Selasa, 29 Desember 2015

Penciptaan Manusia dan Penulisan Takdir



Faidah Hadits Pilihan #2

عن أبي عبد الرحمن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال: حدثنا رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو الصادق المصدوق: إن أحدكم يجمع خلقه في بطن أمه أربعين يوماً نطفة، ثم يكون علقة مثل ذلك، ثم يكون مضغة مثل ذلك، ثم يرسل إليه الملك فينفخ فيه الروح، ويؤمر بأربع كلمات: بكتب رزقه، وأجله، وعمله، وشقي أو سعيد، فوالله الذي لا إله غيره إن أحدكم ليعمل بعمل أهل الجنة حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل النار فيدخلها، وإن أحدكم ليعمل بعمل أهل النار حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل الجنة فيدخلها. رواه البخاري و مسلم

Dari Abu Abdirrahman Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menceritakan kepada kami dan beliau adalah seorang yang selalu benar dan selalu dibenarkan; “Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan dalam perut ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk nuthfah (mani), kemudian menjadi segumpal darah setelah empat puluh hari lagi, kemudian menjadi segumpal daging setelah empat puluh hari lagi. Setelah itu diutuslah seorang Malaikat, lalu dia meniupkan ruh pada janin itu dan diperintahkan untuk menulis 4 perkara: menulis rezkinya, ajalnya, amalnya dan apakah dia akan bahagia atau sengsara. Maka demi Allah yang tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Dia. Sesungguhnya diantara kalian akan ada yang beramal dengan amalan penghuni surga, sampai-sampai jarak antara dirinya dengan surga tinggal sehasta namun takdir Allah mendahuluinya dan dia beramal dengan amalan penghuni neraka hingga diapun masuk ke dalam neraka. Dan sesungguhnya ada diantara kalian yang akan beramal dengan amalan penghuni neraka, sampai-sampai jarak antara dirinya dengan neraka tinggal sehasta, namun takdir Allah mendahuluinya, dia beramal dengan amalan penghuni surga dan diapun ke dalam surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Faidah:

1.       Dianjurkannya menggunakan nama kunniyah, sebagaimana Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu nama kunniyahnya adalah Abu Abdirrahman. Adapun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam nama kunniyyahnya adalah Abu al-Qasim.

2.  Baiknya ushlub perkataan Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, seolah-olah perkataan beliau keluar dari misykat Nubuwah. (Syarah Arbain an-Nawawi karya Syaikh al-Utsaimin: 89) 

3.    Merupakan konsekuensi atas keimanan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah berkeyakinan bahwa beliau adalah seorang yang jujur dan harus mempercayai semua perkataan beliau, baik sesuatu yang dapat dirasakan oleh indra atau tidak, yang ghaib atau bukan, yang dapat diterima oleh akal atau tidak. Karena beliau tidak berbicara dengan hawa nafsu, melainkan karena wahyu yang diberikan kepadanya.

4.    Mengamalkan seluruh ajarannya adalah bagian dari keimanan kepada beliau. Seseorang tidak dikatakan mencintai seseorang hingga melakukan semua perintah dari orang yang dicintainya itu, membenarkan perkataannya, menjauhi larangannya dan tidak membuat sesuatu dalam ajarannya yang tidak pernah diperintahkannya.

5.      Kebenaran sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada proses penciptaan manusia, yang sesuai dengan ilmu kedokteran moderen saat ini. Hal ini menunjukkan bukti kenabian beliau karena berbicara dengan wahyu tentang sesuatu yang tidak bisa diketahui oleh manusia, kecuali dengan menggunakan berbagai alat yang canggih dan telah melalui berbagai riset ilmiyyah.

6.  Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa manusia diciptakan dari mani tidak bertentangan dengan nash-nash syar’i yang lain bahwa manusia diciptakan dari tanah liat. Hal ini dapat dilihat dari dua segi:

a.    Para ulama menyebutkan bahwa yang dimakusud dengan penciptaan manusia dari tanah adalah manusia pertama yaitu Adam, sedangkan manusia berikutnya tercipta dari mani yang mengandung unsur-unsur tanah. Hal ini sebagaimana firman Allah azza wajalla:

الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ وَبَدَأَ خَلْقَ الإنْسَانِ مِنْ طِينٍ (٧)ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ (٨)

“Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina.” (QS. As-Sajadah: 7-8).  Lihat penjelasan Imam as-Sa’di dalam tafsirnya: 641

b.  Sesuatu yang berasal dari tanah jika dimasukkan kedalam tanah akan berbaur menjadi tanah. Misalnya ketika manusia dikubur, lambat laun daging-dagingnya akan susut, entah karena dimakan oleh senyawa-senyawa tanah atau lainnya. Adapun benda seperti plastik atau besi jika dimasukkan kedalam tanah, ia akan tetap pada bentuk aslinya.

7.   Walau ilmu kedokteran dapat mengetahui fase-fase penciptaan menusia dengan benar sesuai yang disebutkan nash-nash syar’i, namun ada ilmu yang lebih tinggi dari ilmu kedokteran yaitu ilmu penulisan rezki, ajal, amal dan kehidupan bahagia atau sengsara, diamana ilmu ini tidak dapat diketahui oleh ilmu kedoteran. Artinya sepandai-pandainya manusia, ia tidak akan pernah mampu mencapai keilmuan Allah. Karena manusia diberikan ilmu oleh Allah hanya sedikit saja.

8.   Sesungguhnya rezki manusia telah ditetapkan dan dijamin oleh Allah azza wajalla, sehingga seseorang tidak perlu khawatir akan rizkinya, melainkan khawatir akan apa yang akan dia rasakan setelah kematiannya.

9.    Penulisan takdir terjadi dua kali. Pertama penulisan takdir yang terjadi di lauh mahfuzh, dimana semua peristiwa telah dituliskan dan ditetapkan di dalamnya. Semua yang peristiwa yang tertulis di dalam lauh mahfuzh tidak akan pernah berubah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إن أول ما خلق الله القلم فقال اكتب فقال ما أكتب ؟ قال اكتب القدر ما كان وما هو كائن إلى الأبد
“Sesungguhnya makhluk yang pertama kali diciptakan Allah adalah al-Qalam (pena). Lalu Allah berfirman, “Tulislah!.” Qalam menjawab, “Apa yang harus aku tulis?” Allah berfirman: “Tulislah apa yang akan terjadi selama-lamanya.” (HR. Tirmidzi di shahihkan oleh al-Albani)

Kedua penulisan takdir oleh Malaikat setelah janin berusia 4 bulan atau 120 hari. Penulisan takdir ini dapat berubah sesuai amalan dan doa manusia ketika hidup di dunia. Perubahan takdir yang ditulis oleh Maliakat telah di tetapkan oleh Allah dalam lauh al-Mahfuzh. Artinya Malaikat tidak mengetahui apa yang Allah tetapkan di Lauh Mahfuzh sehingga Malaikat akan melakukan tugasnya sesuai yang ia tahu dari penulisan takdir yang terjadi padanya. Misalnya Malaikat maut akan mencabut nyawa seorang manusia berdasarkan penulisan takdir Malaikat, namun ternyata karena doa yang dipanjatkan oleh seorang manusia agar berumur panjang, maka Allah memanjangkan umurnya hingga beberapa tahun lagi. Sehingga takdir yang ada pada Malaikat berubah dengan doa orang tersebut. Hal ini telah tertulis dalam lauh mahfuz sejak Allah memerintahkan Qalam menulis dan tidak akan berubah. Seperti itu pula tentang pembagian rezki dan amalan-amalan lainnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersada:

لا يرد القضاء إلا الدعاء ولا يزيد العمر إلا البر
“Tidak ada yang menolak qadha (takdir) kecuali doa dan tidak ada yang menambah umur kecuali kebaikan.” (HR. Tirmidzi di shahihkan oleh al-Albani)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah ketika ditanya mengenai takdir tentang rezki apakah berkurang dan bertambah, beliau berkata:

الرِّزْقُ نَوْعَانِ :أَحَدُهُمَا : مَا عَلِمَهُ اللَّهُ أَنَّهُ يَرْزُقُهُ فَهَذَا لَا يَتَغَيَّرُ. وَالثَّانِي مَا كَتَبَهُ وَأَعْلَمَ بِهِ الْمَلَائِكَةَ فَهَذَا يَزِيدُ وَيَنْقُصُ بِحَسَبِ الْأَسْبَابِ
“Rizki itu ada dua. Pertama: apa yang diketahui oleh Allah bahwasanya Allah akan memberikannya rizki. Hal ini tidak akan berubah. Dan kedua adalah apa yang ditulis oleh Malaikat maka ini bertambah dan berkurang.” (Majmu’ Fatawa: 8/540)

10.   Malaikat beramal sesuai dengan tugasnya.

11. Malaikat walau dia merupakan makhluk ghaib tapi dia tidak mengetahui perkara yang ghaib. Banyak hal yang membuktikan hal itu, misalnya: Kisah Malaikat yang berseteru tentang seorang manusia yang meninggal pasca taubatnya setelah telah membunuh 100 orang manusia. Kisah ketika malakul maut dipukul oleh Musa karena tidak menginginkan kematian dan lain-lain.

12. Beberapa ulama memberi rukhshah kepada para wanita yang menggugurkan kandungannya pada saat umurnya belum cukup 120 hari dengan kiyas hukum azal (menumpahkan mani di luar tempat seharusnya). Namun ini perkataan yang lemah. Sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang perbuatan azal (Jamiul Ulum Walhikam: 65)

Syaikh Muhammad Ibnu Shalih al-Utsaimin menghukumnya sebagai sesuatu yang haram. Namun perbuatan ini tidak seperti pengharaman setelah berumur 4 bulan. Namun jika sang wanita menderita penyakit dan khawatir berdampak terhadapnya maka dibolehkan menggugurkannya sebelum berusia 4 bulan karena menjadi sesuatu yang darurat. (Syarah Arbain an-Nawawi Syaikh Ustaimin: 89)

13.  Pentingnya darah bagi tubuh

14. Bahwasanya mudghah (segumpal daging) pada perkembangan janin yang ke tiga ada yang sempurna dan ada yang belum sempurna sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an:


ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ
“Kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna.” (QS. Al-Hajj: 5)

Jika seandainya segumpal daging itu belum sempurna penciptaannya lalu kemudian kandungannya jatuh (keguguran) maka darah yang keluar adalah darah kotor bukan darah nifas. (Syarah Arbain an-Nawawi Syaikh Ustaimin: 90)

Jika seandainya segumpal daging itu telah sempurna penciptaannya misalnya telah terbentuk kaki, kepala dan tangan, lalu janin itu jatuh maka hukumnya hukum nifas

15.   Peniupan ruh terjadi ketika janin telah berusia 4 bulan atau 120 hari. Beberapa hukum yang di bangun pada masalah ini:

-   Jika janin jatuh setelah peniupan ruh maka janin itu dimandikan, dikafankan, disholatkan, dikuburkan di pekuburan kaum muslimin, diberi nama, dan diakikah. Karena dia telah menjadi manusia. (Syarah Arbain an-Nawawi KaryaSyaikh al-Utsaimin: 90)

-      Setelah peniupan ruh, pengguguran janin haram secara muthlak pada semua keadaan. Karena menggugurkannya sama dengan membunuhnya, dan tidak boleh membunuh seorang manusia

16.   Inayah Allah terhadap janin dan manusia. Dimana Allah mengutus Malaikat ketika janin berada dalam perut ibunya yang mengurusi janin tersebut. Begitu pula ketika lahir kedunia dan ketika meninggal dunia. (Syarah Arbain an-Nawawi Syaikh Ustaimin: 92)

17. Ruh adalah sesuatu yang nyata dan wujudnya ada, namun dalam peniupannya kita tidak mengetahuinya. Demikian akidah ahlusunnah waljama’ah.

18. Para Malaikat adalah makhluk Allah yang merupakan makhluk yang mendapatkan taklif. Mendapat perintah dan juga larangan dari Allah azza wajalla.

19. Manusia tidak mengetahui apa yang telah ditetapkan untuknya, oleh karena itu mereka diperintahkan untuk beramal untuk mendapatkan apa yang bermanfaat untuk mereka.

20. Percaya kepada takdir adalah keharusan dan bagian dari keimanan. Menolak takdir adalah perbuatan kufur.

21. Diantara manusia ada yang beramal dengan amalan yang secara zhahir dalam pandangan manusia adalah amalan kebaikan padahal amalannya bukanlah amalan shalih. Inilah makna sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam “Diantara kalian ada yang beramal dengan amalan penghuni surga hingga jarak antara dirinya dengan surga tinggal sehasta, tapi takdir Allah mendahuluinya hingga dia beramal dengan amalan penghuni neraka dan diapun masuk kedalamnya.” Yang menguatkan perkataan ini adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap seseorang yang berperang bersamanya yang akhirnya mati karena pedangnya sendiri (bunuh diri). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ الْجَنَّةِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَهْوَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ فِيمَا يَبْدُو لِلنَّاسِ وَهْوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ
“Sesungguhnya ada seseorang yang beramal dengan amalan penghuni surga dalam pandangan manusia namun dia adalah penghuni neraka. Dan ada seseorang yang beramal dengan amalan penghuni neraka dalam pandangan manusia padahal dia adalah penghuni surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Syaikh Muhammad Ibnu Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata:

أقول هذا لئلا يظن بالله ظن السوء: فوالله ما من أحد يقبل على الله بصدق وإخلاص ويعمل بعمل أهل الجنة إلا لم يخذله الله أبدا
“Aku katakan hal ini agar orang-orang tidak berburuk sangka kepada Allah: Demi Allah tidaklah seseorang beramal kepada Allah dengan cara yang benar dan ikhlas lalu beramal dengan amalan penghuni surga, niscaya Allah tidak akan pernah menghinakannya.” (Syarah al-Arbain an-Nawawi Karya Syaikh Utsamin: 88)

22.  Allah memberikan kesempatan kepada manusia untuk memilih jalan hidupnya. Artinya, setiap manusia juga memiliki kehendak namun kehendaknya di bawah kehendak Allah. Hal ini agar tidak ada hujjah bagi manusia diakhirat kelak akan amalan-amalannya.

23.  Iradah Allah ada 2. Pertama iradah yang sebelum terjadinya suatu amalan dan iradah yang terjadi bersamanya amalan. Allah berfirman:

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ (٨٢)

“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" Maka terjadilah ia.” (QS. Yasin: 82)

Syaikh Muhammad Ibnu Shalih al-Ustaimin rahimahullah berkata: dari ayat ini kita dapat mengetahui bahwa iradah Allah ada dua, iradah sabiqah (keinginan sebelum terjadi) dan keinginan yang terjadi ketika dia menghendakinya.” (Syarah Arbain an-Nawawi Karya Syaikh al-Utsaimin: 65)  

24. Diantara manusia ada yang kesehariannya beramal dengan amalan penghuni neraka namun diakhir hayatnya dia bertaubat sehingga Allah mengampuni dosa-dosanya

25.   Luasnya ampunan Allah azza wajalla

26.   Tidak boleh merendahkan seseorang karena penampilannya dan amalannya.

27. Tidak boleh menganggap remeh satu kebaikan, karena boleh jadi semua amalan yang dilakukan oleh seorang hamba tidak diterima oleh Allah, namun ternyata hanya karena amalan seserhana seperti senyumnya pada saudaranya itu yang membuatnya masuk surga.

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar