Minggu, 27 Desember 2015

Faidah Hadits Niat





عَنْ عُمَرَ رضي الله عنه، قال : سَمِعْتُ رَسولَ اللهِ - صلى الله عليه وسلم -يقولُ : (( إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ )) . رواهُ البُخاريُّ ومُسلِمٌ

“Dari Amirul Mukminin radhiyallahu ‘anhu dia berkata, aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya setiap amalan itu memiliki niat, dan sesungguhnya setiap orang hanya akan mendapatkan sesuai apa yang dia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya ke arah Allah dan Rasulnya dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin dicapainya atau wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya ke arah apa yang ia niatkan itu. (HR. Bukhari dan Muslim)

Faidah:

1.      Nama imam Bukhari adalah Abu Abdillah Muhammad Ibnu Ibrahim Ibnu Ismail Ibnu al-Mughirah Ibnu Bardizbah al-Ju’fiy al-Bukhari. Bukhari merupakan nisbat dari daerah beliau yaitu Bukhara yang terletak di Uzbekistan, Rusia

2.      Nama imam Muslim adalah Abu al-Husain Muslim Ibnu Hajjaj Ibnu Muslim al-Qusyairi an-Naisaburi. Al-Qusyairi yaitu dari Bani Qusyair salah satu Qabilah dari suku Arab. (Lihat al-Minhaj Syarah Shahih Muslim: 1/9 )

3.      Bolehnya berhujjah dengan hadits ahad. Hadist ini adalah hadits yang telah disepakati oleh seluruh umat akan keshahihannya walau ia merupakan hadits ahad. Hadits ini diriwayatkan hanya dari jalur Yahya Ibnu Sa’id al-Anshari dari Muhammad Ibnu Ibrahim al-Haitsami dari Alqamah Ibnu Waqqash al-Laitsi dari Umar Ibnu Khattab. Tidak ada jalur lain yang shahih kecuali hanya melalui jalur ini. (Lihat Jami’ul Ulum Walhikam: 15)

4.       Tidak ada satu riwayatpun yang menjelaskan bahwa hadits ahad hanya dipakai dalam masalah muamalah atau ahkam sedangkan dalam masalah akidah hadits ahad tidak dipakai. Oleh karena itu para ulama seperti imam Bukhari rahimahullah menempatkan hadits ini pada urutan pertama dalam kitab shahihnya pada kitab Bad’i al-Wahyi (permulaan turunnya wahyu) dan ini merupakan masalah akidah.

5.      Anjuran mengikhlaskan niat

6.      Niat adalah sesuatu yang sangat penting, yang membedakan antara ibadah dengan ibadah yang lain atau ibadah dengan kebiasaan (Lihat Syarah Arbain an-Nawawi karya Syaikh al-Ustaimin: 8)

7.      Letak niat di dalam hati dan tidak dilafazhkan. Syaikh al-Utsimin rahimahullah berkata: “Ketahuilah niat itu letaknya dalam hati, dan tidak dilafzkan secara muthlak. Karena engkau sedang beribadah pada Rabb yang mengetahui apa yang tidak tampak oleh mata dan apa yang disembunyikan oleh hati. Allah mengetahui terhadap apa yang ada pada hati hamba-hamba-Nya. Engkau tidak sedang berdiri pada Rabb yang tidak mengetahui sesuatu, hingga engkau harus melafazkan apa yang engkau niatkan agar Dia mengetahuinya. Engkau sedang berdiri di hadapan Rabb yang mengetahui apa yang membisiki hatimu dan mengetahui terbolak-baliknya hatimu, mengetahui yang pernah terjadi atau yang akan terjadi. Oleh karena itu tidak ada dalil dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan dari para sahabatnya bahwasanya mereka melafazkan niatnya. (Lihat Syarah Arabin an-Nawawi karya Syaikh al-Utsaimin: 9)

8.      Seseorang akan mendapatkan hanya sesuai apa yang dia niatkan

9.      Perlunya menjaga niat karena ia selalu berubah-rubah disebabkan keterbolak-balikan hati.

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata: “Tidak ada yang paling susah aku obati melebihi niat, karena ia selalu terbolak-balik padaku.” (Jami’ul Ulum Walhikam: 22)

Yusuf Ibnu Asbath rahimahullah berkata: “Memurnikan niat dari kekotorannya lebih susah lamanya berjihad.” (Jamiul Ulum Walhikam: 22)

Ibnu al-Mubarak rahimahullah berkata: “Boleh jadi amalan kecil menjadi besar karena niatnya dan boleh jadi amalannya besar menjadi kecil karena niatnya.” (Jamiul Ulum Walhikam: 22)

Yusuf Ibnu Husain ar-Razi rahimahullah berkata: “Sesuatu yang paling berat di dunia ini adalah menjaga niat. Berapa kali aku telah bersungguh-sungguh untuk menghilangkan sifat riya dalam hatiku, tapi ternyata dia tumbuh dalam warna dan bentuk yang baru.” (Jami’ul Ulum Walhikam: 29)


10.  Hijrah merupakan amal shalih dan ibadah yang disyariatkan

11.  Tidak boleh seseorang bersafar ke negri kafir kecuali dengan tiga syarat:

a.       Memiliki ilmu untuk membentengi diri dari syubhat
b.      Memiliki agama yang baik yang bisa membentengi dirinya dari kerasnya syahwat
c.       Kepergiannya di daerah itu karena memiliki hajat seperti seorang yang sakit yang pergi ke daerah kafir hanya untuk berobat (Syarah Riyadhu ash-Shalihin karya Syaikh al-Utsaimin: 1/18)

12.  Sesungguhnya hijrah dari negri kafir yang tidak bisa menampakkan agamanya/ melakukan ibadah  di dalamnya adalah sesuatu yang wajib. Adapun safar pada beberapa nergara kafir untuk melakukan dakwah dibolehkan jika akan memberikan pengaruh. Karena ini adalah bentuk safar demi kemashlahatan. (Syarah Riyadhu ash-Shalihin karya Syaikh al-Utsaimin: 1/19)



0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar