Minggu, 27 Desember 2015

Tadabbur Ayat #1 Surah Yusuf Ayat 23 dan 24 (Kisah Yusuf dan Wanita Yang Merayunya)



Allah azza wajalla berfirman:

وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَنْ نَفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الأبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ إِنَّهُ لا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ (٢٣)وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلا أَنْ رَأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ (٢٤)

“Dan wanita yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya kepadanya dan Dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: "Marilah ke sini." Yusuf berkata: "Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik." Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung. Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud melakukan perbuatan itu dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud melakukan pula dengan wanita itu andaikata Dia tidak melihat tanda dari Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu Termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (QS. Yusuf: 23-24)

Faidah:

1.      Wanita memiliki syahwat halnya seorang laki-laki.

2. Wanita merupakan sumber fitnah yang menyebabkan perzinahan. Sebab dialah yang memberikan lampu hijau kepada laki-laki untuk melakukannya. Jika seandainya para wanita mau menutup auratnya dan menjaga kesuciannya, niscaya tidak akan muncul keinginan itu pada para lelaki. Oleh karena itu dalam menyebutkan hukum had bagi para pezina, Allah mendahulukan menyebut wanita sebelum menyebut laki-laki sebagai bentuk peringatan kepada para wanita agar menutup celah perzinahan itu dengan menutup aurat-aurat mereka dan tidak berhias dihadapan laki-laki yang tidak halal bagi mereka. Beda halnya ketika Allah azza wajalla menyebut hukum had bagi para pencuri. Allah mendahulukan laki-laki lalu kemudian wanita karena secara umum yang mencari penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga adalah laki-laki.

3.    Seorang wanita jika telah mencintai seorang laki-laki, ia tidak akan segan-segan memberi semua apa yang ia miliki termasuk tubuhnya demi menyenangkan laki-laki yang disayanginya. Oleh karena itu agama islam mengharamkan seorang wanita dan laki-laki berpadu kasih dengan cara yang tidak halal dalam syariat, yaitu dengan berpacaran. Sebab hal ini sangat rentan membuka pintu perzinahan.

4.      Seorang laki-laki atau wanita yang taat kepada Rabbnya akan memiliki insting merasa bersalah ketika ia melakukan sebuah dosa. Adapun seseorang yang tidak menjaga hubungannya dengan Allah, tidak akan merasa bersalah akan dosa yang dilakukannya.

5.  Seorang yang pernah mendapat kebaikan dari orang lain akan berusaha untuk membalas kebaikannya dengan kebaikan serupa, dan akan merasa bersalah jika mengkhianatinya.

6.     Orang-orang yang berbuat kezhaliman tidak akan pernah beruntung hingga mereka bertaubat kepada Allah.

7.      Rizki tertahan karena dosa yang dilakukan seseorang.

8.    Seorang yang memiliki fitrahnya sebagai manusia akan berjalan pada fitrah sesuai yang Allah berikan, perempuan akan menyukai laki-laki dan laki-laki akan perempuan. Adapun orang-orang yang telah kehilangan fitrahnya akan mencintai sesama jenisnya. Dan ini adalah perbuatan menzhalimi diri sendiri.

9.   Cinta adalah anugrah yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya, maka hendaknya dalam mensyukuri anugrah itu, tidak dilakukan dengan cara melanggar syariat-Nya.

10. Nabi adalah manusia biasa yang mendapat keutamaan dari Allah menjadi Rasul-Nya. Mereka memiliki syahwat layaknya manusia biasa.

11. Allah memberikan ilham kepada para Rasul untuk tidak melakukan maksiat juga sama dalam memberikan ilham itu kepada manusia yang lain. Hanya saja dalam menangkap ilham itu dan membalasnya kepada Allah berbeda dengan para Rasul. Karena itu Allah telah memilih manusia yang baik dalam menerima ilhamnya untuk dijadikan sebagai Rasul-Nya.  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
وإن الله أمر المؤمنين بما أمر به المرسلين
“Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada kaum mukminin sebagaimana ia telah perintahkan kepada para Rasul.”

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:

أن محبة الرب لعبده سبقت محبة العبد له سبحانه فإنه لولا محبة الله له لما جعل محبته في قلبه فإنه ألهمه حبه وآثره به فلما أحبه العبد جازاه على تلك المحبة محبة أعظم منها فإنه من تقرب إليه شبرا تقرب إليه ذراعا ومن تقرب إليه ذراعا تقرب إليه باعا ومن أتاه مشيا أتاه هرولة وهذا دليل على أن محبة الله لعبده الذي يحبه فوق محبة العبد له
“Sesungguhnya kecintaan Allah terhadap hamba-Nya mendahului rasa cinta seorang hamba terhadap diri-Nya, Maha Suci Allah. Karena sesungguhnya jika bukan karena kecintaan Allah terhadap dirinya, maka Allah tidak akan memberikan rasa cinta di dalam hatinya, sebab Dialah yang mengilhamkan rasa cinta untuk mencintai-Nya, lalu Dialah yang membuatnya tersentuh dengannya. Ketika seorang hamba telah mencintai-Nya, Allah membalas kecintaan hamba tersebut dengan kecintaan yang lebih besar dari cinta seorang hamba tadi. Sebab siapa saja yang mencoba untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan satu jengkal, niscaya Allah akan mendekatinya dengan satu hasta, siapa yang mencoba mendekatkan dirinya kepada Allah dengan satu hasta, maka Allah akan mendekatinya dengan satu depa dan siapa yang mendatanginya dalam keadaan berjalan niscaya Allah akan mendatanginya dengan berlari. Ini merupakan dalil bahwa kecintaan Allah terhadap hamba-Nya di atas rasa cinta yang dimiliki hamba-Nya terhadap-Nya.” (Thariqu al-Hijratain wa Babu as-Sa’adatain: 2/567)

12. Kesabaran ada dua jenis, bersifat ikhtiyari dan idhtirari. Kesabaran yang bersifat ikhtiyari pahalanya lebih besar karena seseorang berada pada posisi mampu untuk melakukan apa yang diharamkan Allah. Namun karena keimanannya kepada Allah maka dia bersabar demi mendapatkan kemuliaan, sebagaimana yang terjadi pada Yusuf. Adapun sabar yang bersifat idhtirari adalah kesabaran yang sifatnya pasrah. Artinya tidak ada lagi sifat yang baik kecuali sifat itu karena seseorang tidak memiliki pilihan lain. Misalnya sabar atas penyakit atau musibah. (Tafsir as-Sa’di: 456)

13. Orang-orang yang memiliki penyakit dalam hatinya maka Allah akan tambah penyakit itu sebagaimana firman Allah pada surah al-Baqarah ayat 10 dan orang yang ingin mendapatkan hidayah maka Allah akan tambahkan hidayah bagi mereka.


14. Barangsiapa meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan menggantikan yang lebih baik dari apa yang dia tinggalkan itu.

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar