَاطِلِ وَقَالَهُ مِنْ الْحَقِّ ؛ لَكِنْ يَكُونُ قَدْ جَاوَزَ الْعَدْلَ فِي رَدِّهِ بِحَيْثُ جَحَدَ بَعْضَ الْحَقِّ وَقَالَ بَعْضَ الْبَاطِلِ فَيَكُونُ قَدْ رَدَّ بِدْعَةً كَبِيرَةً بِبِدْعَةِ أَخَفَّ مِنْهَا ؛ وَرَدَّ بِالْبَاطِلِ بَاطِلًا بِبَاطِلِ أَخَفَّ مِنْهُ وَهَذِهِ حَالُ أَكْثَرِ أَهْلِ الْكَلَامِ الْمُنْتَسِبِينَ إلَى السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ  وَمِثْلُ هَؤُلَاءِ إذَا لَمْ يَجْعَلُوا مَا ابْتَدَعُوهُ قَوْلًا يُفَارِقُونَ بِهِ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ ؛ يُوَالُونَ عَلَيْهِ وَيُعَادُونَ ؛ كَانَ مِنْ نَوْعِ الْخَطَأِ . وَاَللَّهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَغْفِرُ لِلْمُؤْمِنِينَ خَطَأَهُمْ فِي مِثْلِ ذَلِكَ . وَلِهَذَا وَقَعَ فِي مِثْلِ هَذَا كَثِيرٌ مِنْ سَلَفِ الْأُمَّةِ وَأَئِمَّتِهَا : لَهُمْ مَقَالَاتٌ قَالُوهَا بِاجْتِهَادِ وَهِيَ تُخَالِفُ مَا ثَبَتَ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ ؛ بِخِلَافِ مَنْ وَالَى مُوَافِقَهُ وَعَادَى مُخَالِفَهُ وَفَرَّقَ بَيْنَ جَمَاعَةِ الْمُسْلِمِينَ وَكَفَّرَ وَفَسَّقَ مُخَالِفَهُ دُونَ مُوَافِقِهِ فِي مَسَائِلِ الْآرَاءِ وَالِاجْتِهَادَاتِ ؛ وَاسْتَحَلَّ قِتَالَ مُخَالِفِهِ دُونَ مُوَافِقِهِ فَهَؤُلَاءِ مِنْ أَهْلِ التَّفَرُّقِ وَالِاخْتِلَافَاتِ

“Dan perihal yang perlu diketahui pula bahwa kelompok-kelompok yang menisbatkan diri mereka selalu ittiba’ dalam ushul ad-din, terdapat beberapa derajat dalam membicarakan mereka. Diantara mereka ada yang menyelisihi sunnah dalam permasalahan ushul yang sangat besar dan diantara mereka pula ada yang menyelishi sunnah dalam permasalahan yang ringan. Maka siapa saja yang membantah kelompok-kelompok selain mereka yang jauh dari sunnah, maka hal itu adalah perbuatan terpuji atas bantahannya terhadap kebatilan dan perkataannya terhadap kebenaran. Akan tetapi terkadang mereka berlebihan sehingga tidak berbuat adil dalam membantahnya. Dimana mereka mengingkari sebagian kebenaran dan mengatakan sebagian yang lain sebagai kebatilan. Sehingga terkadang mereka membantah bid’ah yang besar dengan bid’ah yang lebih ringan darinya, dan membantah kebatilan dengan kebatilan yang lebih rendah darinya. Inilah keadaan kebanyakan pemilik perkataan yang menisbatkan dirinya pada ahlu sunnah waljama’ah. Dan orang-orang seperti mereka, jika mereka tidak menjadikan perkara bid’ah yang mereka terjatuh di dalamnya sebagai standar perkataan (kebenaran), sehingga mereka berpisah dengannya dari jama’ah kaum muslimin, seperti setia dan memusuhi karenannya maka itu merupakan kesalahan. Dan Allah mengampuni kesalahan kaum mu’minin dalam perkara seperti ini. Hal seperti ini pun banyak terjadi pada generasi umat dan imam-imam sebelumnya. Mereka memiliki perkataan dari ijtihad mereka yang menyelisihi al-Qur’an dan sunnah. Beda halnya dengan orang-orang yang setia pada kelompoknya karena sesuai dengannya dan memusuhi karena tidak sesuai dengan kelompoknya dan ia memisahkan dirinya dari jama’ah kaum muslimin serta mengkafirkan dan memfasikkan orang-orang yang berbeda dengannya dalam masalah hal-hal ijtihadiyyah sehingga ia menghalalkan untuk memerangi orang-orang yang tidak sesuai dengannya maka mereka ini adalah ahlu at-tafarruq wa al-ikhtilaf (kelompok pemecah belah agama).” (Lihat: Majmu’ Fatawa, Bab Ma Hiya al-Firqatu an-Najiyyah, 3/349)

Jika alasan mereka tidak mau bertabayyun karena wahdah bukanlah ahlusunnah waljama’ah/salafy (menurut mereka), melainkan satu organisasi, yang dimana salafy bukanlah organisasi (sebagaimana penuturan mereka), lalu apa salahnya membuat organisasi yang dibangun atas dasar manhaj Salaf?

Syaikh al-Albany rahimahullah ditanya tentang Jam’iyyah al-Hikmah al-Yamaniyah (Organisasi al-Hikmah dari Yaman), beliau pun menjawab:

“Setiap jam’iyyah (organisasi) yang dibentuk di atas dasar Islam yang benar yang mana hukum-hukumnya disimpulkan dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah serta berada di atas manhaj para Salafushshalih, setiap organisasi yang didirikan atas dasar ini maka tidak ada alasan untuk diingkari dan dituduh sebagai hizbiyyah, karena hal tersebut termasuk dalam firman Allah Ta’ala: “Dan saling tolong menolonglah dalam kebaikan dan takwa…” Saling tolong menolong merupakan perkara yang syar’i dan wasilah (sarana)-nya kadang berbeda antara satu zaman dengan zaman lainnya dan antara satu tempat dengan tempat lainnya dan juga antara satu negara dengan negara lainnya. Oleh karena itu menebarkan tuduhan terhadap organisasi yang berdiri di atas dasar ini (al-Quran dan Sunnah) dengan label “Hizbiyyah” atau “Bid’iyyah”, maka ini adalah klaim yang tidak boleh seorang pun berpendapat dengannya sebab hal ini menyelisihi apa yang telah ditetapkan oleh para ulama berupa pembedaan antara bid’ah yang disifati dengan kesesatan secara umum dan sunnah hasanah. Sunnah hasanah merupakan suatu metode yang dibuat dan diadakan sebagai wasilah (sarana) yang bisa mengantarkan kaum muslimin pada suatu maksud/tujuan dan masyru’ secara nash. Jadi, organisasi-organisasi yang ada di zaman ini tidaklah berbeda dengan semua jenis sarana yang ada pada zaman ini yang bertujuan untuk mengantarkan kaum muslimin pada tujuan-tujuan syar’i. Dan apa yang ada dalam majelis kita ini berupa penggunaan alat rekam dengan ragam jenisnya, adalah bagian dari masalah ini (sarana yang dibolehkan -pent). Ia adalah wasilah yang dibuat baru, jika digunakan untuk mewujudkan tujuan yang syar’i, maka ia merupakan wasilah yang syar’i, dan jika digunakan untuk tujuan yang tidak syar’i, maka ia bukan wasilah yang syar’i. Demikian pula sarana transportasi yang beragam hari ini berupa mobil, pesawat dan selainnya, semuanya merupakan wasilah, jika digunakan untuk tujuan syar’i maka ia adalah wasilah yang syar’i, jika tidak maka ia bukan wasilah syar’i.” (Silsilah al-Huda wa an-Nur, kaset no. 590  atau silahkan lihat di web resmi beliau: http://www.alalbany.net/2030)

Sangat banyak fatwa-fatwa para ulama yang membolehkan organisasi yang berlandaskan pada manhaj ahlusunnah waljama’ah. Jika mereka masih saja mencari-cari alasan dan mencari kesalahan lain, nampaknya perkataan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah sangat cocok untuk mereka. Beliau rahimhullah berkata:

 ومن الناس من طبعه طبع خنزير يمر بالطيبات فلا يلوى عليها فإذا قام الإنسان عن رجيعه قمه وهكذا كثير من الناس يسمع منك ويرى من المحاسن أضعاف أضعاف المساوىء فلا يحفظها ولا ينقلها ولا تناسبه فإذا رأى سقطة أو كلمة عوراء وجد بغيته وما يناسبها فجعلها فاكهته ونقله

“Diantara manusia ada yang tabiatnya seperti tabiat babi. Seekor babi jika melewati sesuatu yang baik-baik maka ia tidak memiliki hajat padanya, akan tetapi apabila ada seorang manusia yang selesai buang kotorannya, maka babi itu akan mendatanginya dan melahap habis kotoran tersebut. Seperti itulah tabiat kebanyakan manusia. Mereka mendengar dan melihat kebaikanmu berliapat-lipat dari kesalahanmu akan tetapi kebaikan itu tidak mereka hafalkan, tidak menukilnya dan tidak pula cocok dengannya. Tapi jika melihat ketergelinciran atau ucapan yang cacat maka ia telah mendapatkan yang dicarinya, dan dijadikannya sebagai buah santapan kemudian ia sebarkan.” (lihat madariju as-salikin: 1/403.)


Jika alasan mereka tidak mau tabayyun karena Wahdah Islamiyyah pernah bekerja sama dengan orang-orang yang mereka anggap sebagai ikhwani, maka salahkah hal itu dilakukan jika untuk mengagungkan syariat Allah?

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata:

إذَا طَلَبَ الْمُشْرِكُونَ وَأَهْلُ الْبِدَعِ وَالْفُجُورِ وَالْبُغَاةُ وَالظّلَمَةُ أَمْرًا يُعَظّمُونَ فِيهِ حُرْمَةً مِنْ حُرُمَاتِ اللّهِ أُعِينُوا عَلَيْهِ وَمِنْهَا : أَنّ الْمُشْرِكِينَ وَأَهْلَ الْبِدَعِ وَالْفُجُورِ وَالْبُغَاةِ وَالظّلَمَةِ إذَا طَلَبُوا أَمْرًا يُعَظّمُونَ فِيهِ حُرْمَةً مِنْ حُرُمَاتِ اللّهِ تَعَالَى أُجِيبُوا إلَيْهِ وَأُعْطُوهُ وَأُعِينُوا عَلَيْهِ وَإِنْ مَنَعُوا غَيْرَهُ فَيُعَاوَنُونَ عَلَى مَا فِيهِ تَعْظِيمُ حُرُمَاتِ اللّهِ تَعَالَى لَا عَلَى كُفْرِهِمْ وَبَغْيِهِم

Apabila kaum musyrikin, ahlul bida’ pelaku fujjar, bughat mememohon pertolongan pada satu perkara dimana perkara itu memuliakan syariat dari syariat Allah maka bantulah. Dan diantaranya, bahwa kaum musyrikin, ahli bid’ah , kaum fujjar, bughat dan pelaku kezholiman jika mereka meminta tolong pada perkara yang dimana perkara itu akan mengagungkan syariat-syariat Allah maka jawablah permintaan itu dan tolonglah mereka dan jika mereka melarang selainnya maka di tolong pada perkara yang mengagungkan syariat-syariat Allah saja bukan pada kekufuran dan perbuatan aniaya mereka. (lihat Za’adul Ma’ad: 3/256.)

Lajnah Daimah juga pernah mengeluarkan fatwa tentang kebolehan melakukan kerjasama dalam hal ini. berikut fatwanya:

Fatwa lajnah daimah nomor 6250

س1: في العالم الإسلامي اليوم عدة فرق وطرق الصوفية مثلا: هناك جماعة التبليغ ، الإخوان المسلمين ، السنيين ، الشيعة ، فما هي الجماعة التي تطبق كتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم؟
Pertanyaan: Dalam dunia islam saat ini terdapat beberapa kelompok dan kelompok-kelompok shufiyah misalnya jama’ah tabligh, al-ikhwan al-muslimin, sunni dan syiah. Kelompok manakah yang menerapkan kitab Allah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?

Jawaban:
ج1: أقرب الجماعات الإسلامية إلى الحق وأحرصها على تطبيقه: أهل السنة : وهم أهل الحديث ، وجماعة أنصار السنة ، ثم الإخوان المسلمون .
Kelompok-kelompok islam yang paling dekat dengan kebenaran dan semangat dalam mempraktekannya adalah ahlu sunnah, dan mereka adalah ahlul hadits jama’ah ansharu as-sunnah dan jama’ah ikhwan al-muslimin
وبالجملة فكل فرقة من هؤلاء وغيرهم فيها خطأ وصواب، فعليك بالتعاون معها فيما عندها من الصواب، واجتناب ما وقعت فيه من أخطاء، مع التناصح والتعاون على البر والتقوى.
وبالله التوفيق. وصلى الله على نبينا محمد، وآله وصحبه وسل
Intinya, setiap kelompok dari mereka dan selainnya terdapat kesalahan dan kebenaran pada mereka. Maka bekerjasamalah dengan mereka pada kebenaran dan jauhilah kesalahannya. Dan saling nasehat menasehatilah dalam kebaikan dan takwa. Semoga mendapat taufik dari Allah. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah pada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam beserta keluarga serta sahabatnya.

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
عضو … عضو … نائب رئيس اللجنة … الرئيس
عبد الله بن قعود … عبد الله بن غديان … عبد الرزاق عفيفي … عبد العزيز بن عبد الله بن باز

     

Lalu apa alasan mereka?
Sudah berapa kedustaan yang mereka buat-buat untuk memecah belah kaum muslimin?

Lihatlah salah satu kedustaan salah seorang dari mereka dalam situs aslibumiayu.wordpress.com. 


Adminnya mengatakan bahwa kedekatan para asatidz wahdah islamiyyah dengan ulama timur tengah seperti syaikh Amin al-Hajj hafizhahullah karena pandai melobi. Entah dia tidak tahu atau pura-pura tidak tahu kalau salah seorang ustadz di Wahdah yaitu al-Ustadz Harman Tajang hafizhahullah yang juga merupakan anggota Rabithatu Ulama al-Muslimin adalah murid dari ulama besar itu yang namanya juga disebutkan oleh Syaikh Bakar Abu Zaid rahimahullah dalam kitabnya hilyatu Thalabi al-Ilm. Tapi jika dia tidak mengetahui mengapa harus menuduh seperti ini?

Kedustaan berikutnya adalah tuduhan bahwa kaum muslimin yang belajar atau menjadi pengurus ormas ini berbaiat dan wajib mengikuti kebijakan ormas. 



Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Tuduhan ini sejak awal didirikannya wahdah hingga hari ini masih terus mereka lemparkan di tengah-tengah kaum muslimin. Ketika diajak diskusi atau tabayyun, mereka menolak. Tapi lidahnya begitu tajam melempar tuduhan keji dan dusta. Padahal dalam komentar sebelumnya sang admin mengatakan mengenal asatidz Wahdah Islamiyyah. Laa haula walaa Quwwata Illaa Billah. ‘Alaihi ma yastahiqqu minallah.



Oleh karena itu, kepadamu wahai sekalian umat muslim, satu nasehat emas dari seorang ulama besar Syaikh Bakar Abu Zaid rahimahullah dalam kitabnya Tashnifu an-Nas Baina azh-Zhanni wa al-Yaqin:

إلى كُل مسلم . إلى كُل من احترف التصنيف فتاب . إلى من رُمي بالتصنيف فصبر . إلى كُل عبد مسلم شحيح بدينه ، يخشى الله ، والدار الآخرة . إلى هؤلاء جميعاً مسلمين ، قانتين ، باحثين عن الحق على منهاج النبوة ، وأنوار الرسالة - أسوق التذكير والنصيحة - علماً وعملاً - بالأصول الآتية :

Kepada setiap muslim. Kepada mereka yang dahulu melakoni tashnif, namun kini telah bertaubat. Kepada mereka yang terkena lemparan-lemparan tashnif namun tetap teguh dan bersabar dengan agamanya. Kepada setiap muslim yang gigih menjaga kesucian agamanya, yang takut pada Allah dan merindukan negri akhirat. Kepada seluruh kaum muslimin yang tunduk dan menghamba mencari kebenran di atas manhaj kenabian dan cercah cahaya-cahaya risalah, aku tuliskan risalah ini agar menjadi nasehat bagi kita dengan beberapa prinsip berikut:


1- الأصل الشرعي : تحريم النيل من عرض المسلم . وهذا أمر معلوم من الدين بالضرورة في إطار الضروريات الخمس التي جاءت من أجلها الشرائع ، ومنها : " حفظُ العرض ". فيجب على كل مسلم قدر الله حق قدره ، وعظم دينه وشرعه ، أن تعظم في نفسه حرمة المسلم : في دينه . ودمه . وماله . ونسبه . وعرضه .

1. Menjadi prinsip utama yang mulia dalam agama ini, bahwa mengoyak dan melecehkan harga diri seorang muslim adalah perbuatan keji yang diharamkan. Ini merupakan perkara yang aksiomatik menjadi bagian penting dalam islam. Kehormatan seorang muslim bahkan termasuk lima perkara yang menjadi tujuan dasar syariat islam. Maka wajib bagi setiap muslim yang sungguh-sungguh memuliakan agama dan syariat Allah, agar benar-benar memuliakan pula dalam lubuk hatinya kehormatan seorang muslim. Baik itu kehormatan agamanya, darahnya, hartanya, nasabnya, maupun harga dirinya.

2- والأصل بناء حال المسلم على السلامة ، والستر ، لأن اليقين لا يزيله الشك ، وإنما يُزالُ بيقين مثله .فاحذر - رحمك الله - ظاهرة التصنيف هذه ، واحذر الاتهامات الباطلة ، واستسهال الرمي بها هنا وهناك ، وانفض يدك منها ، يخل لك وجه الحق ، وأنت به قرير العين ، رضي النفس.

2. Hukum asal bermuamalah dengan seorang muslim adalah hendaknya membangun keyakinan bahwa dia adalah seorang muslim yang berjalan di atas jalan yang lurus, dan engkau tidak berhak mencari kesalahan-kesalahan dan aibnya yang tersembunyi. Maka hindarilah fenomena tahshnif ini, menuduh para kesatria-kesatria dakwah, dan jangan bermudah-mudahan melempar tuduhan di sini dan disana. Jauhkanlah tanganmu darinya itu menuntunmu pada kebenaran, itu akan membuatmu tenang dan ridho terhadap jiwa.

3- لا يُخرجُ عن هذين الأصلين إلا بدليل مثل الشمس في رائعة النهار على مثلها فاشهد أو دع . فالتزام واجب "التبين " للأخبار، والتثبت منها، إذ الأصل البراءة. وكم من خبر لا يصح أصلا

3. Jangan sekali-kali keluar dari dua prinsip ini kecuali engkau memiliki bukti, bukti yang sangat terang benderang, seterang mentari pada pertengahan siang yang terik.  Maka wajib bagimu untuk selalu bertabayyun (mengkonfirmasi) berita yang datang padamu. Jika engkau mendapatkannya maka silahkan lakukan apa yang seharusnya dilakukan. Sungguh begitu banyak kabar-kabar yang disebar hakikatnya bukanlah kebenaran.


4- من تجاوزهما بغير حق مُتيقن فهو خارقٌ حُرمة الشرع بالنيل ظلماً من "عرض أخيه المسلم " وهذا " مفتون " .


4. Siapa yang melanggar prinsip-prinsip itu tanpa bukti yang sungguh meyakinkan, maka ia benar-benar telah merusak kehormatan dan kemuliaan syariat islam dengan cara melecehkan dan menginjak-injak kehormatan saudaranya yang muslim.


5- يجب أن يكون المسلم على جانب كريم من سُمُو الخلق وعلو الهمة، وأن لا يكون معبراً تمررُ عليه الواردات والمُختلقات.

5. Wajib atas seorang muslim memiliki akhlak dan obsesi yang tinggi.

6- يوجد أفراد شُغلهم الشاغل : "تطيير الأخبار كُل مطار" يتلقى لسان عن لسان بلا تثبت ولا روية، ثم ينشره بفمه ولسانه بلا وعي ولا تعقل، فتراه يقذف بالكلام، ويطير به هنا وهناك، فاحذر طريقتهم، وادفع في وجهها، واعمل على استصلاح حالهم


6. Memang ada orang-orang yang menyibukkan dirinya dengan pekerjaan menukil berita, ia mengais-ngais berita tanpa melakukan konfirmasi lalu menyebarkannya dengan lisannya. Maka terkadanga engkau melihat ia melecehkan sudaranya dengan perkataannya, maka jauhilah jalan mereka dan bila engkau mampu nasehatilah mereka.

7- التزم " الإنصاف الأدبي " بأن لا تجحد ما للإنسان من فضل ، وإذا أذنب فلا تفرح بذنبه

7. Milikilah selalu sikap inshaf. Karena sifat ini tidak akan menutup matamu dari keutamaan seseorang. Dan jika saudaramu berbuat dosa, maka janganlah engkau bahagia dengan dosanya itu.

8- احذر " الفتانين " دعاة " الفتنة "


8. Jauhilah para pembuat-pembuat fitnah, dai-dai yang gemar membuat fitnah.


9- اعلم أن " تصنيف العالم الداعية " - وهو من أهل السنة - ورميهُ بالنقائص : ناقض من نواقض الدعوة وإسهام في تقويض الدعوة ، ونكث الثقة ، وصرف الناس عن الخير


9. Ketahuilah, bahwa melempar tuduhan dan fitnah kepada para dai padahal mereka meniti jalan ahlu sunnah, adalah sebuah upaya untuk menghancurkan dakwah, menghilangkan kepecayaan orang terhadapnya dan memalingkan manusia dari kebaikan.



Abu Ukasyah al-Munawy

1 komentar:

  1. ternyata masih banyak yang semisal orang yang disebutkan admin diatas.

    tak sangka. mereka berkata atas dasar analogi dan cocok logi. terlalu naif berkata tanpa tabayyun.
    kata bang roma "sungguh terlalu!!!"

    semoga admin di beri berkah dan limpahan rahmat. sehingga tulisan-tulisannya bisa tersebar dan bisa dibaca oleh khalayak umum untuk segera di amalkan.
    Allahu musta'an.

    best regard

    abu 'uyainah ismail ibn talimen

    BalasHapus

Silahkan Memberi komentar