Senin, 07 Desember 2015

Subulussalam (Jalan-Jalan Keselamatan) Di Dalam al-Qur’an, Bukankah Jalan Keselamatan Cuma Satu?



Dalil pertama

Firman Allah azza wajalla:

يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلامِ

“Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan-jalan keselamatan.” (QS. Al-Maidah: 16)

Allah azza wajalla berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati. (QS. Al-Baqarah: 62)

Dalil kedua

Allah azza wajalla berfirman:

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan  inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’am: 153)

Dari Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

خط رسول الله صلى الله عليه و سلم خطا بيده ثم قال هذا سبيل الله مستقيما قال ثم خط عن يمينه وشماله ثم قال هذه السبل ليس منها سبيل إلا عليه شيطان يدعو إليه ثم قرأ { وإن هذا صراطي مستقيما فاتبعوه ولا تتبعوا السبل }

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membuat satu garis lurus dengan tangannya, kemudian beliau bersabda, “Ini adalah jalan Allah yang lurus.” Kemudian beliau kembali membuat garis-garis di kanan dan kirinya, lalu bersabda, “Ini merupakan jalan-jalan yang lain, tidaklah dari setiap jalan ini, melainkan pada setiap jalan itu ada Syaithan yang senantiasa mengajak padanya.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membaca firman Allah, (dan inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain). (HR. Ahmad)

Allah azza wajalla berfrman:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

“Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian yang ada di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” (QS. Ali Imran: 19)

***

Selamat dari azab Allah adalah harapan semua orang yang beriman kepada-Nya. Allah azza wajalla telah memberikan banyak jalan kepada hamba-hamba-Nya, berupa amaliyah ibadah yang telah DIA syariatkan untuk mencapai keridhaan-Nya dan menghindarkan diri dari azab-Nya. Jalan keselamatan itu ialah islam. Rujukan utama kaum muslimin adalah al-Qur’an yang merupakan kitab suci dan petunjuk jalan keselamatan. Ternyata Allah azza wajalla menyebutkan dalam al-Qur’an bahwa Allah memiliki banyak jalan keselamatan. Dalam al-Qur’an Allah juga telah menyebutkan bahwa kaum Yahudi dan Nashrani akan selamat dari azab Allah azza wajalla. Semua ini seolah menunjukkan adanya sesuatu yang saling bertolak belakang di dalam al-Qur’an. Lalu bagaimana kita memahami dalil-dalil yang seolah saling bertolak belakang ini?

Pertama: Ayat 16 pada surah al-Maidah di atas yang menyebutkan kata subul/jalan-jalan dalam bentuk jamak menunjukkan bahwa ada beberapa jalan-jalan keselamatan. sedangkan ayat 163 pada surah al-An’am yang menunjukkan bahwa jalan keselamatan hanya satu, kedua ayat ini tidak saling bertolak belakang, melainkan saling menguatkan dan saling menjelaskan.

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata bahwa yang dimaksud dengan subulussalaam atau jalan-jalan keselamatan pada ayat tersebut adalah:

طرق النجاة والسلامة ومناهج الاستقامة

­­“Jalan-jalan keselamatan dan manhaj (metode) hidup yang istiqamah.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir: 2/32)

Al-Imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah berkata mengenai makna subulussalaam dalam tafsirnya:

سبيل الله الذي شرعه لعباده ودعاهم إليه، وابتعث به رسله، وهو الإسلام الذي لا يقبل من أحد عملا إلا به، لا اليهودية، ولا النصرانية، ولا المجوسية

“Jalan Allah yang telah Allah syariatkan kepada hamba-hamba-Nya dan mengajak mereka kepada jalan tersebut, serta dengannya Allah mengutus para Rasul. Dialah agama islam, dimana amalan seseorang tidak akan diterima kecuali dengan memeluk islam. Tidak dari kalangan Yahudi, Nashrani ataupun Yahudi.” (Lihat Tafsir ath-Thabari: 0/145)

Al-Imam Muhammad Ibnu Ali Ibnu Muhammad asy-Syaukani rahimahullah berkata dalam tafsirnya mengenai makna subulussalaam:

طرق السلامة من العذاب الموصلة إلى دار السلام المنزهة عن كل آفة؛ وقيل المراد بالسلام : الإسلام

Subulussalaam merupakan jalan-jalan yang dapat menyelamatkan seseorang dari azab dan akan mengantarkan seseorang kepada darussalaam (surga) yang suci dari segala keburukan ataupun penyakit. Beberapa ulama juga menyebutkan bahwa makna dari subulussalaam adalah agama islam.

Dari sini dapat dipahami bahwa makna subulussalaam dalam ayat tersebut adalah syariat-syariat Allah atau amalaiyah ibadah yang dilakukan seorang hamba, yang dengannya ia akan istiqamah dan mendapaatkan keridhaan Allah sehingga dapat terbebas dari azabnya.

Oleh karena itu, Syaikh Muhammad Ibnu Shalih al-Utsaimin rahimahullah setelah menjelaskan kedua ayat tersebut, beliau berkata:

والجمع بين الآيتين أن يقال: إن سبيل الحق واحد، لكن له فروع وشعب، من صلاة، وزكاة، وصوم، وحج، وجهاد، وبر، وصلة وما أشبه ذلك ، فهذه سبل لكنها تجتمع كلها في سبيل واحد، وأيضاً لا يمكن أن تطلق سبل ويراد بها الإسلام، وإنما تضاف كما في قوله: (سُبُلَ السَّلامِ) فإذا كانت كلها مؤدية إلي السلام فهي الإسلام

“Untuk menggabungkan kedua ayat ini, kita katakan: “Sesungguhnya jalan kebenaran hanyalah satu. Akan tetapi jalan itu memiliki cabang-cabang berupa amaliyah ibadah seperti shalat, zakat, puasa, haji, jihad, perbuatan yang baik, menyambung silaturrahmi dan amalan-amalan seperti itu. Ini merupakan jalan-jalan namun semuanya berada pada satu jalan. Dan juga, tidak mungkin memaknainya secara muthlak sebagai jalan-jalan lain (yang tidak sesuai dengan ajaran islam-pent) lalu dimaknai sebagai agama islam. Hal ini harus diidhafahkan (disandarakan) sebagaimana firman Allah subula as-salaam. Maka jika semua jalan-jalan itu mengantarakan pada keselamatan maka itulah agama islam.” (Lihat Syarah Muqaddimatu at-Tafsir karya Syaikh al-Utsiamin: 16)

Sehingga jelas maksud ayat tersebut, yaitu Allah akan menunjukkan hidayah dengan al-Qur’an bagi siapa saja yang mengikuti keridhan-Nya berupa subulussalaam (jalan-jalan keselamatan). Semua amaliyah yang disebutkan tadi berupa ibadah-ibadah merupakan sebab yang akan menghadirkan keridhaan-Nya. Karena itu Allah berfirman dalam surah Ali Imran bahwa agama yang benar di sisi Allah hanyalah islam. Sedangkan jika seseorang tidak melakukan ibadah-ibadah tadi dan tidak mengikuti petunjuk al-Qur’an maka hal itu justru akan mendatangkan kemurkaan-Nya.

Kedua: Firman Allah azza wajalla dalam surah al-Baqarah ayat 62 yang menunjukkan bahwa kaum Yahudi dan Nashrani akan selamat dari azab-Nya adalah kaum Yahudi dan Nashrani yang benar-benar beriman kepada Allah azza wajalla yang mengikuti petunjuk Nabi-Nabi yang diutus membawa agama itu. Kaum Yahudi yang dimaksud adalah Kaum Yahudi yang masih mengikuti petunjuk Nabi Musa ‘alaihissalaam  secara murni dan tidak diubah-ubah setelah beliau meninggal dunia. Sebab ajarannya adalah ajaran Tauhid, yaitu mengesakan Allah azza wajalla. Begitupula dengan kaum Nashrani yang dimaksud dalam al-Qur’an, mereka adalah kaum yang mengikuti petunjuk Nabi Isa ‘alaihissalaam tanpa merubah-rubah ajarannya. Sebab agama yang yang dibawakan oleh Nabi Isa adalah agama Tauhid sebagaimana ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Adapun kaum ash-Shabiin adalah kaum yang beriman kepada Allah azza wajalla sebagaimana kaum Yahudi dan Nasharani. Imam ath-Thabari rahimahullah menukil perkataan Ibnu Zaid rahimahullah dalam tafsirnya mengenai kaum ash-Shabiin, beliau berkata:

الصابئون، أهل دين من الأديان كانوا بجزيرة الموصل يقولون: لا إله إلا الله، وليس لهم عمل ولا كتاب ولا نبي، إلا قول لا إله إلا الله. قال: ولم يؤمنوا برسول الله، فمن أجل ذلك كان المشركون يقولون للنبي صلى الله عليه وسلم وأصحابه:"هؤلاء الصابئون"، يشبهونهم بهم

“Shabiin adalah agama diantara agama-agama terdahulu, berasal dari Jazirah Mushal. Mereka juga berkeyakinan dan mengucapkan kalimat Laa ilaaha Illallah (tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah). Namun mereka tidak memilki amalan dan juga tidak memiliki Nabi, kacuali kalimat Laa Ilaha Illallah itu. Mereka adalah kaum yang tidak beriman terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. oleh karena itu, kaum Musyrikin menggelari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya sebagai ash-Shabiin karena serupa dengan mereka.” (Lihat Tafsir ath-Thabari: 2/147)

Hanya saja, agama ini juga mengalami perubahan, sebagaimana terjadi pada Yahudi dan Nashrani. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengomentari ayat pada surah al-Baqarah ayat 62 ini belua berkata:

فتناولت هذه الآية من كان من أهل هذه الملل الأربع متمسكا بها قبل النسخ بغير تبديل

“Ayat ini menjelaskan tentang kaum yang berpegang terguh pada empat millah (agama) ini, sebelum dinaskah (hapus) dan dirubah-rubah.” (Lihat al-Jawabu ash-Shahih Liman Baddala Dina al-Masih: 2/212)

Beliau juga berkata:

فعلم أنها لم تمدح واحدا منهما بعد النسخ والتبديل وإنما معنى الآية أن المؤمنين بمحمد والذين هادوا الذين اتبعوا موسى عليه السلام وهم الذين كانوا على شرعه قبل النسخ والتبديل والنصارى الذين اتبعوا المسيح عليه السلام وهم الذين كانوا على شريعته قبل النسخ والتبديل والصابئين وهم الصابئون الحنفاء كالذين كانوا من العرب وغيرهم على دين إبراهيم وإسماعيل وإسحاق قبل التبديل والنسخ


“Maka dapat diketahui bahwasanya ayat ini tidak memuji salah satu dari keduanya (Yahudi dan Nashrani) setelah agama ini dihapus (setelah datangnya islam-pent) dan setelah mengalamai perubahan. Sesungguhnya makna ayat ini hanyalah mengenai orang-orang yang beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, Kaum Yahudi yang mengikuti Nabi Musa ‘alaihissalaam, mereka adalah orang-orang yang mengikutinya sebelum agama itu dihapus. Juga mengenai kaum Nashrani yang mengikuti al-Masih ‘alaihissalaam, mereka adalah orang-orang yang mengikuti syariatnya sebelum dihapus dan mengalami perubahan-perubahan. Serta kaum ash-Shabiin yang lurus yaitu orang-orang Arab dan selain mereka yang mengikuti petunjuk dan berada diatas agama Nabi Ibrahim, Ismail, Ishak sebelum mengalami perubahan-perubahan dan dihapuskan.” (Lihat al-Jawabu ash-Shahih Liman Baddala Dina al-Masih: 3/122)

Ketiga: Allah subhanahu wata’ala memberikan syarat yaitu “Siapa yang beriman kepada Allah, hari akhir dan beramal shaleh.” Amalan shaleh yang dimaksud adalah tauhidullah, yaitu mengesakan Allah tidak mempersekutukannya dengan sesuatu apapun lalu istiqmah padanya. Sedangkan kesyirikian adalah amalan paling buruk dan merupakan dosa yang paling besar. Tidak ada dosa yang lebih besar melebihinya.

Oleh karena itu, Allah azza wajalla berfirman:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Sesungguhnya kafirlah orang0orang yang mengatakan: "Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga", Padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan yang Esa. jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.” (QS. Al-Maidah: 73)

Allah Juga berfirman:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ قُلْ فَمَنْ يَمْلِكُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ أَنْ يُهْلِكَ الْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ وَمَنْ فِي الأرْضِ جَمِيعًا وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا يخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah itu ialah al-Masih putera Maryam". Katakanlah: "Maka siapakah gerangan yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan al-Masih putera Maryam itu beserta ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi kesemuanya?". kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Maidah: 17)

Maka dari dalil-dalil ini, tidak ada hujjah bagi kaum liberal dan selain mereka untuk membenarkan agama-agama yang memperbolehkan kesyirikan.


Wallahu a’lam.

1 komentar:

  1. Kenapa subulussalam menggunakan lambang agama lain

    BalasHapus

Silahkan Memberi komentar