Jumat, 01 Januari 2016

Jelasnya Perkara Halal Dan Haram Serta Pentingnya Hati

Faidah Hadits Pilihan #3


Dari Abu Abdillah Nu’man Ibnu Basyir radhiyallahu ‘anhuma dia berkata, aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إن الحلال بين وإن الحرام بين وبينهما أمور مشتبهات لا يعلمهن كثير من الناس ، فمن اتقى الشبهات فقد استبرأ لدينه وعرضه، ومن وقع في الشبهات وقع في الحرام كالراعي يرعى حول الحمى يوشك أن يرتع فيه، ألا إن لكل ملك حمى، ألا إن حمى الله محارمه، ألا إن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله، وإذا فسدت فسد الجسد كله : ألا وهي القلب

“Sesungguhnya perkara yang halal itu jelas, dan sesungguhnya perkara yang haram itu juga jelas. Namun diantara keduanya ada perkara-perkara yang syubhat (samar), banyak diantara manusia yang tidak mengetahuinya. Barangsiapa yang menjauhkan dirinya dari perkara-perkara yang syubhat, maka dia telah membersikan agamanya dan  kehormatannya. Dan barangsiapa yang terjatuh pada perkara-perkara yang syubhat, maka dia telah jatuh pada perkara yang haram, sebagaimana seorang penggembala yang menggembala dekat daerah larangan, hampir-hampir saja dia masuk ke dalamnya. Ketahuilah setiap raja memiliki daerah larangan. Ketahuilah daerah larangan Allah adalah apa-apa yang Dia haramkan. Ketahuilah di dalam tubuh ada segumpal daging, jika baik segumpal daging itu, maka akan baik juga seluruh tubuh dan jika segumpal daging itu rusak, maka akan rusak juga tubuh. Ketahuilah dia adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Faidah:

1.      Hadits ini diriwayatkan dari beberapa jalur, seperti Ibnu Umar, Ammar Ibnu Yasir, Jabir, Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas radhiyallhu ‘anhum. Namun riwayat dari Nu’man ini adalah riwayat yang paling shahih pada masalah ini. (Jamiul ‘Ulum Walhikam: 83)

2.      Hadits ini membagi hukum-hukum menjadi 3 bagian, yaitu:

-          Perkara yang jelas kehalalannya dan semua orang mengetahuinya, seperti buah-buahan, pakaian, gandum dan perkara-perkara lainnya.

-          Perkara yang jelas keharamannya dan semua orang mengetahuinya, seperti: zina, mencuri, meminum khamar dan hal-hal seperti ini.

-          Perkara syubhat, tidak diketahui apakah dia halal atau haram. (Syarah Arbain an-Nawawi Karya Syaikh al-Utsaimin: 105)

3.      Sebab-sebab yang menjadikan sesseorang mengalami syubhat:

-          Kurangnya ilmu agama

-          Kurangnya pemahaman, maksudnya lemah dalam memahami satu nash walau dia memiliki ilmu.

-          Kurang mentadabburi nash

-          Buruknya niat, maksudnya seseorang tidak berniat kecuali hanya untuk mendukung perkataannya saja tanpa memperhatikan apakah perkataannya benar atau salah. (Syarah Arbain an-Nawawi Karya Syaikh al-Utsiamin: 110)

Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah berkata, sebab seseorang mengalami perkara syubhat karena:

-          Terkadang nash (dalil) tidak dinukil kecuali hanya sedikit dari kalangan ulama, sehingga mereka berbeda pendapat dalam masalah penghalalan dan pengharaman.

-          Terkadang pula ada ulama yang menukil dua dalil, dalil pertama menghalalkan satu perkara sedangkan dalil yang kedua mengharamkannya. Namun karena belum mengetahui perkara mana yang nasikh (menghapus hukum lama) dan mana yang mansukh (hukum yang terhapus), maka seseorang mendiamkannya karena tidak mengetahuinya.

-          Tidak adanya nash yang sharih (jelas) sehingga pendalilan diambil dari dalil umum, atau mafhum dalil atau qiyas. Sehingga para ulama berbeda pemahaman yang menjadikan perbedaan pendapat.

-          Terkadang pula karena ada perkara perintah atau larangan dalam syariat namun para ulama berbeda pendapat dalam menghukuminya apakah hukumnya wajib atau sunnah. (Jami’ul Ulum Walhikam: 85)

4.      Hadits ini menunjukkan keutamaan orang-orang yang berilmu, mereka tidak akan mengalami, atau paling tidak akan jarang merasakan perkara syubhat karena mengetahui hukum-hukum dalam islam. Hadits ini juga menunjukkan kerugian orang-orang yang enggan mempelajari ilmu agama Allah, karena mereka bisa jadi menjatuhkan diri mereka pada hal-hal yang diharamkan Allah tanpa mereka sadari.

5.      Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (tidak semua orang mengetahuinya) menunjukkan bahwa perkara yang samar itu pasti ada yang mengetahuinya dari kalangan ulama secara jelas, tidak ada keraguan pada mereka akan kepastian hukumnya.  (Syarah Arbain an-Nawawi karya Syaikh al-Utsaimin: 110 dan Ibnu Rajab dalam Jami’ul Ulum Walhikam: 85)

6.      Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meninggalkan umatnya kecuali telah menjelaskan seluruh perkara agama ini. Beliau meninggalkan umatnya dalam keadaan yang terang benderang, semua perkara yang mendekatkan diri kepada surga telah dijelaskan dan perkara yang menjauhkan diri dari neraka juga telah di jelaskan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا ، لاَ يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلاَّ هَالِكٌ

“Sungguh aku telah meninggalkan kalian dalam keadaan terang benderang, ibarat malamnya bagaikan siang. Tidak ada yang berpaling dari apa yang aku tinggalkan itu kecuali ia akan celaka.” (HR. Ibnu Majah, Ahmad dan lainnya)

Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata:

توفي رسول الله صلى الله عليه وسلم وما طائر يحرك جناحيه في السماء إلا وقد ذكر لنا منه علما

“Telah wafat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tidaklah seekor burung mengepakkan sayapnya di langit ketika terbang, kecuali beliau telah menjelaskannya kepada kami.” (Jami’ul Ulum Walhikam: 84)

7.      Hikmah Allah menyebutkan perkara yang syubhat agar dapat terlihat nampak siapa orang-orang yang betul-betul semangat dalam mempelajari ilmu agama Allah dan siapa yang tidak bersungguh-sungguh. (Syarah Arbain an-Nawawi Karya Syikh al-Utsaimin: 110)

8.      Anjuran untuk menjauhkan diri dari perkara-perkara yang syubhat. Namun jika seseorang melakukan suatu perbuatan yang dianggap manusia sebagai perkara syubhat dan baginya bukan perkara syubhat, maka tidak mengapa dilakukan. Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah berkata:

فأما من أتى شيئا مما يظنه الناس شبهة لعلمه بأنه حلال في نفس الأمر فلا حرج عليه من الله في ذلك، لكن إذا خشي من طعن الناس عليه بذلك كان تركها حينئذ استبراء لعرضه فيكون حسنا. وهذا كما قال النبي صلى الله عليه وسلم لمن رآه واقفا مع صفية
“Adapun siapa yang melakukan suatu amalan yang dianggap oleh manusia sebagai perkara yang syubhat, akan tetapi bagi dirinya amalan itu adalah perkara yang halal karena dia mengetahui ilmunya, maka tidak ada masalah baginya jika dia mengamalkannya. Namun jika dikhawatirkan dia mendapatkan celaan dari manusia karena perbuatannya itu, maka meninggalkan perbuatannya itu sebagai bentuk penyucian terhadap kehormatannya adalah kebaikan. Hal ini sebagaimana perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada orang-orang yang melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersama istrinya yaitu Shofiyyah.” (Jami’ul Ulum Walhikam: 89)

9.      Karena ada perkara-perkara syubhat yang terjadi disebabbkan tidak adanya nash sharih yang menjelaskannya dalam agama ini, maka tidak boleh memvonis sesat kepada seseorang yang terjatuh pada perkara syubhat karena ketidak tahuannya, dimana para ulama juga berbeda pendapat dalam masalah tersebut.

10.  Membangun hukum dalam ajaran islam harus dengan keyakinan. Beberapa kaidah dalam masalah ini:

a.       Keyakinan tidak akan dihilangkan oleh keraguan (اليقين لا يزول بالشك)

-          Disebutkan dalam Shahih Bukhari bahwa ada sekelompok orang yang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Wahai Rasulullah sesungguhnya ada satu kaum yang datang kepada kami dengan membawa daging sembelihan. Kami tidak tahu apakah mereka menyembelihnya dengan membaca basmalah atau tidak.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Kalianlah yang membaca basmalah dan makanlah.” (HR. Bukhari)

Perkara yang dimaksud dalam masalah ini adalah jika orang-orang Yahudi atau Nashrani yang membawa daging sembelihan, karena hukum dasar sembelihan mereka adalah halal. Syaikh al-Utsiamin rahimahullah berkata: “Oleh karena itu jika seandainya orang Yahudi ataupun Nashrani memberikan hidangan kepadamu maka tidak perlu bertanya apakah dia meneyembelihnya dengan cara islami atau tidak.” (Syarah Arbain an-Nawawi Karya Syaikh al-Utsaimin: 111)

Adapun jika sembelihan dibawa oleh selain ahlu kitab maka hukum asal sembelihan mereka adalah haram.


-          Disebutkan dalam Shahih Bukhari bahwa ada seorang laki-laki yang bermasalah dalam shalatnya karena ada was-was dalam hatinya seolah-olah dia merasa telah buang angin, namun batinnya tidak merasakan itu. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jangan tinggalkan shalatmu hingga engkau mendengar bunyi atau mencium baunya.” (HR. Bukhari)

b.      Hukum sesuatu kembali pada hukum asalnya (الأصل بقاء ما كان على ما كان)

-          Contoh pertama: ketika seseorang yang merasakan was-was buang angin, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang menghentikan shalat sampai mendapatkan petunjuk yang membatalkannya. Artinya, hukum asal orang tersebut adalah dalam keadaany suci (wudhu) sehingga dia tetap melanjutkan shalatnya.

-          Contoh kedua: seseorang pergi ke hutan, lalu tiba waktu shalat. Di dalam hutan itu ada genangan air yang dia tidak ketahui apakah air itu sudah terkena najis atau tidak. Maka hukum air itu kembali pada hukum asalnya yaitu suci, sehingga air itu boleh dipakai berwudhu. Namun ketika ada petunjuk yang menunjukkan air itu telah terkena najis, maka orang tadai harus mencuci anggota tubuh yang dibasahi wudhu tadi kemudian berwudhu ulang.

11.  Siapa yang menjatuhkan dirinya pada perkara syubhat, (yang pada dasarnya memang dia tidak mengetahui hukumnya), maka dia telah menjatuhkan dirinya pada perkara yang haram. (Syarah Arbain an-Nawawi karya Syaikh Utsmain: 111)

12.  Ciri-ciri orang bertakwa adalah orang yang selalu meninggalkan perkara-perkara syubhat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لا يبلغ العبد أن يكون من المتقين حتى يدع ما لابأس به حذرا مما به بأس

“Seseorang tidak akan mencapai derajat seorang yang bertakwa sampai dia meninggalkan perkara yang mubah karena khawatir ada keharaman pada perkara itu.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Al-Hasan berkata:

ما زالت التقوى بالمتقين حتى تركوا كثيرا من الحلال مخافة الحرام

“Senantiasa ketakwaan ada pada orang-orang yang bertakwa hingga mereka mninggalkan perkara-perkara yang halal karena takut perkara itu adalah perkara yang haram.” (Jami’ul Ulum Walhikam:90)

13.  Baiknya cara Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendidik sahabat-sahabatnya, yaitu dengan memberikan contoh yang dapat dipahami oleh akal. (Syarah Arbain an-Nawawi karya Syaikh Utsmain: 111)

14.  Terkadang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan sesuatu hanya untuk mengabarkan kejadiannya bukan untuk menetapkannya sebagai hukum syar’i. Misalnya sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Sungguh kalian akan mengikuti jalan-jalan hidup orang-orang sebelum kalian (Yahudi dan Nashrani).” Hal ini tidak menunjukkan bahwa mengikuti jalan hidup mereka diperbolehkan, namun hal itu menunjukkan penyampaian berita yang pasti terjadi. Begitu pula hadits yang akan terjadi nanti bahwa seorang wanita tidak akan takut berjalan sendirinya dari satu negri ke negri yang lain kecuali hanya takut kepada Allah. Hal ini juga tidak menunjukkan kebolehan wanita berjalan tanpa mahram, melainkan menunjukkan berita yang pasti terjadi.  (Syarah Arbain an-Nawawi karya Syaikh Utsmain: 112)

15.  Disayriatkannya saddu adz-Dzarai’ (menutup celah). Maksudnya menutup celah seluruh perkara yang dapat mengantarkan pada keharaman, agar seseorang tidak terjatuh pada perkara tersebut. Misalnya, pelarangan mencela Tuhan orang-orang kafir karena dengan hal itu mereka juga dapat mencelah Allah azza wajalla. Allah azza wajalla  berfirman:

وَلا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ كَذَلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (١٠٨)

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 108)

16.  Pentingnya hati bagi tubuh, sebab baik dan buruknya jasad sangat dipengaruhi oleh baiknya hati.

Syaikh al-Utsaimin rahimahullah berkata: “Wajib bagi setiap muslim untuk memperhatikan amalan hatinya lebih banyak daripada amalan badannya, karena hati merupakan madaru al-a’mal (peran utama dalam amalan-pent), dan hati merupakan sesuatu yang akan di uji pada hari kiamat kelak. Allah berfirman:

إِنَّهُ عَلَى رَجْعِهِ لَقَادِرٌ (٨)يَوْمَ تُبْلَى السَّرَائِرُ (٩)

Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa untuk mengembalikannya (hidup sesudah mati). Pada hari dinampakkan segala rahasia.” (QS. Ath-Thariq: 8-9)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لا يستقيم إيمان عبد حتى يستقيم قلبه

“Seseorang tidak akan istiqamah keimanannya hingga hatinya dapat istiqamah.” (HR. Ahmad)

Ibnu Rajab rahimahullah berkata:

والمراد باستقامة إيمانه استقامة أعمال جوارحه فإن أعمال جوارحه لا يستقيم إلا باستقامة القلب ومعنى استقامة القلب أن يكون ممتلئا من محبة الله ومحبة طاعته وكراهة معصيته

“Yang dimaksud dengan keistiqamahan iman adalah konsisten dalam beramal yang merupakan amalan badaniah. Sebab amalan badaniah tidak akan dapat konsisten dilakukan kecuali dengan keistiqamahan hati. Adapun makna keistiqamahan hati adalah ketika hati dipenuhi kecintaan kepada Allah dan kecintaan untuk taat kepada-Nya serta benci untuk bermaksiat kepada-Nya.” (Jami’ul Ulum Walhikam: 94)

Ibnu Rajab al-Hambali rahimahullah berkata: “Hal ini menjadi isyarat bahwa baiknya gerak-gerik jasadiyah seorang hamba untuk menjauhi perkara-perkara yang haram, menjauhkan dirinya pada perkara-perkara yang syubhat, sesuai dengan baiknya amalan hatinya. Jika seorang hamba memiliki hati yang salim, tidak ada dalam hatinya kecuai rasa cinta kepada Allah dan perkara-perkara yang mendatangkan cinta Allah, rasa takut kepada Allah dan rasa takut terjatuh pada hal-hal yang dibenci-Nya, niscaya akan baik semua perbuatan hamba tersebut. Dengan hal itu dia akan menjauhi semua perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah dan mencegah dirinya dari perkara syubhat, karena takut bisa terjatuh pada sesuatu haram.

Adapun jika hati telah rusak, maka hati itu akan menguasainya lalu mengarahkan seseorang untuk tunduk pada hawa nafsu, dan akan selalu cenderung pada apa yang disukai oleh hawa nafsu tersebut, walau perkara itu adalah sesuatu yang dibenci oleh Allah. Lalu rusaklah seluruh amalan perbuatannya, dan orang itu akan menjerumuskan dirinya pada seluruh perbuatan maksiat dan syubhat, sesuai dengan ketundukan hati pada hawa nafsunya. Oleh karena itu para ulama mengatakan bahwa hati adalah raja dari anggota tubuh, sedangkan anggota tubuh lainnya adalah pasukannya.” (Jami’ul Ulum Walhikam: 91)

17.  Hadits ini juga memberikan isyarat bahwa akal tempatnya di hati, dan hati mempengaruhi sifat manusia. (Syarah arbain an-Nawawi karya Syaikh al-Utsaimin: 114)

Allah azza wajalla berfirman:

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الأرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لا تَعْمَى الأبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ (٤٦)

“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (QS. Al-Hajj: 46)

18.  Dari segi kesehatannya hati terbagi tiga: (Lihat KitabTazkiyatu an-Nufus wa Tarbiyatuha Kama Yuqarriruhu Ulamau as-Salaf: 25-26 Yang di tahqiq Dr Ahmad Farid)

-          Hati yang sehat yaitu hati yang salim (selamat). Hati yang selamat adalah hati yang selamat dari syahwat yang menyelisihi perintah Allah dan larangan-Nya, selamat dari perkara syubhat menyelisihi syariat-Nya, selamat dalam penghambaanya dan tidak beribadah kepada selain-Nya, selamat dari menerapkan hukum, yaitu tidak menjadikan hukum selain hukum yang dibawa Rasulul-Nya, sehingga murnilah ibadahnya kepada Allah dalam bentuk keinginan, mahabbah (kecintaan), tawakkal, inabah (taubat), kerendahan diri, rasa takut dan pengharapan. Sehingga ikhlashlah amalannya karena Allah. Jika dia mencintai, tidaklah dia mencintai kecuali kecintaan karena Allah.  Jika dia membenci, tidaklah membenci kecuali karena Allah. Jika dia memberi, tidaklah dia memberi kecuali karena Allah. Jika dia melarang, tidaklah dia melarang kecuali karena Allah. Hal ini tidak akan cukup hingga dirinya selamat dari ketundukan dan berhukum pada hukum yang dibawa selain Rasul-Nya. Sehingga hatinya akan terikat padanya dengan ikatan yang kuat untuk menjadikannya satu-satunya panutan, tidak pada selainnya pada perkataan dan perbuatan. Dan tidak akan berani mendahuluinya dalam akidah dan perkataan serta dalam amalan.”

-          Hati yang telah mati lawan dari hati yang sehat

-          Hati yang sakit yaitu hati yang sehat namun mengandung unsur penyakit. Padanya kecintaan kepada Allah, keimanan pada-Nya, ikhlash pada-Nya, bertawakkal pada-Nya, dan pada hatinya juga terdapat rasa cinta pada syahwat, pengaruh syahwat itu dan sangat bersemangat untuk mendapatkan keinginan syahwatnya itu, hasad, sombong, ujub, yang merupakan sumber bencana dan kehancuran.

19.  Dari segi ketaatannya hati/ jiwa juga terbagi 3:

-          Hati/jiwa yang selalu mengarahkan pada keburukan. Yaitu hati yang telah dikuasai hawa nafsu, sehingga hawa nafsunya selalu mengarahkan pada kemaksiatan dan keburukan.

-          Hati/jiwa yang muthmainnah. Imam asy-Syaukani rahimahullah berkata:

المطمئنة : هي الساكنة الموقنة بالإيمان وتوحيد الله ، الواصلة إلى ثلج اليقين بحيث لا يخالطها شكّ ، ولا يعتريها ريب
“Jiwa yang muthmainnah adalah jiwa yang tenang dan yakin dengan keimanan dan tauhidullah, yang mengantarkan pada ketentraman akan keyakinan, dimana keyakinan itu tidak dicampuri dan tidak terkotori oleh keraguan.” (Fathu al-Qadir: 1622)

-          Hati/jiwa lawwamah (yang selalu mencela). Syaikh al-Allamah as-Sa’di rahimahullah berkata manfsirkan surah al-Qiyamah ayat 2:

وهي جميع النفوس الخيرة والفاجرة، سميت  لوامة  لكثرة ترددها وتلومها وعدم ثبوتها على حالة من أحوالها، ولأنها عند الموت تلوم صاحبها على ما عملت ، بل نفس المؤمن تلوم صاحبها في الدنيا على ما حصل منه، من تفريط أو تقصير في حق من الحقوق، أو غفلة.

“Ini merupakan jenis seluruh jiwa yang baik dan yang buruk. Dinamakan lawwamah karena sangat sering mencela dan tidak tsabit (tetap) pada satu keadaan, juga karena pada saat kematian, jiwa ini akan mencela pemiliknya atas apa yang dia amalkan. Bahkan jiwa seorang yang beriman akan mencela pemiliknya atas apa yang dia dapatkan dari amalannya, berupa perbuatan boros, atau sedikit dalam mengerjakan kebaikan, kelalain.”


Pada tingkatan ini jiwa seorang mu’min akan mencela dirinya, mengapa dalam amalannya selalu kurang atau tidak baik, sehingga dirinya akan berpacu untuk semakin taat kepada Allah. 

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi komentar