Rabu, 09 Desember 2015

Kisah Imam al-Bazzar; Meninggalkan Sesuatu Karena Allah Maka Allah Meggantikan Yang Lebih Baik Darinya


Namanya adalah al-Qadhi Abu Bakar Muhammad Ibnu Abdil Baqi Ibnu Muhammad al-Bazzar rahimahullah, seorang ulama besar bermazhab Hanabilah. Manusia yang luas ilmunya, sabar dan teguh dengan keimanannya. Beliau pernah menuturkan kisahnya yang sangat mulia, beliau berkata:

Dahulu aku pernah tinggal di kota Makkah beberapa tahun lamanya. Pada satu musim haji aku pernah merasakan lapar yang sangat melilit, sementara saat itu aku tidak memiliki apa-apa yang bisa aku gunakan untuk membeli makanan. Akhirnya aku keluar untuk mencari-cari makanan. Namun nihil, aku tidak mendapatkan apapun.

Tiba-tiba, disebuah jalan aku menemukan sebuah bungkusan yang terbuat dari kain sutrah yang pengikatnya juga terbuat dari sutrah. Maka aku membawa pulang bungkusan tersebut. Ketika aku membukanya, aku sangat kaget, ternyata isinya adalah kalung yang terbuat dari mutiara yang sangat indah, dimana aku belum pernah melihat mutiara seindah itu sebelumnya. Maka aku kembali mengikat bungkusan tersebut kemudian kembali keluar untuk mencari makanan. Namun saat itu aku belum juga mendapatkan makanan, sehingga membuatku sangat kelaparan.

Ketika aku sedang mencari-cari makanan, aku berjumpa dengan seorang laki-laki yang umurnya sudah cukup tua, dia membawa sebuah bungkusan yang berisi uang sebesar lima ratus dinar. Orang tua tersebut berteriak dan mengatakan:  “Siapakah yang mendapatkan sebuah bungkusan yang sifatnya begini begini dan begitu? Barang siapa yang menemukan bungkusan itu lalu dia mengembalikannya kepadaku, niscaya dia  akan aku berikan hadiah sebesar lima ratus dinar emas.”

Akhirnya aku mendekati laki-laki tua itu, kemudian aku berkata padanya, “ Silahkan, aku mengundang anda untuk ke rumah.” Ketika kami telah sampai rumah, aku kembali bertanya padanya, “coba sebutkan sifat benda yang  hilang dari anda!”

Dia kemudian mengatakan, “ Barang tersebut adalah sebuah bungkusan terbuat dari sutrah dan pengikatnya juga terbuat sutrah. Tatkala orang tua tersebut memberitahukan sifat-sifat dari bungkusan tersebut, aku kemudian mengatakan, “Ya” ternyata benar bahwa bungkusan itu adalah milik orang tua tersebut.

Aku kemudain masuk untuk mengambil barang tersebut dan mengembalikan kepadanya. Orang tua tersebut sangat gembira, dia kemudian mengeluarkan uang sebesar lima ratus dinar emas yang dia janjikan sebelumnya.

Aku kemudian menolak dan mengatakan “Tidak! Aku mengembalikan ini karena Allah ta’ala dan aku tidak mengharapkan imbalan dari siapapun kecuali dari Allah subhaanahu wata’aala.”
Maka orang tua itu pergi dan kembali ke negaranya, karena musim haji telah selesai. Pada suatu hari, aku juga memiliki keperluan untuk mendatangi suatu negeri. Untuk sampai ke negeri tersebut, aku harus naik sebuah kapal untuk melintasi lautan.

Tiba tiba, pada suatu malam ombak sangat tinggi, badai datang menghadang. Akhirnya perahu kami itu hancur dan orang-orang yang berada di atas kapal tersebut meninggal dunia dalam peristiwa tersebut. Harta-harta sirna dan segala puji bagi Allah karena Dia telah menyelamatkan nyawaku.

Pada saat itu ada sebuah potongan perahu berupa sebongkah kayu yang aku gunakan untuk berpegang padanya selama beberapa hari. Aku berada di lautan dan dibawa oleh ombak hingga akhirnya dengan pertolongan Allah subhaanahu wata’ala kayu itu menghantarkan aku ke sebuah pulau.

Aku masuk ke pulau tersebut dan aku mendapatkan ternyata penduduk pulau tersebut adalah orang-orang ummiy yang tidak pandai menulis dan membaca. Namun mereka adalah orang-orang yang beragama islam, karena aku melihat ada sebuah masjid di daerah itu.

Maka aku mendatangi masjid tersebut lalu duduk dan membaca al-Qur’an di dalam masjid tersebut. Katika jama’ah masjid tersebut melihatku bahwa aku adalah orang yang pandai membaca, maka aku didesaki dan ditanya. Mereka berkata, “Apakah anda pandai membaca?” Aku katakan, “Iya, aku pandai membaca.”

Penduduk kampung tersebut kemudian meminta kepadaku untuk mengajar anak-anak mereka dan para pemuda yang ada di pulau tersebut, lalu akupun menerima permintaan mereka.
Kemudian penduduk pulau itu bertanya padaku, “Apakah engaku pandai menulis?” Maka aku katakan, “Iya, aku pandai menulis.” Maka penduduk pulau itu meminta kepadaku agar aku mengajari mereka menulis.

Beberapa tahun kemudian, aku rindu untuk pulang kembali ke negeri asalku, yaitu kota makkah. Maka aku meminta izin kepada penduduk kampung tersebut untuk pulang, namun ternyata mereka merasa berat untuk melepaskanku.

Mereka berkata kepadaku, “Kami ingin menikahkan engkau.” Aku menolak dan mengatakan “Tidak! Aku ingin kembali.”

Namun penduduk kampung yang berada dalam pulau tersebut tetap bersikukuh, mereka berat melepaskan kepergianku dan ingin menikahkanku dengan wanita itu. Mereka kemudian berkata, “Wanita yang  kami ingin nikahkah dengan anda ini adalah seorang wanita yatimah (seorang anak yang telah kehilangan ayahnya).”

Mereka berkata kepdaku bahwa di kampung ini ada seorang wanita yatimah dan dia adalah seorang wanita yang kaya, yang mendapatkan warisan dari bapaknya dan dia adalah seorang wanita yang sholehah.

Setelah melakukan dialog yang cukup panjang, akhirnya aku tidak dapat menolak permintaan mereka. Maka ketika waktu pernikahanku, diantarlah aku untuk menemui istriku di dalam kamar yang diantar oleh mahram dari wanita tersebut.

Ketika aku menemui istriku yang baru saja aku nikahi itu, aku tertegun. Pada saat itu aku hanya memperhatikan sebuah kalung yang tergantung di lehernya, yaitu sebuah kalung yang terbuat dari mutiara. Aku memadang kalung tersebut dan terus memandangnya. Sampai-sampai mahram dari wanita tersebut berkata, “Wahai syaikh!! Anda telah menyakiti perasaan wanita ini. Anda tidak memandang ke wajahnya namun memandang ke kalungnya!!”

Maka aku berkata kepadanya, “Aku memperhatikan kalung ini karena aku memiliki kenangan yang tidak bisa aku lupakan dengan kalung ini.” Penduduk kampung bertanya, “apa yang terjadi?”

Aku kemudian berkata, “Dulu ketika aku berada di kota Makkah, aku pernah mendapatkan sebuah bungkusan yang isinya adalah kalung yang terbuat dari mutiara yang persis digunakan oleh wanita ini, yang sekarang telah menjadi istriku.

Mendengar hal tersebut penduduk kampung serentak bertakbir dan bertasbih, sampai-sampai gema suara takbir mereka terdengar di seluruh penjuru negeri. Maka penduduk kampung tersebut menceritakan kepadaku bahwa sebenarnya pemilik kalung tersebut telah meninggal dunia. Ketika dia kembali dari menunaikan ibadah haji, dia terus bekata kepada kami, “Aku bertemu dengan seorang pemuda yang sholeh di Makkah yang aku tidak pernah melihat ada seorang laki laki seperti dirinya. Yaa Allah kumpulkan aku bersamanya sampai aku menikahkan dia dengan putriku.”

Kisah ini berakhir dengan pernikahan antara imam al-Bazzar rahimahullah dengan putri dari orang tua yang bertemu dengannya di Makkah. Doanya terkabulkan, sehingga bukan hanya kalung dari orang tua tersebut yang menjadi miliknya, akan tetapi kalung dan pemilik dari kalung tersebut menjadi milik dari Imam tersebut.

Kebahagiaan selalu di awali dengan ujian. Barangsiapa melewatinya dengan tawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan membahagiakan hidupnya setelah ujian tersebut.[1]



[1] Disarikan dari kitab Dzail Thabaqaatu al-Hanabilah: 79, Maktabah Syamilah

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar