Rabu, 30 Desember 2015

Hari Ketika Manusia Gigit Jari Menyesali Perbuatannya [Tadabbur Surah al-Furqan Ayat 27-29]



Tadabbur Ayat Pilihan #2

Allah azza wajalla berfirman:

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلا (٢٧) يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلانًا خَلِيلا (٢٨) لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلإنْسَانِ خَذُولا (٢٩)
“Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: "Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari al-Quran ketika al-Quran itu telah datang kepadaku. dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia.” (QS. Al-Furqan: 27-29)
Faidah:

1.    Allah telah memberikan fitrah kepada setiap manusia berupa bahasa tubuh dengan gerakan-gerakan yang menjadi isyarat atau simbol, dapat diketahui  dengannya maksud dan perasaan seorang manusia. Salah satunya adalah gigit jari yang menjadi simbol penyesalan terhadap sesuatu.

2.   Tidak ada jalan keselamatan yang mengantar ke surga kecuali dengan mengikuti petunjuk-petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam masalah akidah ataupun ibadah. Karena Rasul adalah seseorang yang Allah utus untuk mengajarkan agama yang mulia ini. Maka tidak boleh melakukan amalan yang tidak diajarkan oleh beliau shallallahu ‘alaih wasallam.

Allah berfirman:
أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ
Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang membuat syariat untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?(QS. Asy-Syuura: 21)

3.   Penyesalan akan dirasakan bagi orang-orang yang tidak menjadikan sunnah-sunnah Rasul sebagai jalan hidupnya dan lebih memilih perkataan manusia atau jalan hidup kebanyakan manusia yang menyelisihi sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal ini sebagaimana firman Allah:

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الأرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلا يَخْرُصُونَ

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).(QS. Al-An’am: 116)

4.      Orang-orang yang saling mencintai di dunia dan saling mengajak pada suatu amalan yang tidak diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, akan saling memusuhi dan saling melaknat, sebagai wujud penyesalan mereka karena saling mengajak pada perkara yang tidak diperintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Mengenai hal ini Allah juga berfirman:

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولا (٦٦)وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا السَّبِيلا (٦٧)رَبَّنَا آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا (٦٨)
“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata: "Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat pula kepada Rasul". Dan mereka berkata; "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan yang benar. Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan laknatlah mereka dengan laknatkan yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 66-68)

5.   Diantara manusia ada yang senang membuat amalan-amalan baru dalam perkara agama ini yang tidak diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka menganggap hal itu sebagai wujud ketaatan mereka kepada Allah yang mendekatkan diri mereka kepada-Nya. Padahal Allah mengingkari perbuatannya itu dan menghukum perbuatan itu sebagai perkara yang menyelisihi perintah-Nya. Mislanya perbuatan orang-orang arab yang menjadikan patung-patung di sekitar Ka’bah sebagai tawasul yang mendekatkan diri mereka keapda Allah. Mereka mengaggap perbuatannya sebagai kebaikan, namun Allah menganggap itu sebagai kesyirikan. Allah azza wajalla berfirman:

أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ (٣)
“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan Kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.” (QS. Az-Zumar: 3)

6.   Ibnu Sirin rahimahullah berkata: “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka hendaknya dia memperhatikan kepada siapa dia mengambilnya (mempelajarinya).” (Ahadits Fi Dzammi Ilmi al-Kalam: 5/82)

7.     Amalan-amalan yang tidak berdasarkan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hanya akan memalingkan seseorang dari al-Qur’an.


8.   Syaithan adalah pengkhianat, setelah dia memperindah manusia pada amalan-amalan yang tidak dianjurkan oleh Allah dan Rasul-Nya, maka syaithan akan menelantarkan manusia dalam kesesatan. 

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar